Tag: Sahabat

Untuk Sahabat


Puisi ini ditulis oleh pada
5 April 2011 dengan 2 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (9 votes, average: 4.44 out of 5)
Loading ... Loading ...

Air mata kian terurai saat ku membaca dan meresapi setiap kata yang kau tulis sahabat
Banyak yang harus kupelajari darimu
Ketegaranmu…
Kepolosanmu…
Kesetianmu terhadap perasaan

Hebatnya seseorang yang menghiasi kehidupanmu
Mengajarkanmu…
Membimbingmu…
Melindungimu…
Hingga menjadikan kau malaikat bagi setiap orang

Sahabat…
Aku terlalu mencintai ketegaranmu dalam kelemahanku
Aku terlalu mencintai kepolosanmu dalam kedewasaanku
Aku terlalu mencintai ketulusanmu dalam penantianku

Sahabat…
Ajarku selalu bahasa kalbu

From: MaHaYaNa_CinTa [may_yudhy@xxx]

Memoar Anak Kecil


Puisi ini ditulis oleh pada
2 March 2011 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (7 votes, average: 4.29 out of 5)
Loading ... Loading ...

Siang mengambang kelam

mendung hitam berarak tumpah

rintik-rintik gerimis..

 

Sekilas pandangku di seberang pematang

berteduh sosok bertopang kaki kecil telanjang

sepatu dilepas, ditenteng tangan kiri

tangan kanan membawa tas plastik hitam

berisi tas dan buku pelajaran.

 

Ah, sahabat kecilku kehujanan

 

Dengan keriangan anak-anak

aku berteriak lantang memanggil,

takut kalah suara kecil ku tertelan rintik gerimis.

“oiii .. berteduh saja disini, itu pohonya pisang

mau roboh kena angin .. ”

dia tersenyum;

“iya aku kesitu ya ..”

 

Dalam rintik gerimis

sosok dua anak kecil berteduh

masih dengan seragam sekolah ..

tersenyum penuh keriangan, saling bercerita

bercanda menunggu gerimis reda.

 

“Ayo kita pulang saja, kalau gerimis

begini pasti lama berhentinya .. yuk”

sepasang anak kecil saling tersenyum dengan manis

mata bening saling beradu

senyum kepolosan.

Gadis kecil berkata;

“ayo, tapi kita pakai pelepah pisang itu

sebagai payung, ayo ambilah yang itu ..!!”

dia berkata riang sambil jari nya menunjuk

sebuah pelepah pisang yang paling lebar.

 

“Ah, ngak usah,kita pulang hujan-hujanan saja

aku tak takut basah, aku ngak takut dingin,

ntar masuk angin juga gak apa-apa”

senyum bandel terkembang lucu ..

akhirnya sepasang anak kecil itu berlari

terbirit melintasi gerimis

diatas jalanan tanah becek dan licin..

 

Terhenyak aku ..

ternyata ingatan itu masih ada,

masih jelas tergambar canda tawa kami,

keriangan, tanpa rasa khawatir dan

lahir begitu saja dari jiwa anak-anak kecil.

 

Suatu ketika, pada sebuah pementasan

wayang kulit di pinggiran kota

kulihat gadis kecil temanku berteduh

di bawah pelepah pisang waktu kami masih kecil

duduk dalam deretan  sinden.

aku masih ingat lekuk wajahnya, alisnya

dan cara dia tersenyum.

 

Sekar .. dia telah dewasa, sama seperti aku

kini kulihat dia duduk dalam sikap anggun

melantunkan tembang-tembang jawa,

mengalun kadang meliuk-liuk

kemudian terdiam setelah nada panjang.

 

Ah, senyum nya masih sama manis

dengan waktu kecil.

dia anggun, air mukanya tenang, teduh

dan pantulan wajah nya pada mataku

membuat tergetar-getar rindu aneh.

Aku juga masih ingat .. selendang putih

yang dikenakannya menuntun ingatanku

pada kabut putih  disela gerimis

aku dan dia berlari-lari kecil di bawah hujan gerimis.

