Tag: semangat

Penantian Semu


Puisi ini ditulis oleh pada
20 April 2011 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (2 votes, average: 5.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

Tak usah lagi
kau Bawa mentari itu
yang membakar semangatku,

Biarkan saja aku
Dalam Sepi malam malamku
Tanpa Rembulanmu yang menemani

Oh Gusti,
Hilangkanlah Raut wajah itu
Manja canda tawa itu,

Aku tak perlu Semua itu
Tak Perlu Biduk Indah itu
Biarkan Dermaga ini tetap kosong

Sebagai tempat untuk yang terpilih
Tak perlu biduk yang besar,
Tak perlu Biduk yang semu
Ialah hanya sekedar merapat namun tak bersauh

Cukuplah Biduk yang kecil
sederhana namun setia
Yang rela melabuhkan sauhnya,
Hanya untuk dermaga ini…

Kepada Gadis Manis Penggesek Violin X


Puisi ini ditulis oleh pada
21 March 2011 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (1 votes, average: 5.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

Kisah ..

 

Manusia mencintai hidup dan membutuhkan sejarah,

ingin berbagi dan merindukan setiap gerak hati

untuk dicintai dan diperlakukan tulus.

 

Hidup bukan hanya pemberontakan,

seperti juga nada-nada violinmu

bukan hanya nada tinggi saja,

apa yang kudengar dan apa yang engkau lantunkan

tidak akan berarti sama.

semua beralur.

 

Aku mengenal hidupmu, melihat gerak

dan pandang hatimu

bukan hanya akan memuja dengan lantunan sajak-sajakku.

 

Wahai betinaku …

jauh pandang engkau kuletakkan dalam selubung kerinduan

agar sosokmu terjaga dari gerak keliaranku

yang kadang ingin menindasmu.

jauh hati, engkau kupanggil sebagai inspirasi

bagai dewi keindahan yang dipuja untuk turun ke bumi

sebagai manggala dari kidung-kidung

yang menceritakan tentang gerak peradaban.

 

Wahai Gadis manis penggesek violin..

ada yang ingin aku katakan

ketika kita saling bertatap pandang;

pada akhirnya cinta itu ingin menyatakan

kemanusiaan, rasa kesetiaan dan dia

tidak hanya ingin mengerti,

tetapi dia juga ingin mengalami

segala apa yang menjadi dukamu, kerianganmu

dan segala keresahanmu.

 

Saat ini kita tautkan hidup

antara hati dan gerak pikiran.

aku mengalami dirimu dalam diriku

dan engkau pun mengalami diriku dalam dirimu.

Ketika itu nada-nada juga akan bersambut

dengan sajak-sajak

dalam untaian semangat untuk

membangun hidup yang penuh kecintaan.

 

(Magelang/Februari/2011/Katjha)

Kepada Gadis Manis Penggesek Violin VII


Puisi ini ditulis oleh pada
11 March 2011 dengan 1 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (1 votes, average: 5.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

Beranjak keremangan subuh,

temaram mentari berbagi dengan kabut pagi.

saat beranda ini masih sepi,

lampu disudut  menyala menghabiskan

geliat-geliat malam.

 

Hening..

terhenti sesaat gerak mengenali diri.

sejenak terasing, pandang kepada hati melambat.

perlahan rona berbalik melekat pada citraan

diri yang seolah dilihat oleh semua tampakan pagi ini;

sebuah diri yang kecil, begitu lusuh

dan sebentuk semangat yang compang-camping.

 

Pagi telah melihat diriku gamang.

waktu yang beranjak seakan melambat,kemudian

terhenti.

semua yang masih tersisa untuk kurasakan,

luruh mengalun dalam bentang yang luas.

dimana hatiku, gerak pikiran dan

berbagai keangkuhan yang selalu kupelihara.

hilang bentuk, hilang rasa.

 

Kembali terhenti diri yang luruh mengalun

tersentak waktu yang berdetak kembali.

yang hilang bentuk, hilang rasa

muncul seperti tembok tinggi dan keras

di depan muka, menghantam keras.

seiring kesadaran yang muncul,

namun masih memberikan jarak

sehingga ada sebongkah ingatan untuk bertanya;

dimanakah gadis manis penggesek violin itu?

 

(Garut/Januari/2011/Katjha)

Sepekan Bersama Orang Sujenan


Puisi ini ditulis oleh pada
11 March 2011 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (3 votes, average: 4.67 out of 5)
Loading ... Loading ...

Raut teduh merona,

ditelinga kirimu

terselip kuncup setengah mekar

berwarna putih, saat itu aku lupa

menanyakan nama bunga

yang kau selipkan tiap pagi

dan sorenya kau ganti dengan bunga yang baru

namun tetap berwarna putih.

 

Sering kulihat di dahimu tertempel butir-butir

beras putih, entah berapa biji aku malu menghitungnya.

setelah engkau khusuk dalam ritual sajenan pagi dan sore hari

di pura keluarga.

 

Aku kagum begitu engkau hayati sebuah spiritualitas,

di tengah gelora kehidupan yang semakin materialistis,

di antara kerumunan orang memanjakan nalar dan

berkacak pinggang kepada yang ruhani.

Aku kagum dengan perlawanan budaya yang engkau lakukan,

aku tahu engkau tidak membela keyakinanmu

ditengah hedonisme jaman,

karena engkau hanya menunjukkan dirimu

yang menegakkan pribadi yang bertopang pada keseimbangan

alam-diri-sesuatu yang sakral.

 

Ada terpancar hening wajah dan hati yang tercerahkan.

tidak perlu engkau membuat jargon tentang cinta kasih,

yang esa dan tunggal,

karena jauh dari yang orang-orang katakan

engkau berkata dengan gerak langkah,

ketulusan laku

dan raut wajah dengan senyum diatas lesung pipimu.

 

Terima kasih,

lepas dari saat sepekan bersamamu

aku mulai tergerak lagi untuk bertanya ke dalam diri

tentang yang ruhani, spiritualitas dan relung-relung

penyadaran yang masih kosong

dan bergema keriuhan dunia yang hedonis dan penuh kepalsuan.

Ada semangatmu terbawa,

seperti dentang-dentang gaib yang menandakan waktu

untuk menautkan kesadaran

pada yang sakral, bersatu kepada yang harmonis

dan tiap kali menyatakan jiwa kepada semua yang nyata ini

berawal dan berakhir.

 

Tapi aku masih malu untuk menyebut nama Tuhan,

 

(Tuban/Oktober/2010/Katjha)

Makna sebuah idealisme


Puisi ini ditulis oleh pada
22 November 2010 dengan 1 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (11 votes, average: 3.82 out of 5)
Loading ... Loading ...

Dan kamu bilang kamu telah cukup banyak mengajariku tentang idealisme
Tentang kekuatan sebuah karakter untuk bertahan dalam situasi paling pelik sekalipun
Kupikir…
Mendengar kalian bicara di masa lalu itu
Tentang arti sebuah bangsa dan koar-koar makna kebangsaan
Sudah cukup membekaliku menghadapi rimba kehidupan di masa depan
Masih kuingat…
Teriak-teriak lantangmu di hadapan masa yang membajir peluh di bawah terik matahari
Menyuarakan tentang semangat untuk merubah bangsa ini
Yang kecintaamu kala itu dipersembahkan dalam makna sebuah orasi
Kukira…
Itu cukup untuk mengeraskan niatku menjadi karang agar tak terhempas oleh roda birokrasi
Oleh abrasi budaya tak pantas bangsaku

Itu mimpi saudaraku
Kuberitahu hari ini! Itu tak ada arti temanku!
Tak ada harga sebuah idealisme di sini
Di sini kamu akan hidup untuk bertahan mengais sebuah kesempatan demi sekedar menggelar apa yang disebut setitik aktualisasi keilmuan
Di sini pembelajaranmu akan menjerit karena ia kini diabaikan…
Disisihkan… Dilupakan… Dan ia menangis…

