Tag: puisi hujan rintik rintik

Ketika Hujan Tiap Sore


Puisi ini ditulis oleh pada
17 September 2010 dengan 2 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (6 votes, average: 4.83 out of 5)
Loading ... Loading ...

Semilir angin pegunungan

mengalun dingin

rintik-rintik renggang

menjadi banyak…

jatuh menjadi hujan pada

tanah-tanah yang sudah basah.

Bunyi air jatuh dari atap rumah-rumah

khas daerah sunda, terdiri mengelompok.

Rintik hujan berlomba dengan air jatuh dari pancuran atap,

membuat sore ini begitu hening.

Seorang bapak tua yang berteduh disampingku

berkata padaku

“jang, di sini kalau sore memang selalu hujan”

“lihatlah kabut yang turun dari bukit batu di atas,

itu adalah teman kami di waktu sore”

Aku hanya terdiri di bawah atap beranda sebuah rumah

hanyut dalam rintik-rintik yang mulai mengecil

bersama kabut yang mengalun lembut, dingin dan tampak mempesona,

dimana sepiku tersangkut

pada hujan sore yang riuh

membawa kedamaian hati.

Heningku tertambat, terjaga

kemudian hati ini beranjak merasa lagi

terpikir untuk pulang ke pondok

menyeberangi hujan sore ini dengan hati yang ikhlas

akan airnya yang dingin

kabut yang meremangkan pandang

dan tanah licin becek yang mengotori kaki

Ketika hujan sore …

memberkas segurat kesadaran

untuk hidup dengan cara yang beda

percaya pada hasrat, pada

naluri berpikir untuk hidup.

(Garut/Untuk sahabatku Tono&Yanto/Februari 2010/Katjha)

Hujan Pergi Sorang


Puisi ini ditulis oleh pada
11 October 2007 dengan 3 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (12 votes, average: 3.83 out of 5)
Loading ... Loading ...

Hujan ku sudah berkalang tanah ditebas lalang malam petang
berdarah lehernya agak kekiri terguling kengarai melantak tunggu, menyeringai ia bersakitan
merasi benar sebelum lalu.

Iba ku menengok dari kejauhan
Rintik terisak menengadah mengjangkau-jangkau, ingin turut
pun teguh ku tegah, hilang sudah kawan sepermainan.
Tak niat menega hilang keduanya, hujan dengan rintik
membujukku pada rintik, biar hujan pergi sorang tinggAllah rintik denganku
acuh meraung saja pesenyum rintik

Kuturut lalang hendak bertanya, bercakap sejenaklah sudah
” lalang mengapa engkau menebas hujan?”
berjawab tidak dari lalang, menekur ia
” Hujan kan sudah begitu semenjak dulu, menitik air
benar melebatkah ia?”
atau kau diasung pawang-pawang?
picik kau lalang!

kemudian, rintik menyunyi sambil mengcangkung
umpama beruk tidak terjual

Hujan telah dulu, rintik tetapkah serupa dulu?

Padang malam 04 Okt 07