Tag: puisi malam yang dingin

Malam malam denganmu


Puisi ini ditulis oleh pada
23 June 2010 dengan 3 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (5 votes, average: 4.20 out of 5)
Loading ... Loading ...

Malam tadi kau ganggu aku lagi
Dengan hadir dalam mimpi
Bagaimana aku bisa melupakanmu
Kalau kau selalu ada dlm tidur

Mengingatmu saja membuat ku takut
Merindumu saja membuat ku kecut
Lama sudah berlalu masa tanpamu
Namun kini kau selalu hadir dalam tidur

Mengingatmu dengan senyum malu mu
Merindu mu dalam wajahmu yang tak terengkuh
Lama sudah ingin ku kubur dalam dan jauh
Namun kau selalu ada dalam tidur

“Tapi aku kan tak mengganggu tidurmu”
“Aku hanya memperindah sisi lain hidupmu”
“Aku tahu pasti kau tlah berusaha hidup tanpaku”

Dan sejak itu,malam-malam berikut kau pun tak hadir lagi
Kau pasti mencobaku lagi
“Biar kau berusaha hidup tanpa diri ku,sampai kau mati nanti”

Jkt,mei 2010
Biarkan saja aku merindu

[andrivb@.....]

Lentera Akhir Malam


Puisi ini ditulis oleh pada
4 July 2008 dengan 4 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (2 votes, average: 3.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

Sepi …. hening

dalam gelap dan udara malam yang dingin

berhembus angin yang berbisik suara-suara daun kering,

terserak dan berguguran di atas tanah yang berdebu.

Musim kemarau ini belum terlalu lama kulewati,

masih kujelang gamang dan malam-malam dingin

di bawah taburan bintang-bintang di langit yang angkuh dan beku.

Malam ini aku kembali beranjak sendiri meniti jalanan

di tepian kota kecil, bersama deretan

lentera-lentera yang bernyala redup.

Dalam udara yang dingin membeku,

setitik cahaya lentera yang kecil melawan gelap malam yang besar,

menyingkapkan sudut-sudut malam, kemudian membayang seperti

sebuah lukisan romantik kehidupan manusia yang sepi dan terasing

dalam bentang malam yang gelap.

Kujelang lentera di akhir malam berderet

sepanjang tepi jalanan kota ini.

Pejalan yang kecil dan asing ini menyapamu

lewat setapak demi setapak langkah kaki yang beranjak sepi.

Lentera akhir malam …. tetaplah dalam kelipmu yang kecil

agar setiap pejalan yang melintasi jalanan ini

mengingat kelip kecilmu melawan gelap malam yang besar,

seperti kesetiaanmu untuk tidak menjadi bintang yang tinggi

dan cahaya terang yang sombong.

Walau dalam gelap dan cahaya yang redup,

pejalan ini harus terus melangkah, meski dia tahu

gelap gulita akan membayang kepada hidup

yang harus dilanjutkanya.

Pejalan ini beranjak bukan hanya untuk satu kisah setia,

tapi untuk terus mencari ketulusan dan kecintaan,

walaupun dalam keremangan senja dan kegamangan malam

atau dalam pagi yang masih sepi.

Lentera akhir malam,

kutatap lagi kelip kecilmu tersenyum dan berkata padaku;

“wahai sahabat kecil, tetaplah berjalan mencintai takdirmu,

teruslah mencintai hidup walau mungkin engkau akan terasing dan dikatakan jalang”.

(Persembahan kepada Santi/Jogjakarta Juni 2008)