Idealisme itu kawanku… Runtuh! Gugur di hari pertama aku duduk di kursi ini!
Di pojok ruangan itu, air mataku meleleh, karena aku tak minta banyak pada republik ini
Hanyalah agar aku jadi makhluk berguna bagi tanahku dilahirkan
Rupiah bukan urusan utama bagiku, meski aku tak bilang aku tak butuh
Tapi aku mau berguna bagi negeriku ini dan melihat ke belakang 30 tahun kemudian, negeriku menjadi lebih layak untuk ditinggali, menjadi lebih pantas untuk dibanggakan, menjadi lebih utama untuk diperhitungkan…

Bukankah masih segar segala pikuk itu di tahun lalu
Jiwa-jiwa mahasiswa yang menggelora dan bertekad sekeras baja
Tapi…
Hari ini temanku, kamu… dan aku…. telah menjadi bagian dari sebuah institusi
Tempat di mana integritas dan profesionalisme kita abdikan dalam pertukaran yang disebut gaji bulanan
Atau sebuah status… atau sebuah gengsi… atau sebuah kebanggaan…

Mungkin sebagian dari kita cukup beruntung untuk hidup dan mengabdi yang juga mampu memuaskan rasa idealisme dan kepuasan pribadi
Namun untukku teman, itu sebuah kemewahan yang harus kuperjuangkan dengan sangat keras, perjuangan yang seringkali, membuatku merasa lemah dan tidak mampu untuk menang, bahkan menyangkal bahwa ini tanah perjuanganku… Penyangkalan temanku! Hingga sebuah penyangkalan akhirnya tersirat dalam pikiran dan nuraniku saking aku merasa tak berdaya di sini…

Kepada Mbah Maridjan


Puisi ini ditulis oleh pada
16 November 2010 dengan 2 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (9 votes, average: 4.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

Sosok tua yang lugu dan sederhana

tersenyum ramah kepada siapa saja,

kini telah tiada, berpulang dengan kesetiaan

yang teguh terpegang.

Dia tidak akan meninggalkan amanat yang diembannya

Dia tidak akan meninggalkan merapi

apa pun yang terjadi.

hidup baginya adalah kesetiaan

kepada panggilan jiwa.

pengabdianya bukan kepada penguasa

tetapi kepada hati nurani

yang ingin selalu berdampingan dengan alam

untuk menerima segala marah dan keramahan merapi.

Mbah …. setelah berpulang

engkau akan menjadi inspirasi jutaan orang

untuk setia pada langkah hati dan gerak tulus nurani

untuk menjaga alam dan laku teguh pada pendirian.

Mbah …. aku ingin sepertimu

ibarat seorang prajurit,

kematian yang utama baginya adalah di medan tugas

bukan di tempat tidur pembaringan yang nyaman.

Mbah … pulanglah dengan damai

istirahatlah dengan senyum mu yang sederhana dan tulus.

Mbah … semangatmu senantiasa kami bawa

untuk menjadi inspirasi dan penerang hati dan jiwa-jiwa

kami yang terkadang rakus dan angkuh.

Selamat jalan Mbah Maridjan  ….

(Katjha/Mengenang Mbah Maridjan/November 2010/Jogjakarta)

Asa Untukmu…


Puisi ini ditulis oleh pada
25 October 2010 dengan 2 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (26 votes, average: 4.08 out of 5)
Loading ... Loading ...

hujan…….
kau membawa butiran air berirama
mengingatkan aku padamu cinta….

yang saat ini telah mengisi ruang hati dan jiwaku

tak pernah bisa kutepiskan walau sedetik bayanganmu yang selalu hadir dibenak fikiranku

kau memberi warna terindah dalam hidupku

kau memberi kesejukan kala gundah menjenguk kalbuku

kau yang bisa membangkitkan kembali semangat juangku
tika kukelemasan
sungguh engkau sangat berarti dalam hidupku

kau yang mengukir kenangan_kenangan manis dan pahatan terindah didinding_dinding sanubariku

mungkin kita tak akan pernah tahu akan takdir yang telah ditetapkan untuk kita

namun kuakan selalu berusaha memberikan yang terbaik untukmu

tak pernah ada rasa bosan dihatiku untuk terus menunggu waktu memberi restu
akan perwujudan rasaku dan rasamu

disini senantiasa kusulam do’a dalam jaga dan lelapku semoga penantian ini kan segera sampai kemuara,
menjadi jembatan untuk kita mengecapi bahagia yang sesungguhnya…

