Tag: setia

Penantian Semu


Puisi ini ditulis oleh pada
20 April 2011 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (2 votes, average: 5.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

Tak usah lagi
kau Bawa mentari itu
yang membakar semangatku,

Biarkan saja aku
Dalam Sepi malam malamku
Tanpa Rembulanmu yang menemani

Oh Gusti,
Hilangkanlah Raut wajah itu
Manja canda tawa itu,

Aku tak perlu Semua itu
Tak Perlu Biduk Indah itu
Biarkan Dermaga ini tetap kosong

Sebagai tempat untuk yang terpilih
Tak perlu biduk yang besar,
Tak perlu Biduk yang semu
Ialah hanya sekedar merapat namun tak bersauh

Cukuplah Biduk yang kecil
sederhana namun setia
Yang rela melabuhkan sauhnya,
Hanya untuk dermaga ini…

Rindu Senyumku…


Puisi ini ditulis oleh pada
12 April 2011 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (1 votes, average: 5.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

mendung itu berubah menjadi guyuran hujan

rinai bukan saja deras tapi sudah teramat sangat hingga membuat gelap semakin pekat dingin……

yaahh dingin mengigit dikulit ariku yang terbalut selembar kain pemberian bundaku waktu dulu

mimpi apa aku semalam….?

perasaanku menyatakan tak bermimpi yang mengerikan

tapi kenapa disaat mataku terjaga hingga waktu menepi kegerbang senja air mata ini tiada juga reda

seperti tetesan bening diluaran sana

bahagiakah aku dengan cerita itu……

kiranya tak penting buat dipikirkan,,

karena apalah arti bahagia buat diriku yang telah tervonis menjadi teman setia lembar_lembar duka lara

kucari bias senyumku diantara tetes bening dijendela kaca buram

namun hingga jengah menguasai hati dan jiwa semburatnya saja tiada aku kenali…..

Ahh dimana senyumku…..?

aku merindukan senyumku….

aku ingin dan berharap kan mengecapi bahagia selayak mereka….

apakah memang aku tak pantas buat bahagia…..

Wahai Rabby……. dialtar kuasaMU kumenanti satu keajaiban dari sinar kasihMU…….

_Le???????_

Kepada Gadis Manis Penggesek Violin X


Puisi ini ditulis oleh pada
21 March 2011 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (1 votes, average: 5.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

Kisah ..

 

Manusia mencintai hidup dan membutuhkan sejarah,

ingin berbagi dan merindukan setiap gerak hati

untuk dicintai dan diperlakukan tulus.

 

Hidup bukan hanya pemberontakan,

seperti juga nada-nada violinmu

bukan hanya nada tinggi saja,

apa yang kudengar dan apa yang engkau lantunkan

tidak akan berarti sama.

semua beralur.

 

Aku mengenal hidupmu, melihat gerak

dan pandang hatimu

bukan hanya akan memuja dengan lantunan sajak-sajakku.

 

Wahai betinaku …

jauh pandang engkau kuletakkan dalam selubung kerinduan

agar sosokmu terjaga dari gerak keliaranku

yang kadang ingin menindasmu.

jauh hati, engkau kupanggil sebagai inspirasi

bagai dewi keindahan yang dipuja untuk turun ke bumi

sebagai manggala dari kidung-kidung

yang menceritakan tentang gerak peradaban.

 

Wahai Gadis manis penggesek violin..

ada yang ingin aku katakan

ketika kita saling bertatap pandang;

pada akhirnya cinta itu ingin menyatakan

kemanusiaan, rasa kesetiaan dan dia

tidak hanya ingin mengerti,

tetapi dia juga ingin mengalami

segala apa yang menjadi dukamu, kerianganmu

dan segala keresahanmu.

 

Saat ini kita tautkan hidup

antara hati dan gerak pikiran.

aku mengalami dirimu dalam diriku

dan engkau pun mengalami diriku dalam dirimu.

Ketika itu nada-nada juga akan bersambut

dengan sajak-sajak

dalam untaian semangat untuk

membangun hidup yang penuh kecintaan.

