Tag: puisi bulan

Bulan Sabit Menutup Bintang Cinta


Puisi ini ditulis oleh pada
2 March 2011 dengan 1 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (3 votes, average: 3.67 out of 5)
Loading ... Loading ...

Andai aku bisa menggapai bulan

sabit di atas mega-mega kelam

hanya sekedar untuk melihat,

kemudian memindahkan bulan sabit

menghalang bintang cinta tampak dari

dunia yang malam.

 

Tapi aku enggan untuk memindah bulan itu

biar bintang cinta terhalang

biar bintang cinta tenggelam dalam bayang bulan sabit

toh orang pun bisa merasakan cinta seperti apa.

 

Bintang cinta membayang panumbra bulan sabit

orang masih terkenang.

Biarkan mereka menembusi bayang

berpikir untuk gerak hati merasakan, melihat

sosok bintang cinta.

Kali ini biarlah aku tidak membodohi cinta,

biarlah orang-orang malam

tersadar bayang-bayang panumbra bulan sabit

menghalang bintang cinta.

Biar dia bijak dalam penantian lama

bintang cinta menampakkan diri,

dengan terang yang sejuk dan lembut.

demikianlah orang-orang malam

tercerahkan bayang-bayang panumbra.

 

(Katjha/Oktober/2010/Magelang)

Bulan Purnama


Puisi ini ditulis oleh pada
10 November 2007 dengan 1 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (13 votes, average: 3.15 out of 5)
Loading ... Loading ...

Bercermin pada telaga
Tanpa terasa dalam keruhnya suasana
Menunggu dalam dua musim berganti

Bulan berbaring disana
Dalam malam lindungan mega
Buta kelangsungan dan pilihan tak terduga

Entah apa yang terjadi
Terasa tak menentu panik dalam pelukan waktu
Erangan bulan buat gagu

Mega berlalu membuka tirainya
Tersenyum kepada alam,” Selamat”, katanya
” Bulan hadirkan purnama”.

Bintang


Puisi ini ditulis oleh pada
21 September 2007 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (18 votes, average: 3.89 out of 5)
Loading ... Loading ...

Apakah arti sesungguhnya dari sebuah bintang? Yang kita tahu, bahwa bintang hanyalah sebuah benda astronomi yang kita tidak pernah mengerti kenapa sebuah batu kecil tak berbentuk dan melayang itu dapat memancarkan kelipan cahaya redup yang menemani kelamnya langit malam. Memberi sedikit penerangan yang sayup-sayup bagi malam yang sunyi dan suram. Apakah bintang ada untuk menerangi malam? Tidak cukup terangkah cahaya bulan selama ini sehingga langit ini membutuhkan hadir sebuah bintang?

Bulan yang indah dan selalu tersenyum cerah memang tidak akan pernah lari dari pandangan mata ini. Ke manapun kaki ini melangkah, bulan akan selalu menampakkan naungan cahayanya di atas pundak ini. Meringankan semua kegelapan yang di hadapi kesepian diri ini. Menitikkan secercah harapan untuk hati ini dengan hangatnya pelukan sang bulan.

Tetapi kenapa di malam yang kelam ini bulan menyembunyikan terang cintanya? Terangnya cinta yang selama ini menyelimuti bumi ini. Ke manakah hati ini harus berlari mencari cahaya baru yang sama indahnya?

Bintang. Cahayamu yang redup mungkin tidak akan bisa menerangi hati yang ditinggalkan ini. Cahayamu tidak akan bisa memberi hangat yang cukup untuk sepi ini. Kelap-kelipmu tidak akan mungkin bisa menghibur resahnya pikiran ini. Aku yakin bumi ini tidak merasakan arti hadirmu. Hadirmu tidak akan pernah menempati tempat yang berarti di alam ini.

Tapi.. kenapa bintang selalu bersinar tanpa henti? Bintang tetap bersinar selalu ketika malam menampakkan murkanya. Bintang tetap bersinar dengan segala daya dan upaya mencoba mencari tempat di tengah-tengah dominasi terangnya cahaya bulan. Bintang tetap setia bersinar di malam ketika bulan tidak menampakkan sinarnya.

Inikah arti setia sebuah bintang? Inikah arti terang yang sesungguhnya? Terang yang kontinuitas yang tidak dapat diberikan sebuah bulan yang indah?

Bintang, akan kukorbankan seribu cahaya bulan untuk merasakan secercah cahaya hangatmu.

Bulan sabit tak seindah senyummu


Puisi ini ditulis oleh pada
14 November 2006 dengan 2 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (3 votes, average: 4.33 out of 5)
Loading ... Loading ...

Lengkung di langit malam
Inspirasi beribu tahun
Menjadi dewa bermasa-masa

Lengkung selepas bagaskara melanglang buana
Penanda rindu sang pungguk merana
Mengisi malam penuh dahaga

Lengkungnya memudar tatkala bayang senyummu mengisi angan di malam-malam
sepiku.

9:42 AM, Curtin 11 Nov 2006
-kurang dari tiga minggu lagi kita akan bertemu jika Dia memang ingin
mempertemukan kita-

author: Anton Mondro