Tag: puisi buku

Mencatat Waktu


Puisi ini ditulis oleh pada
6 August 2010 dengan 1 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (1 votes, average: 5.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

:asfinawati

Aku sama sekali tak faham,
Kepada siapa waktu berpihak…..
Tapi,
Tak perlu catatan apapun karena
Memang waktu akan menjadi milik semesta….

Kemudian pada halaman buku yang aku lipat setengahnya,
Sebuah kata aku tebalkan pada dua tanda petiknya :
“kata-kata sama sekali tak mewakili,
sebab kita mungkin hanya perlu sebuah jawaban,
entah putus asa
atau perasaan seperti anak-anak remaja yang
kehilangan setengah waktunya
karena televisi dan
tulisan-tulisan penuh tinta
di tembok-tembok stasiun kota….”

Semesta kata
Semesta kita
Cuma semesta duka cita !

Jakarta, catatan 16 Juni 2004
salam,
khi

ketika peluru pertama meledak, tiada lagi hari minggu atau malam istirahat

/subagio sastrowardoyo, puisi

khamid istakhori [khamid_mail@...]

Q


Puisi ini ditulis oleh pada
3 January 2008 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (2 votes, average: 1.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

dia.

Datang seperti dalam adegan malam di sebuah bar, slide film hitam putih. Tatap matanya melebihi tajam, pada laki-laki yang seperti sedang terkena disentri. Dan sebuah ruang memanjang terlalu kecil tuk menampung percakapan dalam benak, laki-laki yang kehilangan taji. Misai laki-lakinya tak cukup melukiskannya lelaki. Hanya menduga, percakapan akan baur, sepeti asap rokoknya yang hilang dalam kalis udara.

dia

Adalah kanigara, dua buah bola mata kucing Persia, buku-buku yang dititipkan, jazz lembut café del Mar, lukisan Marilyn Moonroe buatan Andy Warhol, tabla dalam cerita-cerita Bollywood, gantungan kunci dari perak, batu-batu yang berserakan di depan kamar kos, sebungkus mi instant dalam kelaparan tengah malam, anekdot soal hubungan seksual, cerita bersambung di koran harian, cek dengan angka yang berderet panjang, sekelonet misteri baru, mosaik warna warni, berita pembangunan silicon valley di Banglore, mungkin hanya sosok yang terbiasa dengan berbagai perawatan tubuh.

dia.

Sekali-sekali, datang hanya dengan suara waktu matahari merah tua membura. Membangkitkan aku, sang pelasuh dari ranjang tua ketakutan-ketakutan. Dan seperti perjamuan rahasia, entah siapa saja yang tau atau akan peduli. Seperti kakak beradik di tepi jalan raya, mengayuh sepeda meninggalkan keletihan kota. Membincangkan papan-papan reklame yang lusuh. Tak ada lagi yang terbayangkan.

dia.

Rupanya sedang melukis. Dengan tinta air mata, sebentuk gambar bening. Orang-orang saat musim penghujan, memetik daun teh. Di isinya separuh kanvas dengan puisi, kata-kata yang hanya bisa dimaknainya. Dari bahasa yang ia cipta, kumpulan segala yang dinamainya. Luka

Perihalnya ini,

Akulah seorang bengah di tepi angan soal bengawan. Lengah mencacah satu per satu parahu kertas yang melintas karena alir kata. Saat kurasa ia sedang menyalakan lilin di taman kecil tempat ia takkan tergilap oleh cahaya-cahaya.

O sinar disekitar bulan, aku berjalan saat percepatanmu melambat, melumat sengat…