Tag: perjuangan

Yang Berkuasa


Puisi ini ditulis oleh pada
3 October 2011 dengan 1 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (11 votes, average: 4.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

Berjalan ku tak tentu arah
Di hatiku berkemelut resah
Kulihat bunga mawar terindah
Yang tumbuh dari genangan darah

Darah dari mimpi-mimpi
Darah dari isak tangis
Para pejuang revolusi
Para pemuda negeri ini

Yang berkuasa hanya melihat
Yang berkuasa hanya terbata
Yang berkuasa hanya terdiam
Yang berkuasa ternyata hanya tertawa

Tertegun hatiku tersentak
Amarah menyala serentak
Melihat tubuh tergeletak
Diam dingin tak berdetak

Kecewa merayap di dada
Mengutuk ku pada mereka
Yang duduk terdiam disana
Menganggap dirinya Tuhan

Yang berkuasa tidak mendengar
Yang berkuasa tidak berkata
Yang berkuasa tidak bertindak
Yang berkuasa ternyata tak berkuasa

Perjuangan kami dari hati
Kami berjuang sampai nanti
Perjuangan kami tiada henti
Kami berjuang sampai akhir
Perjuangan kami kan abadi
Kami berjuang sampai mati

Yang berkuasa hanya mengelak
Yang berkuasa hanya membantah
Yang berkuasa hanya berdusta
Yang berkuasa ternyata harta semata

By: Maggothz MoronChay

Surat Untuk Ayah


Puisi ini ditulis oleh pada
9 February 2011 dengan 2 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (24 votes, average: 4.29 out of 5)
Loading ... Loading ...

siapa bilang aku tak boleh tidur di siang
hari?
bagiku langit biru
terlalu menyilaukan untuk
dinikmati.
lebih baik kututup saja mataku
dan menyimpannya
untuk bulan nanti malam.

ya. aku memang jauh
dari terang
kalau kau ingin tahu.
tempatku
tinggal
hanyalah sebatas bayang-bayang di
kakimu.
merangkak terus di atas bumi
seperti pesakitan
kusta
yang tak kunjung sembuh.
ya. begitulah aku di siang
hari.
hanya seonggok bayang penuh koreng.
tapi lihat jika
senja mulai surut
dan gelap mulai datang.
tubuhku
yang hanya sepetak itu
akan membengkak
dan akan
meluap–
membanjiri segenap ruang
dalam planet aneh ini.
dan
semua luka yang ada padaku
akan berputar
dan akan
menari–
menjadi sekawanan bintang
berkerjapan
pelan-pelan.
ya. aku memang jauh dari terang.

dan mataku

mereka hanya untuk bulan nanti malam.
dan bukan untuk
langit biru
yang selalu menyilaukan ‘tuk
dinikmati.
jadi siapa bilang aku tak boleh tidur di siang hari?

selesai: 13 agustus 2000

*judul lengkap:
“surat untuk ayah yang tak akan pernah tertuliskan”

violet_eye_1979

Makna sebuah idealisme


Puisi ini ditulis oleh pada
22 November 2010 dengan 1 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (10 votes, average: 3.70 out of 5)
Loading ... Loading ...

Dan kamu bilang kamu telah cukup banyak mengajariku tentang idealisme
Tentang kekuatan sebuah karakter untuk bertahan dalam situasi paling pelik sekalipun
Kupikir…
Mendengar kalian bicara di masa lalu itu
Tentang arti sebuah bangsa dan koar-koar makna kebangsaan
Sudah cukup membekaliku menghadapi rimba kehidupan di masa depan
Masih kuingat…
Teriak-teriak lantangmu di hadapan masa yang membajir peluh di bawah terik matahari
Menyuarakan tentang semangat untuk merubah bangsa ini
Yang kecintaamu kala itu dipersembahkan dalam makna sebuah orasi
Kukira…
Itu cukup untuk mengeraskan niatku menjadi karang agar tak terhempas oleh roda birokrasi
Oleh abrasi budaya tak pantas bangsaku

Itu mimpi saudaraku
Kuberitahu hari ini! Itu tak ada arti temanku!
Tak ada harga sebuah idealisme di sini
Di sini kamu akan hidup untuk bertahan mengais sebuah kesempatan demi sekedar menggelar apa yang disebut setitik aktualisasi keilmuan
Di sini pembelajaranmu akan menjerit karena ia kini diabaikan…
Disisihkan… Dilupakan… Dan ia menangis…

