Tag: tentang tumbuhan

Pesan Cinta Yang Dititipkan Kepada Seekor Anjing


Puisi ini ditulis oleh pada
1 October 2010 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (1 votes, average: 5.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

Diam …

bukan karena hening dan tak sanggup untuk riuh

Diam …

karena tak mampu wicar

menanggung kebisuan sejak

rahim menyuruhnya keluar …

Tetapi matanya adalah mulut dengan

sorot seperti suara yang ingin menyampaikan bahasa.

Anjing itu bisu!

dari lahir, tapi dia berlidah

tapi tanpa suara.

dia jantan, tapi ketika sampai umur nanti

dia tak akan mampu memikat betina dengan suara.

yang berharga adalah ketika anjing itu setia untuk hidup

walau sungguh da;lam dunia binatang

bisu adalah menyakitkan dan menakutkan.

Dia punya mata adalah mulut, sorot mata

adalah suara bahasa, tapi

apakah bangsanya juga paham dengan kebisuannya?

tiadakah dia mudah dimangsa, ditindas dan dibinasakan?

Tetapi setiap pagi, kulihat anjing itu

berlari kecil di jalanan depan  rumahku

dengan gagah, tanpa luka dan sorot mata ketakutan.

Anjing bisu yang tiada bertuan,

yang papa namun menyosokkan ketegaran.

suatu pagi, ketika anjing itu melintas depan rumahku

dia berhenti sejenak seperti biasanya, memandang

halaman dan rumahku.

dengan lirih kukatakan;

“baiknya kutitipkan saja pesan cintaku ini kepadamu …

terserah akan kau sam[paikan kepada siapa …

bangsamu atau bangsaku … yang dapat bersuara atau bisu

seperti sosokmu”

sejenak anjing itu masih terdiri tenang

kemudian berlalu, hilang di kelokan jalan perumahan.

Esok nya tak kulihat lagi anjing itu melintas,

seminggu … tidak muncul .. pernah kucari di sudut

perumahan,

sampai jalan-jalanan kota kecilku

anjing itu lenyap setelah tersesat atau mati.

Dua bulan berlalu

Suatu sore ketika melintas jalan depan rumah

yang tegak besar

kulihat anjing itu bermain dengan gadis berambut panjang

penghuni rumah itu.

sejenak dia terhenti, menengok ke jalan, menatapku

lembut kedua sorot matanya,bening dan berbinar,

kemudian dia teruskan bermain, berlarian

dengan gadis berambut panjang itu.

Aku pun beranjak berjalan

menikmati setiap ayunan langkah

menikmati sore yang beranjak senja.

(September/2010/Jogjakarta/Katjha)