<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>#puisi.org &#187; Khalil Gibran</title>
	<atom:link href="http://www.puisi.org/tags/antologi/khalil-gibran/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.puisi.org</link>
	<description>saat puisi mengangkat makna</description>
	<lastBuildDate>Mon, 22 Feb 2010 02:18:41 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Rahasia Birukuâ€¦</title>
		<link>http://www.puisi.org/2009/04/25/rahasia-biruku%e2%80%a6/</link>
		<comments>http://www.puisi.org/2009/04/25/rahasia-biruku%e2%80%a6/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 25 Apr 2009 03:21:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>riksa cinta birue</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Khalil Gibran]]></category>
		<category><![CDATA[Love Poem]]></category>
		<category><![CDATA[Sejuta Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[hati]]></category>
		<category><![CDATA[hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.puisi.org/?p=1566</guid>
		<description><![CDATA[Biru&#8230;
aku ingat saat dirimu menatap mataku dengan lembut 
dan berkata bahwa cintamu merupakan mahakarya indah penuh makna 
yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata
hanya bisa dirasakan dengan hati yang terdalam
biru&#8230;
ternyata dirimulah yang bisa membuatku kembali membuka hati
yang tertutup rapat oleh serpihan luka yang lama terpendam
membuatku dapat melupakan semua keraguan jiwa
dan lebih merasakan hangatnya cintaâ€¦

biru&#8230;
kau mampu memberiku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="margin: 0in 0in 0.0001pt;"><span style="font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;;"><span style="font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;;">Biru&#8230;</span><br />
<span class="yui-tag-spanyui-tag"><span>aku ingat saat dirimu menatap mataku dengan lembut </span></span><br />
<span class="yui-tag-spanyui-tag"><span>dan berkata bahwa cintamu merupakan mahakarya indah penuh makna </span></span><br />
<span class="yui-tag-spanyui-tag"><span>yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata</span></span><br />
<span class="yui-tag-spanyui-tag"><span>hanya bisa dirasakan dengan hati yang terdalam</span></span></span></p>
<p><span class="yui-tag-spanyui-tag"><span>biru&#8230;</span><br />
<span class="yui-tag-spanyui-tag"><span>ternyata dirimulah yang bisa membuatku kembali membuka hati</span></span><br />
<span class="yui-tag-spanyui-tag"><span>yang tertutup rapat oleh serpihan luka yang lama terpendam</span></span><br />
<span class="yui-tag-spanyui-tag"><span>membuatku dapat melupakan semua keraguan jiwa</span></span><br />
<span class="yui-tag-spanyui-tag"><span>dan lebih merasakan hangatnya cinta</span>â€¦</span></span></p>
<p style="margin: 0in 0in 0.0001pt;"><span style="font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;;"><br />
<span>biru&#8230;</span></span></p>
<p style="margin: 0in 0in 0.0001pt;"><span class="yui-tag-spanyui-tag"><span style="font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;;">kau mampu memberiku warna yang berbeda di setiap sisi lemahku&#8230;</span></span><span style="font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;;"><br />
<span class="yui-tag-spanyui-tag"><span>membuatku tertawa, tersenyum, dan lebih semangat menjalani hari-hariku bersamamu</span></span><br />
<span class="yui-tag-spanyui-tag"><span>kau juga memberiku rasa tenang, damai, dan juga cinta disampingmu</span></span><br />
<span class="yui-tag-spanyui-tag"><span>dengan segala kekuranganku</span></span></span></p>
<p><span class="yui-tag-spanyui-tag"><span>kau memang spesial di hatiku&#8230;</span></span><br />
<span class="yui-tag-spanyui-tag"><span>kau juga inspirasi di setiap langkah-langkahku&#8230;</span></span></p>
<p><span class="yui-tag-spanyui-tag"><span>biru&#8230;</span></span><br />
<span class="yui-tag-spanyui-tag"><span>kau sungguh membuatku bersyukur karena memilikimu,</span></span><br />
<span class="yui-tag-spanyui-tag"><span>memberi sejuta rasa untuk menghargai cinta dan indahnya kehidupan&#8230;</span></span></p>
<p><span class="yui-tag-spanyui-tag"><span><br />
</span></span></p>
<p><span class="yui-tag-spanyui-tag"><span>-riksa cinta birue-</span></span></p>
<p style="margin: 0in 0in 0.0001pt;"><span style="font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;;"><span> </span>(<span class="yui-tag-spanyui-tag">300208)</span></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.puisi.org/2009/04/25/rahasia-biruku%e2%80%a6/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cinta : sebuah karya dari khalil gibran</title>
		<link>http://www.puisi.org/2008/02/28/cinta-sebuah-karya-dari-khalil-gibran/</link>
		<comments>http://www.puisi.org/2008/02/28/cinta-sebuah-karya-dari-khalil-gibran/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 Feb 2008 06:57:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>chaoticrubben</dc:creator>
				<category><![CDATA[Khalil Gibran]]></category>
		<category><![CDATA[biarkan]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.puisi.org/2008/02/28/cinta-sebuah-karya-dari-khalil-gibran.html</guid>
		<description><![CDATA[kenapa kita menutup mata ketika kita tidur?
ketika kita menangis?
ketika kita membayangkan?
itu karena hal terindah di dunia tdk terlihat
ketika kita menemukan seseorang yang
keunikannya sejalan dengan kita, kita bergabung
dengannya dan jatuh ke dalam suatu keanehan
serupa yang dinamakan cinta.
