Tag: puisi kesunyian malam

Kesetiaan


Puisi ini ditulis oleh pada
25 July 2008 dengan 1 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (12 votes, average: 4.08 out of 5)
Loading ... Loading ...

Kesunyian mengikuti langkah kaki sang malam

Setia menanti dari ujung senja hingga diperaduan

Meski berselimutkan kedinginan

Dengan diiringi hymne kesunyian

dan hanya bersandar pada rasi bintang

Kesunyian tetap menggenggam jemari sang malam

Dengan langkah perlahan menyusuri sungai kehidupan

Melewati lembah, singgah di puncak gunung

Terbawa angin kedesa-desa

Terseret ombak ketengah samudra

Kadang hujan gerimis menemani, bahkan hujan badai sekalipun

Hembusan topan mendorong kekota besar

Berbaur dengan hiruk pikuk kehidupan

Kesunyian tetap setia mendampingi sang malam

Meski ada saatnya kemesraan itu terganggu

oleh gemuruh halilintar

dan hingar bingar kota besar

Setianya kesunyian pada sang malam

tetap tak tergoyahkan

sight-cla10

Serpong, 11-01-’03

00.15 wib

Rembulan


Puisi ini ditulis oleh pada
25 July 2008 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (8 votes, average: 4.25 out of 5)
Loading ... Loading ...

Kembali aku terbentur
Didinding kesunyian
Hanya bisikan angin malam
Singgah dan lewat di telinga

Lagi aku terjatuh
Ditikam gelora rindu
Menyeruak dari dalam kalbu
Menyumpah serapah pada waktu

Kuamati detak detik jarum jam
Sepertinya teramat lambat
Ingin kuputar dan kupacu
Jarak dan lari sang waktu

Meski terasa begitu lama
Aku kan selalu setia
Menanti rembulan yang kurindu
Menyinari ruang kalbuku.

sight.cla10

serpong, 12 Oktober 1999
19.35 wib.

CINTA (III)


Puisi ini ditulis oleh pada
2 June 2006 dengan 15 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (36 votes, average: 3.89 out of 5)
Loading ... Loading ...

Kelmarin aku berdiri berdekatan pintu gerbang sebuah rumah ibadat dan bertanya kepada manusia yang lalu-lalang di situ tentang misteri dan kesucian cinta.
Seorang lelaki setengah baya menghampiri, tubuhnya rapuh wajahnya gelap. Sambil mengeluh dia berkata, “Cinta telah membuat suatu kekuatan menjadi lemah, aku mewarisinya dari Manusia Pertama.”

Seorang pemuda dengan tubuh kuat dan besar menghampiri. Dengan suara bagai menyanyi dia berkata, “Cinta adalah sebuah ketetapan hati yang ditumbuhkan dariku, yang rnenghubungkan masa sekarang dengan generasi masa lalu dan generasi yang akan datang.’

Seorang wanita dengan wajah melankolis menghampiri dan sambil mendesah, dia berkata, ‘Cinta adalah racun pembunuh, ular hitam berbisa yang menderita di neraka, terbang melayang dan berputar-putar menembusi langit sampai ia jatuh tertutup embun, ia hanya akan diminum oleh roh-roh yang haus. Kemudian mereka akan mabuk untuk beberapa saat, diam selama satu tahun dan mati untuk selamanya.’

Seorang gadis dengan pipi kemerahan menghampiri dan dengan tersenyum dia berkata, “Cinta itu laksana air pancuran yang digunakan roh pengantin sebagai siraman ke dalam roh orang-orang yg kuat,? membuat mereka bangkit dalam doa di antara bintang-bintang di malam hari dan senandung pujian? di depan matahari di siang hari.’

Setelah itu seorang lelaki menghampiri. Bajunya hitam, janggutnya panjang dengan dahi berkerut, dia berkata, “Cinta adalah ketidakpedulian yang buta. la bermula dari hujung masa muda dan berakhir pada pangkal masa muda.’

Seorang lelaki tampan dengan wajah bersinar dan dengan bahagia berkata, ‘Cinta adalah pengetahuan syurgawi yang menyalakan mata kita. Ia menunjukkan segala sesuatu kepada kita seperti para dewa melihatnya.’

Seorang bermata buta menghampiri, sambil mengetuk-ngetukkan tongkatnya ke tanah dan dia kemudian berkata sambil menangis, ‘Cinta adalah kabus tebal yang menyelubungi gambaran sesuatu darinya atau yang membuatnya hanya melihat hantu dari nafsunya yang berkelana di antara batu karang, tuli terhadap suara-suara dari tangisnya sendiri yang bergema di lembah-lembah.’

Seorang pemuda, dengan membawa sebuah gitar menghampiri dan menyanyi, ‘Cinta adalah cahaya ghaib yang bersinar dari kedalaman kehidupan yang peka dan mencerahkan segala yang ada di sekitarnya. Engkau bisa melihat dunia bagai sebuah perarakan yang berjalan melewati padang rumput hijau. Kehidupan adalah bagai sebuah mimpi indah yang diangkat dari kesedaran dan kesedaran.’

Seorang lelaki dengan badan bongkok dan kakinya bengkok bagai potongan-potongan kain menghampiri. Dengan suara bergetar, dia berkata, “Cinta adalah istirahat panjang bagi raga di dalam kesunyian makam, kedamaian bagi jiwa dalam kedalaman keabadian.?

Seorang anak kecil berumur lima tahun menghampiri dan sambil tertawa dia berkata, “Cinta adalah ayahku, cinta adalah ibuku. Hanya ayah dan ibuku yang mengerti tentang cinta.”

Waktu terus berjalan. Manusia terus-menerus melewati rumah ibadat. Masing-masing mempunyai pandangannya tersendiri tentang cinta. Semua menyatakan harapan-harapannya dan mengungkapkan misteri-misteri kehidupannya.

:+: Khalil Gibran :+: