Tag: ulang tahun

Kehadiranmu…


Puisi ini ditulis oleh pada
21 November 2010 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (14 votes, average: 3.07 out of 5)
Loading ... Loading ...

tika jumpa pertama denganmu,
seakan engkau merupakan sosok terbaik bagi diriku

hingga hampir disetiap malam kuusik tidurku dengan balutan mimpi bersamamu

kehadiranmu sempat membuat hatiku luruh,
aku yang egois, kaku bahkan dingin

akhirnya terlalas jua oleh pujuk dan rayumu

hingga hampir genap 4 tahun kita bersama-sama meracik mimpi harapan masa depan

dan disitu akhirnya kutemukan keretakan yang tak pernah kubayangkan sebelumnya

tak terlintas walau hanya dalam angan dan mimpiku

sungguh hadirmu kusangka kan mampu menjadi pengobat rana diri

namun ternyata kau hiris hatiku,,
pilu kian bertambah perih digigir jiwaku

semudah kau ucapkan janji-janji manis lewat mulutmu yang penuh kepura-puraan

segugus asa dan harapku yang bersemi kini terkulai kelemasan lagi

melolong sengit anganku bagaikan nyanyian asmara buta

disisa waktuku ini
dari lubuk hati kupinta padamu…

jangan kau ulangi perbuatanmu jika kau telah menemukan kekasih barumu….

_kelam09_

In The Region of The Summer Stars


Puisi ini ditulis oleh pada
6 August 2010 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (1 votes, average: 5.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

IN THE REGION OF THE SUMMER STARS
(The Tower of Babel)

Setelah banjir besar
Pada awalnya adalah keheningan

(Apa yang kita ketahui tentang Menara Babel?)

Tiupan trumpet
Dengung keyboards
Petikan guitar

Sunyi
Tenang
Bayangan di bawah sinar rembulan

Angin malam yang bertiup sepoi-sepoi
Menyibakkan rambut-rambut

(Apa arti kata ‘babel’?)

Dibangun diantara dua sungai besar
Lebih tinggi, melewati awan
Lebih tinggi, menyentuh langit

(Dimanakah letak Menara Babel?)

Lalu semuanya berubah
Suara guitar meraung
Cepat
Menghentak
Kasar
Bertenaga
Menari disaksikan bintang-bintang musim panas

(Untuk apa Menara Babel dibangun?)

Keangkuhan
Kesombongan
Pemuasan diri

(Siapakah yang membangun Menara Babel?)

“Dari puncak menara ini kita bisa memanah matahari,”
kata Nimrod, putra Cush, putra Ham, putra Nuh

(Kenapa Menara Babel hancur?)

Turunnya kutukan yang mengacaukan bahasa sebuah bangsa
Dan memecahnya untuk terserak ke seluruh muka bumi

Kekacauan
Kekonyolan

Raungan guitar menderu-deru

Keruntuhan
Kehancuran
Puing-puing

Dan senyap…

(Adakah yang tertinggal dari Menara Babel?)

Kelahiran kembali
Pada awalnya adalah keheningan…

Mereka berbicara dalam bahasa yang berbeda-beda

Jakarta, 29 Juli – 3 Agustus 2010

Urip Herdiman Kambali

http://www.theurhekaproject.blogspot.com

Catatan :
Diinspirasikan dari nomor The Tower of Babel, dalam album In The Region of The Summer Stars, milik kelompok The Enid, Dirilis pertama kali tahun 1976, dirilis ulang tahun 1984.

“Kemarin dan Esok” (sajak Ulangtahun buat Ulin)


Puisi ini ditulis oleh pada
22 April 2010 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (3 votes, average: 2.67 out of 5)
Loading ... Loading ...

Nduk,…Kemarin datang selembar hari yang tercatat.
…mungkin sudah lama sekali… bukan kemarin
Tapi tak apa,…tak banyak berbeda.

Hanya…
..ada yang tersekat diantaranya
Mungkin setangkai melati, atau segenggam bunga rumput

Nduk,…Besok datang secarik hari yang terlempar.
Mungkin sudah berulang kali,…bukan sekali ini.
…tak apa,..tak banyak berbeda.

Hanya..
Ada yang tersekat diantara kemarin dan esok.
Mungkin matahari kan menyapamu lebih mesra
Mungkin rumput pinggiran trotoart kan lebih sering menggodamu
…Berbahagialah dengan itu semua..

Eko Nuryadi
Bumi Allah-Surabaya November 1990

Ketika Burung Merpati Sore Melayang


Puisi ini ditulis oleh pada
4 March 2008 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (26 votes, average: 4.12 out of 5)
Loading ... Loading ...