 

Sekarang kami telah sama-sama dewasa

sama-sama bisa merasakan cinta

mungkin dulu ada tetapi hanya kedekatan hati

 

(Katjha/Wonosari/Oktober/2009)

Surat Untuk Ayah


Puisi ini ditulis oleh pada
9 February 2011 dengan 2 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (24 votes, average: 4.29 out of 5)
Loading ... Loading ...

siapa bilang aku tak boleh tidur di siang
hari?
bagiku langit biru
terlalu menyilaukan untuk
dinikmati.
lebih baik kututup saja mataku
dan menyimpannya
untuk bulan nanti malam.

ya. aku memang jauh
dari terang
kalau kau ingin tahu.
tempatku
tinggal
hanyalah sebatas bayang-bayang di
kakimu.
merangkak terus di atas bumi
seperti pesakitan
kusta
yang tak kunjung sembuh.
ya. begitulah aku di siang
hari.
hanya seonggok bayang penuh koreng.
tapi lihat jika
senja mulai surut
dan gelap mulai datang.
tubuhku
yang hanya sepetak itu
akan membengkak
dan akan
meluap–
membanjiri segenap ruang
dalam planet aneh ini.
dan
semua luka yang ada padaku
akan berputar
dan akan
menari–
menjadi sekawanan bintang
berkerjapan
pelan-pelan.
ya. aku memang jauh dari terang.

dan mataku

mereka hanya untuk bulan nanti malam.
dan bukan untuk
langit biru
yang selalu menyilaukan ‘tuk
dinikmati.
jadi siapa bilang aku tak boleh tidur di siang hari?

selesai: 13 agustus 2000

*judul lengkap:
“surat untuk ayah yang tak akan pernah tertuliskan”

violet_eye_1979

Do’amu


Puisi ini ditulis oleh pada
9 February 2011 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (14 votes, average: 4.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

Aku terlelap dalam gelap mendekap.
Suaramu bergaung suram dalam kelam.
Do’amu-kah, wahai kawan lama?
Entah kenapa, kembali aku ingin mendengarnya.
Rindu menyiksa, kejam setajam sembilu.
Setengah mati ingin kusingkirkan haru,
terlalu muak dengan air mataku.
Harus kubunuh harap akan segala yang semu.
Terlalu lama kutunggu
pedih yang sulit terobati tak jua berlalu.
Sebisa mungkin, kau tak perlu tahu.
Aku juga enggan menyiksamu
dengan rasa bersalah yang tak perlu.

Masih berdo’a, wahai kawan lama?
Terima kasih, karena aku masih membutuhkannya.
Hanya demi kau, rela kupalsukan tawa
atas nama cinta yang tak boleh cemar,
atas persahabatan yang jangan sampai bubar.

Semoga do’amu terkabul sepenuhnya,
mengingat aku masih butuh percaya
cinta akan seadil Sang Pencipta
bukan lelucon kejam belaka
pengundang iblis ‘tuk tertawa
menghina semua luka…

(Jakarta, 11/12/2010)

“kucing3warna” [kucing3warna@...]

mengakhiri kisah ini untuk yang terbaik


Puisi ini ditulis oleh pada
15 November 2010 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (20 votes, average: 4.40 out of 5)
Loading ... Loading ...

