Tag: puisi laut

Merindukan Gerak


Puisi ini ditulis oleh pada
14 March 2011 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (6 votes, average: 3.50 out of 5)
Loading ... Loading ...

Wahai betinaku..

di bawah langit biru

bergaun merah soga,

engkau

terdiri tegak dengan rambut terurai

ada sepasang kembang sepatu

berwarna coklat muda terselip di kedua daun telingamu

seolah tercerahkan senyummu yang terlampau manis.

 

Ketika pandang dari sosokmu,

menerpa wajahku,

aku bayangkan diriku adalah bukit karang menjulang

dari deretan gugus-gugus karang

di pantai yang terjal dan berombak ganas.

 

Wahai betina dengan senyum bunga matahari,

terpa aku dengan rona-rona cerah,

setelah itu datangkan prahara yang besar

menghantam keras bukit karang yang angkuh ini,

kemudian datangkan ombak yang besar dan paling ganas,

agar kebisuan yang terbangun musim demi musim

dapat lebur terbawa air laut, menjadi butir-butir

pasir yang akan engkau jumpai

beberapa abad kemudian di pantai

engkau menjelma menjadi perempuan suci.

 

Pandangku adalah kata

untuk hatimu yang selalu terjaga;

usik aku dengan kerinduan hingga bergeming

dan merelakan diri melebur dan mengambil

bentuk hidup

yang paling engkau cintai..

aku ada untuk hidupmu yang merindukan

ketegaran.

 

(Gunung Kidul/Februari/2011/Katjha)

BIRU 1


Puisi ini ditulis oleh pada
2 May 2009 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (4 votes, average: 4.25 out of 5)
Loading ... Loading ...

Itu bukan salahmu
Itu bukan perkara besar
Ia bukan saudaramu
Ia bukan milikmu
Ia tak bicara padamu
Bahkan ia bukan manusia
Mungkin hanya bayangan sekilas di perjalanan
Diantara gemeretak lelah kaki yang terseok
Apa bedanya bila pilihanku dan pilihanmu
Tak selalu sama atau sama
Candamu jadi sedihku
Sedihmu jadi hancurku
Biarkan saja gundahku
Karena kata-kataku bukan kata-katamu
Ketika matahari di atas kepala
Menusuk ubun-ubunku
Menguapkan seluruh telagaku
Aku berpaling menatap purnama
dan bintang gemintang di malam sunyi
Karena tak juga kau dengar
Tak juga kudengar
Pagi yang lahir biru
Seperti birunya laut
Seperti birunya danau
Seperti birunya langit
Seperti birunya dirimu di mataku
Helai putih ini tak menarik lagi, juga hitam, merah, coklat, ungu
Sebab kini yang kulihat ditengah serpihanku adalah warnamu
Aku tahu indahnya
Tapi tak sampai pada mengapa

Surrender


Puisi ini ditulis oleh pada
13 January 2009 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (28 votes, average: 3.50 out of 5)
Loading ... Loading ...

Seandainya aku harus menyentuhmu

untuk menyakinkan kau berada disampingku

Lalu mengapa ketika aku merasakan kehadiranmu

Aku tetap saja tak bisa menyentuhmu

Seketika aku mendengar senandungmu

Kau nyanyikan lagu yang merdu

Yang kukira kau lantunkan untukku

Namun ketika kulihat peri-peri laut pun menari

sambil menyebarkan serbuk keperakan

berkilau diterpa sinar matahari

Aku tersadar, lagu itu adalah pujian yang biasa

Kau persembahkan pada dia

Hanya padanya kau persembahkan puisimu

Akhirnya aku menyerah untuk menyentuhmu

Dan aku menyerah untuk bisa menyentuhmu

Selamanya

Pelayaran dalam impian


Puisi ini ditulis oleh pada
19 September 2008 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (15 votes, average: 4.13 out of 5)
Loading ... Loading ...

aku pernah pergi ke tepi laut
memandang ombak dan ingin berlayar
aku pernah pergi untuk melihat lihat kapal yang ada didermaga
menyentuh kayuhnya dan ingin untuk memilikinya
aku pernah memiliki kapal
manikinya di tepi pantai, tapi tak pernah melepas sauhnya
aku pernah membawa kapalku berlayar
melepas jangkarnya, namun akhirnya kembali pulang sebelum sampai tujuan

Lautan Kata


Puisi ini ditulis oleh pada
24 January 2008 dengan 5 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (42 votes, average: 3.79 out of 5)
Loading ... Loading ...

engkau adalah lautan aksara yang tak bisa kurangkai
dengan sederhana

engkau adalah lautan kata yang tak bisa kukata
dengan hati terbuka

engkau adalah lautan makna yang tak bisa kucerna
dengan sekali warna

engkau adakah lautan sunyi yang tak bisa kutembus
walau dengan rindu menghunus

engkau adalah lautan mimpi yang tak bisa kubeli
walau kugadai hati

engkau adalah lautan yang tak kumengerti