Archive for the 'Bunga Matahari' Category

Dalam damai aku membencimu

untuk bait kata-katamu..aku memberimu pujian
kau melempariku dengan cemoohan..
aku diam

kemanapun kujumpai segara
disana kau mengejar bayanganku
meski kutahu pasti
kau tak akan pernah sampai
di tempatku
tapi aku tak akan pernah mencemoohmu
mulutmu lebih besar
daripada tabir di wajahmu

maaf jika aku terpaksa mencibir hatimu
yang kutahu menyimpan dengki
pada kedua sayap yang kumiliki

sayang satu hal yang kau tak tahu
buatku dan mereka yang kauludahi itu
kau hanya seorang wannabe
menelungkupkan ego
di duniamu bagai katak dalam tempurung
mencerca siapapun yang tak mampu terus memujimu

satu teguran untukku
di atas langit masih ada langit
kebencianmu tak bisa surutkan siapapun
dalam damai aku membencimu

***

“tiapamungkas” [tiapamungkas@...]

Gambar Hujan

I
dengan rautnya, ia mengombak warna
menoreh garis-garis seperti
isakku yang sembunyi
di antara bata-bata dinding kamar

II
inginku bisu, baris
demi baris meluncur lurus
dari selengkung langit yang ia sebut
biru

III
jangan bertanya apa artinya
lihatlah, serupa rindu yang menjajah
dirinyapun kuyup basah

negeriajaib.blogspot.com
malaikat kecil [nibbana@...]

Ironi Dari Sebuah Kemunafikan

Dia yang termenung dan termangu
Seakan-akan tersedot kedalam lubang hitam dalam pikirannya yang nyaris beku
Perangai itu masih disana
Perangai yang menghubungkan antara hati dan logika

Sebuah antagonistik yang masih menjelajahi kelimbungan
Dan masih bermain dengan kesetiaan
Atau mungkinkah ini adalah sebuah penghianatan?

Persetan dengan etika!
Bibir berkata, hati berkelana, dan Otak menyimpang entah kemana

Semua begitu kontradiksi
Tidak ada kejelasan
Tidak ada keselarasan
Dan sesosok individu hilang dari kriteria tegas atas sebuah karakteristik

Dia hanyalah maya atas dirinya…
Dia hanyalah abu-abu…
Dia hanyalah remang…

Dia tidak cukup nyata untuk menjadi nyata.

www.mizzy-sebuahperananjiwa.blogspot.com
yanny widjanarko [yuvani99@...]

Kekasih Abadi

Tak ada detak yang berpacu lebih kencang
Kecuali ketika namaMu di serukan, Sayang
Pun tak ada debar yang begitu menggemuruh
Kecuali ketika nafas-nafas luruh bersimpuh

Kerinduan ini
Semakin deras mengalir
Hingga merasuki lembah jiwa yang paling tubir

Lalu dengan selembar hati berlumur noktah
Sebongkah cinta menghantar jiwa yang kini berpasrah

Ashar, 4 Mei, 2009
lailatul kiptiyah [laila_kip@...]

BUATMU

Ku benci kamu

Sungguh sederhana tapi tak mampu terbahasakan

Pilu rasa saat bicara, membara, lalu dingin seketika

Hidup denganmu bak dineraka hanya itu kupunya tuk mewakili

Sungguh sederhana hingga saat bicara ku tak lagi rasa apa-apa

Karena kusadar kau hanya datang untuk sementara

Andai tak ada besok mungkin ku kan bahagia

Tak perlu mencumbumu, merayumu, mengingatmu

Meski kau mencibir,menghujat dan meragukanku

Kuingin ini berakhir tapi tak kulihat ujung

Kini kusadar bukan raga yang menolakmu

Tapi jiwa dan nafasku

Untuk itu mesti pilu ku kan slalu ada disampingmu