_Just før mydearest_by ayung_

Kenangan Cinta Luka…


Puisi ini ditulis oleh pada
1 October 2010 dengan 2 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (5 votes, average: 4.20 out of 5)
Loading ... Loading ...

suatu masa dulu kau mencabar disanubariku,
memecahkan kesunyian dan kesepian

kau meremaja dan tiada lelah kau iringi tatihku dengan canda keceriaanmu

kegembiraanku pun tergambar jelas dari kamar jiwaku
namun kini semua berakhir dengan gurisan kelukaan yang teramat pedih

dihati kecilku pun payah menahan sebak membayangkan kemanisan saat kita bersama dulu

kala gelita mengecup ubun malam, mataku lelah namun tak jua mau terlelap hingga membawa anganku menikung pada lembar_lembar diary canda penuh ceria

tetapi ia hanyalah satu ilusi yang hanya pantas untuk dikenang

ku akan terus merawat segala sisa kenangan sebagai tanda kejujuran, kesetiaan dan ketabahan bagi tali kasih yang masih terhimbas dalam benak hatiku

jauh disini…
hatiku masih merindumu…

disisa waktuku kuucapkan
“selamat berbahagia bersama dia yang kini kau cinta….

satu pesanku padamu….
jika suatu hari kau melihat ombak dan buih putih setia melanda tiap butir pasir dihamparan pantai

itulah gambaran ombak rindu yang masih selalu berdebur disamudra hatiku

dan jika kau tengok gelombang laut pasang diibarat gelora cintaku padamu yang tak pernah kan padam

walaupun hatiku terluka, nestapa dalam rana diri namun ku kan mencoba tegar dalam langkah merintis sisa takdir bersama sisa_sisa semangat yang masih ada diantara hempasan duka meruntun dijiwa yang hampa

entah……
kemana hendak kucampak sisa cinta yang masih terselip dirongga sunsum jiwa ini….

lukaku


Puisi ini ditulis oleh pada
20 August 2010 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (12 votes, average: 4.50 out of 5)
Loading ... Loading ...

Debaran ombak mengikis desiran pasir
Hembusan angin yang menjeritkan helaian rambut ini
Tak sanggup aku berdiri di tepi karang yang sepi
Tanpa kehadiran dirimu, oh bintang hati
Tak mampu aku melakukan semua yang biasa ku lakukan
karna perih yang kurasakan telah merasku ke aura tubuhku
karna semangat ini pudar dan terhantam ombak
terdampar di pulan nan jauh disana
dan begitu saja hilang dengan sekejab
lukaku ini…
menusuk ulu hati dan menarik nadi
melumpuhkan jantung dan merajam tubuh ini
dengan kedipan matanya dia menghancurkan semua
senang hati menjadi derita yang melekat
hanya a duka lara yang terhibaskan luka
ya tuhan yang maha kuasa
berilah aku penerang dalam ku meniti kehidupan
berikan aku jalan yang hingga ku sampai tujuan

tak kan bisa


Puisi ini ditulis oleh pada
19 August 2010 dengan 1 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (12 votes, average: 4.58 out of 5)
Loading ... Loading ...

aku hanya manusia biasa,
hatiku tidaklah sekebal baja.
wajahku tidaklah seelok bunga mawar
perasaanku tidaklah sepeka tnaman putri malu
tubuhku tidaklah sesempurna dirinya
auraku tidak berkobar seperti bendera
semangatku hanya terpendam di jiwa
mataku tidaklah seindah mentari
namun, yang aku tau aku adalah aku
bukan dia
dia tertawa aku menagis
dia anggun aku kumuh
aku tak paham dengan kehidupan
semua sangatlah kelam
aku tau sampai kapanpun aku tak akan bisa menjadi wanita yg kau cintai