saat ku berjalan menyusuri waktu yang lalu

tak ada kata maupun sapa

seperti pula mendung kelabu yang merebak dalam hidupku

pilihannya adalah menangis dalam hujan

atau tertawa saat pelangi hadir

hujan akan berlalu

demikian kisah ini

ini adalah yang terbaik

kita sudah berbeda

kau malaikat sempurna

dan aku hanya seorang pangeran kelana

jika Surga adalah rumahmu

maka pergilah ke Surga

carilah seorang Malaikat pula sepertimu

jika Bumi dan tanah adalah pijakanku

maka aku akan berakhir dengan kematian

tak sempurna dan tak abadi

aku hanya seorang manusia

selalu salah dan berdosa

ingatlah wahai Malaikat yang pernah meratu dihatiku

pernah kamu memijakan kaki ke tanah

dan aku jatuh cinta denganmu

bukan sebuah makna

melainkan bahasa kita berbeda

bahasa kalbumu terlalu dalam

aku tak akan menyalahkan siapapun

yang pernah menyiksaku

karena aku mencintaimu dan salah

semua terserah padamu

tak bisa memaafkan aku

tak bisa lagi menjadikanku sahabat

tak nyaman lagi dgnku, seperti yg kau katakan

tak apa, aku anggap fair

dengan apa yang telah aku sakitimu

aku tak akan mengganggumu lagi

jangan salahkan siapapun

jika aku hanya mencintaimu

hidup sendiri tak ingin cinta

hanya menantimu

jangan salahkan siapapun pula

jika suatu saat manusia serupa malaikat

hadir dalam hidupku

menyempurnakan aku

dia bukan kamu

kamu ingin salahkan

Dia, Yang memberi dan menghentikan nafas??

masa depan itu buram

ada sebuah titik disana

itu takdir

takdir tidak mesti apa yang menjadi harapan dan cita2 kita

tapi itu selalu menjadi yang terbaik

seharusnya kamu bahagia

aku mengkhiri ini

seharusnya kamu senang

aku mengakhiri ini

seharusnya kamu berhenti membicarakan ttg kisah ini

itu yg membuatmu kelam

dan kini kuyakini

aku bukan yang terbaik

dan kamu bukan untukku

hiduplah sewajarnya

ikuti kata hati

bernafas, melihat, mendengar, bicara, dan merasakan

satu diantaranya harus kamu lakukan

kau tahu mengapa pelangi itu indah??

karena warnanya?

karena bentuknya?

bukan itu

karena dia hadir ketika hujan berhenti

seperti itu pula aku mengakhiri ini semua

selamat tinggal

bukalah lembaran barumu

selalu berdoa untukmu…

aku hanya ingin kamu tersenyum sekarang..

:)

carilah sebuah cahaya


Puisi ini ditulis oleh pada
22 October 2010 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (16 votes, average: 3.63 out of 5)
Loading ... Loading ...

Hidup itu ibarat ombak yang terus menerus menerjang karang

Karang yang tegar adalah karang yang mampu melihat indahnya matahari terbit dan tenggelam