Ada hal2 yang tidak ingin kita lepaskan,
seseorang yang tidak ingin kita tinggalkan,
tapi melepaskan bukan akhir dari dunia,
melainkan suatu awal kehidupan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>kenapa kita menutup mata ketika kita tidur?<br />
ketika kita menangis?<br />
ketika kita membayangkan?<br />
itu karena hal terindah di dunia tdk terlihat</p>
<p>ketika kita menemukan seseorang yang<br />
keunikannya sejalan dengan kita, kita bergabung<br />
dengannya dan jatuh ke dalam suatu keanehan<br />
serupa yang dinamakan cinta.</p>
<p>Ada hal2 yang tidak ingin kita lepaskan,<br />
seseorang yang tidak ingin kita tinggalkan,<br />
tapi melepaskan bukan akhir dari dunia,<br />
melainkan suatu awal kehidupan baru,<br />
kebahagiaan ada untuk mereka yang tersakiti,<br />
mereka yang telah dan tengah mencari dan<br />
mereka yang telah mencoba.<br />
karena merekalah yang bisa menghargai betapa<br />
pentingnya orang yang telah menyentuh kehidupan<br />
mereka.</p>
<p>Cinta yang sebenarnya adalah ketika kamu<br />
menitikan air mata dan masih peduli terhadapnya,<br />
adalah ketika dia tidak memperdulikanmu dan<br />
kamu masih menunggunya dengan setia.</p>
<p>Adalah ketika di mulai mencintai orang lain dan<br />
kamu masih bisa tersenyum dan berkata<br />
&#8221; aku turut berbahagia untukmu &#8221;</p>
<p>Apabila cinta tidak bertemu bebaskan dirimu,<br />
biarkan hatimu kembalike alam bebas lagi.<br />
kau mungkin menyadari, bahwa kamu menemukan<br />
cinta dan kehilangannya, tapi ketika cinta itu mati<br />
kamu tidak perlu mati bersama cinta itu.</p>
<p>Orang yang bahagia bukanlah mereka yang selalu<br />
mendapatkan keinginannya, melainkan mereka<br />
yang tetap bangkit ketika mereka jatuh, entah<br />
bagaimana dalam perjalanan kehidupan.<br />
kamu belajar lebih banyak tentang dirimu sendiri<br />
dan menyadari bahwa penyesalan tidak<br />
seharusnya ada, cintamu akan tetap di hatinya<br />
sebagai penghargaan abadi atas pilihan2 hidup<br />
yang telah kau buat.</p>
<p>Teman sejati, mengerti ketika kamu berkata &#8221; aku<br />
lupa &#8230;.&#8221;<br />
menunggu selamanya ketika kamu berkata &#8221;<br />
tunggu sebentar &#8221;<br />
tetap tinggal ketika kamu berkata &#8221; tinggalkan aku<br />
sendiri &#8221;<br />
mebuka pintu meski kamu belum mengetuk dan<br />
belum berkata &#8221; bolehkah saya masuk ? &#8221;<br />
mencintai juga bukanlah bagaimana kamu<br />
melupakan dia bila ia berbuat kesalahan,<br />
melainkan bagaimana kamu memaafkan.</p>
<p>Bukanlah bagaimana kamu mendengarkan,<br />
melainkan bagaimana kamu mengerti.<br />
bukanlah apa yang kamu lihat, melainkan apa<br />
yang kamu rasa,<br />
bukanlah bagaimana kamu melepaskan melainkan<br />
bagaimana kamu bertahan.</p>
<p>Mungkin akan tiba saatnya di mana kamu harus<br />
berhenti mencintai seseorang, bukan karena orang<br />
itu berhenti mencintai kita melainkan karena kita<br />
menyadari bahwa orang iu akan lebih berbahagia<br />
apabila kita melepaskannya.</p>
<p>kadangkala, orang yang paling mencintaimu adalah<br />
orang yang tak pernah menyatakan cinta<br />
kepadamu, karena takut kau berpaling dan<br />
memberi jarak, dan bila suatu saat pergi, kau akan<br />
menyadari bahwa dia adalah cinta yang tak kau<br />
sadari</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.puisi.org/2008/02/28/cinta-sebuah-karya-dari-khalil-gibran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>85</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>IBU</title>
		<link>http://www.puisi.org/2006/06/02/ibu/</link>
		<comments>http://www.puisi.org/2006/06/02/ibu/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 Jun 2006 07:18:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>WebAdmin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Khalil Gibran]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[malam]]></category>
		<category><![CDATA[numb]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://puisi.org/2006/06/02/ibu/</guid>
		<description><![CDATA[Ibu merupakan kata tersejuk yang dilantunkan oleh bibir &#8211; bibir manusia.
Dan &#8220;Ibuku&#8221; merupakan sebutan terindah.
Kata yang semerbak cinta dan impian, manis dan syahdu yang memancar dari kedalaman jiwa.
Ibu adalah segalanya. Ibu adalah penegas kita dilaka lara, impian kta dalam rengsa, rujukan kita di kala nista.
