Tag: puisi tentang perjuangan anak sekolah

Hidup Itu Indah


Puisi ini ditulis oleh pada
4 October 2010 dengan 2 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (18 votes, average: 4.17 out of 5)
Loading ... Loading ...

Pertama kalinya aku hadir di dunia ini…

Aku tak mengerti apa-apa..

Lemah, dan sungguh rentan..

Tak ada impian dan harapan..

Menitipkan jiwa raga pada dua insan…

Rengekan tangisku menginginkan sesuatu..

Terkadang mereka tak mengerti apa yang kuhendaki..

Dengan hangat mereka menjagaku..

Dengan sejuta impian mereka, kelak aku mampu membanggakan mereka..

Perlahan aku mulai mengerti..

Bahasa mereka, kelakuan mereka,..

Entah saat mereka mendengar aku berkata “mama.. papa” yg mereka ajarkan padaku

Ada kebahagian tersendiri disana..

Dipegangnya tanganku, dan mencoba berdiri..

Dari merangkak, aku mulai terbiasa menggunakan kedua kakiku..

Dan perlahan pula aku mampu berjalan seperti mereka..

Aku berjalan dan berlari mendapatinya..

Seumur biji kacang tanah..

Aku mulai mengerti..

Aku berada dimana, dan siapa mereka..

Entah jika tak ada mereka, aku seperti apa..

Diberinya aku sebuah pemikiran baru..

Diajarkannya aku ada impian yang harus dituju..

Dimasukinya pikiranku akan hal-hal yang baru..

Waktu itu aku menjawab “ingin seperti dia” (sambil menunjuk kartun televisi)

Perlahan aku cukup besar..

Kini impian nyata itu ada..

Dan dalam meraih impian itu, aku harus melanjutkan perjalanan yang panjang..

Perjalanan yang harus aku ketahui, bahwa pengetahuan yang tak ada batasnya..

Hari berlalu demikian cepatnya..

Aku mendapati diriku..

Dengan raga yang dewasa,,

Aku mulai merasakan, mengartikan sebuah cinta…

Cinta pertama..

Membuatku mengerti kertas dan pena..

Menuliskan sebuah bait kata yang indah..

Yang menjelma sebuah gambaran diri, wanita yang kupuja..

Cinta pertama..

Membuat tanganku, memelodykan syair..

Menjadikannya sebuah lagu yang merdu dan indah..

Cakrawala senja pun menjadi temanku satu-satunya..

Perlahan,..

Ada benci, ada pertengkaran, ada perselisihan..

Yang membuatku kehilangan akal sehatku..

Aku membutuhkan seseorang untuk bicara..

Tuhan nampak dekat sekali denganku..

Aku bicara dengan Dia dalam hening doa..

Tentang sejuta impian dan jawaban setiap pertanyaan..

Dijawabnya dengan lantang dan misteri,..

Datang seseorang..

Dia hadir saat aku putus asa..

Dia menopangku saat aku terjatuh..

Namun itu bukan cinta, tetapi itu dinamakan persahabatan…

Persahabatan..

Ibarat satu pohon yang hidup di tengah padang gurun, peluh dan sesak..

Mendabakan hujan, namun hujan tak akan pernah hadir..

Angin datang dengan kesejukan alami, menghapus keringat sang pohon..

Persahabatan..

Ibarat kertas yang bertuliskan kepercayaan, ketulusan dan pengorbanan..

Jika kertas terbakar, tersobek, dan basah..

Maka semuanya sirna, bahkan bisa lebih buruk, membakar yang lainnya..

Ya, kembali aku mendapati diriku..

Mempelajari apa yang terjadi..

Cinta itu adalah sebuah kehidupan..

Ada denyut, bernafas, berfikir, mendengar, melihat, dan merasakan..

Cinta itu adalah perasaan dan logika yang bersatu..

Ada kesabaran, ketulusan, kepercayaan,

Tak pernah menghitung kesalahan dan slalu memaafkan..

Dan besarnya cinta, kau akan tahu saat akan kehilangan..

Ibarat cawan anggur..

Yang disetiap tetesannya mampu menghidupkan semua yang telah mati..

Yang disetiap tenggukannya mampu mengenyangkan perutmu, dan tak pernah lapar lagi..

Yang disetiap aromanya mampu mengubah semua yang buruk menjadi lebih baik..

Ada sebuah pelajaran tersendiri..

Saat aku harus kehilangan..

Itu yang dinamakan keikhlasan..

Sulit sesulit mencengkeram bintang di langit..

Keikhlasan bukan hanya melepaskan sesuatu..

Melainkan penuh pengorbanan, dan tulus..

Menghempaskan impian ke tanah, dan bermimpi kembali..

