Tag: puisi dingin

Dari Gelap Menuju Terang


Puisi ini ditulis oleh pada
31 January 2009 dengan 3 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (34 votes, average: 3.97 out of 5)
Loading ... Loading ...

bekas tinggal pada cahaya
kini kelana dalam gelap
berharap bintang tunjuk muara
ditengah keras tubuh meratap

senjata ditangan patah sudah
kuda tunggangan mati terserak
ketika pendosa berburu berkah
dengan hati tak jua melunak

bermandi dosa bersabun taubat
menantang badai sebelum kiamat
cari ilmu biar tak mlarat
walau ajal diambang sekarat

pergi cahaya menyongsong gelap
demi fajar sejuta emas
lewati malam bermodal harap
smoga siang tak juga panas

berumah batu dalam gelap
berlantai tanah berhawa rawa
tak pernah sirna tawa berharap
suatu hari kembali cahya!

hidup dan makna


Puisi ini ditulis oleh pada
10 October 2008 dengan 1 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (14 votes, average: 3.93 out of 5)
Loading ... Loading ...

Hidup,
Sebuah kata yang memikat pendengaran
Kata yang meyakinkan setiap orang bahwa ada nafas disana
Kata yang meyakinkan setiap orang bahwa ada keinginan jauh dari kematian dan kondisi statis
Kata yang mensimbolkan pergerakan anatomi dan geliat nafsu keduniaan yang gegap gempita penuh gemerlap
Bahwa kata tersebut adalah tumbuhnya benih dari keringat petani yang menanam
Bahwa seekor elang pulang kesarang pada anaknya dengan ikan diparuhnya
Bahwa benih ikan dari induk yang pergi tumbuh menjadi ikan yang besar

Hidup,
Sebuah rotasi,fluktuasi,gelombang konsonan naik dengan parabola turun
Untuk itu kita diciptakan agar BIJAKSANA
Melihat sesuatu dari empat sudut pandang
Merasakan sesuatu seolah kita pemain peran
Melakukan sesuatu dengan analisa pertimbangan sebab akibat
Bahwa kita adalah ABDI TUHAN
Tidak diciptakan kita SELAIN SUJUD padaNYA
Mensyukuri butir demi butir padi masuk ketenggorokan kita,
Mensyukuri nafas terhembus dan terhisap pada hidung dan paru paru kita
Mensyukuri jejak demi jejak yang menjadi bingkai hidup kita
Mensyukuri gelak tawa dan tangisan setiap waktu yang kita lewati, detik,menit dan jam
Mensyukuri lahirnya anak anak kita yang kemudian tumbuh besar
Mensyukuri bahwa cacat dan normal adalah keseimbangan
Mensyukuri bahwa kaya dan miskin adalah baut dari ulir rotasi dimana kita berpijak
Berfikir bahwa alam adalah media hidup itu sendiri dan berusaha menjaganya

Hidup,
Bahwa disana ada khilaf,alpa dan lupa seimbang dengan ingat,disiplin dan integritas
Memaafkan, untuk sebuah khilaf maka kita belajar menjadi dewasa atas diri kita sendiri
Mensyukuri tentang banyak hal maka kita belajar memahami keinginan TUHAN
Bahwa DIA selalu ingin Makhluknya BAIK bahwa DIA selalu ingin makhluknya selamat
Tidak menangis tentang sebuah kematian maka kita belajar menghadapi MATI itu sendiri
Tidak tertawa dalam kesenangan maka kita belajar untuk siap dalam tangisan
Mematri keinginan agar tidak tergesa berarti kita belajar untuk lebih tepat menganalisa
Juga menjaga agar tidak terlampau lambat berarti kita belajar menjaga dari lalai terhadap waktu

Lalu apakah HIDUP?
Hidup adalah menjaga integritas mahluk yang fana tiada abadi.
Menjaga eksistensi bahwa kita hanyalah HAMBA
Menjaga tiada kultus antara sesama dan PATRON penyekutuan TUHAN!
Menjaga CINTA TUHAN pada kita dengan SUJUD
Bahwa kita tiada diciptakan dengan SUMPAH bahwa kita harus menghamba dengan menyembahNYA
Maka disanalah Bijaksana, kekayaan hakiki, kemurnian moral dan budi pekerti, kepekaan terhadap saudara
Dan jujur bahwa kita bukan siapa siapa dan tidak punya apa apa….
Bahwa sekarang adalah titipan yang akan diambil kemudian tanpa aba aba dan nyala sirene tanda bahaya
Bahwa Hidup adalah persekian DETIK
Setelah semuanya kita pahami dan resapi dalam relung terdalam dikalbu yang murni maka,,,,
ITULAH EKSISTENSI DEWASA SEBAGAI HAMBA
BAHWA KITA TERLAHIR TELANJANG DAN MEMALUKAN DAN TIADA PUNYA APA APA BAHKAN SEHELAI BENANGPUN!
KARENA SEMUA YANG ADA SEKARANG HANYA TITIPAN TUHAN YANG AKAN DIAMBIL KEMUDIAN, TERMASUK NAFAS KITA SEKARANG!

Renungan 15 Juli 2008
Purwakarta

Ferdian Munadi Rachman
Anak Manusia yang dititipi HIDUP

Lentera Akhir Malam


Puisi ini ditulis oleh pada
4 July 2008 dengan 4 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (2 votes, average: 3.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

Sepi …. hening

dalam gelap dan udara malam yang dingin

berhembus angin yang berbisik suara-suara daun kering,

terserak dan berguguran di atas tanah yang berdebu.

Musim kemarau ini belum terlalu lama kulewati,

masih kujelang gamang dan malam-malam dingin

di bawah taburan bintang-bintang di langit yang angkuh dan beku.

Malam ini aku kembali beranjak sendiri meniti jalanan

di tepian kota kecil, bersama deretan

lentera-lentera yang bernyala redup.

Dalam udara yang dingin membeku,

setitik cahaya lentera yang kecil melawan gelap malam yang besar,

menyingkapkan sudut-sudut malam, kemudian membayang seperti

sebuah lukisan romantik kehidupan manusia yang sepi dan terasing

dalam bentang malam yang gelap.

Kujelang lentera di akhir malam berderet

sepanjang tepi jalanan kota ini.

Pejalan yang kecil dan asing ini menyapamu

lewat setapak demi setapak langkah kaki yang beranjak sepi.

Lentera akhir malam …. tetaplah dalam kelipmu yang kecil

agar setiap pejalan yang melintasi jalanan ini

mengingat kelip kecilmu melawan gelap malam yang besar,

seperti kesetiaanmu untuk tidak menjadi bintang yang tinggi

dan cahaya terang yang sombong.

Walau dalam gelap dan cahaya yang redup,

pejalan ini harus terus melangkah, meski dia tahu

gelap gulita akan membayang kepada hidup

yang harus dilanjutkanya.

Pejalan ini beranjak bukan hanya untuk satu kisah setia,

tapi untuk terus mencari ketulusan dan kecintaan,

walaupun dalam keremangan senja dan kegamangan malam

atau dalam pagi yang masih sepi.

Lentera akhir malam,

kutatap lagi kelip kecilmu tersenyum dan berkata padaku;

“wahai sahabat kecil, tetaplah berjalan mencintai takdirmu,

teruslah mencintai hidup walau mungkin engkau akan terasing dan dikatakan jalang”.

(Persembahan kepada Santi/Jogjakarta Juni 2008)