<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>#puisi.org &#187; Bunga Matahari</title>
	<atom:link href="http://www.puisi.org/tags/milis/milis-bunga-matahari/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.puisi.org</link>
	<description>saat puisi mengangkat makna</description>
	<lastBuildDate>Mon, 22 Feb 2010 02:18:41 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Dalam damai aku membencimu</title>
		<link>http://www.puisi.org/2009/06/01/dalam-damai-aku-membencimu/</link>
		<comments>http://www.puisi.org/2009/06/01/dalam-damai-aku-membencimu/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Jun 2009 01:47:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>WebAdmin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bunga Matahari]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.puisi.org/?p=1716</guid>
		<description><![CDATA[untuk bait kata-katamu..aku memberimu pujian
kau melempariku dengan cemoohan..
aku diam
kemanapun kujumpai segara
disana kau mengejar bayanganku
meski kutahu pasti
kau tak akan pernah sampai
di tempatku
tapi aku tak akan pernah mencemoohmu
mulutmu lebih besar
daripada tabir di wajahmu
maaf jika aku terpaksa mencibir hatimu
yang kutahu menyimpan dengki
pada kedua sayap yang kumiliki
sayang satu hal yang kau tak tahu
buatku dan mereka yang kauludahi itu
kau hanya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>untuk bait kata-katamu..aku memberimu pujian<br />
kau melempariku dengan cemoohan..<br />
aku diam</p>
<p>kemanapun kujumpai segara<br />
disana kau mengejar bayanganku<br />
meski kutahu pasti<br />
kau tak akan pernah sampai<br />
di tempatku<br />
tapi aku tak akan pernah mencemoohmu<br />
mulutmu lebih besar<br />
daripada tabir di wajahmu</p>
<p>maaf jika aku terpaksa mencibir hatimu<br />
yang kutahu menyimpan dengki<br />
pada kedua sayap yang kumiliki</p>
<p>sayang satu hal yang kau tak tahu<br />
buatku dan mereka yang kauludahi itu<br />
kau hanya seorang wannabe<br />
menelungkupkan ego<br />
di duniamu bagai katak dalam tempurung<br />
mencerca siapapun yang tak mampu terus memujimu</p>
<p>satu teguran untukku<br />
di atas langit masih ada langit<br />
kebencianmu tak bisa surutkan siapapun<br />
dalam damai aku membencimu</p>
<p>***</p>
<p>&#8220;tiapamungkas&#8221; [tiapamungkas@...]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.puisi.org/2009/06/01/dalam-damai-aku-membencimu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gambar Hujan</title>
		<link>http://www.puisi.org/2009/06/01/gambar-hujan/</link>
		<comments>http://www.puisi.org/2009/06/01/gambar-hujan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Jun 2009 01:45:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>WebAdmin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bunga Matahari]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.puisi.org/?p=1714</guid>
		<description><![CDATA[I
dengan rautnya, ia mengombak warna
menoreh garis-garis seperti
isakku yang sembunyi
di antara bata-bata dinding kamar
II
inginku bisu, baris
demi baris meluncur lurus
dari selengkung langit yang ia sebut
biru
III
jangan bertanya apa artinya
lihatlah, serupa rindu yang menjajah
dirinyapun kuyup basah
negeriajaib.blogspot.com
malaikat kecil [nibbana@...]
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>I<br />
dengan rautnya, ia mengombak warna<br />
menoreh garis-garis seperti<br />
isakku yang sembunyi<br />
di antara bata-bata dinding kamar</p>
<p>II<br />
inginku bisu, baris<br />
demi baris meluncur lurus<br />
dari selengkung langit yang ia sebut<br />
biru</p>
<p>III<br />
jangan bertanya apa artinya<br />
lihatlah, serupa rindu yang menjajah<br />
dirinyapun kuyup basah</p>
<p>negeriajaib.blogspot.com<br />
malaikat kecil [nibbana@...]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.puisi.org/2009/06/01/gambar-hujan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ironi Dari Sebuah Kemunafikan</title>
		<link>http://www.puisi.org/2009/06/01/ironi-dari-sebuah-kemunafikan/</link>
		<comments>http://www.puisi.org/2009/06/01/ironi-dari-sebuah-kemunafikan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Jun 2009 01:44:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>WebAdmin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bunga Matahari]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.puisi.org/?p=1712</guid>
		<description><![CDATA[Dia yang termenung dan termangu
Seakan-akan tersedot kedalam lubang hitam dalam pikirannya yang nyaris beku
Perangai itu masih disana
Perangai yang menghubungkan antara hati dan logika
Sebuah antagonistik yang masih menjelajahi kelimbungan
Dan masih bermain dengan kesetiaan
Atau mungkinkah ini adalah sebuah penghianatan?