 

(Magelang/Februari/2011/Katjha)

Dalam Kamar


Puisi ini ditulis oleh pada
19 March 2011 dengan 1 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (3 votes, average: 3.33 out of 5)
Loading ... Loading ...

berjeruji hari kelam
berteman dengan lampu-lampu yang enggan bersinar
aku sendiri
tangisi setiap tarikan nafasku yang sia-sia
hingga kering mata

tak ada aksara dalam fikiran
suram
tak ada pena yang menari-nari
di atas kertas

hanya sebatang rokok
terselip dalam jemari
kepulan asap, mencekik

bagai pisau
memotong nadi, aliran darah.
bagaikan tali yang menarikku
dalam lembah kesunyian.

meniti tiap detik
yang masih gelap

from Chandra Daniel [ch4ndr4.daniel@xxxxx]

Dalam Kamar


Puisi ini ditulis oleh pada
9 March 2011 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (5 votes, average: 4.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

berjeruji hari kelam
berteman dengan lampu-lampu yang enggan bersinar
aku sendiri
tangisi setiap tarikan nafasku yang sia-sia
hingga kering mata

tak ada aksara dalam fikiran
suram
tak ada pena yang menari-nari
di atas kertas

hanya sebatang rokok
terselip dalam jemari
kepulan asap, mencekik

bagai pisau
memotong nadi, aliran darah.
bagaikan tali yang menarikku
dalam lembah kesunyian.

meniti tiap detik
yang masih gelap

Chandra Daniel [ch4ndr4.daniel@xxxx.com]

Cinta itu Kamu


Puisi ini ditulis oleh pada
7 March 2011 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (6 votes, average: 3.50 out of 5)
Loading ... Loading ...

Kamu itu pasir
Pasir putih berkilat di tepian pantai
Kamu menari
Menari mengayun ombak
Kamu berdansa
Berdansa bertautan cahaya
Kamu itu angin
Angin Surga pembawa dahaga
Andai saja kamu tetap ada
Setia menyapa lara
Mengapa kumbang hinggapi tanaman
Mengapa lalu terbang tinggalkan halaman
Andai saja ia ada
Setia dalam duka
Mengapa tak tinggal
Malah lari kalang kabut mengejar berandal
Padahal aku ada
Padahal aku tinggal
Lalu aku jadi sendiri
Sendiri menyapa lara
Sendiri dalam duka

from: Alice Ayu [ayu.adiningrum@xxxxx.com]

Hidup yang Tiada Arti


Puisi ini ditulis oleh pada
7 March 2011 dengan 2 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (7 votes, average: 3.86 out of 5)
Loading ... Loading ...

ku tau…
kau telah pergi jauh meninggalkanku
tak selamanya semua kenganmu akan ku ukir
ku hanya mampu melepaskan mu
bagaikan air yang mengalir

ku ingin berpikir untuk tiada henti
akankah dirimu mampu menerimaku kembali
mampukah kau membuka pintu hati kecilmu untuk ku lagi

ku ingin terus hidup untuk tiada henti
apakah mungkin lukisan itu mampu menjelmakan dirimu untukku
kau hanya hayalan bagiku
kau hanya kenangan untuk ku
di setiap malam gelisahku tak menentu
ku hanya mampu meneteskan air mataku
ketika ku mengingat kenangan manismu bersamaku

sebuah kata-kata yang akan ku ucapkan
ketika kau menjauh pergi meninggalkanku
kau tak pernah sadari
betapa kau yang ku sayang

Tanpa mu hidupku kan berakhir
tanpa mu hidupku tiadalah artinya lagi

seuntas kata-kata manis itu menghilang
kau menyakiti aku
pernah aku menyakitimu
pernah aku berpaling darimu
pernahkah aku mengkhianatimu ??
pernahkah kau mengerti akan hadirku untuk mu ????

Kini ku hanya mampu menerima semua itu
kini ku hanya mampu menahan semua luka itu

mungkin aku yang salah
mungkin aku terlalu bodoh menahan luka
karenaku telah mencintaimu sepenuhnya hati ini

Oh Tuhan …
buka kan lah pintu hatinya untuk ku kembali
ku tak ingin semua ini terjadi
menimpah diriku

Setiap mendengar ketukan sepatu
mataku selalu melihat keluar jendela
dan setiap kali yang ku temukan
hanyalah batu , rumput ,angin yang berlalu ….

Mungkin ku hanya mampu menerima semua itu,
rasa sakit yang telah ku rasakan membeku ,
rasa sakit itu akan hilang jika kau kembali di pelukanku

From: Andy [Deathboyz98@xxxxxxx.com]

Antara Aku, Dia dan Lagu “Remang-remang”


Puisi ini ditulis oleh pada
2 March 2011 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (4 votes, average: 3.50 out of 5)
Loading ... Loading ...

*)Jalanan, sebuah tepian pantai utara jawa

 

Senja beralih malam,

namun waktu yang beranjak lambat

menunda keremangan bersaput pekat

bersama lampu-lampu merkuri pinggiran jalan

pantai gelap,

kelap-kelip lampu kapal dan rumah-rumah

tepian pantai.

bersanding;

gelap hitam  remang-remang.

