Tag: puisi rindu sahabat

Nota Rindu Buat Sahabat…


Puisi ini ditulis oleh pada
8 October 2010 dengan 2 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (25 votes, average: 4.24 out of 5)
Loading ... Loading ...

sendiri kutepis rasa sepi dihati ini,
meski perihnya masih jua menghantui

namun kan tetap kucoba tuk tegar berdiri,
karena kini telahpun kutemukan sang pelipur hati…

sahabat….
hadirmu telah cukup memberi arti

semarak hari kulalui kini, meski diujung jalan kegelapan menanti

tapi setidaknya ‘satu yang pasti’
cahaya menyala kembali dihatiku yang redup…

setitik terangmu telah menerangi jalanku yang gelap dan sunyi…

Untukmu Sahabat….
tiada kata yang pantas kuucap, selain kata
“terima kasih tak terhingga”

walau kini kau jauh dari tatapanku,
angin malam yang membelenggu dingin

berbentur dalam benakku rasa rindu yang mendalam

kekosongan jiwa yang hampa,
rinduku akan dirimu merasuk dalam dunia mimpiku

dengan sebias harapan tanpa batas menanti sesosok yang tak kunjung tiba

sejenak kutengadah sembari tangan bersedekap
memohon waktu sedetik untuk bertemu dengan bayanganmu

apakah esok sang mentari sudi menghantarkan salam serta rinduku kepadamu

ataukah sang malam dapat menghadirkan dirimu dalam mimpiku…

kan selalu kusemat ditempat terindah rinduku padamu sampai kita bersua lagi…

_to all my friends_

sahabatku


Puisi ini ditulis oleh pada
13 January 2009 dengan 3 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (31 votes, average: 4.48 out of 5)
Loading ... Loading ...

sahabatku

meletakkan aku dengan nyaman di sisinya

ia tak menuntutku membicarakan setumpuk hal bersamanya

atau melakukan sejuta jadwal dengannya

ia tak memintaku melakukan hal yang diinginkannya

ia juga tak menghakimiku untuk salahku

duduk diam di sisinya pun cukuplah

karena hati berbicara

tak perlu mulut berbuih untuk semarakkan waktu

karena waktu tetap istimewa jika aku dengannya

aku tak perlu menutupi hatiku

menebarkan senyum untuk lukaku

aku tak perlu dengar sejuta penghiburan dan nasehat

dekatnya dalam diam cukup mengobati hatiku

aku tidak butuh gaun yang berkilauan

atau bertumpuk-tumpuk emas

hanya untuk mempertahankan sahabatku

ia akan tetap duduk menemaniku dalam diamku

menikmati senja denganku

walau bukan sofa yang empuk mengalasi duduknya

karena ia sahabatku

kadang aku bertanya dalam hatiku

sudahkah aku menjadi sahabatnya?

sudahkah aku mengenal hatinya

hingga dalam diam pun aku tahu ia bicara

bahwa kami adalah sahabat

ia sahabatku