Tag: samudra

Patah Hati 2


Puisi ini ditulis oleh pada
28 March 2011 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (4 votes, average: 3.50 out of 5)
Loading ... Loading ...

remuk redam jiwaku hampa
menangis pilu didalam samudra
meluluh lantakan raga
kedalam kubangan masa,

meski sekarat pastikan kukuat
terus ikuti matahari,
asalkan ada kau, dan percaya
tapi langitku kian pekat

bersama inginmu, tinggalkanku

From: jeffry [Jeffry.donsky2@xxx]

Salju Kasihnya…


Puisi ini ditulis oleh pada
1 October 2010 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (2 votes, average: 4.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

Berjauhan raga kita disaat ini,
terpisahkan oleh luas samudra yang tak lelah membias biru…

selayak musyafir jauh menyisir padang pasir,
aku mencari penawar dahaga disavana hatimu…

tak urung langkahku terantuk,
terjerembab kedalam kubang yang kugali sendiri…

ketika letih dan peluh kesat dikening,
meninggalkan perit tiada terperi…

melintas dalam benak khayalku, fajar cintamu merekah mengulum senyum pengharapan… menyerbuk manik kasih… melakar jua akhirnya disalju asmara…

sendu menyirat sunyi benua lain…

kubertadah tangan sembari menyulam baitan do’a…
terselip namamu diantaranya..

kuutus malaikat penjaga cintaku agar sentiasa menjagamu hingga dikau terlelap dalam pembaringan hangat bertahta mimpi indah…

sendiri kuarungi malam_malam sepi tanpa dengkur binatang malam ataupun tarian kunang_kunang…

tak jera kutitip disetiap helaan nafas bunga, tentang rindu yang menderu… moga tersampai keranah hatimu…

betapa rasa yang bersemayam dalam dada ini telah menjagaku, mengayomiku dan membuaiku…

duhai Raßßku……. pada_Mu kupohonkan satu keridhaan, tetapkan dia sebagai lentera hati dan belahan jiwaku agar langkahku tak lagi terantuk dalam menyusur jalan nikmat surga_Mu….

_teruntuk Aa’ard ditanah sunda nan asri_

Tentang Cinta…


Puisi ini ditulis oleh pada
22 September 2010 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (10 votes, average: 3.60 out of 5)
Loading ... Loading ...

Apakah seperti angin…..
yang kan berhembus lembut membelai tiap helai dedaun…

ataukah selayak beliung yang kan menggugurkan dedaun bahkan ranting lalu terhempas kering….

Apakah seperti matahari…..
yang bersinar terang memberi kehangatan…

ataukah laksana bara panasnya yang kan menjilat rindang keikhlasan lalu hangus diladang jiwa….

Apakah seperti air…..
yang bergerak terus mengalir tanpa lelah dalam samudra dzikir…

ataukah kan menjadi riak selayak gelombang pasang lalu melindap menjadi parit_parit kecil diantara pipi….

namun demikian, semoga dengan Rahmad dan Kasih TUHAN… demi cinta dan baktinya…

demi merengkuh keRidhaan kepada titah TUHAN YME….

seperti itulah moga kiranya cinta ini bergerak, mengalir, menyala tanpa merasa lelah dan terpaksa….

dengan dasar dan tujuan yang mulia hanya untuk menggapai indah singgasana surga Sang Maha Raja….

Maaf


Puisi ini ditulis oleh pada
2 May 2009 dengan 4 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (36 votes, average: 3.86 out of 5)
Loading ... Loading ...

Sayang….

Maaf jika untai kataku buraikan mimpi kita

Aku ingin jujur tentangnya

Seorang yang datang saat kau ada

Saat ku bermuka dua dan berbagi cinta

Aku tersadar

Sayang….

Ini bukan salahku dan salahmu

Kuhanya melanjut hidup yang tergaris didahiku

Hidup yang mengantarku padamu dan dia

Ia sungguh sederhana

Ia beri angin sayapku tuk mengepak tanpa minta dahan tuk balasan

Ia beri telinga saat kuingin berbagi tentang segala yang kulalui hari ini

Ia beri aku bicara yang bisa tenangkan badai samudra

Ia beri aku perlindungan hanya dengan sejumput senyuman

Semua ada saat kau berkubang dalam harimu yang perlahan membenam hadirku

Ya, aku tlah berkhianat padamu

Kubagi cinta yang dulu sepenuhnya mulikmu

Kini kuingin jujur padamu

Dia telah ambil tempat dihatiku dan mensemayamkan dirimu

Maaf….

Simak lebih di : pustaka-hati.blogspot.com

GO AMUCK


Puisi ini ditulis oleh pada
29 April 2008 dengan 1 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (2 votes, average: 4.50 out of 5)
Loading ... Loading ...

Tak kenal diri ketika angkara
Tertunduk malu kubaca aksara
Keluh kesah dan dendam bergelora
Kutimang gelisah di tumpukan lara
‘Membara’

Berilah lantunan walau nada resah
Biar tersenyum hati yang marah
Bagai bola api di langit berwarna merah
Siap menghujam kencang menumbuk tanah
‘Amarah’

Aku ingin memecah semesta
Padamkan matahari sampai jiwa gelap gulita
Hentakan kaki sampai gunung gunung rata
Miliki bintang timur sampai mataku buta
‘Meminta’

Cengkram dadaku!
Akan kuamuk semesta di setiap penjuru

Padamkan marahku!
Akan kuamuk semesta lintasi waktu

Dinginkan hatiku!
Akan kurobek langit yang masih biru

Blarrrr!!!
Kuhantam dinding galaksi sampai ‘bergetar’

Tak perduli batu batu jagat hujani kepala
Tak perduli pula apa kata maki sang kala

Byurrr!!!
Melompat ke tengah samudra sampai ‘tercebur’

Menyelam ke batas mengubur jiwa yang kalap
Dalam, dalam, aku ingin dasar yang paling gelap

Marah pada diri sendiri
Lalu kuluapkan pada dunia
Biarkan aku di batas, sendiri
Lalu kulupakan saja semua

Wizurai