Ibu adalah mata air cinta, kemuliaan, kebahagiaan dan toleransi. Siapa pun [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ibu merupakan kata tersejuk yang dilantunkan oleh bibir &#8211; bibir manusia.<br />
Dan &#8220;Ibuku&#8221; merupakan sebutan terindah.<br />
Kata yang semerbak cinta dan impian, manis dan syahdu yang memancar dari kedalaman jiwa.</p>
<p>Ibu adalah segalanya. Ibu adalah penegas kita dilaka lara, impian kta dalam rengsa, rujukan kita di kala nista.<br />
Ibu adalah mata air cinta, kemuliaan, kebahagiaan dan toleransi. Siapa pun yang kehilangan ibinya, ia akan kehilangan sehelai jiwa suci yang senantiasa<br />
merestui dan memberkatinya.</p>
<p>Alam semesta selalu berbincang dalam bahasa ibu. Matahari sebagai ibu bumi yang menyusuinya melalui panasnya.<br />
Matahari tak akan pernah meninggalkan bumi sampai malam merebahkannya dalam lentera ombak, syahdu tembang beburungan dan sesungaian.</p>
<p>Bumi adalah ibu pepohonan dan bebungaan. Bumi menumbuhkan, menjaga dan membesarkannya. Pepohonan<br />
dan bebungaan adalah ibu yang tulus memelihara bebuahan dan bebijian.</p>
<p>Ibu adalah jiwa keabadian bagi semua wujud.<br />
Penuh cinta dan kedamaian.</p>
<p>:+: Khalil Gibran :+:</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.puisi.org/2006/06/02/ibu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>25</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>CINTA (III)</title>
		<link>http://www.puisi.org/2006/06/02/cinta-iii/</link>
		<comments>http://www.puisi.org/2006/06/02/cinta-iii/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 Jun 2006 07:18:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>WebAdmin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Khalil Gibran]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Ketetapan Hati]]></category>
		<category><![CDATA[malam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://puisi.org/2006/06/02/cinta-iii/</guid>
		<description><![CDATA[Kelmarin aku berdiri berdekatan pintu gerbang sebuah rumah ibadat dan bertanya kepada manusia yang lalu-lalang di situ tentang misteri dan kesucian cinta.
Seorang lelaki setengah baya menghampiri, tubuhnya rapuh wajahnya gelap. Sambil mengeluh dia berkata, &#8220;Cinta telah membuat suatu kekuatan menjadi lemah, aku mewarisinya dari Manusia Pertama.&#8221;
Seorang pemuda dengan tubuh kuat dan besar menghampiri. Dengan suara [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kelmarin aku berdiri berdekatan pintu gerbang sebuah rumah ibadat dan bertanya kepada manusia yang lalu-lalang di situ tentang misteri dan kesucian cinta.<br />
Seorang lelaki setengah baya menghampiri, tubuhnya rapuh wajahnya gelap. Sambil mengeluh dia berkata, &#8220;Cinta telah membuat suatu kekuatan menjadi lemah, aku mewarisinya dari Manusia Pertama.&#8221;</p>
<p>Seorang pemuda dengan tubuh kuat dan besar menghampiri. Dengan suara bagai menyanyi dia berkata, &#8220;Cinta adalah sebuah ketetapan hati yang ditumbuhkan dariku, yang rnenghubungkan masa sekarang dengan generasi masa lalu dan generasi yang akan datang.&#8217;</p>
<p>Seorang wanita dengan wajah melankolis menghampiri dan sambil mendesah, dia berkata, &#8216;Cinta adalah racun pembunuh, ular hitam berbisa yang menderita di neraka, terbang melayang dan berputar-putar menembusi langit sampai ia jatuh tertutup embun, ia hanya akan diminum oleh roh-roh yang haus. Kemudian mereka akan mabuk untuk beberapa saat, diam selama satu tahun dan mati untuk selamanya.&#8217;</p>
<p>Seorang gadis dengan pipi kemerahan menghampiri dan dengan tersenyum dia berkata, &#8220;Cinta itu laksana air pancuran yang digunakan roh pengantin sebagai siraman ke dalam roh orang-orang yg kuat,? membuat mereka bangkit dalam doa di antara bintang-bintang di malam hari dan senandung pujian? di depan matahari di siang hari.&#8217;</p>
<p>Setelah itu seorang lelaki menghampiri. Bajunya hitam, janggutnya panjang dengan dahi berkerut, dia berkata, &#8220;Cinta adalah ketidakpedulian yang buta. la bermula dari hujung masa muda dan berakhir pada pangkal masa muda.&#8217;</p>
<p>Seorang lelaki tampan dengan wajah bersinar dan dengan bahagia berkata, &#8216;Cinta adalah pengetahuan syurgawi yang menyalakan mata kita. Ia menunjukkan segala sesuatu kepada kita seperti para dewa melihatnya.&#8217;</p>
<p>Seorang bermata buta menghampiri, sambil mengetuk-ngetukkan tongkatnya ke tanah dan dia kemudian berkata sambil menangis, &#8216;Cinta adalah kabus tebal yang menyelubungi gambaran sesuatu darinya atau yang membuatnya hanya melihat hantu dari nafsunya yang berkelana di antara batu karang, tuli terhadap suara-suara dari tangisnya sendiri yang bergema di lembah-lembah.&#8217;</p>
