Tak akan pernah
tak akan kubiarkan jasadmu
bersemayam di ranjang
yang pasrah
maaf, jika pesonamu
membuatku lupa
lebih baik aku terkapar
sendirian
mengarungi wahana dunia
yang lain
tidak dengan kau
tak akan kubiarkan jasadmu
bersemayam di ranjang
yang pasrah
maaf, jika pesonamu
membuatku lupa
lebih baik aku terkapar
sendirian
mengarungi wahana dunia
yang lain
tidak dengan kau
Tak kenal diri ketika angkara
Tertunduk malu kubaca aksara
Keluh kesah dan dendam bergelora
Kutimang gelisah di tumpukan lara
‘Membara’
Berilah lantunan walau nada resah
Biar tersenyum hati yang marah
Bagai bola api di langit berwarna merah
Siap menghujam kencang menumbuk tanah
‘Amarah’
Aku ingin memecah semesta
Padamkan matahari sampai jiwa gelap gulita
Hentakan kaki sampai gunung gunung rata
Miliki bintang timur sampai mataku buta
‘Meminta’
Cengkram dadaku!
Akan kuamuk semesta di setiap penjuru
Padamkan marahku!
Akan kuamuk semesta lintasi waktu
Dinginkan hatiku!
Akan kurobek langit yang masih biru
Blarrrr!!!
Kuhantam dinding galaksi sampai ‘bergetar’
Tak perduli batu batu jagat hujani kepala
Tak perduli pula apa kata maki sang kala
Byurrr!!!
Melompat ke tengah samudra sampai ‘tercebur’
Menyelam ke batas mengubur jiwa yang kalap
Dalam, dalam, aku ingin dasar yang paling gelap
Marah pada diri sendiri
Lalu kuluapkan pada dunia
Biarkan aku di batas, sendiri
Lalu kulupakan saja semua
Wizurai
CERITA DINI HARI
malam ini, ketika mentari malu bersinar
aku datang ke ribaanmu, melalui terpaan angin dingin
melalui guliran titik-titik embun basah
aku berjalan menghampirimu
saat semua mulai berkeluh kesah
meratapi hidup yang hilang arah
aku tetap sabar menanti sapaanmu
datanglah padaku, jangan ragu merayap sayang
aku ingin tahu apa yang kau rasa
beri tahu aku nyanyian melo itu
lemparkan semua isi di benak mu
biarkan sabar hanya untuk ku
lewat tengah malam, aku kembali datang padamu
kau tumpahkan semua kehampaan asa mu
tak sadar kau sudah membicarakan risau
takut akan hidup abadi, kekal selamanya
bagai nina bobo bagi sikecil
pulasmu semakin menjelentikkan kekakuan
mencoba terus menusuk iba ku
mengajak ku ikut serta dalam perangmu
akhirnya fajar pun menampar mentari
dipaksanya ia muncul melalui sela jendela
tanpa undangan ia mengusik alam sadar
igauanmu, masih terus terngiang ditelinga kiri ku
hidup adalah soal keberanian sayang
aku harus menempuh rintang perjalanan panjang ini
biarlah aku cerna dulu kenangan-kenangan dan harapan-harapan itu
bersama kabut pagi, menanti datangnya bidadari
menarik ku dari hidup yang biru ini
(jakarta, 30 maret 2008)
CERITA DINI HARI
malam ini, ketika mentari malu bersinar
aku datang ke ribaanmu, melalui terpaan angin dingin
melalui guliran titik-titik embun basah
aku berjalan menghampirimu
saat semua mulai berkeluh kesah
meratapi hidup yang hilang arah
aku tetap sabar menanti sapaanmu
datanglah padaku, jangan ragu merayap sayang
aku ingin tahu apa yang kau rasa
beri tahu aku nyanyian melo itu
lemparkan semua isi di benak mu
biarkan sabar hanya untuk ku
lewat tengah malam, aku kembali datang padamu
kau tumpahkan semua kehampaan asa mu
tak sadar kau sudah membicarakan risau
takut akan hidup abadi, kekal selamanya
bagai nina bobo bagi sikecil
pulasmu semakin menjelentikkan kekakuan
mencoba terus menusuk iba ku
mengajak ku ikut serta dalam perangmu
akhirnya fajar pun menampar mentari
dipaksanya ia muncul melalui sela jendela
tanpa undangan ia mengusik alam sadar
igauanmu, masih terus terngiang ditelinga kiri ku
hidup adalah soal keberanian sayang
aku harus menempuh rintang perjalanan panjang ini
biarlah aku cerna dulu kenangan-kenangan dan harapan-harapan itu
bersama kabut pagi, menanti datangnya bidadari
menarik ku dari hidup yang biru ini
(jakarta, 30 maret 2008)
Kupenuhi bathinku saat kupeluk matahari seolah kurengkuh dirimu
Ditepian bibir waktu yang merayap pelan menuju kalbu
Sisakan semburat jingga
di sisimu yang meronai hati, menggelora,
mengalun sungguh di pantaimu
Lalu aku pun terhempas
dan tertelungkup pasrah
diantara gelombang-gelombang,
jilati bathinku
Kini..
tak henti kubiarkan kuciumi kisi-kisi langit
Kala senyum menghamburkan terpanah pesona diragamu
Lalu takluk bersemayam damai ditiap relung bilik hatiku
Pada setiap kata yang tertuang
Pada setiap kasih yang kurendam
di cangkir mesra buih-buih cintamu