Tag: wajahmu

Hey


Puisi ini ditulis oleh pada
30 July 2012 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (3 votes, average: 3.67 out of 5)
Loading ... Loading ...

Memandang wajahmu,

temaram dalam rentang hujan abu

surya redup bagi mega turun

mengaburkan bayang

seolah ini di negeri salju.

 

Hey..

senyum manis itu tetap lahir

dari suasana remang.

dimana sosokmu ketika kelopak mataku terpejam?

kujawab pelan;

“masih ada dalam sanubari

dan berwarna ungu”

 

(Magelang/November/2010/Katjha)

Terimakasih


Puisi ini ditulis oleh pada
20 August 2011 dengan 1 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (26 votes, average: 4.35 out of 5)
Loading ... Loading ...

Ku lihat wajahmu

Ada tangisan di mata itu

Layaknya pagi pertama di musim semi

Begitu cantik begitu pucat

 

Isakan tangismu bisa kudengar

Getaran ketakutanmu mampu ku rasakan

Walaupun kau berkata semua akan baik-baik saja, aku tahu

Ini begitu berat bagimu

 

Apakah kau mendengarkan kata-kataku

Bisakah kau merasakan perasaanku

Ketika jarak yang memisahkan kita adalah nol

Ku ingin kau tahu

Aku bahagia kau membawaku ke dalam hidupmu

 

Makhluk seperti diriku ini

Terimakasih banyak telah mencintaiku

Walau takdir pertemuan kita begitu singkat

Aku tidak pernah menyesalinya

 

Aku mencintaimu, aku akan mencintaimu selamanya

Aku akan mengingatmu selamanya

Sampai kita bertemu lagi di kehidupan selanjutnya

Aku tidak akan pernah melupakanmu

 

Hey


Puisi ini ditulis oleh pada
2 March 2011 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (2 votes, average: 5.00 out of 5)
Loading ... Loading ...
Memandang wajahmu,
temaram dalam rentang hujan abu
surya redup bagai mega turun
mengaburkan bayang
seolah ini di negeri salju.
Hey..
senyum manis itu tetap lahir
dari suasana remang.
dimana sosokmu ketika kelopak mataku terpejam?
kujawab pelan;
“masih ada dalam sanubari
dan berwarna ungu”
(Magelang/November/2010/Katjha)

Sirop Tak Berwarna


Puisi ini ditulis oleh pada
25 April 2009 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (1 votes, average: 5.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

Bagai kalah perang, kamu terdiam lunglai
Kembali ke peristirahatanmu
Tak tersisa warna pada wajahmu
Hanya pasi merajai

Sejenak bersandar
Berharap cengkraman di dada dapat terlepas
Membuatnya jadi bebas
Dari rasa yang lama menikamnya hingga kebas

Tadi, baru saja, kamu melihatnya
Seperti biasa hanya dari balik kepala
Hanya melihat realita bergerak dari jauh semata
Tak tersentuh, tak menjadi luluh
Hanya bisa begini
Karena kamu tak pernah berani

Siapalah kamu?
Menginginkan sebotol vodka coklat yang begitu memabukkan
Sedang kamu hanya segelas sirop yang bahkan perlu diberi pewarna
Lain kelas!

Kamu pun hanya berdiri di belakangnya
Melihatnya kemudian dibawa pergi oleh sang bartender
Untuk disajikan kepada penikmat kaliber atas

Tertegun, kamu menyadari
Kamu juga ingin seperti penikmat kaliber atas itu
Ingin merasakan manisnya vodka yang membuat rasanya semakin nikmat
Ingin merasakan pahitnya coklat yang membuat rasanya semakin rumit
Ingin merasakan harumnya campuran vodka-coklat yang membuat saraf nyaris berbadai serotonin

Tapi sekali lagi
Kamu memang telah kalah berperang
Siapalah kamu?

Hanya segelas sirop tak berwarna..

-bitaZ
Jan 12th, 09
19:27

dan kaulah (sang penonton)


Puisi ini ditulis oleh pada
5 January 2009 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (5 votes, average: 3.40 out of 5)
Loading ... Loading ...

-sudahkah kau basuh wajahmu?-

malam kian dingin,
dan gelap kian merangkul kesunyian,
mungkin saja angin sedang marah pada daun-daun,
yang memilih diam meniru bebatuan.
perang tlah usai,
api tlah tercabik hujan,
dan bulan tetap berlari menghindar.
“di mana kuntum bunga yang kujaga dengan pedangku?”
kau bertanya pada kunang-kunang yang menghilangkan cahayanya,
hingga dia mendesis marah dan pergi.
namun sang tanah tetaplah bumi yang baik hati,
yang meniupkan tunas dari rahimnya,
hingga kau kembali berpijak di rerumputan,
dan menjemput matahari yang tersipu.
musim semi terlahir dari buah-buahan yang bermain riang di taman.

