Tag: puisi malam

Mimpi hari


Puisi ini ditulis oleh pada
30 June 2010 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (3 votes, average: 4.67 out of 5)
Loading ... Loading ...

Jalan kita memang berbeda sayang,

jika engkau berjalan ke utara, maka aku berjalan ke selatan.

jika engkau bergerak ke barat, maka aku bergerak ke timur.

Memang dunia kita berbeda, dan akan terus berbeda.

seperti berbedanya elang yang terbang tinggi, dengan paus di dasar lautan.

Tak sama sayang, tak sama.

aku melaju dijalan mimpiku yang terkadang terdengar semu,

dan engkau melaju di mimpimu, yang terkadang sendu, kadang pilu.

aku tahu kau bagian dari mimpi-mimpiku,

tapi dirimu hanya bagian mimpiku yang terdengar sendu,

tapi malam bukan hanya malam ini, aku bisa bermimpi lagi,

Kubaca saja 3 kul untuk hilangkan engkau dari tidurku,

aku bisa bermimpi lagi, malam ini.

asal kau tahu, bukan tentang bayangmu, akan tetapi bayang diriku.

Malam malam denganmu


Puisi ini ditulis oleh pada
23 June 2010 dengan 3 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (5 votes, average: 4.20 out of 5)
Loading ... Loading ...

Malam tadi kau ganggu aku lagi
Dengan hadir dalam mimpi
Bagaimana aku bisa melupakanmu
Kalau kau selalu ada dlm tidur

Mengingatmu saja membuat ku takut
Merindumu saja membuat ku kecut
Lama sudah berlalu masa tanpamu
Namun kini kau selalu hadir dalam tidur

Mengingatmu dengan senyum malu mu
Merindu mu dalam wajahmu yang tak terengkuh
Lama sudah ingin ku kubur dalam dan jauh
Namun kau selalu ada dalam tidur

“Tapi aku kan tak mengganggu tidurmu”
“Aku hanya memperindah sisi lain hidupmu”
“Aku tahu pasti kau tlah berusaha hidup tanpaku”

Dan sejak itu,malam-malam berikut kau pun tak hadir lagi
Kau pasti mencobaku lagi
“Biar kau berusaha hidup tanpa diri ku,sampai kau mati nanti”

Jkt,mei 2010
Biarkan saja aku merindu

[andrivb@.....]

sang malam


Puisi ini ditulis oleh pada
8 June 2010 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (7 votes, average: 3.14 out of 5)
Loading ... Loading ...

SANG MALAM
Hening….snyap…
hanya kidung angin membelai sang rimbun,
sesekali brgoyang, seolah trbuai lembutnya sang semilir.
Dalam sepimu…
membungkam jiwa-jiwa serakah
membius hati yang egois
meredam amarah yang bergejolak
menyelimuti asa yang terpatri
merayu sang penjaga,tuk lelapkan rasa..
meretas angan sang pemimpi.
Dalam senyapmu…
terkadang jadi perantara rindu bagi sang penunggu..
inspirasi suci bagi sang pemikir..dan tak sedikit,
sang pelipat bersembunyi dalam celah.
Hening…senyap…
mengubur berjuta lelah
hanya rembulan yang tetap bersanding..
ketika dekapmu semakin larut terbenam kesenyapan.
(09 januari 2009)..sudut kamar (00.05)

penyesalan


Puisi ini ditulis oleh pada
16 July 2008 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (4 votes, average: 4.75 out of 5)
Loading ... Loading ...

mungkin engkau merasa bahwa aku adalah manusia paling bahagia di dunia ini, yang merasakan banyak cinta dari wanita
merasakan kebahagiaan yang tak pernah kau rasakan dalam kehidupanmu

tetapi sesungguhnya aku adalah manusia yang paling malang di dunia ini,
aku merasakan pahit dan manisnya penyesalan ,
sungguh aku melalui kehidupan ini dengan banyak penyesalan..
takkan ada seorangpun yang sanggup menanggung penderitaan yang kualami
siang dan malam kurasakan derita jiwa yang tak henti hentinya menghakimiku terhadap rasa bersalahku
seolah-olah kehidupan ini menghukumku dengan cemeti , yang tak henti hentinya terus mencambuk jiwa dan pikiranku

aku merasa sesalku tak pernah pergi, sesalku takkan pernah hilang

duhai alam semesta
tak cukupkah rasa derita ini hingga engkau menambah bebanku , memberikan kegilaan jiwa padaku

kekasihku telah meninggalkanku dalam perasaan sesalku yang tiada henti-hentinya menghukumku
aku teramat menyesal terhadapnya..

kehidupanku teramat menyedihkan untuk mengingatkanku semua rasa sesal ini

karya2 lainku ada di : www.penyair.com

Lentera Akhir Malam


Puisi ini ditulis oleh pada
4 July 2008 dengan 4 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (2 votes, average: 3.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

Sepi …. hening

dalam gelap dan udara malam yang dingin

berhembus angin yang berbisik suara-suara daun kering,

terserak dan berguguran di atas tanah yang berdebu.