Aku harus melakukan itu untuk yang terbaik..

Namun sesuatu yang terbaik bukan berarti sesuatu yang sempurna..

Namun sesuatu yang terbaik bukan berarti sesuati yang seperti impian kita..

Sesuatu yang terbaik adalah jawaban suci dari Tuhan..

Adalah sebuah titik dan sebuah takdir..

Kembali aku mendapati diriku sendiri..

Setelah semua yang telah terjadi..

Aku lahir, belajar, bermimpi, bercinta dan bersahabat..

Aku sakit, bahagia, tertawa, menangis..

Selayaknya hidup itu indah..

Tuhan menjawab setiap pertanyaan kita.

Tak selalu seperti yang kita impikan, melainkan yang terbaik..

Doa dan berjuang adalah sebuah pondasi, karena keyakinan adalah awal dari sebuah perjuangan..

Jika memiliki impian, pegang dan jangan pernah lepaskan..

Tak cukup puas dengan hanya merasakan pasir pantai di kakimu..

Kau harus mampu mendengar ombaknya, merasakan hangat Cakrawala senja..

Melihat burung laut yang bersautan, dan buih putih di batasan pantai..

Dan jika impian itu harus sirna..

Ada yang sulit, namun kau harus lakukan..

Untuk yang terbaik..

Keikhlasan..

Hingga suatu saat kau akan mengatakan pada dirimu..

“aku sungguh Bahagia.. Syukur pada Tuhan..”

MIMPI


Puisi ini ditulis oleh pada
2 June 2006 dengan 1 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (8 votes, average: 4.38 out of 5)
Loading ... Loading ...

Kala malam datang dan rasa kantuk membentangkan selimutnya di wajah bumi, aku bangun dan berjalan ke laut, “Laut tidak pernah tidur, dan dalam keterjagaannya itu laut menjadi penghibur bagi jiwa yang terjaga.”,

Ketika aku sampai di pantai, kabus dari gunung menjuntaikan kakinya seperti selembar jilbab yang menghiasi wajah seorang gadis. Aku melihat ombak yang berdeburan. Aku mendengar puji-pujiannya kepada Tuhan dan bermeditasi di atas kekuatan abadi yang tersembunyi di dalam ombak-ombak itu – kekuatan yang lari bersama angin, mendaki gunung, tersenyum lewat bibir sang mawar dan menyanyi dengan desiran air yang mengalir di parit-parit.

Lalu aku melihat tiga Putera Kegelapan duduk di atas sebongkah batu. Aku menghampirinya seolah-olah ada kekuatan yang menarikku tanpa aku dapat melawannya.

Aku berhenti beberapa langkah dari Putera Kegelapan itu seakan-akan ada tenaga magis yang menahanku. Saat itu, salah satunya berdiri dan dengan suara yang seolah berasal dari dalam laut ia berkata:
“Hidup tanpa cinta ibarat pohon yang tidak berbunga dan berbuah. Dan cinta tanpa keindahan seperti bunga tanpa aroma semerbak dan seperti buah tanpa biji. Hidup, cinta dan keindahan adalah tiga dalam satu, yang tidak dapat dipisahkan ataupun diubah.”

Putera kedua berkata dengan suara bergema seperti air terjun,”Hidup tanpa berjuang seperti empat musim yang kehilangan musim bunganya. Dan perjuangan tanpa hak seperti padang pasir yang tandus. Hidup, perjuangan dan hak adalah tiga dalam satu yang tidak dapat dipisahkan ataupun diubah.”

Kemudian Putera ketiga membuka mulutnya seperti dentuman halilintar :

“Hidup tanpa kebebasan seperti tubuh tanpa jiwa, dan kebebasan tanpa akal seperti roh yang kebingungan. Hidup, kebebasan dan akal adalah tiga dalam satu, abadi dan tidak pernah sirna.”
Selanjutnya ketiga-tiganya berdiri dan berkata dengan suara yang menggerunkan sekali:

‘Itulah anak-anak cinta,
Buah dari perjuangan,
Akibat dari kebebasan,
Tiga manifestasi Tuhan,
Dan Tuhan adalah ungkapan
dari alam yang bijaksana.’

Saat itu diam melangut, hanya gemersik sayap-sayap yang tak nampak dan getaran tubuh-tubuh halus yang terus-menerus.

Aku menutup mata dan mendengar gema yang baru saja berlalu. Ketika aku membuka mataku, aku tidak lagi melihat Putera-Putera Kegelapan itu, hanya laut yang dipeluk halimunan. Aku duduk, tidak memandang apa-apa pun kecuali asap dupa yang menggulung ke syurga.

:+: Khalil Gibran :+: