Tag: puisi karya ws rendra cinta

Surat Cinta


Puisi ini ditulis oleh pada
13 June 2009 dengan 6 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (19 votes, average: 4.21 out of 5)
Loading ... Loading ...

To My Queenhearth, Hawa

Berawal dari tatapan yang sangat membiusku hingga turun ke gelak tawamu dan merekahnya senyum manismu. Aku terpesona dengan Sang Hawa satu ini. Layaknya ombak menghempaskan isi hatiku untuk menyatakan rasa di dalam relung hatiku. Tinta demi kata yang aku tuliskan, tentang rasa hatiku kepadamu, Hawa.

Terhenyak aku merasa satu panah tertuju dan menancap hingga setiap cairan darahku mengalir, tumbuh disana bunga yang bermekaran indah penuh warna-warni dan semerbak wanginya.

Kulihat Sang Dewi Cinta tertawa terbahak-bahak saat itu. Apa yang terjadi?? ternyata aku jatuh cinta dengan Hawa dan aku benar-benar tak dapat menghembuskan nafasku lagi jika tanpanya, terasa sesak, sesesak sekarat. Sebab kau adalah Hawa yang tercipta hanya untukku, Sang Adam.

Terdengar gonggongan angin memenuhi telingaku, bahkan semua yang ada dunia meneriakiku. I know what the hell is that! Memang kesempatan bercinta sejati hanya satu kali.

tentang hal itu aku dapat mempertimbangkannya…

Berpikir ku menulis, cintaku padamu. Mengapa setiap aku terjaga, di pelukan mentari indah, sangat indah, tapi aku tak menyangka ternyata itu hanya ciptaan otakku yang penuh bayanganmu.

Debaran-deguban jantungku seakan berirama, mengandung arti dan makna, hingga mungkin bibirku menjadi bantalan bagi kesenjangan ungkapan kata-kata indah untukmu.

Kau benar-benar Hawa, yang dicintai hatiku, hingga ragaku melunglai oleh getaran jiwa yang aku rasakan, kuakui aku takut dan  tak berarti jika tanpa senyum dan gelak tawamu.

aku hanya ingin kamu mengerti, setiap hembusan kalimat yang terucap, berawal dari teriakan hatiku, hingga menuntun jemariku untuk menulis kata-kata yang mungkin berarti buatmu, Aku ingin kamu tau, apa yang ingin disampaikan hati seorang manusia pertama yang diciptakan olehNya, pemilik roh dan jiwa ini.

Sesaat aku tersadar dari buaian.

Ahk… ( aku jatuh dari tempatku menulis dan menatap langit-langit kamarku ) apa yang terjadi padaku?? apa tulisan ini… Ahkkk…. ( sesaat aku terbangun dari otakku yang keras ini dan kulanjutkan…)

Suara detik berputar menyusuri masa. Aroma lilin terbakar menenangkan pikiranku, sebagaimana kejutan bulan dari balik awan, hingga kuterpesona menatapnya. Masih suara Adzan berkumandang, melantunkan pujian terhadapNya, pemilik roh dan jiwaku. Bersamaan datangnya rentetan burung samudera, seakan menyapaku, mencengkram langit senja.

Tersadar bahwa aku adalah Adam, berteman kertas dan pena, layaknya pohon merindukan bisikan angin. Terlihat memang terik panas matahari membakar kulitnya.

Tidak aku kira dan aku sangka hati kerasku, hanya karena senyuman dan hangatnya tawamu dapat mencair dan aku jatuh ke dalam alurmu.

Ku pegang gambar tubuhmu, layaknya seorang Bohemian yang menemukan kebebasan abadinya. Dan aku juga membayangkan bilamana di suatu masa dengan dirimu, damai, penuh dengan kasih putih dan kuajak kau mengelilingi bumi ini, atau perlu sejagad raya ini, agar semuanya tahu, bahwa kau tercipta hanya untukku.

Setiap kata, kalimat bahkan setiap lembaran yang kutulis ini adalah tentang suara hatiku yang sudah tak tahan lagi untuk menahan rasa cinta kepadamu.

Rasanya memang hatiku dan aku mencintaimu Hawa.