Jangan pernah harap lautan tenang itu akan datang

Seolah, menafikan karang yang rapuh

Seharusnya menerima kenyataan, tak mampu melihat matahari terbenam

Hanya melihat sebuah cahaya matahari yang perlahan terbit dan datang

Itu sudah sebuah anugerah yang terindah, kau harus mampu mensyukurinya

Hidup itu ibarat buih putih di pinggiran pantai

Yang membuat lengkap, adalah ketika kau menyentuhnya

Dan ombak bersahabat menyapamu dengan lirih

Perlahan buih itu datang, dan menghilang

Namun, yang terpenting

Seberapa lama buih itu datang dan melengkapimu

Tak perlu emosi, kau harus sabar

Sesabar pohon kelapa, yang setiap harinya tersengat cakrawala

Yang suatu saat berbuah, mereka menyediakan untuk dahagamu

Yang suatu saat berdaun lebar, mereka membuatmu duduk lega menikmati pantai

Hidup itu ibarat jejak langkah yang kau buat di pinggir pantai

Terkadang membuat pasir putih terinjak sakit

Terkadang ombak akan membuat hilang jejakmu

Terkadang pula jejak itu memiliki awal dan kemana tujuanmu untuk melangkah

Terkadang dalam foto sebuah pantai, mengartikan sebuah perjalanan panjang

Awal dan akhir

Hidup itu ibarat kamu menikmati Cakrawala terbenam

Yang di setiap pantai panorama yang dipancarkan berbeda satu dengan lainnya

Jika, ada satu pantai yang membuatmu bercahaya

Selamanya kamu tak akan pernah melupakan slide itu di kepalamu

Tapi ingatlah, ada maksud dibalik sebuah panorama matahari terbenam

Dia akan datang pada saat ruang dan waktu yang tepat

Tetaplah membuka mata di setiap pantai

Rasakan setiap badai pantai yang ada yang membuatmu tak nyaman

Rasakan penyesalan saat kamu menemukan panorama yang buruk

Namun, berbicaralah pada Tuhan, dan yakinlah

Kamu menemukan cahayamu, saat kamu telah merasakan semua panorama yang buruk

Kamu menemukan cahayamu, untuk kamu tak melakukan kesalahan yang sama

Sayangilah cahayamu, jangan membuat menyesal

Kelak suatu saat, kamu menemukan Hidup yang indah

Hilang Dalam Terang…


Puisi ini ditulis oleh pada
20 October 2010 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (4 votes, average: 3.50 out of 5)
Loading ... Loading ...

Kala fajar mulai membuka pintu pagi,
menggantikan gelita yang kesuraman

kurintis kembali impian yang pernah hilang dari ranting asa

setiap kakiku menciptakan langkah,
selalu saja meninggalkan jejak luka kepedihan masa silam

kutatap kembali sinarMU yang kian merangkah
silau menghalangi pandangan

debu melecut derap,
bergegas seakan ingin turut menjemput senja dan menyepuhnya menjadi bias-bias lembayung

tinggalkan aku sendiri termanggu mencari bayang sosok yang hilang dalam terang

jingga menggeser terang, menuntunku untuk menyongsong rembulan yang berjanji akan datang

Ahh…….
penat tiba-tiba menjalar sampai keujung-ujung pembuluh darahku

bintang….
akankah engkau akan datang, untuk berkerlip menghibur diriku yang semakin malang

kasih…..
mengapa kau selalu memintaku untuk menjawab setiap resah dan gundahmu

jika tak jarang kau tinggalkan serta kau biarkan diriku sendirian dalam tangisan

ditepian kelam….
lirih kusenandungkan lagu rindu

rindu akan kebahagiaan dan kedamaian

keletihan bathinku membuat anganku mengembara

jika memang sudah tak ada cinta lagi untukku…

mengapa lafadz keputusan tiada jua kau lontarkan…

agar aku tak semakin berharap,
berharap menatap indahnya purnama dicelah langit bersamamu….

malam….
sunyimu kini temanku…
kelammu juga sahabatku…

alunkan lagu sepi dalam keabadian,
untukku nikmati menjelang mimpi-mimpiku….

_Lembayung Kelam_

Nota Rindu Buat Sahabat…


Puisi ini ditulis oleh pada
8 October 2010 dengan 2 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (25 votes, average: 4.24 out of 5)
Loading ... Loading ...

sendiri kutepis rasa sepi dihati ini,
meski perihnya masih jua menghantui

namun kan tetap kucoba tuk tegar berdiri,
karena kini telahpun kutemukan sang pelipur hati…

sahabat….
hadirmu telah cukup memberi arti

semarak hari kulalui kini, meski diujung jalan kegelapan menanti

tapi setidaknya ‘satu yang pasti’
cahaya menyala kembali dihatiku yang redup…

setitik terangmu telah menerangi jalanku yang gelap dan sunyi…

Untukmu Sahabat….
tiada kata yang pantas kuucap, selain kata
“terima kasih tak terhingga”

walau kini kau jauh dari tatapanku,
angin malam yang membelenggu dingin

berbentur dalam benakku rasa rindu yang mendalam

kekosongan jiwa yang hampa,
rinduku akan dirimu merasuk dalam dunia mimpiku

dengan sebias harapan tanpa batas menanti sesosok yang tak kunjung tiba

sejenak kutengadah sembari tangan bersedekap
memohon waktu sedetik untuk bertemu dengan bayanganmu

apakah esok sang mentari sudi menghantarkan salam serta rinduku kepadamu

ataukah sang malam dapat menghadirkan dirimu dalam mimpiku…

kan selalu kusemat ditempat terindah rinduku padamu sampai kita bersua lagi…

_to all my friends_

Hidup Itu Indah


Puisi ini ditulis oleh pada
4 October 2010 dengan 2 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (18 votes, average: 4.17 out of 5)
Loading ... Loading ...

