Tag: ulang tahun sahabat

Jejak Kaki yang Hilang


Puisi ini ditulis oleh pada
9 February 2011 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (6 votes, average: 4.33 out of 5)
Loading ... Loading ...

Rabu pukul sepuluh malam
lebih sepuluh menit

Bangku besi peron satu
stasiun kereta

Duduk uncang dua kaki
sendiri

Sebelah kananku
sepasang sejoli
Tertawa kecil riang
dalam canda

Terngiang aku akan tawamu
dalam ingatan yg lalu

Malam ini sama kulalui
Tanpa dirimu lagi

Biasanya janji kita disini
Pulang malam jemput mimpi
Hingga lelah mata terkunci
Dalam pelukan malam yg sepi

Tunggu kereta
Dalam tujuan yang sama
bercengkerama
Lepas bosan yang ada

Jejak kakimu masih terasa
Dalam peron satu gondangdia
Bangku besi yang sama
Hanya jejak kaki tersisa

Membumbung tinggi sang angan
Terbawa angin malam kencang
Mencari jejak kaki hilang
Dari sisa-sisa sepihan kenangan

Selamat malam,
utkmu yang tersayang

Stasiun Kereta Peron Satu.
Menunggu Kereta terakhir

– albiruu –

Waktu yang kian menipis


Puisi ini ditulis oleh pada
2 February 2011 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (10 votes, average: 4.10 out of 5)
Loading ... Loading ...

Bagaimanapun, perang ini harus kuhadapi seorang diri
Tidak ada seorang pun Panglima akan berdiri disisiku
Bahkan sebagian dari kolegaku,
akan menjadi gundik-gundik daripada musuh-musuhku;

Sudah pasti mereka ini akan berusaha mencabik-cabikku
Tidak ada yang bisa kulakukan, selain membiarkan
semua malapetaka ini menimpaku seorang diri

Menang kalah….
Selamat mati.
masih menjadi tanda tanya yang tiada mungkin
disikap dalam kabut pekat yang tebal ini;
Harapan sudah hampir lenyap seluruhnya

sang Darwis bersabda, mintalah tolong kepada Tuhan-MU
kemudian kujawab,jika dia sang semesta alam malah bersembunyi
di masa damai, mana mungkin kuharap keberaniannya di masa perang?
Kami-pun lantas terdiam, tenggelam masing-masing dalam dunia kami yang sepi;

Kami sama-sama sadar bahwa waktu-ku tak lagi lama
sementara Darwis itu lantaran cendekianya, ditakdirkan untuk
menjadi saksi daripada semesta raya;

Kamar Rumah Sakit Jiwa no 28

http://www.xanga.com/krsj28

Salvatore Nevide [efendisaw@...]

Untuk Apa Puisi Ini


Puisi ini ditulis oleh pada
7 September 2007 dengan 14 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (14 votes, average: 4.14 out of 5)
Loading ... Loading ...

Puisi ini, untuk apa harus tercipta. jika ibu-bapak di rumah masih saja membakar diri di bawah panas matahari. dan saudara lelakiku, tidak punya banyak pilihan selain menjual diri di tambang emas milik amerika.

untuk apa, jika sahabat-sahabatku sekarat di muka zaman. keluar malam-malam, untuk sekedar bernyanyi dengan pelacur taman kota, tentang amuk birahi yang membabi-buta. atau sekedar untuk bercumbu kecil dengan pacar-pacar mereka yang masih belum mengerti apa itu dunia.

untuk apa puisi ini, jika bibiku bersikukuh kembali lagi ke saudi menjadi tkw, setelah setahun lalu disiksa majikannya sampai berlari pulang ke kampung halaman, hanya membawa isak yang tertahan.

pamanku, kau mungkin tak percaya. ketika pulang sebentar ke rumah, ia lupa bagaimana mengucapkan bahasa ibu-nya sendiri. hidup lebih dari 10 tahun perantauan tanpa tuju yang pedih, memaksanya mengganti seluruh kata dalam kamus masa kecilnya dengan kamus bagaimana bertahan hidup.

untuk apa puisi ini jika yang kusebut keluarga, salah satu dari mereka ada yang mengangkat parang hendak menggorok leher bapakku, hanya karena sejengkal tanah.

untuk apa, untuk apa puisi ini? keluargaku tidak ada yang mengerti tentang puisi.

mereka pasti kecewa, jika nanti aku hanya pulang membawa sepenggal puisi dari sini.

kampungku tidak butuh puisi. tidak, kampungku harus butuh puisi. tidak, kampungku tidak akan pernah butuh puisi.

nasib puisi ini. harus kubawa ke mana. di kampungku siapa yang peduli tentang aliran makna di balik kata, siapa yang percaya pada penyair?

untuk apa puisi ini, jika aku, hanya sanggup mengeja kekalahan.

untuk apa jika tidak ada yang mau membaca dalam-dalam.

keluargaku dan keluargamu, kampungku dan kampungmu sama saja