Persetan dengan etika!
Bibir berkata, hati berkelana, dan Otak menyimpang entah kemana
Semua begitu kontradiksi
Tidak ada kejelasan
Tidak ada keselarasan
Dan sesosok individu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dia yang termenung dan termangu<br />
Seakan-akan tersedot kedalam lubang hitam dalam pikirannya yang nyaris beku<br />
Perangai itu masih disana<br />
Perangai yang menghubungkan antara hati dan logika</p>
<p>Sebuah antagonistik yang masih menjelajahi kelimbungan<br />
Dan masih bermain dengan kesetiaan<br />
Atau mungkinkah ini adalah sebuah penghianatan?</p>
<p>Persetan dengan etika!<br />
Bibir berkata, hati berkelana, dan Otak menyimpang entah kemana</p>
<p>Semua begitu kontradiksi<br />
Tidak ada kejelasan<br />
Tidak ada keselarasan<br />
Dan sesosok individu hilang dari kriteria tegas atas sebuah karakteristik</p>
<p>Dia hanyalah maya atas dirinya&#8230;<br />
Dia hanyalah abu-abu&#8230;<br />
Dia hanyalah remang&#8230;</p>
<p>Dia tidak cukup nyata untuk menjadi nyata.</p>
<p>www.mizzy-sebuahperananjiwa.blogspot.com<br />
yanny widjanarko [yuvani99@...]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.puisi.org/2009/06/01/ironi-dari-sebuah-kemunafikan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kekasih Abadi</title>
		<link>http://www.puisi.org/2009/06/01/kekasih-abadi/</link>
		<comments>http://www.puisi.org/2009/06/01/kekasih-abadi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Jun 2009 01:42:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>WebAdmin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bunga Matahari]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.puisi.org/?p=1709</guid>
		<description><![CDATA[Tak ada detak yang berpacu lebih kencang
Kecuali ketika namaMu di serukan, Sayang
Pun tak ada debar yang begitu menggemuruh
Kecuali ketika nafas-nafas luruh bersimpuh
Kerinduan ini
Semakin deras mengalir
Hingga merasuki lembah jiwa yang paling tubir
Lalu dengan selembar hati berlumur noktah
Sebongkah cinta menghantar jiwa yang kini berpasrah
Ashar, 4 Mei, 2009
lailatul kiptiyah [laila_kip@...]
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tak ada detak yang berpacu lebih kencang<br />
Kecuali ketika namaMu di serukan, Sayang<br />
Pun tak ada debar yang begitu menggemuruh<br />
Kecuali ketika nafas-nafas luruh bersimpuh</p>
<p>Kerinduan ini<br />
Semakin deras mengalir<br />
Hingga merasuki lembah jiwa yang paling tubir</p>
<p>Lalu dengan selembar hati berlumur noktah<br />
Sebongkah cinta menghantar jiwa yang kini berpasrah</p>
<p>Ashar, 4 Mei, 2009<br />
lailatul kiptiyah [laila_kip@...]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.puisi.org/2009/06/01/kekasih-abadi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>BUATMU</title>
		<link>http://www.puisi.org/2008/11/16/buatmu/</link>
		<comments>http://www.puisi.org/2008/11/16/buatmu/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 16 Nov 2008 01:30:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ngurah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bebas]]></category>
		<category><![CDATA[Bunga Matahari]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta 2 Insan]]></category>
		<category><![CDATA[Religi]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[Sejuta Puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.puisi.org/?p=1308</guid>
		<description><![CDATA[Ku benci kamu
Sungguh sederhana tapi tak mampu terbahasakan
Pilu rasa saat bicara, membara, lalu dingin seketika
Hidup denganmu bak dineraka hanya itu kupunya tuk mewakili
Sungguh sederhana hingga saat bicara ku tak lagi rasa apa-apa
Karena kusadar kau hanya datang untuk sementara
Andai tak ada besok mungkin ku kan bahagia