Idealisme itu kawanku… Runtuh! Gugur di hari pertama aku duduk di kursi ini!
Di pojok ruangan itu, air mataku meleleh, karena aku tak minta banyak pada republik ini
Hanyalah agar aku jadi makhluk berguna bagi tanahku dilahirkan
Rupiah bukan urusan utama bagiku, meski aku tak bilang aku tak butuh
Tapi aku mau berguna bagi negeriku ini dan melihat ke belakang 30 tahun kemudian, negeriku menjadi lebih layak untuk ditinggali, menjadi lebih pantas untuk dibanggakan, menjadi lebih utama untuk diperhitungkan…

Bukankah masih segar segala pikuk itu di tahun lalu
Jiwa-jiwa mahasiswa yang menggelora dan bertekad sekeras baja
Tapi…
Hari ini temanku, kamu… dan aku…. telah menjadi bagian dari sebuah institusi
Tempat di mana integritas dan profesionalisme kita abdikan dalam pertukaran yang disebut gaji bulanan
Atau sebuah status… atau sebuah gengsi… atau sebuah kebanggaan…

Mungkin sebagian dari kita cukup beruntung untuk hidup dan mengabdi yang juga mampu memuaskan rasa idealisme dan kepuasan pribadi
Namun untukku teman, itu sebuah kemewahan yang harus kuperjuangkan dengan sangat keras, perjuangan yang seringkali, membuatku merasa lemah dan tidak mampu untuk menang, bahkan menyangkal bahwa ini tanah perjuanganku… Penyangkalan temanku! Hingga sebuah penyangkalan akhirnya tersirat dalam pikiran dan nuraniku saking aku merasa tak berdaya di sini…

Hidup Itu Indah


Puisi ini ditulis oleh pada
4 October 2010 dengan 2 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (18 votes, average: 4.17 out of 5)
Loading ... Loading ...

Pertama kalinya aku hadir di dunia ini…

Aku tak mengerti apa-apa..

Lemah, dan sungguh rentan..

Tak ada impian dan harapan..

Menitipkan jiwa raga pada dua insan…

Rengekan tangisku menginginkan sesuatu..

Terkadang mereka tak mengerti apa yang kuhendaki..

Dengan hangat mereka menjagaku..

Dengan sejuta impian mereka, kelak aku mampu membanggakan mereka..

Perlahan aku mulai mengerti..

Bahasa mereka, kelakuan mereka,..

Entah saat mereka mendengar aku berkata “mama.. papa” yg mereka ajarkan padaku

Ada kebahagian tersendiri disana..

Dipegangnya tanganku, dan mencoba berdiri..

Dari merangkak, aku mulai terbiasa menggunakan kedua kakiku..

Dan perlahan pula aku mampu berjalan seperti mereka..

Aku berjalan dan berlari mendapatinya..

Seumur biji kacang tanah..

Aku mulai mengerti..

Aku berada dimana, dan siapa mereka..

Entah jika tak ada mereka, aku seperti apa..

Diberinya aku sebuah pemikiran baru..

Diajarkannya aku ada impian yang harus dituju..

Dimasukinya pikiranku akan hal-hal yang baru..

Waktu itu aku menjawab “ingin seperti dia” (sambil menunjuk kartun televisi)

Perlahan aku cukup besar..

Kini impian nyata itu ada..

Dan dalam meraih impian itu, aku harus melanjutkan perjalanan yang panjang..

Perjalanan yang harus aku ketahui, bahwa pengetahuan yang tak ada batasnya..

Hari berlalu demikian cepatnya..

Aku mendapati diriku..

Dengan raga yang dewasa,,

Aku mulai merasakan, mengartikan sebuah cinta…

Cinta pertama..

Membuatku mengerti kertas dan pena..

Menuliskan sebuah bait kata yang indah..

Yang menjelma sebuah gambaran diri, wanita yang kupuja..

Cinta pertama..

Membuat tanganku, memelodykan syair..

Menjadikannya sebuah lagu yang merdu dan indah..

Cakrawala senja pun menjadi temanku satu-satunya..

Perlahan,..

Ada benci, ada pertengkaran, ada perselisihan..

Yang membuatku kehilangan akal sehatku..

Aku membutuhkan seseorang untuk bicara..

Tuhan nampak dekat sekali denganku..

Aku bicara dengan Dia dalam hening doa..

Tentang sejuta impian dan jawaban setiap pertanyaan..

Dijawabnya dengan lantang dan misteri,..

Datang seseorang..

Dia hadir saat aku putus asa..

Dia menopangku saat aku terjatuh..

Namun itu bukan cinta, tetapi itu dinamakan persahabatan…

Persahabatan..

Ibarat satu pohon yang hidup di tengah padang gurun, peluh dan sesak..

Mendabakan hujan, namun hujan tak akan pernah hadir..

Angin datang dengan kesejukan alami, menghapus keringat sang pohon..

