Tag: puisi ibu karya chairil anwar

Sepekan Bersama Orang Sujenan


Puisi ini ditulis oleh pada
11 March 2011 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (3 votes, average: 4.67 out of 5)
Loading ... Loading ...

Raut teduh merona,

ditelinga kirimu

terselip kuncup setengah mekar

berwarna putih, saat itu aku lupa

menanyakan nama bunga

yang kau selipkan tiap pagi

dan sorenya kau ganti dengan bunga yang baru

namun tetap berwarna putih.

 

Sering kulihat di dahimu tertempel butir-butir

beras putih, entah berapa biji aku malu menghitungnya.

setelah engkau khusuk dalam ritual sajenan pagi dan sore hari

di pura keluarga.

 

Aku kagum begitu engkau hayati sebuah spiritualitas,

di tengah gelora kehidupan yang semakin materialistis,

di antara kerumunan orang memanjakan nalar dan

berkacak pinggang kepada yang ruhani.

Aku kagum dengan perlawanan budaya yang engkau lakukan,

aku tahu engkau tidak membela keyakinanmu

ditengah hedonisme jaman,

karena engkau hanya menunjukkan dirimu

yang menegakkan pribadi yang bertopang pada keseimbangan

alam-diri-sesuatu yang sakral.

 

Ada terpancar hening wajah dan hati yang tercerahkan.

tidak perlu engkau membuat jargon tentang cinta kasih,

yang esa dan tunggal,

karena jauh dari yang orang-orang katakan

engkau berkata dengan gerak langkah,

ketulusan laku

dan raut wajah dengan senyum diatas lesung pipimu.

 

Terima kasih,

lepas dari saat sepekan bersamamu

aku mulai tergerak lagi untuk bertanya ke dalam diri

tentang yang ruhani, spiritualitas dan relung-relung

penyadaran yang masih kosong

dan bergema keriuhan dunia yang hedonis dan penuh kepalsuan.

Ada semangatmu terbawa,

seperti dentang-dentang gaib yang menandakan waktu

untuk menautkan kesadaran

pada yang sakral, bersatu kepada yang harmonis

dan tiap kali menyatakan jiwa kepada semua yang nyata ini

berawal dan berakhir.

 

Tapi aku masih malu untuk menyebut nama Tuhan,

 

(Tuban/Oktober/2010/Katjha)