Tag: singkat

Kepada Ibu


Puisi ini ditulis oleh pada
17 September 2010 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (10 votes, average: 4.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

Sebuah senja

Selepas hujan lebat dengan prahara kecil

menyisakan suasana senja yang beku, bisu dan penuh

kepedihan..

Dari sebuah layar handphone

terbaca sebuah pesan singkat

“anak ku pulang..”

Sejenak hati beranjak gamang,

menemukan kesadaran dari duka kepulangan

dia yang kukasihi..

Ibu nya masih ingat aku, orang yang pernah dicintai anaknya.

Sore ini Little Guinevere telah dimakamkan,

bersambut dengan hujan deras dan gemuruh angin

prahara kecil.

Dia telah mati dalam pengkhianatan,

penodaan simbol-simbol kasih dan cinta yang tulus.

Ibu … setelah hujan reda engkau memanggil aku pulang?

masihkah orang yang berduka dan terkhianati ini anakmu?

Ibu … kenapa engkau tidak memanggil aku pulang

ketika hujan itu masih turun deras …

aku tahu itu karena engkau terlampau menyayangi aku

yang bukan darah dagingmu sendiri.

Aku tahu engkau tak ingin orang yang menanggung duka, pengkhianatan

dan sakit ini basah,

dan tubuhnya meradang dalam hujan yang dingin.

Aku beranjak berjalan …

menuju rumah ibu Little Guinevere

hening, sepi dan remang dalam temaram senja

setelah melewati pintu kujelang sosokmu ibu …

engkau terduduk, lemas dan lesu …

tapi sorot matamu masih tajam dan penuh ketegaran.

“kemarilah anak ku … maafin ibu yang egois dan tidak berguna ini”

“anak ku pasti engkau kecewa, semua rasa sayang, cinta

dan kehormatanmu disinggung, kemudian

orang yang melakukan itu kini telah mati”

Walau dalam remang, aku lihat matanya berlinang

tapi jejak-jejak ketegaran nya masih membekas

“kemarilah anak ku … ”

Aku pun mendekat, dia usap kepalaku dengan penuh kasih sayang

“anak ku, maafkan ibu ya ..”

“telah kulahirkan seorang pengkhianat untuk hidup

dan cinta yang engkau perjuangkan”

Sepi … hening, diluar angin bergemuruh,

membawa udara dingin lewat lubang angin-angin rumah.

kutengadahkan kepalaku, kutatap dia, ibu dari Little Guinevere

walau seperti menelan seribu percikan bunga api

aku berkata sambil tersenyum tegak

“Ibuku … Kita manusia tertambat pada kefanaan,

sungguh pun dalam hidup kita adakalanya dikhianati, disakiti,

bahkan oleh orang yang paling kita sayangi”

“Ibuku … tegak lah … mari tersenyum untuk kenytaan

kali ini yang kita rasakan tidak adil”

“sebagai bukti ketegaran kita dan jiwa kita yang melawan,

menolak tunduk kepada takdir yang saki”

“ibuku … mulai saat ini aku adalah anakmu …

walau bukan lahir dari rahim mu, tapi aku lahir dari

kasih sayang mu kepada putri kesayanganmu”

“Ibuku … anakmu ini menyayangi ibunya”

(Kepada Ibuku Jemi/Fajar Bulan/Juni/2010/Katjha)

Ketika Mata Ketemu Mata


Puisi ini ditulis oleh pada
30 July 2010 dengan 2 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (3 votes, average: 5.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

KETIKA MATA KETEMU MATA
(Puisi III dari Tiga Puisi)

1/
Aku turun dari angkot, masuk ke dalam kompleks perumahan tempat kakakku tinggal. Setelah pertigaan kedua, aku berbelok ke kiri dan berjalan sedikit ke tengah. Dan tiba-tiba mobil Trooper hitam itu berhenti mendadak di depanku.

Aku bisa dengan jelas menatap lelaki yang duduk di belakang kemudi itu. Dan aku yakin ia pun bisa melihatku dengan jelas dari dalam. Mata kami saling beradu.

Aku berpikir cepat dalam waktu sedetik itu. Apakah aku harus melangkah ke samping dan memberinya jalan? Ataukah tetap berdiri dihadapan mobil itu dan membiarkan ia melajukan mobilnya?

