Archive for the 'Uncategorized' Category

Pelayaran dalam impian

aku pernah pergi ke tepi laut
memandang ombak dan ingin berlayar
aku pernah pergi untuk melihat lihat kapal yang ada didermaga
menyentuh kayuhnya dan ingin untuk memilikinya
aku pernah memiliki kapal
manikinya di tepi pantai, tapi tak pernah melepas sauhnya
aku pernah membawa kapalku berlayar
melepas jangkarnya, namun akhirnya kembali pulang sebelum sampai tujuan

Popularity: 18% [?]

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (9 votes, average: 4.44 out of 5)
Loading ... Loading ...

Belajar menulis, Kau mengeja

Tolong eja untuk ku
sebuah kata; bahagia
yang kulihat dalam khimar bunga
berwarna merah muda

tolong eja untuk ku
sebuah kata; renjana
yang kurasa dalam rongga dada
bersama amuk raga

bagaimana ku tulis syair
tentang air yang mengalir
dari elok rupa
derasnya air mata

bagaimana kutulis do’a
tentang mimpi yang bergema
dari seorang manusia
penuhnya luka menganga

(“jangan mengeja takdir
kalau tak tau kapan berakhir”
)

tuhan,
kalau ‘derita’ yang tertulis
haruskah aku menangis?

(“jangan!karena mungkin
kau hanya salah menulis”
)

wizurai,

Popularity: 4% [?]

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

Anak Gunung

Sepasang mata burung awasi kami dari gunung
Sesaat lenyap melekat pada kulit-kulit kayu yang murung
:langit berubah warna
Warna api dan asap-asap mimpi

Sepasang batu kali dari mata air kami jadikan kalung
sesaat bening terkena air mata penjaga hutan yang mati bertarung
:tanah berubah dingin
Dingin kabut dan matras-matras butut

Malam ini kami berbicara
Melingkar membakar lelah untuk dijadikan bara
Malam ini kami penuh dahaga
Berbaring mengecap titik-titik air langit yang berjelaga

Biarkan kami habiskan malam
Bersama pekat dan bintang bintang bisu
Biarkan juga kami bercengkrama dengan alam
Bersama lagu dan pohon-pohon yang tertidur lesu

(terasa angin jilati kuping-kuping kami)

Sementara kami bersedih
Mengingat kawan mati oleh sepasang mata burung

(langit tak lagi bersedih tapi malah meludahi kami)

Sunyi seketika berbunyi
Langkah-langkah kaki berlari
Berjejal tubuh-tubuh basah dalam tenda kami

(Malam tak restui kami mengingat kawan-kawan yang telah mati. Langit masih meludah, api masih menyala, pohon-pohon masih tertidur dan sepasang mata burung masih terjaga)

Wizurai,

Popularity: 4% [?]

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (1 votes, average: 2 out of 5)
Loading ... Loading ...

Luluh

Aku hanyalah sel sel kelabu diantara belantara bimasaktie…

menjelajah antariksa jiwa…

berdiri di atas meteor, rambutku berkibar memercikkan debu debu bintang..

mataku menggenang, menyusun tangis pilu…

air mataku mengkristal menghujani bumi nan damai…

berpendar..

memecah..

menerpa senyum teduhmu…

kekasih…

Tak bisakah kau temukan kembali tanda mata yg dulu pernah terbuang.

Kiriman dari Yoedhistira Prabowo (yoedh_iest@…)

Popularity: 9% [?]

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (4 votes, average: 2 out of 5)
Loading ... Loading ...

Lentera Akhir Malam

Sepi …. hening

dalam gelap dan udara malam yang dingin

berhembus angin yang berbisik suara-suara daun kering,

terserak dan berguguran di atas tanah yang berdebu.

Musim kemarau ini belum terlalu lama kulewati,

masih kujelang gamang dan malam-malam dingin

di bawah taburan bintang-bintang di langit yang angkuh dan beku.

Malam ini aku kembali beranjak sendiri meniti jalanan

di tepian kota kecil, bersama deretan

lentera-lentera yang bernyala redup.

Dalam udara yang dingin membeku,

setitik cahaya lentera yang kecil melawan gelap malam yang besar,

menyingkapkan sudut-sudut malam, kemudian membayang seperti

sebuah lukisan romantik kehidupan manusia yang sepi dan terasing

dalam bentang malam yang gelap.

Kujelang lentera di akhir malam berderet

sepanjang tepi jalanan kota ini.

Pejalan yang kecil dan asing ini menyapamu

lewat setapak demi setapak langkah kaki yang beranjak sepi.

Lentera akhir malam …. tetaplah dalam kelipmu yang kecil

agar setiap pejalan yang melintasi jalanan ini

mengingat kelip kecilmu melawan gelap malam yang besar,

seperti kesetiaanmu untuk tidak menjadi bintang yang tinggi

dan cahaya terang yang sombong.

Walau dalam gelap dan cahaya yang redup,

pejalan ini harus terus melangkah, meski dia tahu

gelap gulita akan membayang kepada hidup

yang harus dilanjutkanya.

Pejalan ini beranjak bukan hanya untuk satu kisah setia,

tapi untuk terus mencari ketulusan dan kecintaan,

walaupun dalam keremangan senja dan kegamangan malam

atau dalam pagi yang masih sepi.

Lentera akhir malam,

kutatap lagi kelip kecilmu tersenyum dan berkata padaku;

“wahai sahabat kecil, tetaplah berjalan mencintai takdirmu,

teruslah mencintai hidup walau mungkin engkau akan terasing dan dikatakan jalang”.

(Persembahan kepada Santi/Jogjakarta Juni 2008)

Popularity: 12% [?]

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (1 votes, average: 3 out of 5)
Loading ... Loading ...