-dan, sudahkah kau membasuh wajahmu?
karena perang tlah usai,
api tlah tercabik hujan,
dan kau masih terjerat pada tali yang digantungkan di jempol bintang;
tidak terbang, berpijak pun tak mungkin.

MIDNIGHT


Puisi ini ditulis oleh pada
11 August 2008 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (11 votes, average: 4.09 out of 5)
Loading ... Loading ...

pagi mulai merayap tapi aku

belum juga hendak terlelap

aku kangen melihat wajahmu

yang nyenyak dihiasi

guratan lelah

aku kangen memelukmu lagi

ketika dingin menantang

menghirup harum dari tengkukmu

hingga betah aku bertumpu disana

membiarkanmu menatapku seperti bayi

membuatku menyesali kejujuran yang

tak pernah ku akui karena

tak pernah ku mengerti

lalu kita samasama pergi

tetap tersenyum meski

hati luka

Kepergianmu


Puisi ini ditulis oleh pada
16 July 2008 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (8 votes, average: 4.13 out of 5)
Loading ... Loading ...

Air matamu mengiris hatiku halus
kuusapkan telapak tanganku ke wajahmu yang pucat
terlihat ketakutan kehilangan akan nafasmu
nafasmu yang mengalir dalam nafasku

Kubelai rambutmu dengan kelembutan angin malam
terasa getaran menyatu diujung jari-jari
tak kuasa menahan gejolak kasih
limpahan nuansa kejora malam yang tak bertepi

Tak akan kutinggalkan hatimu yang manangis pilu
telah terpatri janji pada kedalaman nurani
akan ikut menyatu kegalauan kasih dalam derita
meski kekuatan malam hendak meragas

Diambil dari : http://www.seasite.niu.edu/Indonesian/Puisi/Default.htm

Pamflet Cinta


Puisi ini ditulis oleh pada
19 March 2008 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (3 votes, average: 5.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

Ma, nyamperin matahari dari satu sisi.
Memandang wajahmu dari segenap jurusan.

Aku menyaksikan zaman berjalan kalang-kabutan.
Aku melihat waktu melaju melanda masyarakatku.
Aku merindui wajahmu.
Dan aku melihat wajah-wajah berdarah para mahasiswa.
Kampus telah diserbu mobil berlapis baja.
Kata-kata telah dilawan dengan senjata.
Aku muak dengan gaya keamanan semacam ini.
Kenapa keamanan justeru menciptakan ketakutan dan ketegangan.
Sumber keamanan seharusnya hukum dan akal sihat.
Keamanan yang berdasarkan senjata dan kekuasaan adalah penindasan.

Suatu malam aku mandi di lautan.
Sepi menjadi kaca.
Bunga-bungaan yang ajaib bertebaran di langit.
Aku inginkan kamu, tetapi kamu tidak ada.
Sepi menjadi kaca.

Apa yang bisa dilakukan oleh penyair
Bila setiap kata telah dilawan dengan kekuasaan?
Udara penuh rasa curiga.
Tegur sapa tanpa jaminan.

Air lautan berkilat-kilat.
Suara lautan adalah suara kesepian
Dan lalu muncul wajahmu.

Kamu menjadi makna.
Makna menjadi harapan.
… Sebenarnya apakah harapan?

Harapan adalah karena aku akan membelai rambutmu.
Harapan adalah karena aku akan tetap menulis sajak.
Harapan adalah karena aku akan melakukan sesuatu.
Aku tertawa, Ma!
Angin menyapu rambutku.
Aku terkenang kepada apa yang telah terjadi.

Sepuluh tahun aku berjalan tanpa tidur.
*Punggungku karatan aku seret dari warung ke warung.
Perutku sobek di jalan raya yang lenggang…
Tidak. Aku tidak sedih dan kesepian.
Aku menulis sajak di bordes kereta api.
Aku bertualang di dalam udara yang berdebu.

Dengan berteman anjing-anjing geladak dan kucing-kucing liar,
Aku bernyanyi menikmati hidup yang kelabu.

Lalu muncullah kamu,
Nongol dari perut matahari bunting,
Jam dua belas seperempat siang.
Aku terkesima.
Aku disergap kejadian tak terduga.
Rahmatku turun bagai hujan
Membuatku segar,
Tapi juga menggigil bertanya-tanya.
Aku jadi bego, Ma!

Yaaahhhh, Ma, mencintai kamu adalah bahagia dan sedih.
Bahagia karena mempunyai kamu di dalam kalbuku,
Dan sedih karena kita sering terpisah.
Ketegangan menjadi pupuk cinta kita.

Tetapi bukankah kehidupan sendiri adalah bahagia dan sedih?
Bahagia karena nafas mengalir dan jantung berdetak.
Sedih karena fikiran diliputi bayang-bayang.
Adapun harapan adalah penghayatan akan ketegangan.

