<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>#puisi.org &#187; Taufiq Ismail</title>
	<atom:link href="http://www.puisi.org/tags/antologi/taufik-ismail/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.puisi.org</link>
	<description>saat puisi mengangkat makna</description>
	<lastBuildDate>Mon, 22 Feb 2010 02:18:41 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Yang Selalu Terapung Diatas Gelombang</title>
		<link>http://www.puisi.org/2008/04/10/yang-selalu-terapung-diatas-gelombang/</link>
		<comments>http://www.puisi.org/2008/04/10/yang-selalu-terapung-diatas-gelombang/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Apr 2008 01:17:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>WebAdmin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Taufiq Ismail]]></category>
		<category><![CDATA[hati]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.puisi.org/2008/04/10/yang-selalu-terapung-diatas-gelombang/</guid>
		<description><![CDATA[Seseorang dianggap tak bersalah,
sampai dia dibuktikan hukum bersalah.
Di negeri kami, ungkapan ini terdengar begitu indah.
Kini simaklah sebuah kisah,
Seorang pegawai tinggi,
gajinya sebulan satu setengah juta rupiah,
Di garasinya ada Honda metalik,Volvo hitam,
BMW abu-abu, Porsche biru dan Mercedes merah.
Anaknya sekolah di Leiden, Montpelier dan Savannah.
Rumahnya bertebaran di Menteng, Kebayoran dan
Macam Macam Indah,
Setiap semester ganjil,
isteri terangnya belanja di Hongkong [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seseorang dianggap tak bersalah,<br />
sampai dia dibuktikan hukum bersalah.<br />
Di negeri kami, ungkapan ini terdengar begitu indah.<br />
Kini simaklah sebuah kisah,</p>
<p>Seorang pegawai tinggi,<br />
gajinya sebulan satu setengah juta rupiah,<br />
Di garasinya ada Honda metalik,Volvo hitam,<br />
BMW abu-abu, Porsche biru dan Mercedes merah.<br />
Anaknya sekolah di Leiden, Montpelier dan Savannah.<br />
Rumahnya bertebaran di Menteng, Kebayoran dan<br />
Macam Macam Indah,<br />
Setiap semester ganjil,<br />
isteri terangnya belanja di Hongkong dan Singapura.<br />
Setiap semester genap,<br />
isteri gelap liburan di Eropa dan Afrika,</p>
<p>Anak-anaknya pegang dua pabrik,<br />
tiga apotik dan empat biro jasa.<br />
Saudara sepupu dan kemenakannya<br />
punya lima toko onderdil,<br />
enam biro iklan dan tujuh pusat belanja,<br />
Ketika rupiah anjlok terperosok,<br />
kepleset macet dan hancur jadi bubur,<br />
dia ketawa terbahak- bahak<br />
karena depositonya dalam dolar Amerika semua.<br />
Sesudah matahari dua kali tenggelam di langit barat,<br />
jumlah rupiahnya melesat sepuluh kali lipat,</p>
<p>Krisis makin menjadi-jadi, di mana-mana orang antri,<br />
maka seratus kantong plastik hitam dia bagi-bagi.<br />
Isinya masing-masing lima genggam beras,<br />
empat cangkir minyak goreng dan tiga bungkus mi cepat-jadi.<br />
Peristiwa murah hati ini diliput dua menit di kotak televisi,<br />
dan masuk berita koran Jakarta halaman lima pagi-pagi sekali,</p>
<p>Gelombang mau datang, datanglah gelombang,<br />
setiap air bah pasang dia senantiasa<br />
terapung di atas banjir bandang.<br />
Banyak orang tenggelam tak mampu timbul lagi,<br />
lalu dia berkata begini,<br />
&#8220;Yah, masing-masing kita rejekinya kan sendiri-sendiri,&#8221;</p>
<p>Seperti bandul jam tua yang bergoyang kau lihatlah:<br />
kekayaan misterius mau diperiksa,<br />
kekayaan tidak jadi diperiksa,<br />
kekayaan mau diperiksa,<br />
kekayaan tidak diperiksa,<br />
