Tag: puisi sore

Dirantai Digelangi Rindu…


Puisi ini ditulis oleh pada
23 October 2010 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (11 votes, average: 4.09 out of 5)
Loading ... Loading ...

sisa hujan sore ini terasa membelenggu…
“dingin”

sepi tiada suara angin apalagi sapa manjamu diujung ponselku…

penantian asa panjang untuk mengakhiri mimpi

bersua rupa, menatap dan memelukmu dalam dekap rindu…

semua hanya angan-angan kosong

ingatanku pun kian tajam
apabila kudatapi dirimu merajuk mengurai kata mesra

menjanjikan duduk bersanding disinggasana bahagia

menatap masa depan berdua

bergandeng tangan kemanapun nasib dan takdir kan membawa

‘ku tak tahu ada apa…
saat mendung menudung

ucapanmu menggeledak, mengalahkan gemuruh riuh petir

seakan semua itu pernah terjadi

kuhela nafas berat
ternyata diujung jalan, bersama senja yang kesekian
senda gurauanmu menepi…

kembali anganku menikung
menyisir kenangan silam

kapan dan akankah kita dapat bertemu…
jika lorong waktu yang kau cipta kini buntu…?!

disini aku menjemput maafmu tak cukup waktu
lihatlah kuulur tangan tanda kumasih sayang

“Antara tirai bambu dan ranah pertiwi,
hatiku dirantai digelangi rindu”

Ketika Hujan Tiap Sore


Puisi ini ditulis oleh pada
17 September 2010 dengan 2 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (5 votes, average: 4.80 out of 5)
Loading ... Loading ...

Semilir angin pegunungan

mengalun dingin

rintik-rintik renggang

menjadi banyak…

jatuh menjadi hujan pada

tanah-tanah yang sudah basah.

Bunyi air jatuh dari atap rumah-rumah

khas daerah sunda, terdiri mengelompok.

Rintik hujan berlomba dengan air jatuh dari pancuran atap,

membuat sore ini begitu hening.

Seorang bapak tua yang berteduh disampingku

berkata padaku

“jang, di sini kalau sore memang selalu hujan”

“lihatlah kabut yang turun dari bukit batu di atas,

itu adalah teman kami di waktu sore”

Aku hanya terdiri di bawah atap beranda sebuah rumah

hanyut dalam rintik-rintik yang mulai mengecil

bersama kabut yang mengalun lembut, dingin dan tampak mempesona,

dimana sepiku tersangkut

pada hujan sore yang riuh

membawa kedamaian hati.

Heningku tertambat, terjaga

kemudian hati ini beranjak merasa lagi

terpikir untuk pulang ke pondok

menyeberangi hujan sore ini dengan hati yang ikhlas

akan airnya yang dingin

kabut yang meremangkan pandang

dan tanah licin becek yang mengotori kaki

Ketika hujan sore …

memberkas segurat kesadaran

untuk hidup dengan cara yang beda

percaya pada hasrat, pada

naluri berpikir untuk hidup.

(Garut/Untuk sahabatku Tono&Yanto/Februari 2010/Katjha)

Cinta


Puisi ini ditulis oleh pada
16 July 2008 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (3 votes, average: 3.67 out of 5)
Loading ... Loading ...

Hari indah
Pemandangan indah
Burung berkicau merdu
Melagukan kata hati terindah
Mereka terbang mengitari dunia
Menebarkan kedamaian
Cinta pun bersemi dan terus berkembang
Bagai bunga mawar yang indah di musim semi
Hujan turun membasahi hati yang kering
Menyejukkan hati yang gersang
Cinta datang di waktu yang tepat
Mengisi hidup dengan kebahagiaan

Kiriman dari : r.c.f [red.shank@....]

Ketika Burung Merpati Sore Melayang


Puisi ini ditulis oleh pada
4 March 2008 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (26 votes, average: 4.12 out of 5)
Loading ... Loading ...

Langit akhlak telah roboh di atas negeri
Karena akhlak roboh, hukum tak tegak berdiri
Karena hukum tak tegak, semua jadi begini
Negeriku sesak adegan tipu-menipu
Bergerak ke kiri, dengan maling kebentur aku
Bergerak ke kanan, dengan perampok ketabrak aku
Bergerak ke belakang, dengan pencopet kesandung aku
Bergerak ke depan, dengan penipu ketanggor aku
Bergerak ke atas, di kaki pemeras tergilas aku

Kapal laut bertenggelaman, kapal udara berjatuhan
Gempa bumi, banjir, tanah longsor dan orang kelaparan
Kemarau panjang, kebakaran hutan berbulan-bulan
Jutaan hektar jadi jerebu abu-abu berkepulan
Bumiku demam berat, menggigilkan air lautan

Beribu pencari nafkah dengan kapal dipulangkan
Penyakit kelamin meruyak tak tersembuhkan
Penyakit nyamuk membunuh bagai ejekan
Berjuta belalang menyerang lahan pertanian
Bumiku demam berat, menggigilkan air lautan