Pertama kalinya aku hadir di dunia ini…

Aku tak mengerti apa-apa..

Lemah, dan sungguh rentan..

Tak ada impian dan harapan..

Menitipkan jiwa raga pada dua insan…

Rengekan tangisku menginginkan sesuatu..

Terkadang mereka tak mengerti apa yang kuhendaki..

Dengan hangat mereka menjagaku..

Dengan sejuta impian mereka, kelak aku mampu membanggakan mereka..

Perlahan aku mulai mengerti..

Bahasa mereka, kelakuan mereka,..

Entah saat mereka mendengar aku berkata “mama.. papa” yg mereka ajarkan padaku

Ada kebahagian tersendiri disana..

Dipegangnya tanganku, dan mencoba berdiri..

Dari merangkak, aku mulai terbiasa menggunakan kedua kakiku..

Dan perlahan pula aku mampu berjalan seperti mereka..

Aku berjalan dan berlari mendapatinya..

Seumur biji kacang tanah..

Aku mulai mengerti..

Aku berada dimana, dan siapa mereka..

Entah jika tak ada mereka, aku seperti apa..

Diberinya aku sebuah pemikiran baru..

Diajarkannya aku ada impian yang harus dituju..

Dimasukinya pikiranku akan hal-hal yang baru..

Waktu itu aku menjawab “ingin seperti dia” (sambil menunjuk kartun televisi)

Perlahan aku cukup besar..

Kini impian nyata itu ada..

Dan dalam meraih impian itu, aku harus melanjutkan perjalanan yang panjang..

Perjalanan yang harus aku ketahui, bahwa pengetahuan yang tak ada batasnya..

Hari berlalu demikian cepatnya..

Aku mendapati diriku..

Dengan raga yang dewasa,,

Aku mulai merasakan, mengartikan sebuah cinta…

Cinta pertama..

Membuatku mengerti kertas dan pena..

Menuliskan sebuah bait kata yang indah..

Yang menjelma sebuah gambaran diri, wanita yang kupuja..

Cinta pertama..

Membuat tanganku, memelodykan syair..

Menjadikannya sebuah lagu yang merdu dan indah..

Cakrawala senja pun menjadi temanku satu-satunya..

Perlahan,..

Ada benci, ada pertengkaran, ada perselisihan..

Yang membuatku kehilangan akal sehatku..

Aku membutuhkan seseorang untuk bicara..

Tuhan nampak dekat sekali denganku..

Aku bicara dengan Dia dalam hening doa..

Tentang sejuta impian dan jawaban setiap pertanyaan..

Dijawabnya dengan lantang dan misteri,..

Datang seseorang..

Dia hadir saat aku putus asa..

Dia menopangku saat aku terjatuh..

Namun itu bukan cinta, tetapi itu dinamakan persahabatan…

Persahabatan..

Ibarat satu pohon yang hidup di tengah padang gurun, peluh dan sesak..

Mendabakan hujan, namun hujan tak akan pernah hadir..

Angin datang dengan kesejukan alami, menghapus keringat sang pohon..

Persahabatan..

Ibarat kertas yang bertuliskan kepercayaan, ketulusan dan pengorbanan..

Jika kertas terbakar, tersobek, dan basah..

Maka semuanya sirna, bahkan bisa lebih buruk, membakar yang lainnya..

Ya, kembali aku mendapati diriku..

Mempelajari apa yang terjadi..

Cinta itu adalah sebuah kehidupan..

Ada denyut, bernafas, berfikir, mendengar, melihat, dan merasakan..

Cinta itu adalah perasaan dan logika yang bersatu..

