Archive for the 'Orang Tua' Category

malaikat surgaku

ia yang dulu berbagi nafas denganku..
sampai sekarang tetap begitu..
ia yang dulu berbagi raga denganku..
sampai sekarang kita menyatu..
ia yang dulu berbagi lelah denganku..
ketika ini ia tak mau..
ia yang dulu berbagi nyawa denganku..
ketika ini ia tak ragu..

tiada yang seteduh laku pandangmu..
membuatku tahu ada yang mereka sebut nirwana..
hingga aku tak takut melangkah di dunia..

ku dengar saatku tertidur..
namaku kau sebut berulang kali hingga jatuh air matamu..
ku yakin kau berbincang dengan penciptamu..
sekali lagi ku yakin itu doa..
doa tulusmu padaku..

maaf aku hanya diam membatu..
tak banyak membantu dalam hidupmu..
malah nyenyak menyenderkan bahu..
tanpa tahu bagaimana kau selalu bersenandung lagu tidur untukku..
karena ku terlelap terlalu cepat..
hingga tersenyum pun tak sempat..

kini..
aku bukan seseorang yang pantas merengek lagi..
tidak seperti dulu aku yang tak mau tahu..
kau..
kau menangis saat rengekan pertamaku di dunia kau dengar..
tangis bahagia..
entah rengekan ku beberapa hari lalu..
tak sampai hati jika kau kini sendu..

aku kesal padamu..
kau membuat sesuatumu kekal..
sedang aku hanya orang tak tahu malu..
malu akan sesuatu yang tulus..
oia..
mungkin selama ini..
aku diam..
karena memang tak ada kata yang sepadan untuk mu..
kau..
kau..
adalah superior!!!
karena perasaan mu merobek bahasa..
tak kenal usia..

di atas semuanya..
aku hanya ingin berucap..

“terima kasih”

untuk ibuku..
malaikat yang nyata bagiku..

Sejumput Kata untukmu, Ibu

Pada sejumput kata ,

kutitipkan rindu untukmu Ibu

walau pilu tak lagi memburaikan air mata

dan resah tak lagi menyesakkan dada .

Pada sejumput kata,

kutitipkan tanya padamu Ibu

adakah nanar dalam hidupmu kini  ?

masih adakah dian dalam redupmu kini ?

masih adakah gelora dalam asamu kini ?

Hidup takkan bermakna tanpa drama, ibu

seperti halnya puisi  tanpa kata kata

ataupun bilangan tanpa angka angka

atau bahkan panorama tanpa warna

hitam,… putih,…

hijau,… kuning,…

biru,… ataupun ungu jalan hidupmu

tak usah diratapi

karena tidak ada sesuatupun yang pasti

terangkan redupmu,

gelorakan asamu  ……

Ibu

Pada sejumput kata,

kutitipkan  bunga untukmu Ibu

AYAH

Kau tampak lusuh dan berdebu

Ruat-ruat garis hitam merona kelopak matamu

Ku tahu kau lelah ayah…..

Saat senja kau duduk termenung menatap jalanan

Yang selalu menghantarkan keping pemberi kehidupan

Ketika kantuk menyerang kau tetap tegar

Ku tahu kau lelah ayah

Malu aku menawarkan ranjang yang tersisa

Atau mengantar diri terlelap lebih awal

Tiap malam beserta doa kuberharap

“Tuhan murahkan rejeki ayahku

Jagakan sehatnya, jauhkan darinya mara bahaya

Dan jika nanti Kau meminangnya kembali

Tempatkanlah ia disisi-Mu”

Seumpama Surga

Nafas mana menghunuskan nada Surga?

Di telapak kaki nadi jadi bermarga.

Tidak terkecuali sang keparat,

segala erat merapat.

Dan dongeng siang bolong takkan luruh,

Semoga pelangi tetap membusur seluruh.

Dalam rahim wanita merajut,

dan berdoa sambil bertelut.

Mama… Tuhan besertamu.

IBU

IBU

Bu ingatkah janjiku dulu

Saat sandikala perlahan datang menumpu hari

Saat potongan ayam kita bubuhkan untuk lauk dagangan

Ibu mungkin sudah lupa……

Sembari bekerja kita berbagi

Tentang untung rugi dan pengeluaran

Tentang nyeri tulang yang tak tertahankan

Tentang luka gores tangan yang telah mengering

Bu jika aku mampu nanti jangan ibu tidur beralas tikar

Tak boleh lagi ibu basuh muka dengan air timba

Jangan pernah ibu melangkah saat kaki meradang

Bu………..

Saat ku tlah bisa kenapa ibu tak bisa menunggu

simak lebih di : pustaka-hati.blogspot.com