Narasi Di suatu Pagi

Dan bukan karna,hujan,angin ataupun kemarau
Pada peta perjalanan masa jahiliyah…
Saat khilafah perjuangkan rakyat jelata
Dan bukan karna,asa,siksa,ataupun jera
Malaikat memjelma bagai seorang peminta

Pagi, yang menghujamkan seribu bahasa
Dimulai saat ejaan kata tak lagi mengisyaratkan wacana
Tercucur sudah darah-darah mengalir di kediaman angan
Menghela nafas…
Embun terasa di kulit tangan..
Menyelinap butiran-butiran harapan
Pandanganku hanya tertuju pada langit…
Tentang keteguhan,moral yang seakan dapat di bayar
Nadi ku seakan merasuk otakku
Teduh dalam kiasan..
Sendu dalam lamunan..
Embun itu merasuk hatiku…
Apakah ini…bukan sekedar narasi
Ataukah persepsi..
Dari asa yang tertinggal…
Dari hati yang berbekal…
Pagi itu..hanya aku yang tau..
Bunga mekar menakjubkan…
Angin riang menyanyikan..
Embun datang menyerukan
Kar’na aku masih ada di suatu pagi
Kar’na aku masih bisa bermimpi…

To Dinda

Kepada Yts.
Dinda
di
Bumi yang Tak Lagi Biru

Dear Dinda,
kualamatkan rindu padamu
dengan ulin di pojok kiri amplop
juga salam dari almarhum hutan belakang rumah

Dind,
tadi malam rumah kita dikubur orang
ranjang, foto dan selimut kita rusak
belum lagi deru gergaji mesin
melibas meranti tua
lalu dahan kurus dengan berjuta toreh ditebas
paginya kudapati janda kaya meneguk kopi di balkon kondominium

Dind,
sejak itulah aku mengembara
lalu kuingat dongengmu tentang orang luka
yang menggedor langit sepanjang malam
memohon iba
Kini aku benar seperti itu

Dind,
di tengah pengembaraan kutahu debu-debu
telah merenggut kesunyian
lalu nyanyian dara riang
dan pekik rindu sang kekasih
termakan ombak peradaban

Karena itulah Dind,
tiada lagi gadis tersipu
kita bicara dengan teriak
bukan ucapan sopan ajaran sekolah
dan entah berapa banyak lelaki mabuk
bercinta dengan bulan di balik semak

Tahukah kamu, Dind
gara-gara itu malaikat kesal
karena manusia memaksa mengores tinta busuk
di rapor kusam sejak akil balig
karena sungguh dini mereka kenal dunia
tak tahu paut benar, juga tanda berhenti

Dind, sungguh aku tak habis pikir
kenapa semua itu terjadi
bukankah ada karma, ketika hidup runtuh
bersama terjungkalnya tanah retak
bumi bergetar dan orang khilaf semakin menengadah
ingat kealpaan mendekatkan diri ke neraka
sehingga keturunan manusia
hanya tahu rasa arang dan debu-debuan

Karena itulah Dind,
aku sungguh rindu padamu
rindu akan hidup kemarin
ketika aku dan kamu bermandi cahaya
ketika badak habiskan masa liar
dan harimau jawa mendengkur di balik belukar
dan tidakkah kau dengar ada punai bernyanyi
mengiring tarian pinus seberang gunung

Dind, juga tak rindukah kau
Ketika kabut mengajak kita bermain di kala fajar
Namun belum lama kita bermain
Ibu mentari mengajak kabut pulang
Kita pun menangis
Air mata kita menjadi embun
Menetes pelan ke pucuk dedaunan
Namun ibu mentari sungguh bijak
Segera beliau hapus tangis kita dengan cahyanya

Di ujung rindu
pada Dindaku di bumi yang tak lagi biru
tidakkah kau rindu padaku?

Kamu

Aku mencintaimu manusia
Terkadang melebihi cintaku kepada sang pencipta
Walau kau jauh dari sempurna
Dan kau bukanlah penguasa alam semesta

Ku mencintaimu
Karena kau menemani hidupku
Karena kau mengerti aku
Karena aku dari tulang rusukmu

Akankah kita selamanya
Bertemu di surga setelah di dunia
Inginku merasakannya

Mari pasanganku kita berkemas
Benahi puasamu
Rapihkan shalatmu
Siapkan zakatmu
Lantunkan Qur’anmu
Masukkan semua itu dalam koper amalmu

Cepat sayangku lakukan sekarang
Agar tidak tertinggal golongan kanan

Puisi Kiriman dari Nurul

Gelap

Gugah…Hatiku gugah menderah
Ditengah sepi mencekam dikelilingi kabut hitam kelam
Pekat…sungguh pekat tak terlihat setitikpun
Hanya ada aku dan tubuhku
Beribu-ribu bintang dan secerca cahaya bulan
Tak mampu mengalahkan kegelapan dihatiku
Hanya terdengar suara rintihan alam yang berbisik
Seolah membicarakan aku
Sampai tak terdengar semakin menjauh
Alunan nada nafasku masih melekat ditubuhku
Dan tak terasa sang waktu selalu menanti
Begitu luas hamparan gelap membayang di benakku
Hingga aku berlari mencari sudut
Akhirnya…Aku temukan titik cahaya
Cahaya yang membebaskan aku dari gelap dan sunyi
Tapi semakin berat aku melangkah semakin dingin kurasa
Terang membuat kelopak mata turut menunduk
dan ramai suara alam pun saling menyahut
Aku terus dan terus menerobos hingga nafas terakhirku
Saat kuangkat kelopak mata suruhan hati
Ternyata aku meninggalkan ragaku
Ajal menjelang, Allah memanggilku

Dikirim oleh: Riski Gultom (aruun_shabir@….)