Tag: puisi malam yang sepi

air mata mata air


Puisi ini ditulis oleh pada
28 March 2011 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (3 votes, average: 4.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

pernahkah kita brefikir??
apakah semuanya akan berakhir
pernahkah kita mengingat??
terik mentari mulai menyengat

mata air berair mata
menangisi semua manusia
air mata matair membanjiri,
menghanyutkan nyawa yang mulai mati.

andaikan mata air memiliki mata
andaikan air mata menetes dari mata mataair
kuyakin smua akan tetap terfikir
berakhir dengan hati yang terus khawatir.

erwin karizky [ka.rizky01@xxx]

Menanti Tak Jua Pasti


Puisi ini ditulis oleh pada
23 August 2010 dengan 7 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (12 votes, average: 4.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

bait-bait serentak terdengar,
bersayup laksana nada asmara membara.
Sejenak kegelisahanku terobati dan larut oleh hening yang gagu.
Cahaya lentera yang kelelahan masih memantul,
kesiur angin mengecup tirai,
kuusap kaca jendela yang lembab karena embun,
Langit disaput mendung,
meninggalkan bara yang berbiak tak beraturan..
kemana kini harus kubawa langka
jika jalan didepanku luruh dalam gelap
meninggalkanku dibatas sketsa cinta yang buram,
namun rintik hujan tiada jua turun,
perasaanku bertempur dalam hati,
segugus asa dan harapan kini mengendap dalam palung terdalam.
Hatikupun kian hampa… dia telah jauh pergi,
semburat lembayung hadir didepan mata membias tanpa aturan yang tak juga mampu menentramkan hati,
seolah mencerminkan satu memori kisah yang telah berlalu.
Hatiku merenung… sebuah nuansa alam yang membuat jasadku terpaku,
tergenang dalam bauran sukar untuk dimengerti

Lentera Akhir Malam


Puisi ini ditulis oleh pada
4 July 2008 dengan 4 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (2 votes, average: 3.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

Sepi …. hening

dalam gelap dan udara malam yang dingin

berhembus angin yang berbisik suara-suara daun kering,

terserak dan berguguran di atas tanah yang berdebu.

Musim kemarau ini belum terlalu lama kulewati,

masih kujelang gamang dan malam-malam dingin

di bawah taburan bintang-bintang di langit yang angkuh dan beku.

Malam ini aku kembali beranjak sendiri meniti jalanan

di tepian kota kecil, bersama deretan

lentera-lentera yang bernyala redup.

Dalam udara yang dingin membeku,

setitik cahaya lentera yang kecil melawan gelap malam yang besar,

menyingkapkan sudut-sudut malam, kemudian membayang seperti

sebuah lukisan romantik kehidupan manusia yang sepi dan terasing

dalam bentang malam yang gelap.

Kujelang lentera di akhir malam berderet

sepanjang tepi jalanan kota ini.

Pejalan yang kecil dan asing ini menyapamu

lewat setapak demi setapak langkah kaki yang beranjak sepi.

Lentera akhir malam …. tetaplah dalam kelipmu yang kecil

agar setiap pejalan yang melintasi jalanan ini

mengingat kelip kecilmu melawan gelap malam yang besar,

seperti kesetiaanmu untuk tidak menjadi bintang yang tinggi

dan cahaya terang yang sombong.

Walau dalam gelap dan cahaya yang redup,

pejalan ini harus terus melangkah, meski dia tahu

gelap gulita akan membayang kepada hidup

yang harus dilanjutkanya.

Pejalan ini beranjak bukan hanya untuk satu kisah setia,

tapi untuk terus mencari ketulusan dan kecintaan,

walaupun dalam keremangan senja dan kegamangan malam

atau dalam pagi yang masih sepi.

Lentera akhir malam,

kutatap lagi kelip kecilmu tersenyum dan berkata padaku;

“wahai sahabat kecil, tetaplah berjalan mencintai takdirmu,

teruslah mencintai hidup walau mungkin engkau akan terasing dan dikatakan jalang”.

(Persembahan kepada Santi/Jogjakarta Juni 2008)