kekayaan harus diperiksa,<br />
kekayaan tidak jadi diperiksa.<br />
Bandul jam tua Westminster,<br />
tahun empat puluh satu diproduksi,<br />
capek bergoyang begini, sampai dia berhenti sendiri,</p>
<p>Kemudian ide baru datang lagi,<br />
isi formulir harta benda sendiri,<br />
harus terus terang tapi,<br />
dikirimkan pagi-pagi tertutup rapi,<br />
karena ini soal sangat pribadi,<br />
Selepas itu suasana hening sepi lagi,<br />
cuma ada bunyi burung perkutut sekali-sekali,<br />
Seseorang dianggap tak bersalah,<br />
sampai dia dibuktikan hukum bersalah.</p>
<p>Di negeri kami, ungkapan ini terdengar begitu indah.<br />
Bagaimana membuktikan bersalah,<br />
kalau kulit tak dapat dijamah.<br />
Menyentuh tak bisa dari jauh,<br />
memegang tak dapat dari dekat,</p>
<p>Karena ilmu kiat,<br />
orde datang dan orde berangkat,<br />
dia akan tetap saja selamat,<br />
Kini lihat,<br />
di patio rumahnya dengan arsitektur Mediterania,<br />
seraya menghirup teh nasgitel<br />
dia duduk menerima telepon<br />
dari isterinya yang sedang tur di Venezia,<br />
sesudah menilai tiga proposal,<br />
dua diskusi panel dan sebuah rencana rapat kerja,</p>
<p>Sementara itu disimaknya lagu favorit My Way,<br />
senandung lama Frank Sinatra<br />
yang kemarin baru meninggal dunia,<br />
ditingkah lagu burung perkutut sepuluh juta<br />
dari sangkar tergantung di atas sana<br />
dan tak habis-habisnya<br />
di layar kaca jinggel bola Piala Dunia,</p>
<p>Go, go, go, ale ale ale&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.puisi.org/2008/04/10/yang-selalu-terapung-diatas-gelombang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia</title>
		<link>http://www.puisi.org/2008/04/10/malu-aku-jadi-orang-indonesia/</link>
		<comments>http://www.puisi.org/2008/04/10/malu-aku-jadi-orang-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Apr 2008 01:14:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>WebAdmin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Taufiq Ismail]]></category>
		<category><![CDATA[hati]]></category>
		<category><![CDATA[hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.puisi.org/2008/04/10/malu-aku-jadi-orang-indonesia/</guid>
		<description><![CDATA[I
Ketika di Pekalongan, SMA kelas tiga
Ke Wisconsin aku dapat beasiswa
Sembilan belas lima enam itulah tahunnya
Aku gembira jadi anak revolusi Indonesia
Negeriku baru enam tahun terhormat diakui dunia
Terasa hebat merebut merdeka dari Belanda
Sahabatku sekelas, Thomas Stone namanya,
Whitefish Bay kampung asalnya
Kagum dia pada revolusi Indonesia
Dia mengarang tentang pertempuran Surabaya
Jelas Bung Tomo sebagai tokoh utama
Dan kecil-kecilan aku nara-sumbernya
Dadaku busung [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>I</p>
<p>Ketika di Pekalongan, SMA kelas tiga<br />
Ke Wisconsin aku dapat beasiswa<br />
Sembilan belas lima enam itulah tahunnya<br />
Aku gembira jadi anak revolusi Indonesia<br />
Negeriku baru enam tahun terhormat diakui dunia<br />
Terasa hebat merebut merdeka dari Belanda<br />
Sahabatku sekelas, Thomas Stone namanya,<br />
Whitefish Bay kampung asalnya<br />
Kagum dia pada revolusi Indonesia<br />
Dia mengarang tentang pertempuran Surabaya<br />
Jelas Bung Tomo sebagai tokoh utama<br />
Dan kecil-kecilan aku nara-sumbernya<br />
Dadaku busung jadi anak Indonesia<br />
Tom Stone akhirnya masuk West Point Academy<br />
Dan mendapat Ph.D. dari Rice University<br />
Dia sudah pensiun perwira tinggi dari U.S. Army<br />
Dulu dadaku tegap bila aku berdiri<br />