Langit akhlak telah roboh di atas negeri
Karena akhlak roboh, hukum tak tegak berdiri
Karena hukum tak tegak, semua jadi begini
Negeriku sesak adegan tipu-menipu
Bergerak ke kiri, dengan maling kebentur aku
Bergerak ke kanan, dengan perampok ketabrak aku
Bergerak ke belakang, dengan pencopet kesandung aku
Bergerak ke depan, dengan penipu ketanggor aku
Bergerak ke atas, di kaki pemeras tergilas aku

Kapal laut bertenggelaman, kapal udara berjatuhan
Gempa bumi, banjir, tanah longsor dan orang kelaparan
Kemarau panjang, kebakaran hutan berbulan-bulan
Jutaan hektar jadi jerebu abu-abu berkepulan
Bumiku demam berat, menggigilkan air lautan

Beribu pencari nafkah dengan kapal dipulangkan
Penyakit kelamin meruyak tak tersembuhkan
Penyakit nyamuk membunuh bagai ejekan
Berjuta belalang menyerang lahan pertanian
Bumiku demam berat, menggigilkan air lautan

Lalu berceceran darah, berkepulan asap dan berkobaran api
Empat syuhada melesat ke langit dari bumi Trisakti
Gemuruh langkah, simaklah, di seluruh negeri
Beribu bangunan roboh, dijarah dalam huru-hara ini
Dengar jeritan beratus orang berlarian dikunyah api
Mereka hangus-arang, siapa dapat mengenal lagi
Bumiku sakit berat, dengarlah angin menangis sendiri

Kukenangkan tahun ?47 lama aku jalan di Ambarawa dan Salatiga
Balik kujalani Clash I di Jawa, Clash II di Bukittinggi
Kuingat-ingat pemboman Sekutu dan Belanda seantero negeri
Seluruh korban empat tahun revolusi
Dengan Mei ?98 jauh beda, jauh kalah ngeri
Aku termangu mengenang ini
Bumiku sakit berat, dengarlah angin menangis sendiri

Ada burung merpati sore melayang
Adakah desingnya kau dengar sekarang
Ke daun telingaku, jari Tuhan memberi jentikan
Ke ulu hatiku, ngilu tertikam cobaan
Di aorta jantungku, musibah bersimbah darah
Di cabang tangkai paru-paruku, kutuk mencekik nafasku
Tapi apakah sah sudah, ini murkaMu?

Ada burung merpati sore melayang
Adakah desingnya kau dengar sekarang

1998

+ Taufik Ismail  +

puisi puisi


Puisi ini ditulis oleh pada
19 October 2007 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (10 votes, average: 4.20 out of 5)
Loading ... Loading ...

B E R T A H A N

Mengetatkan simpul melelehkan ingatan
Mengarungi waktu melayari peristiwa
Pukulan demi pukulan menghantam
Harus berdiri di atas karang
Yang menang adalah mereka yang bertahan
Mengupas lapisan kelembekan
Sampai menemukan intan

B I D U K M U

Di bidukmu aku terpaku
Hanyut di muara peluh dan tangis
Memandangi mereka yang sengsara
Terlalu sempit di sini
Tuhan, bagaimana meluaskan bidukmu?

Continue Reading

Mestinya..


Puisi ini ditulis oleh pada
1 October 2007 dengan 4 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (12 votes, average: 4.67 out of 5)
Loading ... Loading ...

Mestinya ku disini….
Menyalakan lilin-lilin dihati…
Menggenggam erat jemarimu…
Ketika kau tiup lilin ulang tahunmu..
Lalu menikmati tarian bibirmu….
Mestinya kudisini…..
Memberi hadiah rangkaian manik – manik hati
Mestinya ku disini
Mengalungkan sebuah janji….
Tuk hidup semati..

Tuk saling mengerti..
dan tak menyakiti…..Mestinya ku disin kasih..

Untuk Apa Puisi Ini


Puisi ini ditulis oleh pada
7 September 2007 dengan 14 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (14 votes, average: 4.14 out of 5)
Loading ... Loading ...

Puisi ini, untuk apa harus tercipta. jika ibu-bapak di rumah masih saja membakar diri di bawah panas matahari. dan saudara lelakiku, tidak punya banyak pilihan selain menjual diri di tambang emas milik amerika.

untuk apa, jika sahabat-sahabatku sekarat di muka zaman. keluar malam-malam, untuk sekedar bernyanyi dengan pelacur taman kota, tentang amuk birahi yang membabi-buta. atau sekedar untuk bercumbu kecil dengan pacar-pacar mereka yang masih belum mengerti apa itu dunia.

untuk apa puisi ini, jika bibiku bersikukuh kembali lagi ke saudi menjadi tkw, setelah setahun lalu disiksa majikannya sampai berlari pulang ke kampung halaman, hanya membawa isak yang tertahan.

pamanku, kau mungkin tak percaya. ketika pulang sebentar ke rumah, ia lupa bagaimana mengucapkan bahasa ibu-nya sendiri. hidup lebih dari 10 tahun perantauan tanpa tuju yang pedih, memaksanya mengganti seluruh kata dalam kamus masa kecilnya dengan kamus bagaimana bertahan hidup.

untuk apa puisi ini jika yang kusebut keluarga, salah satu dari mereka ada yang mengangkat parang hendak menggorok leher bapakku, hanya karena sejengkal tanah.

untuk apa, untuk apa puisi ini? keluargaku tidak ada yang mengerti tentang puisi.

mereka pasti kecewa, jika nanti aku hanya pulang membawa sepenggal puisi dari sini.

kampungku tidak butuh puisi. tidak, kampungku harus butuh puisi. tidak, kampungku tidak akan pernah butuh puisi.

nasib puisi ini. harus kubawa ke mana. di kampungku siapa yang peduli tentang aliran makna di balik kata, siapa yang percaya pada penyair?

untuk apa puisi ini, jika aku, hanya sanggup mengeja kekalahan.

untuk apa jika tidak ada yang mau membaca dalam-dalam.

keluargaku dan keluargamu, kampungku dan kampungmu sama saja