Musim kemarau ini belum terlalu lama kulewati,

masih kujelang gamang dan malam-malam dingin

di bawah taburan bintang-bintang di langit yang angkuh dan beku.

Malam ini aku kembali beranjak sendiri meniti jalanan

di tepian kota kecil, bersama deretan

lentera-lentera yang bernyala redup.

Dalam udara yang dingin membeku,

setitik cahaya lentera yang kecil melawan gelap malam yang besar,

menyingkapkan sudut-sudut malam, kemudian membayang seperti

sebuah lukisan romantik kehidupan manusia yang sepi dan terasing

dalam bentang malam yang gelap.

Kujelang lentera di akhir malam berderet

sepanjang tepi jalanan kota ini.

Pejalan yang kecil dan asing ini menyapamu

lewat setapak demi setapak langkah kaki yang beranjak sepi.

Lentera akhir malam …. tetaplah dalam kelipmu yang kecil

agar setiap pejalan yang melintasi jalanan ini

mengingat kelip kecilmu melawan gelap malam yang besar,

seperti kesetiaanmu untuk tidak menjadi bintang yang tinggi

dan cahaya terang yang sombong.

Walau dalam gelap dan cahaya yang redup,

pejalan ini harus terus melangkah, meski dia tahu

gelap gulita akan membayang kepada hidup

yang harus dilanjutkanya.

Pejalan ini beranjak bukan hanya untuk satu kisah setia,

tapi untuk terus mencari ketulusan dan kecintaan,

walaupun dalam keremangan senja dan kegamangan malam

atau dalam pagi yang masih sepi.

Lentera akhir malam,

kutatap lagi kelip kecilmu tersenyum dan berkata padaku;

“wahai sahabat kecil, tetaplah berjalan mencintai takdirmu,

teruslah mencintai hidup walau mungkin engkau akan terasing dan dikatakan jalang”.

(Persembahan kepada Santi/Jogjakarta Juni 2008)

Surat Buat Kekasih Dunia Maya


Puisi ini ditulis oleh pada
8 March 2008 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (4 votes, average: 2.75 out of 5)
Loading ... Loading ...

Kepada Rianti 

Ah, bodohnya aku…
Mengapa keajaiban kecil mempertemukan kita di dunia tak pasti
saat semula ku lentikan jari-jari kecil kerasku , mengukir kata2 kotor kepadamu,Rianty kudapatkan hatimu dalam waktu 3 hari

Dan kau beri rindu 3000 thn lamanya
Tak pernah terlintas sedikitpun
dalam benakku………

Kenapa jua aku menanti kau
Menanti kepastian , yang mungkin tak an
Pernah kau beri dengan tangan hatimu
yang tak pasti kabar ceritanya

Ah, lemahnya aku…
Mengapa jua aku berdiri di ruang hampa tanpa tepi
Menanti sandaran hati bayang mimpi
Bila kaulah sandaran hati….
Tak pernah berarti rinduku ini

Menanti setiap detik suara lembut
Manis bibirmu
Menanti harum pekat wangi tubuhmu

Ah, mengapa jua…
Aku terjerat sepi di sini
Terikat janji yng kau beri

Inikah yang kau beri benarkah ini jalan mu
Bila langit menguman bolehkah aku mendengar suaramu

Ah, bodohnya aku…
Menghirup rindu yng kau beri
Mematikan denyut jantungku

menyesakkan dada ini
menjerat setiap hembusan nafasku

Ah, tololnya aku…
Mengapa ku bisa terlena kata2 manis
Yang kau tulis untukku

Hingga tak jemu2 jari ini menari memuja-muja hadirmu
yang terlihat manis menebar senyum indah di potret maya
mimpi tidurku

Ah, entah kenapa…
Aku begitu menantimu gadis mayaku, rianty…..
Aku tak ingin berbagi rindu dengan mu
Tak jua rasa nikmatnya merindukan

Biarlah aku mengagumimu setiap sahajamu
dari jauh saja

Sampai jam-jam di dinding kabarkan kebosanan
Tapi siapa yng sanggup tunjukan arah pulang hati ini

Yang terjerat rayu manismu…

Ah,rianty…
Hingga mual perut ini
Menahan rindu yang kau beri
Sampai muntah aku menulis puisi
memuja dirimu…

hingga alamat rumahmu aku catatkan
kepada awan,angin,hujan,kepada burung-burung
tuk kabarkan di mn kau berdiri

Halah,sungguh-sungguh tolonya aku…
Terhempas hembus nafas baubusuknya rayu
nan jauh di sebrang sana…

Tapi ada suara menimbang dalam hatiku,
Nekat mencemooh:bisakah kiranya berkering
Dari kuyup laut biru…?
Pamitan dari tiap pelabuhan..?
Lagi siapa bilang mengatakan di situ
pasti ada bidadari…