Persahabatan..

Ibarat kertas yang bertuliskan kepercayaan, ketulusan dan pengorbanan..

Jika kertas terbakar, tersobek, dan basah..

Maka semuanya sirna, bahkan bisa lebih buruk, membakar yang lainnya..

Ya, kembali aku mendapati diriku..

Mempelajari apa yang terjadi..

Cinta itu adalah sebuah kehidupan..

Ada denyut, bernafas, berfikir, mendengar, melihat, dan merasakan..

Cinta itu adalah perasaan dan logika yang bersatu..

Ada kesabaran, ketulusan, kepercayaan,

Tak pernah menghitung kesalahan dan slalu memaafkan..

Dan besarnya cinta, kau akan tahu saat akan kehilangan..

Ibarat cawan anggur..

Yang disetiap tetesannya mampu menghidupkan semua yang telah mati..

Yang disetiap tenggukannya mampu mengenyangkan perutmu, dan tak pernah lapar lagi..

Yang disetiap aromanya mampu mengubah semua yang buruk menjadi lebih baik..

Ada sebuah pelajaran tersendiri..

Saat aku harus kehilangan..

Itu yang dinamakan keikhlasan..

Sulit sesulit mencengkeram bintang di langit..

Keikhlasan bukan hanya melepaskan sesuatu..

Melainkan penuh pengorbanan, dan tulus..

Menghempaskan impian ke tanah, dan bermimpi kembali..

Aku harus melakukan itu untuk yang terbaik..

Namun sesuatu yang terbaik bukan berarti sesuatu yang sempurna..

Namun sesuatu yang terbaik bukan berarti sesuati yang seperti impian kita..

Sesuatu yang terbaik adalah jawaban suci dari Tuhan..

Adalah sebuah titik dan sebuah takdir..

Kembali aku mendapati diriku sendiri..

Setelah semua yang telah terjadi..

Aku lahir, belajar, bermimpi, bercinta dan bersahabat..

Aku sakit, bahagia, tertawa, menangis..

Selayaknya hidup itu indah..

Tuhan menjawab setiap pertanyaan kita.

Tak selalu seperti yang kita impikan, melainkan yang terbaik..

Doa dan berjuang adalah sebuah pondasi, karena keyakinan adalah awal dari sebuah perjuangan..

Jika memiliki impian, pegang dan jangan pernah lepaskan..

Tak cukup puas dengan hanya merasakan pasir pantai di kakimu..

Kau harus mampu mendengar ombaknya, merasakan hangat Cakrawala senja..

Melihat burung laut yang bersautan, dan buih putih di batasan pantai..

Dan jika impian itu harus sirna..

Ada yang sulit, namun kau harus lakukan..

Untuk yang terbaik..

Keikhlasan..

Hingga suatu saat kau akan mengatakan pada dirimu..

“aku sungguh Bahagia.. Syukur pada Tuhan..”

daun dan pena


Puisi ini ditulis oleh pada
16 July 2010 dengan 1 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (8 votes, average: 3.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

saat jiwa ini telah terlelah oleh dekapan sang malam
di kala raga ini sendu oleh kenangan dari rindu yang terbuang
disaat itu jua siang menjelang embun menghilang

rantai dari perjuangan telah dibuat
oleh keinginan dan asa yang terpancar
untuk memeluk kisah yang akan segera hadir
dengan rasa kasih dan sayang

daun yang berguguran telah terkenang
sebagai satu kisah yang tersimpan
embun-embun telah menangis
beserta senyum yang menghiasinya

senja akanlah hadir
menggantikan siang yang menunggu
dan malam akan menjelang
menggantikan senja yang telah lelah
dan tertidur di balik tembok kesepian

satu waktu telah berganti
bukan menghilang ataupun tiada
tetapi tumbuh menjadi sesuatu yang baru
dan akan menjadi pena suatu saat nanti

menghadirkan kisah yang baru
menorehkan jawaban yang lama
dan melupakan kenangan yang pahit

kita tiada perlu mengerti semua
yang kita harus lakukan hanyalah percaya

20/04/2010

dewa 4 U

Sudahlah


Puisi ini ditulis oleh pada
16 November 2008 dengan 1 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (6 votes, average: 4.33 out of 5)
Loading ... Loading ...

Pak, ayo!

Kita lestarikan korupsi, kebudayaan nasional menurut kita!

Jangan lupa kolusi dan nepotisme konconya.

sampai tulang belulang kita terbaring di sepetak tanah

berukuran dua kali satu kali satu!

supaya harta kita cukup untuk anak cucu,

bahkan keturunan ketujuh kalau perlu!

setidaknya untuk kuburan kita itu!

