Tag: puisi/syair tentang pelacur

PUISI


Puisi ini ditulis oleh pada
9 December 2009 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (1 votes, average: 2.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

pemabuk di pelukan pelacur jalanan
tabungkan keping-keping dosa tuk akhir zaman
gadis kecil berbusana bidadari
sayu pada sorot mata tatap asa hari-hari
sementara
ribut-ribut di sana
teriak-teriak jadi gila
semarakkan amarah membara
lawan…lawan…lawan
terselip maksud tersembunyi
tak ada juntrung berakhir buntung
menghasut massa di songsong laras senapan dan 1 dinasti gila
lalu di sudut-sudut
berserak yg selalu pusing
habiskan waktu urusi cinta,patah hati,bersemi lagi,hancur berantakan
merengek,mengeluh,memelas di wajah yg terlanjur buruk kemudian berlebih-lebihan

lekuk waktu kian jemukan
dilatari tontonan membodohi dan simphoni murahan

di bawah dan tepi-tepi
serangga ringkih kais-kais rezeki satu kandang dengan reptilia buas berseragam rapi

dan…
akulah, di tengah-tengah
terhimpit
dipaksa keadaan…bertahan
walau perjalanan nampak ironis

Perempuan yang Tergusur


Puisi ini ditulis oleh pada
4 March 2008 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (11 votes, average: 4.45 out of 5)
Loading ... Loading ...

Hujan lebat turun di hulu subuh
disertai angin gemuruh
yang menerbangkan mimpi
yang lalu tersangkut di ranting pohon

Aku terjaga dan termangu
menatap rak buku-buku
mendengar hujan menghajar dinding
rumah kayuku.
Tiba-tiba pikiran mengganti mimpi
dan lalu terbayanglah wajahmu,
wahai perempupan yang tergusur!

Tanpa pilihan
ibumu mati ketika kamu bayi
dan kamu tak pernah tahu siapa ayahmu.
Kamu diasuh nenekmu yang miskin di desa.
Umur enam belas kamu dibawa ke kota
oleh sopir taxi yang mengawinimu.
Karena suka berjudi
ia menambah penghasilan sebagai germo.

Ia paksa kamu jadi primadona pelacurnya.
Bila kamu ragu dan murung,
lalu kurang setoran kamu berikan,
ia memukul kamu babak belur.
Tapi kemudian ia mati ditembak tentara
ketika ikut demontrasi politik
sebagai demonstran bayaran.

Sebagai janda yang pelacur
kamu tinggal di gubuk tepi kali
dibatas kota
Gubernur dan para anggota DPRD
menggolongkanmu sebagai tikus got
yang mengganggu peradaban.
Di dalam hukum positif tempatmu tidak ada.
Jadi kamu digusur.

Didalam hujuan lebat pagi ini
apakah kamu lagi berjalan tanpa tujuan
sambhil memeluk kantong plastik
yang berisi sisa hartamu?
Ataukah berteduh di bawah jembatan?

Impian dan usaha
bagai tata rias yang luntur oleh hujan
mengotori wajahmu.
kamu tidak merdeka.
Kamu adalah korban tenung keadaan.
Keadilan terletak diseberang highway yang bebahaya
yang tak mungkin kamu seberangi.

Aku tak tahu cara seketika untuk membelamu.
Tetapi aku memihak kepadamu.
Dengan sajak ini bolehkan aku menyusut keringat dingin
di jidatmu?

O,cendawan peradaban!
O, teka-teki keadilan!

Waktu berjalan satu arah saja.
Tetapi ia bukan garis lurus.
Ia penuh kelokan yang mengejutkan,
gunung dan jurang yang mengecilkan hati,
Setiap kali kamu lewati kelokan yang berbahaya
puncak penderitaan yang menyakitkan hati,
atau tiba di dasar jurang yang berlimbah lelah,
selalu kamu dapati kedudukan yang tak berubah,
ialah kedudukan kaum terhina.

Tapi aku kagum pada daya tahanmu,
pada caramu menikmati setiap kesempatan,
pada kemampuanmu berdamai dengan dunia,
pada kemampuanmu berdamai dengan diri sendiri,
dan caramu merawat selimut dengan hati-hati.

Ternyata di gurun pasir kehidupan yang penuh bencana
semak yang berduri bisa juga berbunga.
Menyaksikan kamu tertawa
karena melihat ada kelucuan di dalam ironi,
diam-diam aku memuja kamu di hati ini.

Cipayung Jaya
3 Desember 2003
WS Rendra