Mengapa sering benar aku merunduk kini</p>
<p>II</p>
<p>Langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak<br />
Hukum tak tegak, doyong berderak-derak<br />
Berjalan aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, ebuh Tun Razak,<br />
Berjalan aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan Ginza<br />
Berjalan aku di Dam, Champs Ã‰lysÃ©es dan Mesopotamia<br />
Di sela khalayak aku berlindung di belakang hitam kacamata<br />
Dan kubenamkan topi baret di kepala<br />
Malu aku jadi orang Indonesia.</p>
<p>III</p>
<p>Di negeriku, selingkuh birokrasi peringkatnya di dunia nomor satu,<br />
Di negeriku, sekongkol bisnis dan birokrasi<br />
berterang-terang curang susah dicari tandingan,<br />
Di negeriku anak lelaki anak perempuan, kemenakan, sepupu<br />
dan cucu dimanja kuasa ayah, paman dan kakek<br />
secara hancur-hancuran seujung kuku tak perlu malu,<br />
Di negeriku komisi pembelian alat-alat berat, alat-alat ringan,<br />
senjata, pesawat tempur, kapal selam, kedele, terigu dan<br />
peuyeum dipotong birokrasi<br />
lebih separuh masuk kantung jas safari,<br />
Di kedutaan besar anak presiden, anak menteri, anak jenderal,<br />
anak sekjen dan anak dirjen dilayani seperti presiden,<br />
menteri, jenderal, sekjen dan dirjen sejati,<br />
agar orangtua mereka bersenang hati,<br />
Di negeriku penghitungan suara pemilihan umum<br />
sangat-sangat-sangat-sangat-sangat jelas<br />
penipuan besar-besaran tanpa seujung rambut pun bersalah perasaan,<br />
Di negeriku khotbah, surat kabar, majalah, buku dan<br />
sandiwara yang opininya bersilang tak habis<br />
dan tak utus dilarang-larang,<br />
Di negeriku dibakar pasar pedagang jelata<br />
supaya berdiri pusat belanja modal raksasa,<br />
Di negeriku Udin dan Marsinah jadi syahid dan syahidah,<br />
ciumlah harum aroma mereka punya jenazah,<br />
sekarang saja sementara mereka kalah,<br />
kelak perencana dan pembunuh itu di dasar neraka<br />
oleh satpam akhirat akan diinjak dan dilunyah lumat-lumat,<br />
Di negeriku keputusan pengadilan secara agak rahasia<br />
dan tidak rahasia dapat ditawar dalam bentuk jual-beli,<br />
kabarnya dengan sepotong SK<br />
suatu hari akan masuk Bursa Efek Jakarta secara resmi,<br />
Di negeriku rasa aman tak ada karena dua puluh pungutan,<br />
lima belas ini-itu tekanan dan sepuluh macam ancaman,<br />
Di negeriku telepon banyak disadap, mata-mata kelebihan kerja,<br />
fotokopi gosip dan fitnah bertebar disebar-sebar,<br />
Di negeriku sepakbola sudah naik tingkat<br />
jadi pertunjukan teror penonton antarkota<br />
cuma karena sebagian sangat kecil bangsa kita<br />
tak pernah bersedia menerima skor pertandingan<br />
yang disetujui bersama,</p>
<p>Di negeriku rupanya sudah diputuskan<br />
kita tak terlibat Piala Dunia demi keamanan antarbangsa,<br />
lagi pula Piala Dunia itu cuma urusan negara-negara kecil<br />
karena Cina, India, Rusia dan kita tak turut serta,<br />
sehingga cukuplah Indonesia jadi penonton lewat satelit saja,<br />
Di negeriku ada pembunuhan, penculikan<br />
dan penyiksaan rakyat terang-terangan di Aceh,<br />
Tanjung Priuk, Lampung, Haur Koneng,<br />
Nipah, Santa Cruz dan Irian,<br />
ada pula pembantahan terang-terangan<br />
yang merupakan dusta terang-terangan<br />
di bawah cahaya surya terang-terangan,<br />
dan matahari tidak pernah dipanggil ke pengadilan sebagai<br />
saksi terang-terangan,<br />
Di negeriku budi pekerti mulia di dalam kitab masih ada,<br />