Suara berat menelan rindu, mengatakan seperti rianty
yang punya kerlingnya nty……

Bidadari pulau lepas maya mimpi malam….
Sedang menanti kelam rinduku ini…

Ah, hanya sebuah mimpi….
Aku pegang jemari lentik lembut tanganmu…
Di bawah senja, danau lebur burung-burung rawa…

Yang di setiap senja, menanti manisnya senyummu
renyahnya canda tawamu , yang tak pasti…
Terhempas angin lalu…

Ah, kenapa ku tak bosan memujamu…
Walau setiapku ukir bayangmu
Jiwaku menjadi roboh , pedih, perih
Bagai ribuan busur panah menujam …

Tubuh ini….

Hanya gurau melupakan duka,karena hati
menyimpan rindu dan cinta yng sudah membusuk…
dan melebur di sana,,…..

Ratusan jam sudah terlalui…
Apa yang ingin di dusta? dalam bening mata…

Tak bisa sembunyi
Pura-pura

Walau perih tuk merindu…
Walau mungkin tuk mencintainya…

Ah, rianty…
Habis sudah, kerajaan jantan hati ini…
kau ubrak-abrik dengan manis kata2 rayumu..
dengan tajam rindu yng kau beri…

Kau sayat-sayat batin ini…
dengan sebilah pedang kasih sayang

Yang kau asah dengan langit..
dan laut birunya hatimu…

setajam awan, pedang kasih sayang itu…

Terukir manis lembut rayumu di sana…

Huh, rianty…
Dengan derai air mata hati…
Dengan ayun ambing merdu ibuku…
larutkan aku dalam arus waktumu…
yng kau isi dengan kerinduan……..

Aku menyerah….!!!!!!!

serpong 23 september 2006
Dalam malam penuh maaf

Author : [suroby25@....]
Kiriman dari : lie monliong [lie_monliong@....]

Bintang Malam


Puisi ini ditulis oleh pada
24 January 2008 dengan 9 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (17 votes, average: 3.76 out of 5)
Loading ... Loading ...

Bintang malam hadirkan bahagia dihati yang lama terdiam

Bintang malam menjadi saksi cinta kita yang lama terpendam

Bintang malam berikan cahaya indahmu ‘tuk terangi gelap malamku

Dewi malam berikan sebuah harapan tuk kucoba luluhkan hatimu

Entah mengapa ku harus merelakanmu

Walau berat rasanya semua berakhir

Takkan lagi pernah kucoba untuk melepaskan

kekasih yang selama ini mengertikan aku

Takkan lagi pernah kuragukan setiamu

yang selama ini kau beri kepadaku

Bintang kejora


Puisi ini ditulis oleh pada
3 January 2008 dengan 5 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (11 votes, average: 4.18 out of 5)
Loading ... Loading ...

akulah mentari senja
dan kaulah bintang kejora
menunggu biar kurasa
1000 tahun tak akan lama
kaulah indah puisi
andai saja aku malam yang sunyi
saat pujangga suka menangis
dan bersama aku kau ditulis
puji itu dirimu
dan aku pemujimu
mimpi itu dirimu
dan aku pemimpimu
maka datanglah dan bacakan
sajak yang lama aku impi-impikan
coba datanglah dan nyanyikan
melodi hati yang masih kau simpan

Merah Senja


Puisi ini ditulis oleh pada
25 November 2007 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (3 votes, average: 4.67 out of 5)
Loading ... Loading ...

Udara dingin menusuk tulangku yang tak lagi terbungkus sempurna
Kilatan petir yang menyambar memudarkan pandanganku yang telah senja
Hembusan angin sore menggoyahkan tegak tubuhku yang telah tua
Senja memerah ketika hari-hariku tak lagi memberikan arti yang sebenarnya
Detak jantungku berat berdentum di telinga mengusik sepi hati yang tak terkira
Menghitung hembusan udara kotor yang berlalu di dada yang rata
Aku tahu diri ini tak kuasa lagi berjalan beriringan dengan putaran dunia
Sehelai kertas yang selalu menemani malam-malamku tampak taklagi berguna
Tercabik-cabik oleh kerasnya lantai dunia
Basah bergelumuran air mata langit di hari-hari setianya
Aku tahu tangan ini tak lagi dapat membelai lembut dirinya
Melipat rapih kembali di setiap lipatannya
Seekor anjing kecil yang selalu kubawa taklagi kuasa mengikuti langkahku yang hampa
Berbagi secarik roti di saat laparnya
Mendengar cerita kecil di kala tidurnya
Biarlah kisah ini kusimpan dengan setia
Di dekapan dingin seorang wanita tua
Berjalan tegar di lemahnya sebuah kota
Menuju rumah yang baka
Di akhir sebuah senja…
Selamanya…