Tag: siap

catatan yang seharusnya tanpa nama.


Puisi ini ditulis oleh pada
24 July 2010 dengan 2 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (8 votes, average: 4.38 out of 5)
Loading ... Loading ...

Aku sadar kini bukan rintik hujan yg menemaniku.

Hanya segelas air yg mulai membeku.

Dan kini tambah membeku dan membisu.

Bahkan kini Membasahi sebahagian waktuku.

Memang terlalu lama untk dia tau.

Tau bagaimana waktu berdetik dengan lugu.

Tau bagaimana jantung yg seharusnya berdetak tanpa haru.

Tau bagaimana aku yg menunggu tanpa lagu.

Ahh Mungkn kau tak akan pernah tau.

Atau aku yg selalu terdiam dalam senja mu.

Maaf.

Mungkin aku salah memandangmu.

Seharusnya tak begitu.

Seharusnya aku disitu.

Bukan menunggu atau menderu.

Boleh kah aku melupakan mu?

Ini bukan pintaku.

Ini hanya pinta dari sebuah hati yg terlalu renta untk menunggu.

Bolehkah aku meninggalkan mu?.

Ini juga bukan pintaku.

Ini pinta dari tubuh yg terlalu lelah untk menunggu.

Bolehkah aku memelukmu.?

Ini bukan pintanya atau ini bukan teriakan nya.

Tapi ini pintaku ,
agar aku bisa berkata yg seharusnya di ucpkan saat melepas seseorang .

“Selamat tinggal”

itukah kata katanya.

Dan kini aku bisa mengikuti hati dan tubuh yg bertanya padamu..

Seharusnya kau tau Hati dan tubuh itu miliku .

dan kini aku siap.

Untuk Melupakan mu dan meninggalkan mu.

Slamat tinggal engkau yg membuat ku menunggu..

Dan sampai jumpa engkau yg seharusnya tak di hidupku.

Semoga


Puisi ini ditulis oleh pada
3 December 2007 dengan 4 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (2 votes, average: 3.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

Kau datang dikala hatiku tidak siap.
Takut untuk mencoba…
Takut untuk…
Takut…

Terkadang aku berpikir,
Apakah kau diluar jangkauan tangan dan hati ini,
Atau hanya akulah yang takut menjangkaumu?

Apakah aku harus berpaling,
Berjalan sendiri, menjauh darimu,
Atau haruskah kupersiapkan lagi hati ini untukmu?

Waktu telah berlalu.
Tiada kutemukan lagi hasrat untuk menggapaimu.
Tangan inipun tak lagi berusaha merangkulmu.

Sempat hatiku enggan melepaskanmu,
Namun kini kuberanikan diriku,
Untuk ucapkan selamat tinggal.

Selamat tinggal.
Sekali lagi, selamat tinggal.

Jikalau takdir dalam candanya,
Mengatur ruang dan waktu,
Bermain dengan kemungkinan,
Dalam usahanya mempertemukan kita kembali,
Janganlah ragu untuk mengetuk pintu hati ini.

Semoga ia belum terisi,
Semoga ia tidak takut lagi.