Tag: puisi untuk sahabat

Nota Rindu Buat Sahabat…


Puisi ini ditulis oleh pada
8 October 2010 dengan 2 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (24 votes, average: 4.29 out of 5)
Loading ... Loading ...

sendiri kutepis rasa sepi dihati ini,
meski perihnya masih jua menghantui

namun kan tetap kucoba tuk tegar berdiri,
karena kini telahpun kutemukan sang pelipur hati…

sahabat….
hadirmu telah cukup memberi arti

semarak hari kulalui kini, meski diujung jalan kegelapan menanti

tapi setidaknya ‘satu yang pasti’
cahaya menyala kembali dihatiku yang redup…

setitik terangmu telah menerangi jalanku yang gelap dan sunyi…

Untukmu Sahabat….
tiada kata yang pantas kuucap, selain kata
“terima kasih tak terhingga”

walau kini kau jauh dari tatapanku,
angin malam yang membelenggu dingin

berbentur dalam benakku rasa rindu yang mendalam

kekosongan jiwa yang hampa,
rinduku akan dirimu merasuk dalam dunia mimpiku

dengan sebias harapan tanpa batas menanti sesosok yang tak kunjung tiba

sejenak kutengadah sembari tangan bersedekap
memohon waktu sedetik untuk bertemu dengan bayanganmu

apakah esok sang mentari sudi menghantarkan salam serta rinduku kepadamu

ataukah sang malam dapat menghadirkan dirimu dalam mimpiku…

kan selalu kusemat ditempat terindah rinduku padamu sampai kita bersua lagi…

_to all my friends_

sahabatku


Puisi ini ditulis oleh pada
13 January 2009 dengan 3 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (31 votes, average: 4.48 out of 5)
Loading ... Loading ...

sahabatku

meletakkan aku dengan nyaman di sisinya

ia tak menuntutku membicarakan setumpuk hal bersamanya

atau melakukan sejuta jadwal dengannya

ia tak memintaku melakukan hal yang diinginkannya

ia juga tak menghakimiku untuk salahku

duduk diam di sisinya pun cukuplah

karena hati berbicara

tak perlu mulut berbuih untuk semarakkan waktu

karena waktu tetap istimewa jika aku dengannya

aku tak perlu menutupi hatiku

menebarkan senyum untuk lukaku

aku tak perlu dengar sejuta penghiburan dan nasehat

dekatnya dalam diam cukup mengobati hatiku

aku tidak butuh gaun yang berkilauan

atau bertumpuk-tumpuk emas

hanya untuk mempertahankan sahabatku

ia akan tetap duduk menemaniku dalam diamku

menikmati senja denganku

walau bukan sofa yang empuk mengalasi duduknya

karena ia sahabatku

kadang aku bertanya dalam hatiku

sudahkah aku menjadi sahabatnya?

sudahkah aku mengenal hatinya

hingga dalam diam pun aku tahu ia bicara

bahwa kami adalah sahabat

ia sahabatku

Persahabatan


Puisi ini ditulis oleh pada
16 July 2008 dengan 5 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (28 votes, average: 3.79 out of 5)
Loading ... Loading ...

Dalam setiap waktu kita selalu berlarian bersama
Berlari dengan lincah tuk warnai hari & mengukir sgala kenangan
Sahabat… kaulah pijar cahaya disetiap sudut hati
Kau beri candamu saat ku resah
Kau beri senyummu saat ku gelisah
Kau selalu ada saat ku tak berdaya
Kaulah ciptaan Tuhan yang paling sempurna
Meskipun jarak telah memisahkan kita
Namun tidak untuk PERSAHABATAN ini
PERSAHABATAN ini kan tetap terjalin & tak akan pernah bisa terpisahkan…
Karena hati kita… diri kita… nyawa kita…
Tlah terikat pada satu jalinan…
Disini… ku selalu merindukan kalian…
Dimanapun kalian berada…
Dan engkaulah SAHABAT KU UNTUK SELAMANYA….

Kiriman dari : r.c.f [red.shank@....]

Untuk Sahabat


Puisi ini ditulis oleh pada
10 November 2007 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (7 votes, average: 4.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

Jangan terbelenggu oleh kenangan
Kenangan memang bukanlah sebuah bualan
Juga Bukan sesuatu yang membawamu pada kehampaan
Tetapi juga bukan sesuatu keharusan
Yang slalu terngiang dalam ingatan
Hingga membuatmu larut oleh laju hayalan
Semua kenangan… jagalah sbagai kenangan
Selalu ada harapan meski entah sampai kapan
Dan masa depan tetap harus kita jalankan
Dengan seribu asa dan sejuta harapan

Untuk Apa Puisi Ini


Puisi ini ditulis oleh pada
7 September 2007 dengan 14 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (14 votes, average: 4.14 out of 5)
Loading ... Loading ...

Puisi ini, untuk apa harus tercipta. jika ibu-bapak di rumah masih saja membakar diri di bawah panas matahari. dan saudara lelakiku, tidak punya banyak pilihan selain menjual diri di tambang emas milik amerika.

untuk apa, jika sahabat-sahabatku sekarat di muka zaman. keluar malam-malam, untuk sekedar bernyanyi dengan pelacur taman kota, tentang amuk birahi yang membabi-buta. atau sekedar untuk bercumbu kecil dengan pacar-pacar mereka yang masih belum mengerti apa itu dunia.

untuk apa puisi ini, jika bibiku bersikukuh kembali lagi ke saudi menjadi tkw, setelah setahun lalu disiksa majikannya sampai berlari pulang ke kampung halaman, hanya membawa isak yang tertahan.

pamanku, kau mungkin tak percaya. ketika pulang sebentar ke rumah, ia lupa bagaimana mengucapkan bahasa ibu-nya sendiri. hidup lebih dari 10 tahun perantauan tanpa tuju yang pedih, memaksanya mengganti seluruh kata dalam kamus masa kecilnya dengan kamus bagaimana bertahan hidup.

untuk apa puisi ini jika yang kusebut keluarga, salah satu dari mereka ada yang mengangkat parang hendak menggorok leher bapakku, hanya karena sejengkal tanah.

untuk apa, untuk apa puisi ini? keluargaku tidak ada yang mengerti tentang puisi.

mereka pasti kecewa, jika nanti aku hanya pulang membawa sepenggal puisi dari sini.

kampungku tidak butuh puisi. tidak, kampungku harus butuh puisi. tidak, kampungku tidak akan pernah butuh puisi.

nasib puisi ini. harus kubawa ke mana. di kampungku siapa yang peduli tentang aliran makna di balik kata, siapa yang percaya pada penyair?

untuk apa puisi ini, jika aku, hanya sanggup mengeja kekalahan.

untuk apa jika tidak ada yang mau membaca dalam-dalam.

keluargaku dan keluargamu, kampungku dan kampungmu sama saja