2/
Aku melihat wanita itu di kereta ekspres. Pertama kali melihatnya, aku pikir ia seekor anak kucing yang imut, manja dan kinyis-kinyis. Setelah aku mendekatinya, ia sudah menjelma menjadi wanita yang jungkir balik mencari biaya untuk menghidupi keluarganya.

3/
Aku mengenal lelaki itu di kereta ekspres juga. Bercakap-cakap setiap pagi. Kupikir ia seorang lelaki yang baik dan kepala rumah tangga yang bertanggung jawab. Tetapi aku kurang suka kalau ia sudah berbicara tentang barang-barang bermerek yang ia kenakan. Mungkin ia butuh dipuji, sementara aku tidak pernah memuji penampilan seseorang.

4/
Aku memperkenalkan keduanya. Namun seperti kata pepatah, kalau sedang jatuh cinta, jangan jalan bertiga, karena orang ketiga akan menjadi setan.

Pengkhianatan memang selalu datang dari orang dekat. Aku tidak tahu pada saat mana ia menelikungku. Ada wanita yang membutuhkan banyak uang, ada pria yang punya banyak uang. Dan tiba-tiba mereka menghilang seperti bayangan ditelan kegelapan.

5/
Hingga akhirnya kabar angin itu berhembus kencang dan menjadi nyata ketika aku harus menjawab pertanyaan istri lelaki itu. “Apakah wanita ini teman Mas?” katanya bertanya sembari menyorongkan sebuah foto wanita cantik.

Aku tidak mengelak dari pertanyaan itu. Dan setelah itu diikuti serentetan pertanyaan lainnya. Kulihat mata ibu itu basah.

6/
Hidup kadangkala seperti kita membuka pintu. Buka pintunya, masuklah ke dalam dan lupakan bahwa pintu itu pernah ada. Kita tidak bisa memutar balik jarum waktu. Tetapi kita bisa saja bertemu kembali dengan masa silam di masa depan. Siapa yang tahu?

7/
Suatu pagi, masa silam itu ada di dalam angkot bersamaku. Kami sama-sama turun di terminal. Lelaki itu masih sempat bertanya dengan muka manis,”Apa kabarnya? Sudah lama ya kita tidak bertemu?”

Aku menatapnya dingin. Aku yakin aku masih bisa memukulnya jatuh saat itu juga. Namun aku memutuskan untuk tidak melakukannya. “Anda salah menegur orang, saya tidak kenal anda.” kataku singkat dan meninggalkannya.

8/
Dan pagi itu, kembali aku bertemu dengannya. Mata ketemu mata.

Aku menatapnya, sementara ia tetap duduk di dalam Trooper hitamnya. Entah berapa lama. Sampai akhirnya aku melangkah ke samping kiri perlahan-lahan, tanpa melepaskan pandanganku padanya. Mobil melaju perlahan, ia setengah menunduk saat melewatiku.

9/
Apa yang kita dapatkan sekarang adalah hasil dari masa silam, dan apa yang kita lakukan sekarang akan menentukan seperti apa kita di masa depan.

Apa yang kita lihat, apa yang kita perlihatkan, tidak lain hanyalah suatu mimpi dalam mimpi.

Jakarta, 27 Juli 2010

Urip Herdiman Kambali

http://www.theurhekaproject.blogspot.com

antara dia dan kata “kembali”


Puisi ini ditulis oleh pada
23 July 2010 dengan 2 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (10 votes, average: 4.10 out of 5)
Loading ... Loading ...

Sebahagian waktuku hilang, ini benar benar menghilang…

ntah di mana,tapi aku mencoba untuk tenang..

tenang,dan tenang ,sampai suatu saat dia datang..

bukan sebagai bintang ,yang menyentuh ku dengan begitu terang..

juga bukan bulan ,yang melihatku dengan sangat benderang…

dia hanya menyapa,tapi itu terlihat tak biasa.

Dan Aku juga mencoba menyapa dia, tapi itu yang tak ku bisa.

Atau Mungkin belum ku coba.

Aku bukan berjalan tanpa mata.

Aku melihatnya ,sungguh melihatnya.

dia bukan hanya sekedar cerita.

Dia nyata.dan dia ada..

Dan kini dia tiada..

benar,,,memang benar dia hanya menyapa.

Tapi aku merasa,dia ada walau pun tiada.