Lalu berceceran darah, berkepulan asap dan berkobaran api
Empat syuhada melesat ke langit dari bumi Trisakti
Gemuruh langkah, simaklah, di seluruh negeri
Beribu bangunan roboh, dijarah dalam huru-hara ini
Dengar jeritan beratus orang berlarian dikunyah api
Mereka hangus-arang, siapa dapat mengenal lagi
Bumiku sakit berat, dengarlah angin menangis sendiri

Kukenangkan tahun ?47 lama aku jalan di Ambarawa dan Salatiga
Balik kujalani Clash I di Jawa, Clash II di Bukittinggi
Kuingat-ingat pemboman Sekutu dan Belanda seantero negeri
Seluruh korban empat tahun revolusi
Dengan Mei ?98 jauh beda, jauh kalah ngeri
Aku termangu mengenang ini
Bumiku sakit berat, dengarlah angin menangis sendiri

Ada burung merpati sore melayang
Adakah desingnya kau dengar sekarang
Ke daun telingaku, jari Tuhan memberi jentikan
Ke ulu hatiku, ngilu tertikam cobaan
Di aorta jantungku, musibah bersimbah darah
Di cabang tangkai paru-paruku, kutuk mencekik nafasku
Tapi apakah sah sudah, ini murkaMu?

Ada burung merpati sore melayang
Adakah desingnya kau dengar sekarang

1998

+ Taufik Ismail  +

Biarkan Hujan Itu Menanti


Puisi ini ditulis oleh pada
27 November 2007 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (1 votes, average: 5.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

Sebuah sore,
dengan aku, dia dan desir angin yang mulai menepi.

masih terlalu sepi untuk sebuah perjamuan dan
pesta pora menyambut musim yang akan tiba.

Aku dan dia,
masih termenung, menatap bentangan hari menuju senjanya.

Aku dan dia, menikmati sepi
bermonolog dalam diam.

Namun aku dan dia datang
pada tempat orang-orang melihat dan berkata
tentang aku dan dia.

Pada sore ini,
aku dan dia menanti sebuah hujan
yang mengantar hari pada sebuah senjanya.

aku dan dia, datang ke tempat ini dengan senyum dan kerinduan
pada gemuruh hujan dan kilatan petir,
pada derak-derak prahara yang mengigilkan tubuh,
dan dinginnya air yang membasahi aku dan dia
adalah daya hidup yang akan terpeluk erat,
pada bara kecintaan antara aku dan dia.

Aku dan dia,
datang di sore ini bukan sebagai sajak yang merindukan
penyairnya, bukan pula sebagai deru ombak yang menanti sebongkah bukit karang.

Aku dan dia datang sebagai seekor rajawali yang terbang sendiri
di atas langit tinggi.

Sebagai jiwa yang bebas dan mencintai prahara
seperti hujan yang membawa gemuruh dan deru kilatan petir.

Dan seperti itulah aku dan dia merindukan sebuah cinta,
merindukan sebentuk kebebaan dari sebuah sudut hidup terasa besar.

Aku dan dia merindukan gemuruh hujan yang gelap,
menyambutnya dengan kaki-kaki yang telanjang,
membuang pelita dan meninggalkan tempat yang terang ini.

Kini,
dalam temaram lembayung senja kemerahan,
dia berkata padaku “biarkan hujan itu menanti”
menanti mereka yang merindukan kebebasan,
lewat bendera-bendera cinta yang mereka kibarkan
Dan kepada mereka yang terasing dan mencintai hidup
karena, mereka menolak untuk tunduk pada cinta yang mapan dan menindas.

Biarkanlah hujan itu menanti
musim yang akan tiba, dan kepak sayap kupu-kupu
kuning musim semi yang terbang bersama kecintaanya.

(Mengenang Guinevere/November 2006)

Romantisme Hujan


Puisi ini ditulis oleh pada
14 November 2006 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (3 votes, average: 4.33 out of 5)
Loading ... Loading ...

Mendekatlah sebentar…
Hujan memenjarakan rasa dalam gigil
Angin meronakan puitika atas tiap tetesnya bersenggama dengan bumi

Taut tanganmu adalah hangat
tatap dalam kerudung matamu adalah kelambu nyaman dalam imaji
beradu dalam jejasjejas lebam
retaknya nampan kaca di sudut siulan angin

Hujan menghapus hilangkan warnawarna
merah menjadi palsu
hitam menjadi legam
putih menjadi sebenarbenarnya hilang

Mengertikah kau akan tawaran malam
atau sempatkan membuat strategi langkah yang produktif bersama hujan
lalu siapa yang menghantam bulan hingga bersembunyi kecut di balik
awan menghitam yang murka
tidak lagi indah kah…??
jangan, biarkan hujan berhenti sebentar, dari kita akan kembali
menyusun hidup

mari mendekat kekasihku
jangan hilangkan tahtamu daripada ku
jika hidupnya cinta adalah kau
maka hujan esok hari tak lagi kunanti
ketika esok kau tak lagi di sini…

PangeranTanpaIstana