<p>Seorang pemuda, dengan membawa sebuah gitar menghampiri dan menyanyi, &#8216;Cinta adalah cahaya ghaib yang bersinar dari kedalaman kehidupan yang peka dan mencerahkan segala yang ada di sekitarnya. Engkau bisa melihat dunia bagai sebuah perarakan yang berjalan melewati padang rumput hijau. Kehidupan adalah bagai sebuah mimpi indah yang diangkat dari kesedaran dan kesedaran.&#8217;</p>
<p>Seorang lelaki dengan badan bongkok dan kakinya bengkok bagai potongan-potongan kain menghampiri. Dengan suara bergetar, dia berkata, &#8220;Cinta adalah istirahat panjang bagi raga di dalam kesunyian makam, kedamaian bagi jiwa dalam kedalaman keabadian.?</p>
<p>Seorang anak kecil berumur lima tahun menghampiri dan sambil tertawa dia berkata, &#8220;Cinta adalah ayahku, cinta adalah ibuku. Hanya ayah dan ibuku yang mengerti tentang cinta.&#8221;</p>
<p>Waktu terus berjalan. Manusia terus-menerus melewati rumah ibadat. Masing-masing mempunyai pandangannya tersendiri tentang cinta. Semua menyatakan harapan-harapannya dan mengungkapkan misteri-misteri kehidupannya.</p>
<p>:+: Khalil Gibran :+:</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.puisi.org/2006/06/02/cinta-iii/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>CINTA (II)</title>
		<link>http://www.puisi.org/2006/06/02/cinta-ii/</link>
		<comments>http://www.puisi.org/2006/06/02/cinta-ii/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 Jun 2006 07:17:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>WebAdmin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Khalil Gibran]]></category>
		<category><![CDATA[biarkan]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://puisi.org/2006/06/02/cinta-ii/</guid>
		<description><![CDATA[Mereka berkata tentang serigala dan tikus
Minum di sungai yang sama
Di mana singa melepas dahaga
Mereka berkata tentang helang dan? hering
Menjunam paruhnya ke dalam bangkai yg sama
Dan berdamai &#8211; di antara satu sama lain,
Dalam kehadiran bangkai &#8211; bangkai mati itu
Oh Cinta, yang tangan lembutnya
mengekang keinginanku
Meluapkan rasa lapar dan dahaga
akan maruah dan kebanggaan,
Jangan biarkan nafsu kuat terus menggangguku
Memakan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mereka berkata tentang serigala dan tikus<br />
Minum di sungai yang sama<br />
Di mana singa melepas dahaga</p>
<p>Mereka berkata tentang helang dan? hering<br />
Menjunam paruhnya ke dalam bangkai yg sama<br />
Dan berdamai &#8211; di antara satu sama lain,<br />
Dalam kehadiran bangkai &#8211; bangkai mati itu</p>
<p>Oh Cinta, yang tangan lembutnya<br />
mengekang keinginanku<br />
Meluapkan rasa lapar dan dahaga<br />
akan maruah dan kebanggaan,<br />
Jangan biarkan nafsu kuat terus menggangguku<br />
Memakan roti dan meminum anggur<br />
Menggoda diriku yang lemah ini<br />
Biarkan rasa lapar menggigitku,<br />
Biarkan rasa haus membakarku,<br />
Biarkan aku mati dan binasa,<br />
Sebelum kuangkat tanganku<br />
Untuk cangkir yang tidak kau isi,<br />
Dan mangkuk yang tidak kau berkati</p>
<p>(Dari &#8216;The Forerunner))</p>
<p>:+: Kahlil Gibran :+:</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.puisi.org/2006/06/02/cinta-ii/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>CINTA (I)</title>
		<link>http://www.puisi.org/2006/06/02/cinta-i/</link>
		<comments>http://www.puisi.org/2006/06/02/cinta-i/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 Jun 2006 07:17:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>WebAdmin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Khalil Gibran]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[kekasih]]></category>
		<category><![CDATA[malam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://puisi.org/2006/06/02/cinta-i/</guid>
		<description><![CDATA[Lalu berkatalah Almitra, Bicaralah pada kami perihal Cinta.
Dan dia mengangkatkan kepalanya dan memandang? ke arah kumpulan manusia itu, dan keheningan menguasai mereka. Dan dengan suara lantang dia berkata:
Pabila? cinta menggamitmu, ikutlah ia
Walaupun jalan-jalannya sukar dan curam
Pabila ia mengepakkan sayapnya,
Engkau serahkanlah dirimu kepadanya
Walaupun pedang yang tersisip pada sayapnya akan melukakan kamu.
Pabila ia berkata-kata
Engkau percayalah kepadanya
walaupun suaranya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Lalu berkatalah Almitra, Bicaralah pada kami perihal Cinta.</p>
