Tag: puisi pagi yang indah

Embun Pagi Hari


Puisi ini ditulis oleh pada
16 July 2008 dengan 1 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (22 votes, average: 4.09 out of 5)
Loading ... Loading ...

Butiran-butiran embun dipagi hari……….
Yang menyejukan indahnya pagi………..
Menyejukan isi relung hati………
Mendamaikan jiwa raga ini…………..
Tetesan embun dipagi ini……….
Mengalir mengisi kedalam jiwa………..
Terungkap akan makna suatu arti…….
Hati ini butuh cinta dan kasih……..
Belajar tuk hargai makna hidup……..
Hargai setiap detik waktu yg t’ah dijalani…..
‘Tuk terus dapat ikhlas……….
Dan dapat terus bersyukur……….
Butiran tetes embun penyejuk sukma………
Penyejuk sukma dan pendamai jiwa………
Kedamaian yg ada didalam hati……..
Kan raih kebahagian jiwa………

Kiriman dari : r.c.f [red.shank@....]

Pagi Sebuah Kerinduan


Puisi ini ditulis oleh pada
3 January 2008 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (2 votes, average: 1.50 out of 5)
Loading ... Loading ...

Hening pagi ini kusambut bersama
mataku yang mulai terbuka,
tanpa kokok ayam dan tetesan embun.

Pagiku hadir bersama sejumput keletihan
dan kegamangan yang entah kubawa dari malam
atau sudut ingatan yang mana.

Pagiku yang kujelang kali ini
adalah pagi kerinduan.

Yang hadir bukan sebagai lanjutan dari
kisah mimpi yang indah.

Pagi kerinduanku beranjak dari hidup yang resah,
ketika batin bergolak dan mendambakan
kisah cinta yang adil dan manusiawi.

Sejenak kuhirup udara dingin dan lembab,
sesak, panas dan tiada gairah dalam kerinduanku.

Kerinduanku,
pada sebuah paginya adalah kemustahilan
yang akan kutempuh bersama derak hidup
yang terus mendorongku maju
menghabiskan sisa hidup yang masih dikuasai takdir.

Pagi sebuah kerinduan
mulai beranjak bersama mentari yang meninggi
tapi selama masih dibawah matahari yang sama,
tidak ada yang baru, begitupun dengan kerinduanku
hanyalah sebuah kisah yang selalu terulang,
yang kadang terasa bijak dan hambar tiada makna.

Tapi kerinduan harus tetap beranjak pagi ini,
bersama mereka yang masih mencintai harapan
dengan segala impianya,
sebab bersama mereka-mereka itu kisah-kisah cinta
akan hadir dan kembali diceritakan.

Kali ini manusia tak perlu lagi menyangkal dirinya
dengan pura-pura melihat senja yang sudah membayang.
Saat ini masih pagi untuk semua harapan,
walau tanpa titik embun dan kokok ayam.

(Persembahan kepada Dian “Ann”/Agustus 2007)