Tag: tawa

Cinta Seorang Badut


Puisi ini ditulis oleh pada
2 June 2011 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (12 votes, average: 3.67 out of 5)
Loading ... Loading ...

Penipu yang berhati mulia
Jenaka dan berhati baja
Dialah temanku sang bulat telur
Pemicu tawa yang suka mendengkur

Waktu tua telah mengajaknya berlalu
Hingga asin benar memori itu
Pendalamannya akan rasa
Yang lama kuanggap frasa

Ia memahat senyum
Dari hati kaum hawa
Hingga terlaksana
Ia tak segan terus terjaga
Dan mereka pun seakan lupa
Entah apa itu air mata

Namun tak ada kah yang hendak mengerti
Temanku itu mencari rasa
Yang terus ia jaga
Hanya demi seorang wanita

Tapi sebuah canda
Itulah kata dia
Bukan sebuah suka
Hanyalah sebuah dusta
Yang selalu ada
Untuk tawa kami semua

Tapi ia manusia
Yang hatinya pernah tak berdusta
Enggan terlihat air mata
Ia bersembunyi dalam dusta

Kini sang cinta meninggalkannya
Menimbun arti kata tanya
Entah bosan terbiasa
Atau yang lain telah ada

Tak sadar ia termenung
Topeng itu pun runtuh berbatu
Seakan telah berat ia berkarat
Adakah tawa mengajaknya
Aku pun tak tahu
Bukan bakat ku
Dia hanya berlalu
Pergi meninggalkanku

Aku tak mengerti
Adakah frasa itu mengubah rasa
Untuk dirinya, untuk diriku
Dan setiap kata ini pun bersatu
Menuliskan sendu
Milik kawan ku

Sang bulat telur
Pengukir senyum
Para wanita tak berhati itu…

Hidup


Puisi ini ditulis oleh pada
30 April 2011 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (1 votes, average: 5.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

Beberapa orang membangunmu dari tangis
Beberapa orang membangunmu dengan tawa
Tak sedikit orang yang membangunmu berbekal cinta

Aku membangunmu tersusun mimpi
Dengan tangis tawa dan cinta didalamnya

From: Dinda Minardi [muke_ghilee@xxx]

Tak Seperti Biasa


Puisi ini ditulis oleh pada
5 April 2011 dengan 1 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (9 votes, average: 3.33 out of 5)
Loading ... Loading ...

Kumandang adzan
Menjadi saksi
Dalam lirih tawa
Melawan sedih gelisahku
Tak seperti biasa
Perkataanmu yang damai
Menggumpal dalam mendung resahku
Senyumanmu…
Yang teduhkan amarahku
Seakan-akan menguak terikku
Setiamu ….
Harapanku juga cemasku
Benarkah kau sudah bosan
Dengan rumahku
Yang tak sanggup lagi
Menampung hartamu, indahmu…
Dan mungkin juga
Cintamu….

2 Desember 2010

From: Amiruddin Hasan Al Faraby [farabyal015@xxx]

Gema Tawa Siapa?


Puisi ini ditulis oleh pada
7 March 2011 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (6 votes, average: 2.67 out of 5)
Loading ... Loading ...

Ku cari rumah
Tapi tak kunjung ku temukan
Aku pincang tak terjamah
Terusir dan terlupakan

Pernahkah kau berteriak kencang
Namun tetap dicurangi Si Lancang?
Atau bersujud menyerah
Tapi tetap diinjak berdarah?

Bagaimana dengan riuh dari arah sana?
Kamu ingin berlari bergabung
Saling menggandeng, saling menyambung
Tapi terlanjur datang bencana
Membuatmu jatuh, buatmu limbung

Bagaimana dengan canda itu?
Kamu bahkan tak tahu punya siapa gema tawa itu
Punyamu?
Atau justru punya tawa yang menawakanmu?

Kamu pikir kamu menang
Kamu kira kamu berhak senang
Belum, saatnya belum datang

Alice Ayu [ayu.adiningrum@xxxxx.com]

Undead


Puisi ini ditulis oleh pada
18 November 2010 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (3 votes, average: 5.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