<p>Dan dia mengangkatkan kepalanya dan memandang? ke arah kumpulan manusia itu, dan keheningan menguasai mereka. Dan dengan suara lantang dia berkata:</p>
<p>Pabila? cinta menggamitmu, ikutlah ia<br />
Walaupun jalan-jalannya sukar dan curam<br />
Pabila ia mengepakkan sayapnya,<br />
Engkau serahkanlah dirimu kepadanya<br />
Walaupun pedang yang tersisip pada sayapnya akan melukakan kamu.</p>
<p>Pabila ia berkata-kata<br />
Engkau percayalah kepadanya<br />
walaupun suaranya akan menghancurkan mimpimu<br />
seperti angin utara yang memusnahkan taman-taman<br />
kerana sekalipun cinta memahkotakan kamu<br />
Ia juga akan mengorbankan kamu<br />
walaupun ia menyuburkan dahan-dahanmu<br />
ia juga mematahkan ranting-rantingmu<br />
walaupun ia memanjat dahanmu yang tinggi<br />
dan mengusap ranting-rantingmu yang gementar<br />
dalam remang cahaya matahari<br />
ia juga turun ke akar-akarmu<br />
dan menggoncangkannya dari perut bumi</p>
<p>Seperti seberkas jagung<br />
ia akan mengumpulmu untuk dirinya<br />
membantingkanmu sehingga engkau bogel<br />
mengayakkanmu sehingga terpisah kamu dari kulitmu<br />
mengisarkanmu sehingga engkau menjadi putih bersih<br />
mengulimu agar kamu mudah dibentuk<br />
dan selepas itu membakarmu di atas bara api<br />
agar kamu menjadi sebuku roti yang diberkati<br />
untuk hidangan kenduri Tuhanmu yang suci</p>
<p>Semua ini akan cinta lakukan kepadamu<br />
supaya engkau memahami rahsia hatinya<br />
dan dengan itu menjadi wangi-wangian kehidupan<br />
tetapi seandainya di dalam ketakutanmu<br />
engkau hanya mencari kedamaian dan nikmat cinta<br />
maka lebih baiklah engkau membalut dirimu<br />
yang bogel itu<br />
dan beredarlah dari laman cinta yang penuh gelora<br />
ke dunia gersang yang tidak bermusim<br />
di sana engkau akan ketawa<br />
tetapi bukan tawamu<br />
dan engkau akan menangis<br />
tetapi bukan dengan air matamu</p>
<p>Cinta tidak memberikan apa-apa melainkan dirinya<br />
dan tidak mengambil apa-apa melainkan daripada dirinya<br />
cinta tidak mengawal sesiapa<br />
dan cinta tidak boleh dikawal sesiapa<br />
kerana cinta lengkap dengan sendirinya</p>
<p>Dan pabila engkau bercinta<br />
engkau tidak seharusnya berkata<br />
&#8220;kejadian adalah hatiku,&#8221; sebaliknya berkatalah:<br />
&#8220;aku adalah kejadian&#8221;</p>
<p>Dan janganlah engkau berfikir<br />
engkau boleh menentukan arus cinta<br />
kerana seandainya cinta memberkatimu<br />
ia akan menentukan arah perjalananmu</p>
<p>Cinta tiada nafsu melainkan dirinya<br />
tetapi seandainya kamu bercinta<br />
dan ada nafsu pada cintamu itu<br />
maka biarlah yang berikut ini menjadi nafsumu;<br />
menjadi air batu yang cair<br />
membentuk anak-anak sungai<br />
yang menyanyikan melodi cinta<br />
pada malam yang gelap gelita<br />
untuk mengenal betapa pedihnya kemesraan<br />
untuk merasa luka kerana engkau kini mengenali cinta<br />
dan rela serta gembira<br />
melihat darah dari lukanya<br />
untuk bangun pada waktu fajar dengan hati yang lega<br />
dan bersyukur untuk satu hari lagi yang terisi cinta<br />
untuk beristirehat ketika matahari remang<br />
untuk mengingati kemanisan cinta yang tidak terperi<br />
untuk kembali ke rumahmu ketika air mati<br />
dengan rasa kesyukuran di dalam hati<br />
dan dalam tidurmu berdoalah untuk kekasihmu<br />
yang bersemadi di dalam hatimu<br />
dengan lagu kesyukuran pada bibirmu</p>
<p>(Dari &#8216;Sang Nabi&#8217;)</p>
<p>:+: Khalil Gibran :+:</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.puisi.org/2006/06/02/cinta-i/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>DUA KEINGINAN</title>
		<link>http://www.puisi.org/2006/06/02/dua-keinginan/</link>
		<comments>http://www.puisi.org/2006/06/02/dua-keinginan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 Jun 2006 07:16:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>WebAdmin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Khalil Gibran]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[kekasih]]></category>
		<category><![CDATA[malam]]></category>
		<category><![CDATA[marah]]></category>
		<category><![CDATA[sayang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://puisi.org/2006/06/02/dua-keinginan/</guid>
		<description><![CDATA[Di keheningan malam, Sang Maut turun atas hadrat Tuhan menuju ke bumi. Ia terbang melayang-layang di atas sebuah kota dan mengamati seluruh penghuni dengan tatapan matanya. Ia menyaksikan jiwa-jiwa yang melayang-layang dengan sayap-sayap mereka, dan orang-orang yang terlena di dalam kekuasaan Sang Lelap.
