Tag: puisi petani

Ketika Burung Merpati Sore Melayang


Puisi ini ditulis oleh pada
4 March 2008 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (26 votes, average: 4.12 out of 5)
Loading ... Loading ...

Langit akhlak telah roboh di atas negeri
Karena akhlak roboh, hukum tak tegak berdiri
Karena hukum tak tegak, semua jadi begini
Negeriku sesak adegan tipu-menipu
Bergerak ke kiri, dengan maling kebentur aku
Bergerak ke kanan, dengan perampok ketabrak aku
Bergerak ke belakang, dengan pencopet kesandung aku
Bergerak ke depan, dengan penipu ketanggor aku
Bergerak ke atas, di kaki pemeras tergilas aku

Kapal laut bertenggelaman, kapal udara berjatuhan
Gempa bumi, banjir, tanah longsor dan orang kelaparan
Kemarau panjang, kebakaran hutan berbulan-bulan
Jutaan hektar jadi jerebu abu-abu berkepulan
Bumiku demam berat, menggigilkan air lautan

Beribu pencari nafkah dengan kapal dipulangkan
Penyakit kelamin meruyak tak tersembuhkan
Penyakit nyamuk membunuh bagai ejekan
Berjuta belalang menyerang lahan pertanian
Bumiku demam berat, menggigilkan air lautan

Lalu berceceran darah, berkepulan asap dan berkobaran api
Empat syuhada melesat ke langit dari bumi Trisakti
Gemuruh langkah, simaklah, di seluruh negeri
Beribu bangunan roboh, dijarah dalam huru-hara ini
Dengar jeritan beratus orang berlarian dikunyah api
Mereka hangus-arang, siapa dapat mengenal lagi
Bumiku sakit berat, dengarlah angin menangis sendiri

Kukenangkan tahun ?47 lama aku jalan di Ambarawa dan Salatiga
Balik kujalani Clash I di Jawa, Clash II di Bukittinggi
Kuingat-ingat pemboman Sekutu dan Belanda seantero negeri
Seluruh korban empat tahun revolusi
Dengan Mei ?98 jauh beda, jauh kalah ngeri
Aku termangu mengenang ini
Bumiku sakit berat, dengarlah angin menangis sendiri

Ada burung merpati sore melayang
Adakah desingnya kau dengar sekarang
Ke daun telingaku, jari Tuhan memberi jentikan
Ke ulu hatiku, ngilu tertikam cobaan
Di aorta jantungku, musibah bersimbah darah
Di cabang tangkai paru-paruku, kutuk mencekik nafasku
Tapi apakah sah sudah, ini murkaMu?

Ada burung merpati sore melayang
Adakah desingnya kau dengar sekarang

1998

+ Taufik Ismail  +

Nyanyian Sawah


Puisi ini ditulis oleh pada
21 September 2007 dengan 9 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (11 votes, average: 4.09 out of 5)
Loading ... Loading ...

Semenjak zamannya kompeni
Sampai sekarang zaman reformasi
Memang malang nian nasib petani
Selalu ditindas rezim tirani
Memang zaman selalu berganti
Nasib petani kok selalu begini
Petani bagai jadi anak tiri
Karena penguasa tidak peduli
Sadarilah lihat sekitar kita
Petani merana
Petai berada di posisi yang sulit
Gara-gara kebijakan yang rumit
Penguasa pun cuma bisa berkelit
Membuat petani semakin terjepit
Ayo maju pakailah topi capingmu
Angkatlah cangkulmu
Ayo maju kaum petani
Tuntut reformasi
Kita semua jangan berdiam diri
Berikanlah dukungan yang berarti
Tunjukkan semangat yang tinggi
Untuk membela kaum petani

by: Bradley Setiyadi