Andai dia kembali ,aku ingin lahir seperti..

Seperti daun,yang berjatuhan di taman yang mencoba untuk menenang kan,

Andai dia kembali ,aku ingin lahir seperti .

Seperti badut yang mencoba menghibur walau melelahkan.

Andai dia kembali,aku ingin lahir seperti.

Seperti merpati yang selalu setia dan tak tergoyahkan.

Tapi seandainya dia tak akan pernah kembali?

Mungkin aku akan lahir seperti ikan,yang mudah untuk melupakan.

Atau Mungkin juga aku akan lahir seperti penyair yang tetap mencintai walaupun di lupakan.

Apakah kata kata “kembali” terlalu jauh bagimu?

Apakah raut wajahku terlalu mudah untuk dihapuskan olehmu?

“Tersenyumlah” mungkin itu yang akan kau ucapkan.

Tapi tidak, aku tidak bisa. semua telah hilang sesaat kau menghilang.

Namamu adalah senyuman , sentuhan mu adalah kenangan.

Dan bagai mana bisa aku terbiasa..

Tapi…terimakasih atas waktu yang begitu singkat..

Kau merubah perjalanan ku yang semestinya berat.

Aku tau di dalam hati ini namamu akan menjadi pekat,dan tambah pekat .

Terimakasih…

dan aku tersenyum ….

Di Titik Pertemuan


Puisi ini ditulis oleh pada
12 May 2010 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (1 votes, average: 4.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

Langkahku berirama menjemput pesan singkat
dan sebuah titik pertemuan
ketika malam masih bercumbu
dengan trotoar,
lampu-lampu jalan, genangan hujan.

Di sana tercipta kerinduan.
Terbingkai rapi
dalam emperan toko
dan lalu lalang kendaraan
dalam percakapan
dan buih-buih minuman
dan asap yang leleh senada kuhisap
ingatan tentang
kalimat-kalimat yang pernah kita perbincangkan.

Aku terduduk kemudian.

Mencari janji di sebuah titik pertemuan.
Menanti langkah yang seirama
datang dari arah yang berlawanan.

Kubaca lagi pesan singkatmu.
Dua lewat lima.
Trotoar itu masih sama.
Seperti jumpa kita yang pertama.
Juga lampu-lampu jalan
emperan toko
genangan hujan
lalu lalang kendaraan
dan malam yang serakah mencumbui semuanya.
Tapi sadarku masih sempat lari
dibawa pergi oleh lantang suara adzan.

Lalu tiba-tiba kulihat sosok itu dari sudut
menuju tepat ke titik pertemuan.
Aku kenal betul siapa
: sang penulis pesan.
Kusaksikan.
Dia menunggu, mondar-mandir mengutuk malam
yang sama.
Yang pernah mecumbui kita berdua pula
dulu,di bawahnya.
Ya.Dia ada disana.
Menunggu.
Hingga bayangannya hilang
jadi abu
di depan sepatuku.

Sambil membaca pesan singkatmu,
Aku tau pasti
tak ada yang berubah di titik pertemuan itu.

Hanya saja
aku tak pernah datang kembali kesana.
Aku tak pernah menemuimu untuk kedua kalinya.

Mei 2010

Author:

dhika agusta [lord_heart86@...]

Aku tak Pantas


Puisi ini ditulis oleh pada
5 November 2007 dengan 14 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (10 votes, average: 4.60 out of 5)
Loading ... Loading ...

Kuterdiam,
Kupejamkan mata,
Kuingin sembunyi darimu,
Tak tahan kumelihat…

Tertahan semuanya di hati,
Kuingin kau selalu ada disampingku,
Menemaniku dengan tawamu,
Mengisi hidupku dengan senyummu,
Menerangi hidupku dengan kehadiran,
Memendam pahit hidup yang silih berganti….

Kau menyilaukanku dengan cahayamu,
Ingin kugerakkan tubuh yang terlumpuhkan olehmu.
Namun,
Apa daya
Aku bukanlah apa-apa,
Aku hanyalah setitik embun dingin di malam yang singkat,-
Dan kau merubahku dengan kehangatanmu…

Tapi apa yang kupunya,
Aku hanya embun yang berpindah dari ufuk timur ke barat,
Aku ini lemah hanya ikut angin bertiup…
Tapi kau menarik semuanya’
Ingat ke-9 pengagummu?.?
yang selalu ada di sekelilingmu dan perlahan-lahan mendekatimu?,?
Aku hanya bisa diam.,.,

AKU TAK PANTAS

Kenapa ku begini?
Kenapa hidupku begini?
Kenapa aku harus denganmu yang sudah jelas aku tak bisa?
Memendam rasa ini hanya membuatku menderita,
Mungkin kau tahu,
Mungkin juga tidak!
Namun hanya satu yang pasti,
Aku tak pantas untukmu,
Kau terlalu sempurna untukku…

Lepaskan aku dari belenggumu,
Apapun caranya,
Kalau perlu tusuk saja aku dengan pisau…
Kalau ini satu-satunya cara untuk membuktikannya.
Aku takut aku hanya membuat cahaya mu meredup bila kau bersama ku…
Walaupun aku sendiri bingung apa yang ada di hatimu,
Terkadang kau membuatku merasa untuk maju,
Tapi terkadang kau seperti mengusirku…
Sekarang apa yang kau inginkan dariku…
Walau berarti menghancurkan hidupku sendiri.

Cahaya Malam


Puisi ini ditulis oleh pada
17 July 2007 dengan 12 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (17 votes, average: 4.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

Dalam kegelapan malam
Dalam kegundahan pikiran
Ku ingin bertemu dengan cahaya malam
Sesuatu yang ku angan-angan
Sesuatu yang selama ini menjadi khayalan
Tak ada perjumpaan
Tak ada obrolan
Hanya pesan-pesan singkat dari handphone
Tapi semua hanya khayalan
Lama ku tak bertemu
Lama ku menantikannya
Cahaya malam itu entah di mana
Apakah aku sudah gagal mendekatinya?
Entahlah
Semuanya cuma angan-angan
Cahaya malam tak di sini
Tapi di sana
Entah di mana berada
Tapi ku ingin menemuinya
Tapi ku ingin menjumpainya
Walau (sekali lagi) hanya dalam khayalan
Mudah-mudahan

by: Bradley Setiyadi

AKU TaK PANTAS


Puisi ini ditulis oleh pada
13 July 2007 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (19 votes, average: 3.26 out of 5)
Loading ... Loading ...

Ku terdiam…
Ku penjamkan mata
Kuingin sembunyi darimu
Tak tahan ku melihat…

Tertahan semuanya dihati
Kuingin kau selalu ada disampingku…

Menemaniku dengan tawamu,
Mengisi hidupku dengan senyum mu,
Menerangi hidupku dengan kehadiranmu,
Memendam pahit hidup yang silih berganti…

Kau menyilaukanku dengan cahayamu,
Ingin kugerakan tubuh yang terlumpuhkan olehmu…

Namun apa daya aku bukanlah apa-apa,
Aku hanya setitik embun dingin dimalam singkat,
Dan kau merubahku dengan kehangatanmu…

Tapi,
Apa yang kupunya,
Aku hanya embun yang berpindah dari ufuk timur ke barat,
Aku ini lemah hanya ikut angin bertiup…

Tapi,
Kau menarik semuanya,

Ingat ke-9 pengaggum mu???

Yang selalu ada disekelilingmu???

Dan perlahan-lahan mendekatimu???
Aku hanya bisa DIAM…

AKU TAK PANTAS

Kenapa Aku Begini???

Kenapa Hidupku Begini???

Kenapa Aku Harus Denganmu yang Sudah Jelas AKU Tak Bisa??

Memendam rasa ini hanya membuatku menderita,
Mungkin kau tahu…Mungkin juga tidak!

Namun hanya satu yang pasti aku tak pantas untukmu,
Kau terlalu sempurna untukku…

Lepaskan aku dari belenggumu,
Apapun caranya…

Kalau perlu tusuk saja aku dengan pisau!
Kalau ini satu-satunya cara untuk membuktikannya!

Aku takut aku hanya membuat cahayamu meredup,
Bila kau bersamaku…

Walaupun aku sendiri bingung apa yang sebenarnya ada dihatimu?

Terkadang kau membuatku untuk maju, tapi
Terkadang kau seperti mengusirku?

AKU BINGUNG

Sekarang apa yang kau inginkan dariku?
Walau berarti menghancurkan hidupku sendiri.