Ketika rembulan tersungkur di kaki langit, dan kota itu berubah warna menjadi hitam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Di keheningan malam, Sang Maut turun atas hadrat Tuhan menuju ke bumi. Ia terbang melayang-layang di atas sebuah kota dan mengamati seluruh penghuni dengan tatapan matanya. Ia menyaksikan jiwa-jiwa yang melayang-layang dengan sayap-sayap mereka, dan orang-orang yang terlena di dalam kekuasaan Sang Lelap.</p>
<p>Ketika rembulan tersungkur di kaki langit, dan kota itu berubah warna menjadi hitam kepekatan, Sang Maut berjalan dengan langkah tenang di celah-celah kediaman &#8211; berhati-hati tidak menyentuh apa-apa pun &#8211; sehingga tiba di sebuah istana. Ia masuk melalui pagar besi berpaku tanpa sebarang halangan dan berdiri di sisi sebuah ranjang , dan tika ia? menyentuh dahi? si lena, lelaki itu membuka kelopak matanya dan memandang dengan penuh ketakutan.</p>
<p>Melihat bayangan Sang Maut di hadapannya, dia menjerit dengan suara ketakutan bercampur aduk kemarahan, &#8220;Pergilah kau dariku, mimpi yang mengerikan! Pergilah engkau makhluk jahat! Siapakah engkau ini? Dan bagaimana mungkin kau memasuki istana ini? Apa yang kau inginkan? Tinggalkan rumah ini dengan segera! Ingatlah, akulah tuan rumah ini. Nyahlah kau, kalau tidak, kupanggil para hamba suruhanku dan para pengawalku? untuk mencincangmu menjadi kepingan!&#8221;</p>
<p>Kemudian Maut berkata dengan suara lembut, tapi sangat menakutkan, &#8220;Akulah kematian, berdiri dan tunduklah padaku.&#8221;</p>
<p>Dan si lelaki? itu menjawab, &#8220;Apa yang kau inginkan dariku sekarang, dan benda apa yang kau cari? Kenapa kau datang ketika urusanku belum selesai? Apa yang kau inginkan dari orang kaya berkuasa seperti aku? Pergilah sana, carilah orang-orang yang lemah, dan ambillah dia! Aku ngeri melihat taring-taringmu yang berdarah dan wajahmu yang bengis, dan mataku sakit menatap sayap-sayapmu yang menjijikkan dan tubuhmu yang meloyakan.&#8221;</p>
<p>Namun selepas tersedar, dia menambah dengan ketakutan, &#8220;Tidak, tidak, Maut yang pengampun, jangan pedulikan apa yang telah kukatakan, kerana rasa takut membuat diriku mengucapkan kata-kata yang sesungguhnya terlarang. Maka ambillah longgokan emasku semahumu atau nyawa salah seorang dari hamba-hambaku, dan tinggalkanlah diriku&#8230; Aku masih mempunyai urusan kehidupan yang belum selesai dan berhutang emas dengan orang. Di atas laut aku memiliki kapal yang belum kembali ke pelabuhan, permintaanku..jangan ambil nyawaku&#8230; Ambillah olehmu barang yang kau inginkan dan tinggalkanlah daku. Aku punya perempuan simpanan yang? luarbiasa cantiknya untuk kau pilih, Kematian. Dengarlah lagi : Aku punya seorang putera tunggal yang kusayangi, dialah sumber kegembiraan hidupku. Kutawarkan dia juga sebagai galang ganti, tapi nyawaku jangan kau cabut dan tinggalkan diriku sendirian.&#8221;</p>
<p>Sang Maut itu mengeruh,&#8221;Engkau tidak kaya tapi orang miskin yang tak sedar diri.&#8221;? Kemudian Maut mengambil tangan orang hina itu, mencabut nyawanya, dan memberikannya kepada para malaikat di langit untuk menghukumnya.</p>
<p>Dan Maut berjalan perlahan di antara setinggan orang-orang miskin hingga ia mencapai rumah paling daif yang ia temukan. Ia masuk dan mendekati ranjang di mana tidur seorang pemuda dengan kelelapan yang damai. Maut menyentuh matanya, anak muda itu pun terjaga. Dan ketika melihat Sang Maut berdiri di sampingnya, ia berkata dengan suara penuh cinta dan harapan, &#8220;Aku di sini, wahai Sang Maut yang cantik. Sambutlah rohku, kerana kaulah harapan impianku. Peluklah diriku, kekasih jiwaku, kerana kau sangat penyayang dan tak kan meninggalkan diriku di sini. Kaulah utusan Ilahi, kaulah tangan kanan kebenaran. Bawalah daku pada Ilahi. Jangan tinggalkan daku di sini.&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku telah memanggil dan merayumu berulang kali, namun kau tak jua datang. Tapi kini kau telah mendengar suaraku, kerana itu jangan kecewakan cintaku dengan menjauhi diri. Peluklah rohku, Sang Maut yang dikasihi.&#8221;</p>
<p>Kemudian Sang Maut meletakkan jari-jari lembutnya ke atas bibir yang bergetar itu, mencabut nyawanya, dan menaruh roh itu di bawah perlindungan sayap-sayapnya.</p>
<p>Ketika ia naik kembali ke langit, Maut menoleh ke belakang &#8212; ke dunia &#8211; dan dalam bisikan amaran ia berkata, &#8220;Hanya mereka? di dunia yang? mencari Keabadianlah yang sampai ke Keabadian itu.&#8221;</p>
<p>(Dari &#8216;Dam&#8217;ah Wa Ibtisamah&#8217; -Setitis Air Mata Seulas Senyuman)</p>
<p>:+: Kahlil Gibran :+:</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.puisi.org/2006/06/02/dua-keinginan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PERSAHABATAN</title>
		<link>http://www.puisi.org/2006/06/02/persahabatan/</link>
		<comments>http://www.puisi.org/2006/06/02/persahabatan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 Jun 2006 07:16:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>WebAdmin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Khalil Gibran]]></category>
		<category><![CDATA[biarkan]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://puisi.org/2006/06/02/persahabatan/</guid>
		<description><![CDATA[Dan seorang remaja berkata, Bicaralah pada kami tentang Persahabatan.
Dan dia? menjawab:
Sahabat adalah keperluan jiwa, yang mesti dipenuhi.
Dialah ladang hati, yang kau taburi dengan kasih dan kau tuai dengan penuh rasa terima kasih.
Dan dia pulalah naungan dan pendianganmu.
Kerana kau menghampirinya saat hati lupa dan mencarinya saat jiwa mahu kedamaian.
