Tag: puisi mentari pagi

Besok — Pagi pagi Sekali


Puisi ini ditulis oleh pada
16 January 2007 dengan 3 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (3 votes, average: 2.33 out of 5)
Loading ... Loading ...

Besok — Pagi pagi Sekali
(Surat Untuk Suamiku)

Bisakah kau jemput aku besok. Pagi pagi sekali. Sebelum matahari
beranjak dari peraduan di ufuk timur. Sebelum serombongan laki laki
berbaju putih bersih berdatangan ke surau untuk sembahyang dan
mengaji. Sebelum para ibu sibuk menyiapkan sarapan dan baju baju
untuk anak anak dan para suami.

Lupakan namaku. Lupakan namamu. Lupakan jiwa jiwa yang telah
menorehkan luka di dada. Lupakan segala aturan yang membelenggu
langkah dan meredam setiap asa. Kita tinggalkan Jakarta dengan
pesawat paling pertama.

Siang nanti kita akan saling mengikat janji. Di lepas pantai yang
sunyi dengan sekumpulan camar camar putih sebagai saksi abadi.
Dibawah restu Sang Pemilik Bumi kita menikah. Selembar puisi yang
kau tulis dengan keikhlasan hati akan menjadi maskawin terindah yang
akan kubawa hingga saat ku mati.

Akan kita bangun peristirahatan mungil beratapkan ranting ranting
anggrek dengan dinding dinding yang berhiaskan kelopak kelopak putih
ungu agar semerbak wanginya dapat terus mengharumkan cinta yang
terlanjur karam di dada.

Akan kulahirkan Aditya dan Nadya. Si kembar buah cinta sejati kita
yang terlahir dalam pelukan bumi yang damai dan semesta yang telah
berjanji untuk selalu menjaga mereka. Bocah bocah lucu yang akan
menemaniku disaat kau sibuk menggeluti garis nasib dan menjadi
pengobat lelahmu saat senja membawamu kembali pulang.

Sayang, aku tunggu kau untuk menjemputku besok. Pagi pagi sekali

edelweis, January 2007

author: edelweisjingga@….