tapi dalam kehidupan sehari-hari bagai jarum hilang<br />
menyelam di tumpukan jerami selepas menuai padi.</p>
<p>IV</p>
<p>Langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak<br />
Hukum tak tegak, doyong berderak-derak<br />
Berjalan aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, Lebuh Tun Razak,<br />
Berjalan aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan Ginza<br />
Berjalan aku di Dam, Champs Ã‰lysÃ©es dan Mesopotamia<br />
Di sela khalayak aku berlindung di belakang hitam kacamata<br />
Dan kubenamkan topi baret di kepala<br />
Malu aku jadi orang Indonesia.</p>
<p>1998</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.puisi.org/2008/04/10/malu-aku-jadi-orang-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ketika Sebagai Kakek di Tahun 2040, Kau Menjawab Pertanyaan Cucumu</title>
		<link>http://www.puisi.org/2008/03/04/ketika-sebagai-kakek-di-tahun-2040-kau-menjawab-pertanyaan-cucumu/</link>
		<comments>http://www.puisi.org/2008/03/04/ketika-sebagai-kakek-di-tahun-2040-kau-menjawab-pertanyaan-cucumu/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 04 Mar 2008 06:52:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>WebAdmin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Taufiq Ismail]]></category>
		<category><![CDATA[marah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.puisi.org/2008/03/04/ketika-sebagai-kakek-di-tahun-2040-kau-menjawab-pertanyaan-cucumu.html</guid>
		<description><![CDATA[Cucu kau tahu, kau menginap di DPR bulan Mei itu
Bersama beberapa ribu kawanmu
Marah, serak berteriak dan mengepalkan tinju
Bersama-sama membuka sejarah halaman satu
Lalu mengguratkan baris pertama bab yang baru
Seraya mencat spanduk dengan teks yang seru
Terpicu oleh kawan-kawan yang ditembus peluru
Dikejar masuk kampus, terguling di tanah berdebu
Dihajar dusta dan fakta dalam berita selalu
Sampai kini sejak kau lahir [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Cucu kau tahu, kau menginap di DPR bulan Mei itu<br />
Bersama beberapa ribu kawanmu<br />
Marah, serak berteriak dan mengepalkan tinju<br />
Bersama-sama membuka sejarah halaman satu<br />
Lalu mengguratkan baris pertama bab yang baru<br />
Seraya mencat spanduk dengan teks yang seru<br />
Terpicu oleh kawan-kawan yang ditembus peluru<br />
Dikejar masuk kampus, terguling di tanah berdebu<br />
Dihajar dusta dan fakta dalam berita selalu<br />
Sampai kini sejak kau lahir dahulu<br />
Inilah pengakuan generasi kami, katamu<br />
Hasil penataan dan penataran yang kaku<br />
Pandangan berbeda tak pernah diaku<br />
Daun-daun hijau dan langit biru, katamu<br />
Daun-daun kuning dan langit kuning, kata orang-orang itu<br />
Kekayaan alam untuk bangsaku, katamu<br />
Kekayaan alam untuk nafsuku, kata orang-orang itu<br />
Karena tak mau nasib rakyat selalu jadi mata dadu<br />
Yang diguncang-guncang genggaman orang-orang itu<br />
Dan nomor yang keluar telah ditentukan lebih dulu<br />
Maka kami bergeraklah kini, katamu<br />
Berjalan kaki, berdiri di atap bis yang melaju<br />
Kemeja basah keringat, ujian semester lupakan dulu<br />
Memasang ikat kepala, mengibar-ngibarkan benderamu<br />
Tanpa ada pimpinan di puncak struktur yang satu<br />
Tanpa dukungan jelas dari yang memegang bedil itu<br />
Sudahlah, ayo kita bergerak saja dulu<br />
Kita percayakan nasib pada Yang Satu Itu.</p>
<p>1998</p>
<p>+ Taufik Ismail +</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.puisi.org/2008/03/04/ketika-sebagai-kakek-di-tahun-2040-kau-menjawab-pertanyaan-cucumu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ketika Burung Merpati Sore Melayang</title>