Ma, nyamperin matahari dari satu sisi,
Memandang wajahmu dari segenap jurusan.

W.S. Rendra
( Koleksi Puisi-Puisi Willibrordus Surendra)

Perempuan yang Tergusur


Puisi ini ditulis oleh pada
4 March 2008 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (11 votes, average: 4.45 out of 5)
Loading ... Loading ...

Hujan lebat turun di hulu subuh
disertai angin gemuruh
yang menerbangkan mimpi
yang lalu tersangkut di ranting pohon

Aku terjaga dan termangu
menatap rak buku-buku
mendengar hujan menghajar dinding
rumah kayuku.
Tiba-tiba pikiran mengganti mimpi
dan lalu terbayanglah wajahmu,
wahai perempupan yang tergusur!

Tanpa pilihan
ibumu mati ketika kamu bayi
dan kamu tak pernah tahu siapa ayahmu.
Kamu diasuh nenekmu yang miskin di desa.
Umur enam belas kamu dibawa ke kota
oleh sopir taxi yang mengawinimu.
Karena suka berjudi
ia menambah penghasilan sebagai germo.

Ia paksa kamu jadi primadona pelacurnya.
Bila kamu ragu dan murung,
lalu kurang setoran kamu berikan,
ia memukul kamu babak belur.
Tapi kemudian ia mati ditembak tentara
ketika ikut demontrasi politik
sebagai demonstran bayaran.

Sebagai janda yang pelacur
kamu tinggal di gubuk tepi kali
dibatas kota
Gubernur dan para anggota DPRD
menggolongkanmu sebagai tikus got
yang mengganggu peradaban.
Di dalam hukum positif tempatmu tidak ada.
Jadi kamu digusur.

Didalam hujuan lebat pagi ini
apakah kamu lagi berjalan tanpa tujuan
sambhil memeluk kantong plastik
yang berisi sisa hartamu?
Ataukah berteduh di bawah jembatan?

Impian dan usaha
bagai tata rias yang luntur oleh hujan
mengotori wajahmu.
kamu tidak merdeka.
Kamu adalah korban tenung keadaan.
Keadilan terletak diseberang highway yang bebahaya
yang tak mungkin kamu seberangi.

Aku tak tahu cara seketika untuk membelamu.
Tetapi aku memihak kepadamu.
Dengan sajak ini bolehkan aku menyusut keringat dingin
di jidatmu?

O,cendawan peradaban!
O, teka-teki keadilan!

Waktu berjalan satu arah saja.
Tetapi ia bukan garis lurus.
Ia penuh kelokan yang mengejutkan,
gunung dan jurang yang mengecilkan hati,
Setiap kali kamu lewati kelokan yang berbahaya
puncak penderitaan yang menyakitkan hati,
atau tiba di dasar jurang yang berlimbah lelah,
selalu kamu dapati kedudukan yang tak berubah,
ialah kedudukan kaum terhina.

Tapi aku kagum pada daya tahanmu,
pada caramu menikmati setiap kesempatan,
pada kemampuanmu berdamai dengan dunia,
pada kemampuanmu berdamai dengan diri sendiri,
dan caramu merawat selimut dengan hati-hati.

Ternyata di gurun pasir kehidupan yang penuh bencana
semak yang berduri bisa juga berbunga.
Menyaksikan kamu tertawa
karena melihat ada kelucuan di dalam ironi,
diam-diam aku memuja kamu di hati ini.

Cipayung Jaya
3 Desember 2003
WS Rendra

Sedang Merayu


Puisi ini ditulis oleh pada
24 January 2008 dengan 18 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (12 votes, average: 3.50 out of 5)
Loading ... Loading ...

Mungkin kau tak tahu siapa presiden Zimbabwe
Tapi pasti kau tahu siapa namamu
Mungkin kau tak tahu di mana Pasar Cisalak
Tapi pasti kau tahu di mana rumahmu
Mungkin kau tak tahu berapa penduduk Kosta Rika
Tapi pasti kau tahu berapa nomor HP-mu
Mungkin saja ayahmu tukang kebun
Karena wajahmu berbunga-bunga
Mungkin saja pamanmu Menteri Penerangan
Karena wajahmu cerah bercahaya
Mungkin saja kakekmu juragan tebu
Karena wajahmu begitu manis
Mungkin saja ibumu tukang kue
Karena wajahmu enak dipandang
Aku yakin kau belum punya pesawat
Makanya aku yakin kau belum punya pasangan
Aku yakin kau belum punya pulau pribadi
Makanya aku yakin kau belum punya pendamping
Dan akulah yang akan jadi pasanganmu
Dan akulah yang akan jadi pendampingmu
Siapa tahu aku bisa memberimu pesawat dan pulau pribadi