 

*) Trotoar pinggiran pantai

 

Aku dan Dia

tenggelam dalam remang senja beranjak malam

tenggelam dalam riuh bunyi

kendaraan lalu lalang melintas jalanan tepi pantai

 

Aku dan Dia ke sini bukan untuk saling diam

bukan untuk hanyut dalam panorama

pantai pelabuhan nelayan-nelayan kecil

bukan untuk mendengarkan riuh kendaraan lalu lalang

bukan juga untuk memperlihatkan diri sebagai sepasang

burung belibis yang bermesraan di tepi pantai.

 

Aku dan Dia

berjumpa hati dan bertatap kerinduan

dan mengawali setiap senyum diantara

Aku dan Dia dengan hati yang tulus untuk

saling mencintai.

 

*) sepi kebisuan dan hanyut suasana, pecah

 

Dia berkata; “mari kita nyanyikan lagu”

sejenak aku menatap senyum di bibirnya

dan tatap mata beningnya.

“lagu apa ?”

Dia menatap tersenyum; “lagu Remang-remang,

masih ingat kan ? ”

Aku masih ingat, lagu itu kesukaan almarhum Gus Dur.

 

“Ayo kita nyanyikan bersama”

sambil dia melangkah ke arah tepian trotoar

yang menghadap kelaut.

“ayo kita nyanyikan lagu Remang-remang”

Dia duduk menghadap ke jalanan ..

 

Kuhampiri Dia, duduk bersama menghadap jalanan

sejenak bertatap dengan senyum ditahan

kemudian pecah tawa-tawa kecil.

 

Aku dan Dia menyanyikan lagu Remang-remang

mengalun lembut, kadang tenggelam dalam

deru jalanan.

 

pecah rindu dalam keriangan

remang lampu dan angin sepoi jalanan pantura.

 

Akhir lagu bukan lirik yang habis

akhir lagu adalah Aku dan Dia yang tersenyum,

saling tatap .. dengan hati yang saling tertaut

cinta dan kasih sayang.

 

Di seberang jalan,

sebuah kelenteng yang menghadap ke laut

di depan menyala sepasang lampu lampion merah

bergoyang di tiup angin pantai.

seolah menyapa kebersamaanAku dan Dia

ingin menyimpan kisah Aku dan Dia

dalam setiap kelip dan nyala merah

sebagai simbol kebahagiaan.

 

(Tuban, Oktober 2010/Katjha)

Deklarasi Cinta


Puisi ini ditulis oleh pada
2 March 2011 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (4 votes, average: 4.25 out of 5)
Loading ... Loading ...

Hanya kata berbahan jiwa  hati yang tulus

aku katakan kerinduan.

 

Ingin aku bernyanyi, tetapi

desahan sunyi yang kualami

lebih dari nyanyian apa pun

seperti ketika senyum dapat mengatakan cinta.

 

Wahai kelopak-kelopak mawar merah bertitik embun pagi,

aku lihat mentari itu muncul membayang

dan menampakan sinar dari belakang sosokmu.

 

Ada sedikit keresahan tentang pagi yang terlalu cepat

menjadi hingar, ada terbayang kelelahan

akan siang yang terlalu sebentar menyajikan terik matahari.

Senja pun membayang bagai keremangan yang terlalu lama

beranjak malam.

 

Demi apa yang ada dan terus menyala

antara mata, mulut dan telinga

aku ucapkan kata yang jauh kau kenal sebelum aku terlahir

dalam setiap harimu.

Tangan dan kakiku adalah kereta yang menunggu engkau

setiap pagi di taman air mancur tengah kota.

 

Wahai, bidadari pagi..tersenyumlah

tentang sorot mataku, kemudian teduhkan dalam

dunia yang damai, namun masih menyisakan resah

untuk tiap kali seseorang harus berontak, tergerak

dan selalu menunjukan diri.

 

Wahai mahkota kerinduanku,

tantanglah aku, taklukan pejalan yang jalang ini.

kurunglah dalam tirai lonceng berdentang nada-nada bambu.

Tikam kegilaan ini rebah ke atas rumput musim kering

biar warna merahnya menceritakan hidup

yang dicintainya..

tentang engkau, gadis manis penggesek violin

yang mengusik setiap malamnya..

Aku berkata “taklukan aku, wahai perempuan ..”

 

(Jogjakarta/Desember/2007/Katjha)