Biarkan saja rakyat jelata,

yang berkicau seperti burung pipit, burung beo tepatnya!

kita ini kan tuli…

dan buta, karena semua media “KATANYA” mengutuki kita pak..

Pernah liat pak? sama… saya juga tidak pernah.

Lupakan perjuangan BUNG KARNO, BUNG HATTA, dan BUNG-BUNG lainnya!

Mereka tinggal sejarah bukan?

kalau mereka masih ada mungkin gawat, kepala kita bisa ditempeleng…

Atau gawatnya bambu runcing bukan ditancapkan di dada kompeni!

tapi di kepala kita!

Kita ini sedang berevolusi

dari manusia jadi orang utan!

Ahh… Percuma ngomong sama orang budek!

jalan itu..


Puisi ini ditulis oleh pada
26 October 2008 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (2 votes, average: 5.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

Di jalan itu..

Semua peristiwa terukir terjadi…

Diam amati semua….

Suara suara terdengar…

Raut muka tersirat rasa…

Duduk di sini..

Musisi jalanan berkumandang lantang..

Pelukis wajah penuh harapan..

Asongan lalu lalang..

Aroma kacang jagung yang menggelitik..

Warna warni batik kian merona…

Ketrampilan dan kesungguhan hati…

Bahkan….

Perjuangan dan smangat hidup yang tak putus…

Denyut kehidupan yang bergairah..

Denyut yang takkan pernah mati..

Denyut yang menawan hati….

Tak peduli rentangan usia…

Ia penuh makna…

Merengkuh sukma….

Memeluk bintang…

Mentari MOwgli 2008

Dunia Tanpa Koma


Puisi ini ditulis oleh pada
24 May 2008 dengan 7 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (2 votes, average: 5.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

Bagai lantunan sonata,

dentang-dentang bersambung cepat, riuh

mendendangkan sebuah lantunan bunyi.

Kemudian sepi ……

Tapi masih berlanjut untuk lantunan bunyi yang tersimpan,

manusia masih merekamnya, tanpa harus mengingatnya kembali.

Kalaupun dunia adalah gelaran dentang sonata dengan koma,

maka sejenak dunia akan berpikir tentang dirinya,

sehingga sejarah tak perlu berulang kembali, tak perlu

ada yang harus mati.

Karena dunia akan berpikir ke arah keabadian,

manusia tak lagi perlu menyangkal takdir dan kemustahilan.

Karena, dunia telah memikirkannya untuk sebuah proses ke depan yang

cerah dan pasti.

Namun, dunia ini seperti tanpa koma,

seperti rangkaian peristiwa yang terus berulang

seperti sebuah otak besar yang digerakan untuk berpikir.

Duniaku adalah dunia tanpa koma,

yang menyisakan sebuah manusia yang fana dengan

keraguan, kesadaran dan hasrat-hasrat untuk melawan.

(Mei 2008/kepada segenap kawan-kawan seperjuangan di kampus jogja)

mengenang munir


Puisi ini ditulis oleh pada
26 February 2008 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (1 votes, average: 5.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

kubaca lagi dirimu

meski tahun-tahun berlalu

dan kau telah menjadi debu

disekujur tulang-tulangmu

takurung kubergetar

bila menyebut namamu

kaubuktikan kesucianmu

kegigihanmu

kemuliaanmu

kautunjukkan jalan terjal berliku itu

meski kaurelakan napasmu terenggut

mas,

aku tak pernah menatapmu

bicara denganmu

menyentuhmu

tapi entahlah

engkau mengubah indonesia jadi lebih manis, lebih cantik

engkau membuatku mau mencintainya lagi

berkat perjuanganmu aku tahu

masih banyak orang-orang sepertimu

masih banyak

aku juga mau

tunjukkan hatimu, jalanmu, semangatmu

bagiku

bagi mereka yang rela

bagi indonesia

selamat tidur mas,

semoga suatu hari aku

bisa menatapmu

bicara denganmu

menyentuhmu

Ketika Tak Lagi Di Atas Mobil Sound


Puisi ini ditulis oleh pada
21 September 2007 dengan 4 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (8 votes, average: 5.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

Sudah selesaikah?
Sudah berakhirkah?
Ke mana suara-suara lantang itu?
Apakah masih ada idealisme?
Apakah masih ada keberanian?
Apakah masih ada totalitas perjuangan?
Semua memang sudah selesai
Namun apakah semuanya harus hilang?
Mungkin aku tak teriak-teriak lagi
Mungkin aku tak lagi di atas mobil sound
Tapi apakah jiwa-jiwa pejuang harus hilang?
Aku masih seorang pejuang
Aku masih seorang demonstran

by: Bradley Setiyadi