pejam terpejam dalam gelap malam

hitam

kubisa melihat tanganku memegang kedua bola mataku

meraba merasakan hening tembok kehidupan

sedingin es hingga nafasku berwarna

putih

hingga paru-paruku dapat merasakan dinginnya

mendengar jeritan

seolah tak asing bagiku

suara itu

akankah aku menjerit pula seperti itu

perlahan samar dan hilang

karena ku tahu darah mengalir deras dari dalam telingaku

menjerit tak terdengar

aku tak tahu lagi dengan bahasa apa lagi

agar mereka yang diluar sana dapat mendengarku

ku hanya bisa membuka mulutku dan tak dapat mengeluarkan suara

karena ku tahu lidah dan pita suaraku sudah tak aku miliki

lumpuh tak kentara

tulang kakiku hingga syarafnya

terurai berhambur keluar

aku menyeretnya lewat jalan berbatu menanjak

ku tahu di ujung itu ada gerbang putih

perlahan ku tahu

aku tak lagi miliki rasa sakit

perlahan ku tahu

aku mulai terbiasa

perlahan ku tahu

aku tak lagi miliki hidup

berjuntai dagingku bisa kulihat

dan derasnya aliran darah dari nadiku bisa kuminum

aku masih hidup dalam kematian

tak peduli tangan ini putus

untuk membebaskan jeratan dari rantai ini

kali ini kucoba menjaga hati ini

dengan sekuat tenagaku

hingga tak ada satupun melukainya

bahkan menyentuhnya

menyeret sisa tubuhku ke gerbang putih

hingga tanganku meraih pegangan gerbang itu

dan tak bisa terbuka

AKUUU MAUUU KELLLUARRRRRRRRRRRRRRR…

ada tawa kecil di seberang sana

ada seseorang memainkan kunci gerbang itu

tersenyum mengejekku

perlahan mendekatiku

dengan sisa tubuhku

aku menjaga hati ini

hingga akhirnya

pisaunya mengiris tipis leherku

dan keluar darah

aku sekarat

namun tetap kujaga rapat hatiku

pikirku saat nafas-nafas terakhirku

saat aku mati dan kaku

ada hati merah merona dalam genggamanku

membuat sesuatu nampak hidup kembali

membuat sesuatu sempurna

siapakah layak milki itu

siapakah layak menggantiku tuk menjaga itu

siapakah layak ??

dan aku lemas dan mati

hingga ajalku

hingga ruhku meninggalkan seonggok daging itu

ada tawanya kubawa terngiang di telingaku

Cinta Adalah Realita


Puisi ini ditulis oleh pada
15 July 2010 dengan 5 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (9 votes, average: 4.44 out of 5)
Loading ... Loading ...

cinta itu teman
teman itu cinta
dalam cinta ada teman
dalam teman ada cinta

tak ada topeng
tak ada pura-pura
aku cinta kamu
aku benci kamu
semuanya nyata

bukan karna takut kehilangan
bukan karna takut sendirian
tapi memang adanya

cinta itu nyata
nyata itu cinta

pahit dibilang pahit
tidak serta merta dibilang manis
lezat dibilang lezat
tidak sekedar pujian
walau sesekali ditambahi gurauan

dalam tawa ada air mata
dalam air mata ada tawa

saling melengkapi
bukan karena kesamaan
walau sesekali bertengkar
namun akhirnya kembali berpelukan

aku ingin kamu
karna aku ingin kamu
dan di matamu hanya ada aku
karna itu yang kamu mau

tidak selamanya bergandengan tangan
kadang jalan berjauhan
tapi tetap saling jaga

tidak selamanya berpelukan
kadang berpunggung-punggungan
tapi tetap saling sapa

cinta adalah teman
teman adalah cinta
dalam cinta ada teman
dalam teman ada cinta

karna cinta adalah realita
bukan sinetron belaka

03 April 2010

http://sampiran.blogspot.com/

deesiey [deesiey@...]

Keputusan


Puisi ini ditulis oleh pada
9 December 2008 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (3 votes, average: 3.67 out of 5)
Loading ... Loading ...

Pagi itu
seribu cemas menunggu
akhir pos kesatu

Lembaran ketukan palu
dimakmumkan ribuan orang
yang dibaiat tuk setia pada negara

ratusan tawa membahana,
ratusan gumaman perantara bergema,
sisanya nanar.

Pagi itu,
mungkinkah raga bersua
namun jiwa tlah berpisah?

Hadirmu


Puisi ini ditulis oleh pada
4 August 2008 dengan 3 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (7 votes, average: 4.29 out of 5)
Loading ... Loading ...

hadirmu..
entah bagaimana
telah menyita segenap rinduku

hadirmu..
pun telah merobek jiwa gelisahku
sakit..
sekaligus bahagia

kau meramu semua
cinta, racun dan janji harapan
kau kemas semua
lewat senyum dan tawamu yang
sungguh..
meremukkan hatiku

05/07/08

Puisi kiriman dari Castaway

Bidadariku


Puisi ini ditulis oleh pada
28 February 2008 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (8 votes, average: 3.50 out of 5)
Loading ... Loading ...

Kau datang saat ku jemu

Kau datang saat ku layu

Kau datang saat ku rindu

Rindu seorang pria berharap cinta kan datang menemaniku

Kau datang dengan tawa, canda, dan senyuman

Berikan sebuah cahaya menyilaukan

Saat itu ku bahagia ku tertawa

Walau ku hanya diam

Bibirku kelu saat kau bicara

Badanku kaku saat kau mengayunkan tongkat cintamu

Dan hatiku luluh saat kau kepakan sayapmu

Indah…itulah yang aku rasakan saat itu

Nikmat dunia bukanlah suatu perkara yang kupikirkan

Hanya dirimu yang kurindu

Masa yang indah

Masa yang susah

Masa yang bahagia

Masa yang terluka

kita lalui bersama tanpa derita

Karena ku punya rasa yang selalu berbunga

Namun kau telah pergidengan berkata ” Aku akan pulang ke khayangan tempatku bukan disini, Aku akan pergi ”

Ku menangis dan berkata ” Kenapa? Kenapa kau pergi saat kita bersatu ?”

“Ada yang menunggu ku disana, yaitu kekasihku yang sedang merinduku, aku harus pergi”

Lalu ku berteriak,

ku menangis,

sekali lagi kuberharap kan ada bidadari yang menemaniku, Namun untuk kali ini ku berharap dia mencintaiku”