Tag: puisi siang panas

Sambutanmu, menenangkan jiwaku


Puisi ini ditulis oleh pada
30 June 2010 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (1 votes, average: 1.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

Kelelahan dan kelusuhan diri ini
Karena beban yang menumpuk diatas meja kerja
Semakin mendidihkan kepala;

Namun itu selalu sirna tanpa sisa
Ketika aku dapati engkau membuka pintu pagar rumah
Wajahmu yang selalu ceria
Jilbabmu yang tak pernah lepas ketika menyambutku
Binar matamu yang bening
Menenangkan jiwaku yang kadang resah

Secangkir kopi panas kau sajikan diberanda rumah
Air hangat yang kau siapkan
laksana sakralnya kembang tujuh rupa
hilang sudah kepenatan jiwa
ketika engkau bercanda dengan riangnya
mengajakku bercerita tentang irama hidup yang selalu berubah

terima kasih sayang.

Jakarta, 19 November 2009

http://surgahati09.blogspot.com

ESOK NANTI (kesandung mendung bag.2)


Puisi ini ditulis oleh pada
15 July 2008 dengan 1 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (4 votes, average: 2.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

Baca sajak sebelumnya, ‘Buah hati (kesandung mendung bag.1)

Bocah berulah datang menodong
Tagih janji bapak yg tidur di siang bolong
Minta mainan seperti punya anak tetangga
Mengamuk karena bosan bermain ular tangga

Bocah menangis bersembunyi di bawah kolong
Terisak tak mengerti kenapa bapak berbohong
Minta mainan baru sejak hari rabu
Merengek karena bosan bermain bambu

Nak, sini nak! bapak punya cerita
Kisah tentang si kaya dan ‘siapa kita’
Jangan di kolong jangan rusak dinding bata
Sudah, sudah! kau hapuslah itu air mata

Kau tau kenapa orang bisa kaya?
Karena mereka buaya!
Karena mereka pencuri!
Kau tau kenapa mereka tak punya harga diri.

Kau tau kenapa orang, ‘seperti kita’?
Karena tak punya cukup pelita!
Karena tak punya cukup kesempatan!
Kau tau kenapa kita susah membeli mainan.

Kita ini orang miskin
Selalu hidup seperti lilin
Lalu menunggu redup ditiup angin

Esok nanti
Jadilah pencuri yang tak punya hati
Lebih baik tak punya harga diri daripada mati

Kau lelaki
Bersahabatlah dengan maki
Kau simpan permata, dibeli dengan daki

Kau lelaki
Berilah orang segelas susu pakai baki
Kau teguk lautan, muntahkan satu seloki

Esok nanti….
Jadilah kau buaya,
Dan jauhi mara bahaya
Jadilah kau hewan,
Dan berlagak seperti pahlawan

Jadilah kau penjilat,
Jangan akui kau seekor ‘lalat’
Jadilah kau penipu,
Jangan akui kau seorang ‘tukang sapu’

Menjadi pencuri
Untuk anak isteri

Esok nanti
Semoga kita tak lagi lagi sakit hati

(Bersambung lagi ya….)

Wizurai,

Bersama Angin


Puisi ini ditulis oleh pada
24 January 2008 dengan 1 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (6 votes, average: 2.83 out of 5)
Loading ... Loading ...

Bersama angin panas siang ini…
Langkahnya berkejaran dengan dedaunan jatuh
Dan diantara debu yang menyapa
Kenangannya sampai pada saat-saat keasingan belum dikenal…

Bersama angin panas siang lalu…
Langkahnya menyusuri garis-garis panjang
Dan tiba-tiba waktu tidak menjadi penting
Karena ada dia disisimu

Bersama angin panas siang nanti…
Berharap masih dikenali
Mata ramah dengan cahaya hangat
Mengungkapkan perasaan
Dan jawab atas tanyanya…