Tak perlu mencumbumu, merayumu, mengingatmu
Meski kau mencibir,menghujat dan meragukanku
Kuingin ini berakhir [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ku benci kamu</p>
<p>Sungguh sederhana tapi tak mampu terbahasakan</p>
<p>Pilu rasa saat bicara, membara, lalu dingin seketika</p>
<p>Hidup denganmu bak dineraka hanya itu kupunya tuk mewakili</p>
<p>Sungguh sederhana hingga saat bicara ku tak lagi rasa apa-apa</p>
<p>Karena kusadar kau hanya datang untuk sementara</p>
<p>Andai tak ada besok mungkin ku kan bahagia</p>
<p>Tak perlu mencumbumu, merayumu, mengingatmu</p>
<p>Meski kau mencibir,menghujat dan meragukanku</p>
<p>Kuingin ini berakhir tapi tak kulihat ujung</p>
<p>Kini kusadar bukan raga yang menolakmu</p>
<p>Tapi jiwa dan nafasku</p>
<p>Untuk itu mesti pilu ku kan slalu ada disampingmu</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.puisi.org/2008/11/16/buatmu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menjelang Sidang Skripsi</title>
		<link>http://www.puisi.org/2008/04/16/menjelang-sidang-skripsi/</link>
		<comments>http://www.puisi.org/2008/04/16/menjelang-sidang-skripsi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Apr 2008 04:19:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>WebAdmin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bunga Matahari]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.puisi.org/?p=647</guid>
		<description><![CDATA[Telah Nyeri Seluruh Sendi
Telah Luruh Lemak Separuh
Itu Semua Demi Hari Ini
Ibunda Tengah Menanti
Sang Ayah Juga Pasti
Itu Semua Demi Hari ini
Kawan Sejati Terkhianati
Lalu Pergi
Belahan Hati Tersakiti
Juga Pergi
Itu Semua Demi Hari Ini
Wahai Para Penguji
Majulah
Mataku dan Matamu Bertemu
Kita Mengadu Ilmu
Kubayar Terlalu Mahal Hanya Untuk Tunduk Padamu
Wahai Para Penguji
Majulah
Walau Kau Pasang Seribu Tampang Keji
Tak Sedikit pun Surut Nyali
Tak Sedetik [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Telah Nyeri Seluruh Sendi<br />
Telah Luruh Lemak Separuh<br />
Itu Semua Demi Hari Ini</p>
<p>Ibunda Tengah Menanti<br />
Sang Ayah Juga Pasti<br />
Itu Semua Demi Hari ini</p>
<p>Kawan Sejati Terkhianati<br />
Lalu Pergi<br />
Belahan Hati Tersakiti<br />
Juga Pergi<br />
Itu Semua Demi Hari Ini</p>
<p>Wahai Para Penguji<br />
Majulah<br />
Mataku dan Matamu Bertemu<br />
Kita Mengadu Ilmu<br />
Kubayar Terlalu Mahal Hanya Untuk Tunduk Padamu</p>
<p>Wahai Para Penguji<br />
Majulah<br />
Walau Kau Pasang Seribu Tampang Keji<br />
Tak Sedikit pun Surut Nyali<br />
Tak Sedetik pun Kurasa Ngeri<br />
Akan Kusambut Semua Cecar<br />
Biar Kau Sadar<br />
Betapa Ku Tegar</p>
<p>Kupatri Sebuah Janji Dalam Hati<br />
Bila Usai Kala Ini<br />
Kan Kurayu Lagi Si Cinta Mati</p>
<p><em>dikutip dari: <a href="http://bungamatahari.org">milis Bungamatahari </a>; penulis: <a href="mailto:jenas82@gmail.com">sky_zen</a><a href="http://celanasenja.blogspot.com/"></a></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.puisi.org/2008/04/16/menjelang-sidang-skripsi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Yonathan, hanya sedikit tafsir atas kesaksianmu malam itu</title>
		<link>http://www.puisi.org/2008/03/03/yonathan-hanya-sedikit-tafsir-atas-kesaksianmu-malam-itu/</link>
		<comments>http://www.puisi.org/2008/03/03/yonathan-hanya-sedikit-tafsir-atas-kesaksianmu-malam-itu/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 03 Mar 2008 03:11:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>WebAdmin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bunga Matahari]]></category>
		<category><![CDATA[biarkan]]></category>
		<category><![CDATA[malam]]></category>
		<category><![CDATA[puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.puisi.org/2008/03/03/yonathan-hanya-sedikit-tafsir-atas-kesaksianmu-malam-itu.html</guid>
		<description><![CDATA[di atas panggung sosokmu tegap,
menjulang bak bukit karang menentang gelombang
bersiap sepenuhnya, laksana ksatria pandawa menuju kancah kurusetra
â€jangan biarkan perempuan itu sendiriâ€ suaramu menggeletar
aku membayangkan lengking sumpah Bima
menggugat pengkhianatan Kurawa
juga pelecehan Dursasana terhadap Dewi Dropadi
menghalau khusyuk samadi para dewa di Jonggring Saloka
(mataku melirik sampul buku puisi Dino Umahuk;
lautbegitu tenang, purnama benderang membentuk lingkaran cermin besar
sebuah kapal [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>di atas panggung sosokmu tegap,<br />
menjulang bak bukit karang menentang gelombang<br />
bersiap sepenuhnya, laksana ksatria pandawa menuju kancah kurusetra</p>
<p>â€jangan biarkan perempuan itu sendiriâ€ suaramu menggeletar<br />
aku membayangkan lengking sumpah Bima<br />
menggugat pengkhianatan Kurawa<br />
juga pelecehan Dursasana terhadap Dewi Dropadi<br />
menghalau khusyuk samadi para dewa di Jonggring Saloka</p>
<p>(mataku melirik sampul buku puisi Dino Umahuk;<br />
lautbegitu tenang, purnama benderang membentuk lingkaran cermin besar<br />
sebuah kapal bersandar kepayahan,<br />
letih menapaki jutaan mil jarak, gelombang dan ribuan badai menampar<br />
Letih, sulur-sulur waktu memburai di tiang layar</p>
<p>kurasa kau sedang tak menginginkan gemuruh,<br />
gelombang pernah menelan ratusan ribu saudara mu, saudara kita<br />
kau hanya ingin sejenak tenang, bersandar, mandi cahaya bulan)</p>
<p>â€pelayaranmu yang selalu meninggikan aroma garamâ€<br />
â€terlanjur menyala sebagai birahi, oh lautâ€</p>
<p>Jemari lincah bak penari bali, menggores kanvas<br />
Sebuah sayatan gelombang warna biru<br />
Garis-garis panjang meliuk-liuk, meledak dalam getar luka birahi<br />
Tanganmu terus menyapu, menyayat menorehkan warna, merah hijau, biru, kuning<br />
berteriak lantang, menyapu seantero ruang</p>
<p>â€&#8230;puisimu angkuh memandang nasib<br />
tak peduli badai atau gelombang bermain apiâ€</p>
<p>â€&#8230;jangan biarkan perempuan itu sendiri<br />
menyeka nasib dari matanya yang semakin berduriâ€</p>
<p>di titik akhir ekspresi<br />
saat kau tegak dengan separo kaki menghujam bumi<br />
tanganmu tegas menembak udara malam dengan satu jari<br />
matamu setajam samurai menembus dinding waktu, setegas Aikido bersumpah<br />
â€œ Masa katsu Agatsu, Katsu Hayabiâ€<br />
â€œ Kemenangan sejati adalah kemenangan atas diri sendiri;</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;<br />
dipetik dari pembacaan puisi â€œjangan biarkan perempuan itu sendiriâ€<br />
malam peluncuran buku puisi dino umahuk<br />
di wapres-bulungan</p>
<p>zai lawanglangit<br />
bekasi, 1 maret 2008<br />
pemilik: zaylawanglangit.blogspot.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.puisi.org/2008/03/03/yonathan-hanya-sedikit-tafsir-atas-kesaksianmu-malam-itu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>karena kau bidadari hati</title>
		<link>http://www.puisi.org/2008/03/03/karena-kau-bidadari-hati/</link>
		<comments>http://www.puisi.org/2008/03/03/karena-kau-bidadari-hati/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 03 Mar 2008 03:09:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>WebAdmin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bunga Matahari]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[sayang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.puisi.org/2008/03/03/karena-kau-bidadari-hati.html</guid>
		<description><![CDATA[Pada sekuntum mawar yang mekar
dan air sungai yang mengalir
disitu ku lihatterukir wajah mu
dan tertuli kisah cinta kita berdua.
Sebuah nostalgia yang lalu
tidak mudah untuk ku lupakan
dan masih ku simpan erat-erat
didalam sebuah lukisan digital kita
Kini aku merindu waktu itu
waktu yang tak mungkin terulang
bersama mencumbu waktu luang
Karena kau terlalu kusayang
Bidadari hati ku
kemarin, kini dan nanti
ku beri seutuh cinta [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pada sekuntum mawar yang mekar<br />
dan air sungai yang mengalir<br />
disitu ku lihatterukir wajah mu<br />
dan tertuli kisah cinta kita berdua.</p>
<p>Sebuah nostalgia yang lalu<br />
tidak mudah untuk ku lupakan<br />
dan masih ku simpan erat-erat<br />
didalam sebuah lukisan digital kita</p>
<p>Kini aku merindu waktu itu<br />
waktu yang tak mungkin terulang<br />
bersama mencumbu waktu luang<br />
Karena kau terlalu kusayang</p>
<p>Bidadari hati ku<br />
kemarin, kini dan nanti<br />
ku beri seutuh cinta dihati<br />
dan tak akan pernah terbagi,<br />
karena kau bidadari hati<br />
~:: Love u Bidadari::~<br />
Depok 29 February 2008</p>
<p>Erwin Arianto</p>
<p>&#8211;<br />
Best Regard<br />
Erwin Arianto,SE</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.puisi.org/2008/03/03/karena-kau-bidadari-hati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>ambang tatap</title>
		<link>http://www.puisi.org/2007/12/04/ambang-tatap/</link>
		<comments>http://www.puisi.org/2007/12/04/ambang-tatap/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 03 Dec 2007 18:03:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>WebAdmin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bunga Matahari]]></category>
		<category><![CDATA[malam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.puisi.org/index.php/2007/12/04/ambang-tatap/</guid>
		<description><![CDATA[tentangmu selalu ada yang menarik
salah satunya membosankanmu yang mengagumkan itu
juga kebiasaanmu menyerapah satu kata dalam huruf BESAR
biasanya terngiang-ngiang di pelupuk telingaku
seperti baru pulang dari Johny Depp zone
dan mulai bicara dengan bantal sendiri
tentangku hanya ketakutan tak berkesudahan
salah satunya kesukaanku menggeser waktu
hingga tertinggal di senja ungu dan berdesakan dengan malam
biasanya segalanya kembali seperti semula tatkala dini hari
seperti [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>tentangmu selalu ada yang menarik<br />
salah satunya membosankanmu yang mengagumkan itu<br />
juga kebiasaanmu menyerapah satu kata dalam huruf BESAR<br />
biasanya terngiang-ngiang di pelupuk telingaku</p>
<p>seperti baru pulang dari Johny Depp zone<br />
dan mulai bicara dengan bantal sendiri</p>
<p>tentangku hanya ketakutan tak berkesudahan<br />
salah satunya kesukaanku menggeser waktu<br />
hingga tertinggal di senja ungu dan berdesakan dengan malam<br />
biasanya segalanya kembali seperti semula tatkala dini hari</p>
<p>seperti belajar lagi menghitung diri<br />
kepala, pundak, lutut, kaki</p>
<p>lalu tersenyum penuh misteri ketika penggemar kita<br />
semakin tergila-gila</p>
<p>&#8211;<br />
life, what is it but a dream?<br />
-LC-</p>
<p>author: malaikat kecil [nibbana@...]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.puisi.org/2007/12/04/ambang-tatap/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>surat bagi kekasih</title>
		<link>http://www.puisi.org/2007/12/04/surat-bagi-kekasih/</link>
		<comments>http://www.puisi.org/2007/12/04/surat-bagi-kekasih/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 03 Dec 2007 18:02:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>WebAdmin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bunga Matahari]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[kekasih]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.puisi.org/index.php/2007/12/04/surat-bagi-kekasih/</guid>
		<description><![CDATA[kekasihku
tawamu mengisi telingaku
senyummu terbayang dimata
hati berdegub merindu
yang pertama dituju
berbagi suka dan duka
sekian lama kita berbagi hidup
cinta tidak juga meredup
bersatu melintas badai
namun bagiku belumlah memadai
saat kau tawarkan sebuah ikatan
wajah terukis senyuman
dan hatiku beranjak menjauh
aku mencintaimu, kasih
tapi tak ingin aku mengikat sauh
mungkin kau pasangan jiwaku
maaf atas bulir air yang mengalir
jangan buang lingkaran besi itu
entah mungkin kapan aku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>kekasihku<br />
tawamu mengisi telingaku<br />
senyummu terbayang dimata<br />
hati berdegub merindu<br />
yang pertama dituju<br />
berbagi suka dan duka</p>
<p>sekian lama kita berbagi hidup<br />
cinta tidak juga meredup<br />
bersatu melintas badai<br />
namun bagiku belumlah memadai</p>
<p>saat kau tawarkan sebuah ikatan<br />
wajah terukis senyuman<br />
dan hatiku beranjak menjauh<br />
aku mencintaimu, kasih<br />
tapi tak ingin aku mengikat sauh</p>
<p>mungkin kau pasangan jiwaku<br />
maaf atas bulir air yang mengalir<br />
jangan buang lingkaran besi itu<br />
entah mungkin kapan aku berubah pikir</p>
<p>bila kau ingin pergi&#8230;pergilah<br />
cintaku tidak akan berubah dan berkurang</p>
<p>=16 November 2007=</p>
<p><em>author: nenni soepardjono [nennii@...]</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.puisi.org/2007/12/04/surat-bagi-kekasih/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