		<link>http://www.puisi.org/2008/03/04/ketika-burung-merpati-sore-melayang/</link>
		<comments>http://www.puisi.org/2008/03/04/ketika-burung-merpati-sore-melayang/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 04 Mar 2008 06:47:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>WebAdmin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Taufiq Ismail]]></category>
		<category><![CDATA[amuk]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.puisi.org/2008/03/04/ketika-burung-merpati-sore-melayang.html</guid>
		<description><![CDATA[Langit akhlak telah roboh di atas negeri
Karena akhlak roboh, hukum tak tegak berdiri
Karena hukum tak tegak, semua jadi begini
Negeriku sesak adegan tipu-menipu
Bergerak ke kiri, dengan maling kebentur aku
Bergerak ke kanan, dengan perampok ketabrak aku
Bergerak ke belakang, dengan pencopet kesandung aku
Bergerak ke depan, dengan penipu ketanggor aku
Bergerak ke atas, di kaki pemeras tergilas aku
Kapal laut bertenggelaman, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Langit akhlak telah roboh di atas negeri<br />
Karena akhlak roboh, hukum tak tegak berdiri<br />
Karena hukum tak tegak, semua jadi begini<br />
Negeriku sesak adegan tipu-menipu<br />
Bergerak ke kiri, dengan maling kebentur aku<br />
Bergerak ke kanan, dengan perampok ketabrak aku<br />
Bergerak ke belakang, dengan pencopet kesandung aku<br />
Bergerak ke depan, dengan penipu ketanggor aku<br />
Bergerak ke atas, di kaki pemeras tergilas aku</p>
<p>Kapal laut bertenggelaman, kapal udara berjatuhan<br />
Gempa bumi, banjir, tanah longsor dan orang kelaparan<br />
Kemarau panjang, kebakaran hutan berbulan-bulan<br />
Jutaan hektar jadi jerebu abu-abu berkepulan<br />
Bumiku demam berat, menggigilkan air lautan</p>
<p>Beribu pencari nafkah dengan kapal dipulangkan<br />
Penyakit kelamin meruyak tak tersembuhkan<br />
Penyakit nyamuk membunuh bagai ejekan<br />
Berjuta belalang menyerang lahan pertanian<br />
Bumiku demam berat, menggigilkan air lautan</p>
<p>Lalu berceceran darah, berkepulan asap dan berkobaran api<br />
Empat syuhada melesat ke langit dari bumi Trisakti<br />
Gemuruh langkah, simaklah, di seluruh negeri<br />
Beribu bangunan roboh, dijarah dalam huru-hara ini<br />
Dengar jeritan beratus orang berlarian dikunyah api<br />
Mereka hangus-arang, siapa dapat mengenal lagi<br />
Bumiku sakit berat, dengarlah angin menangis sendiri</p>
<p>Kukenangkan tahun ?47 lama aku jalan di Ambarawa dan Salatiga<br />
Balik kujalani Clash I di Jawa, Clash II di Bukittinggi<br />
Kuingat-ingat pemboman Sekutu dan Belanda seantero negeri<br />
Seluruh korban empat tahun revolusi<br />
Dengan Mei ?98 jauh beda, jauh kalah ngeri<br />
Aku termangu mengenang ini<br />
Bumiku sakit berat, dengarlah angin menangis sendiri</p>
<p>Ada burung merpati sore melayang<br />
Adakah desingnya kau dengar sekarang<br />
Ke daun telingaku, jari Tuhan memberi jentikan<br />
Ke ulu hatiku, ngilu tertikam cobaan<br />
Di aorta jantungku, musibah bersimbah darah<br />
Di cabang tangkai paru-paruku, kutuk mencekik nafasku<br />
Tapi apakah sah sudah, ini murkaMu?</p>
<p>Ada burung merpati sore melayang<br />
Adakah desingnya kau dengar sekarang</p>
<p>1998</p>
<p>+ Taufik IsmailÂ  +</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.puisi.org/2008/03/04/ketika-burung-merpati-sore-melayang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
