Tag: puisi dan maknanya

Sosok Itu Di Ruang Hampa


Puisi ini ditulis oleh pada
9 February 2011 dengan 2 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (14 votes, average: 4.07 out of 5)
Loading ... Loading ...

Apa yang kau cari?
Tak ada yang penting di sini.
Hanya pemikir yang dikuasai
isi kepalanya sendiri.

Kau mencari matahari
dalam ruang sempit ini.
Sementara si penghuni
sibuk menenangkan suara-suara sunyi.

Cecar dan cercamu tak berarti.
Memang sulit bagimu untuk mengerti.
Bagimu, dia ibarat anomali,
yang selalu memaki luka dan bersemayam dalam sepi.

Ah, langkanya simpati dan empati.
Indahnya duniamu, jauh dari murka dan patah hati.
Sayang, di matamu dia hanya pecundang berkubang sedih,
bukan petarung yang mencoba bangkit kembali…

Masih mencari-cari?
Percuma, jika engkau masih enggan mengerti.

“kucing3warna” [kucing3warna@...]

Makna sebuah idealisme


Puisi ini ditulis oleh pada
22 November 2010 dengan 1 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (11 votes, average: 3.82 out of 5)
Loading ... Loading ...

Dan kamu bilang kamu telah cukup banyak mengajariku tentang idealisme
Tentang kekuatan sebuah karakter untuk bertahan dalam situasi paling pelik sekalipun
Kupikir…
Mendengar kalian bicara di masa lalu itu
Tentang arti sebuah bangsa dan koar-koar makna kebangsaan
Sudah cukup membekaliku menghadapi rimba kehidupan di masa depan
Masih kuingat…
Teriak-teriak lantangmu di hadapan masa yang membajir peluh di bawah terik matahari
Menyuarakan tentang semangat untuk merubah bangsa ini
Yang kecintaamu kala itu dipersembahkan dalam makna sebuah orasi
Kukira…
Itu cukup untuk mengeraskan niatku menjadi karang agar tak terhempas oleh roda birokrasi
Oleh abrasi budaya tak pantas bangsaku

Itu mimpi saudaraku
Kuberitahu hari ini! Itu tak ada arti temanku!
Tak ada harga sebuah idealisme di sini
Di sini kamu akan hidup untuk bertahan mengais sebuah kesempatan demi sekedar menggelar apa yang disebut setitik aktualisasi keilmuan
Di sini pembelajaranmu akan menjerit karena ia kini diabaikan…
Disisihkan… Dilupakan… Dan ia menangis…

Idealisme itu kawanku… Runtuh! Gugur di hari pertama aku duduk di kursi ini!
Di pojok ruangan itu, air mataku meleleh, karena aku tak minta banyak pada republik ini
Hanyalah agar aku jadi makhluk berguna bagi tanahku dilahirkan
Rupiah bukan urusan utama bagiku, meski aku tak bilang aku tak butuh
Tapi aku mau berguna bagi negeriku ini dan melihat ke belakang 30 tahun kemudian, negeriku menjadi lebih layak untuk ditinggali, menjadi lebih pantas untuk dibanggakan, menjadi lebih utama untuk diperhitungkan…

Bukankah masih segar segala pikuk itu di tahun lalu
Jiwa-jiwa mahasiswa yang menggelora dan bertekad sekeras baja
Tapi…
Hari ini temanku, kamu… dan aku…. telah menjadi bagian dari sebuah institusi
Tempat di mana integritas dan profesionalisme kita abdikan dalam pertukaran yang disebut gaji bulanan
Atau sebuah status… atau sebuah gengsi… atau sebuah kebanggaan…

Mungkin sebagian dari kita cukup beruntung untuk hidup dan mengabdi yang juga mampu memuaskan rasa idealisme dan kepuasan pribadi
Namun untukku teman, itu sebuah kemewahan yang harus kuperjuangkan dengan sangat keras, perjuangan yang seringkali, membuatku merasa lemah dan tidak mampu untuk menang, bahkan menyangkal bahwa ini tanah perjuanganku… Penyangkalan temanku! Hingga sebuah penyangkalan akhirnya tersirat dalam pikiran dan nuraniku saking aku merasa tak berdaya di sini…

Makna Sebuah Titipan


Puisi ini ditulis oleh pada
4 March 2008 dengan 2 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (9 votes, average: 4.67 out of 5)
Loading ... Loading ...

Sering kali aku berkata, ketika orang memuji milikku,
bahwa sesungguhnya ini hanya titipan
Bahwa mobilku hanya titipan Nya, bahwa rumahku hanya titipan Nya,
bahwa hartaku hanya titipan Nya
Tetapi, mengapa aku tidak pernah bertanya, mengapa Dia menitipkan padaku?
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku?

Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik Nya ini?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yg bukan milikku?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh
Nya?

Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah,
kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka,
kusebut dengan panggilan apa saja yang melukiskan bahwa itu adalah derita

Ketika aku berdoa, kuminta titipan yg cocok dengan hawa nafsuku,
aku ingin lebih banyak harta, lebih banyak mobil, lebih banyak rumah,
lebih banyak popularitas, dan kutolak sakit, kutolak kemiskinan.

Seolah semua “derita” adalah hukuman bagiku
Seolah keadilan dan kasih Nya harus berjalan seperti matematika:
“aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku,
dan nikmat dunia kerap menghampiriku

Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan kekasih
Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku” dan
menolak keputusan Nya yang tak sesuai keinginanku,

Gusti, padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanyalah untuk
beribadah…
“Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja”

WS Rendra