Bila dia berbicara, mengungkapkan fikirannya, kau tiada takut [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dan seorang remaja berkata, Bicaralah pada kami tentang Persahabatan.</p>
<p>Dan dia? menjawab:<br />
Sahabat adalah keperluan jiwa, yang mesti dipenuhi.<br />
Dialah ladang hati, yang kau taburi dengan kasih dan kau tuai dengan penuh rasa terima kasih.<br />
Dan dia pulalah naungan dan pendianganmu.<br />
Kerana kau menghampirinya saat hati lupa dan mencarinya saat jiwa mahu kedamaian.</p>
<p>Bila dia berbicara, mengungkapkan fikirannya, kau tiada takut membisikkan kata &#8220;Tidak&#8221; di kalbumu sendiri, pun tiada kau menyembunyikan kata &#8220;Ya&#8221;.<br />
Dan bilamana dia diam,hatimu berhenti dari mendengar hatinya; kerana tanpa ungkapan kata, dalam? persahabatan, segala fikiran, hasrat, dan keinginan dilahirkan bersama dan dikongsi, dengan kegembiraan tiada terkirakan.<br />
Di kala berpisah dengan sahabat, tiadalah kau berdukacita;<br />
Kerana yang paling kau kasihi dalam dirinya, mungkin kau nampak lebih jelas dalam ketiadaannya, bagai sebuah gunung bagi seorang pendaki, nampak lebih agung daripada tanah ngarai dataran.</p>
<p>Dan tiada maksud lain dari persahabatan kecuali saling memperkaya roh kejiwaan.<br />
Kerana cinta yang mencari sesuatu di luar jangkauan misterinya, bukanlah cinta , tetapi sebuah jala yang ditebarkan: hanya menangkap yang tiada diharapkan.</p>
<p>Dan persembahkanlah yang terindah bagi sahabatmu.<br />
Jika dia harus tahu musim surutmu, biarlah dia mengenali pula musim pasangmu.<br />
Gerangan apa sahabat itu jika? kau sentiasa mencarinya, untuk sekadar bersama dalam membunuh waktu?<br />
Carilah ia untuk bersama menghidupkan sang waktu!<br />
Kerana dialah yang bisa mengisi kekuranganmu, bukan mengisi kekosonganmu.<br />
Dan dalam manisnya persahabatan, biarkanlah ada tawa ria dan berkongsi kegembiraan..<br />
Kerana dalam titisan kecil embun pagi, hati manusia menemui fajar dan ghairah segar kehidupan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.puisi.org/2006/06/02/persahabatan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>KASIH SAYANG DAN PERSAMAAN</title>
		<link>http://www.puisi.org/2006/06/02/kasih-sayang-dan-persamaan/</link>
		<comments>http://www.puisi.org/2006/06/02/kasih-sayang-dan-persamaan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 Jun 2006 07:15:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>WebAdmin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Khalil Gibran]]></category>
		<category><![CDATA[sayang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://puisi.org/2006/06/02/kasih-sayang-dan-persamaan/</guid>
		<description><![CDATA[Sahabatku yang papa, jika engkau mengetahui, bahawa Kemiskinan yang membuatmu sengsara itu mampu menjelaskan pengetahuan tentang Keadilan dan pengertian tentang Kehidupan, maka engkau pasti berpuas hati dengan nasibmu.
Kusebut pengetahuan tentang Keadilan : Kerana orang kaya terlalu sibuk mengumpul harta utk mencari pengetahuan. Dan kusebut pengertian tentang Kehidupan : Kerana orang yang kuat terlalu berhasrat mengejar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sahabatku yang papa, jika engkau mengetahui, bahawa Kemiskinan yang membuatmu sengsara itu mampu menjelaskan pengetahuan tentang Keadilan dan pengertian tentang Kehidupan, maka engkau pasti berpuas hati dengan nasibmu.</p>
<p>Kusebut pengetahuan tentang Keadilan : Kerana orang kaya terlalu sibuk mengumpul harta utk mencari pengetahuan. Dan kusebut pengertian tentang Kehidupan : Kerana orang yang kuat terlalu berhasrat mengejar kekuatan dan keagungan bagi menempuh jalan kebenaran.</p>
<p>Bergembiralah, sahabatku yang papa, kerana engkau merupakan penyambung lidah Keadilan dan Kitab tentang Kehidupan. Tenanglah, kerana engkau merupakan sumber kebajikan bagi mereka yang memerintah terhadapmu, dan tiang kejujuran bagi mereka yang membimbingmu.</p>
<p>Jika engkau menyedari, sahabatku yang papa, bahawa malang yang menimpamu dalam hidup merupakan kekuatan yang menerangi hatimu, dan membangkitkan jiwamu dari ceruk ejekan ke singgahsana kehormatan, maka engkau akan merasa berpuas hati kerana pengalamanmu, dan engkau akan memandangnya sebagai pembimbing, serta membuatmu bijaksana.</p>
<p>Kehidupan ialah suatu rantai yang tersusun oleh banyak mata rantai yang berlainan. Duka merupakan salah satu mata rantai emas antara penyerahan terhadap masa kini dan harapan? masa depan. Antara tidur dan jaga, di luar fajar merekah.</p>
<p>Sahabatku yang papa, Kemiskinan menyalakan api<br />
keagungan jiwa, sedangkan kemewahan memperlihatkan keburukannya. Duka melembutkan perasaan, dan Suka mengubati hati yang luka. Bila Duka dan kemelaratan dihilangkan, jiwa manusia akan menjadi batu tulis yang kosong, hanya memperlihatkan kemewahan dan kerakusan.</p>
<p>Ingatlah, bahawa keimanan itu adalah peribadi sejati Manusia. Tidak dapat ditukar dengan emas; tidak dapat dikumpul seperti harta kekayaan. Mereka yang mewah sering meminggirkan keimananan, dan mendakap erat emasnya.</p>
<p>Orang muda sekarang jangan sampai meninggalkan Keimananmu, dan hanya mengejar kepuasan diri dan kesenangan semata.? Orang-orang papa yang<br />
kusayangi, saat bersama isteri dan anak sekembalinya dari ladang merupakan waktu yang paling mesra bagi keluarga, sebagai lambang kebahagiaan bagi takdir angkatan yang akan datang. Tapi hidup orang yang senang bermewah-mewahan dan mengumpul emas, pada hakikatnya seperti hidup cacing di dalam kuburan. Itu menandakan ketakutan.</p>
<p>Air mata yang kutangiskan, wahai sahabatku yang papa, lebih murni daripada tawa ria orang yang ingin melupakannya, dan lebih manis daripada ejekan seorang pencemuh. Air mata ini membersihkan hati dan kuman benci, dan mengajar manusia ikut merasakan pedihnya hati yang patah.</p>
<p>Benih yang kautaburkan bagi si kaya, dan akan kau tuai nanti, akan kembali pada sumbernya, sesuai dengan Hukum Alam. Dan dukacita yang kausandang, akan dikembalikan menjadi sukacita oleh kehendak Syurga. Dan angkatan mendatang akan mempelajari Dukacita dan Kemelaratan sebagai pelajaran tentang Kasih Sayang dan Persamaan.</p>
<p>(Dari &#8216;Suara Sang Guru&#8217;)</p>
<p>:+: Khalil Gibran :+:</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.puisi.org/2006/06/02/kasih-sayang-dan-persamaan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>MIMPI</title>
		<link>http://www.puisi.org/2006/06/02/mimpi/</link>
		<comments>http://www.puisi.org/2006/06/02/mimpi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 Jun 2006 07:15:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>WebAdmin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Khalil Gibran]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[malam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://puisi.org/2006/06/02/mimpi/</guid>
		<description><![CDATA[Kala malam datang dan rasa kantuk membentangkan selimutnya di wajah bumi, aku bangun dan berjalan ke laut, &#8220;Laut tidak pernah tidur, dan dalam keterjagaannya itu laut menjadi penghibur bagi jiwa yang terjaga.&#8221;,
Ketika aku sampai di pantai, kabus dari gunung menjuntaikan kakinya seperti selembar jilbab yang menghiasi wajah seorang gadis. Aku melihat ombak yang berdeburan. Aku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kala malam datang dan rasa kantuk membentangkan selimutnya di wajah bumi, aku bangun dan berjalan ke laut, &#8220;Laut tidak pernah tidur, dan dalam keterjagaannya itu laut menjadi penghibur bagi jiwa yang terjaga.&#8221;,</p>
<p>Ketika aku sampai di pantai, kabus dari gunung menjuntaikan kakinya seperti selembar jilbab yang menghiasi wajah seorang gadis. Aku melihat ombak yang berdeburan. Aku mendengar puji-pujiannya kepada Tuhan dan bermeditasi di atas kekuatan abadi yang tersembunyi di dalam ombak-ombak itu &#8211; kekuatan yang lari bersama angin, mendaki gunung, tersenyum lewat bibir sang mawar dan menyanyi dengan desiran air yang mengalir di parit-parit.</p>
<p>Lalu aku melihat tiga Putera Kegelapan duduk di atas sebongkah batu. Aku menghampirinya seolah-olah ada kekuatan yang menarikku tanpa aku dapat melawannya.</p>
<p>Aku berhenti beberapa langkah dari Putera Kegelapan itu seakan-akan ada tenaga magis yang menahanku. Saat itu, salah satunya berdiri dan dengan suara yang seolah berasal dari dalam laut ia berkata:<br />
&#8220;Hidup tanpa cinta ibarat pohon yang tidak berbunga dan berbuah. Dan cinta tanpa keindahan seperti bunga tanpa aroma semerbak dan seperti buah tanpa biji. Hidup, cinta dan keindahan adalah tiga dalam satu, yang tidak dapat dipisahkan ataupun diubah.&#8221;</p>
<p>Putera kedua berkata dengan suara bergema seperti air terjun,&#8221;Hidup tanpa berjuang seperti empat musim yang kehilangan musim bunganya. Dan perjuangan tanpa hak seperti padang pasir yang tandus. Hidup, perjuangan dan hak adalah tiga dalam satu yang tidak dapat dipisahkan ataupun diubah.&#8221;</p>
<p>Kemudian Putera ketiga membuka mulutnya seperti dentuman halilintar :</p>
<p>&#8220;Hidup tanpa kebebasan seperti tubuh tanpa jiwa, dan kebebasan tanpa akal seperti roh yang kebingungan. Hidup, kebebasan dan akal adalah tiga dalam satu, abadi dan tidak pernah sirna.&#8221;<br />
Selanjutnya ketiga-tiganya berdiri dan berkata dengan suara yang menggerunkan sekali:</p>
<p>&#8216;Itulah anak-anak cinta,<br />
Buah dari perjuangan,<br />
Akibat dari kebebasan,<br />
Tiga manifestasi Tuhan,<br />
Dan Tuhan adalah ungkapan<br />
dari alam yang bijaksana.&#8217;</p>
<p>Saat itu diam melangut, hanya gemersik sayap-sayap yang tak nampak dan getaran tubuh-tubuh halus yang terus-menerus.</p>
<p>Aku menutup mata dan mendengar gema yang baru saja berlalu. Ketika aku membuka mataku, aku tidak lagi melihat Putera-Putera Kegelapan itu, hanya laut yang dipeluk halimunan. Aku duduk, tidak memandang apa-apa pun kecuali asap dupa yang menggulung ke syurga.</p>
<p>:+: Khalil Gibran :+:</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.puisi.org/2006/06/02/mimpi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