Ada kesabaran, ketulusan, kepercayaan,

Tak pernah menghitung kesalahan dan slalu memaafkan..

Dan besarnya cinta, kau akan tahu saat akan kehilangan..

Ibarat cawan anggur..

Yang disetiap tetesannya mampu menghidupkan semua yang telah mati..

Yang disetiap tenggukannya mampu mengenyangkan perutmu, dan tak pernah lapar lagi..

Yang disetiap aromanya mampu mengubah semua yang buruk menjadi lebih baik..

Ada sebuah pelajaran tersendiri..

Saat aku harus kehilangan..

Itu yang dinamakan keikhlasan..

Sulit sesulit mencengkeram bintang di langit..

Keikhlasan bukan hanya melepaskan sesuatu..

Melainkan penuh pengorbanan, dan tulus..

Menghempaskan impian ke tanah, dan bermimpi kembali..

Aku harus melakukan itu untuk yang terbaik..

Namun sesuatu yang terbaik bukan berarti sesuatu yang sempurna..

Namun sesuatu yang terbaik bukan berarti sesuati yang seperti impian kita..

Sesuatu yang terbaik adalah jawaban suci dari Tuhan..

Adalah sebuah titik dan sebuah takdir..

Kembali aku mendapati diriku sendiri..

Setelah semua yang telah terjadi..

Aku lahir, belajar, bermimpi, bercinta dan bersahabat..

Aku sakit, bahagia, tertawa, menangis..

Selayaknya hidup itu indah..

Tuhan menjawab setiap pertanyaan kita.

Tak selalu seperti yang kita impikan, melainkan yang terbaik..

Doa dan berjuang adalah sebuah pondasi, karena keyakinan adalah awal dari sebuah perjuangan..

Jika memiliki impian, pegang dan jangan pernah lepaskan..

Tak cukup puas dengan hanya merasakan pasir pantai di kakimu..

Kau harus mampu mendengar ombaknya, merasakan hangat Cakrawala senja..

Melihat burung laut yang bersautan, dan buih putih di batasan pantai..

Dan jika impian itu harus sirna..

Ada yang sulit, namun kau harus lakukan..

Untuk yang terbaik..

Keikhlasan..

Hingga suatu saat kau akan mengatakan pada dirimu..

“aku sungguh Bahagia.. Syukur pada Tuhan..”

Ketika Hujan Tiap Sore


Puisi ini ditulis oleh pada
17 September 2010 dengan 2 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (5 votes, average: 4.80 out of 5)
Loading ... Loading ...

Semilir angin pegunungan

mengalun dingin

rintik-rintik renggang

menjadi banyak…

jatuh menjadi hujan pada

tanah-tanah yang sudah basah.

Bunyi air jatuh dari atap rumah-rumah

khas daerah sunda, terdiri mengelompok.

Rintik hujan berlomba dengan air jatuh dari pancuran atap,

membuat sore ini begitu hening.

Seorang bapak tua yang berteduh disampingku

berkata padaku

“jang, di sini kalau sore memang selalu hujan”

“lihatlah kabut yang turun dari bukit batu di atas,

itu adalah teman kami di waktu sore”

Aku hanya terdiri di bawah atap beranda sebuah rumah

hanyut dalam rintik-rintik yang mulai mengecil

bersama kabut yang mengalun lembut, dingin dan tampak mempesona,

dimana sepiku tersangkut

pada hujan sore yang riuh

membawa kedamaian hati.

Heningku tertambat, terjaga

kemudian hati ini beranjak merasa lagi

terpikir untuk pulang ke pondok

menyeberangi hujan sore ini dengan hati yang ikhlas

akan airnya yang dingin

kabut yang meremangkan pandang

dan tanah licin becek yang mengotori kaki

Ketika hujan sore …

memberkas segurat kesadaran

untuk hidup dengan cara yang beda

percaya pada hasrat, pada

naluri berpikir untuk hidup.

(Garut/Untuk sahabatku Tono&Yanto/Februari 2010/Katjha)