Tag: pahlawan

Percuma Bersenandung Lagu Indonesia Raya


Puisi ini ditulis oleh pada
9 December 2010 dengan 3 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (28 votes, average: 4.46 out of 5)
Loading ... Loading ...

Sorot tajam mata Sang Garuda sudah tiada,
Hanya ada tetesan air di bawah matanya…
Bukan karna tetes embun pagi jam lima,
Juga bukan karna hujan kemarin lusa…

Percuma bersenandung lagu Indonesia Raya,
Jika kita cuma duduk diam di atas sofa.
Membiarkan Sang Garuda tenggelam dalam nestapa…

Sekarang paras Sang Garuda merah padang,
Bukan karna sinar Sang Surya yang benderang…
Tapi karna titik terang yang sudah hilang,
Karna meja hijau & lencana dapat dilelang!

Mereka bukan pahlawan!
Membenarkan yang salah demi lembaran-lembaran,
Melempar jauh keadilan yang membimbing ke depan!
Sudah terlalu lama lampu merah menyala kawan,
Waktunya mengisi senapan & bidik sasaran!!

Aku Terjaga di Malammu


Puisi ini ditulis oleh pada
1 September 2009 dengan 2 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (9 votes, average: 4.11 out of 5)
Loading ... Loading ...

Terlelap sebagai pemenang
Aku terjaga di malammu
Di tepian rambutmu yang kelam
Terhempas di ceruk matamu
Yang beriak menghempas dalam

Bisikkan rayuan
Wahai pahlawan jantan
Hinggap di tubuhku
Hisap dan rebut kemudaanku

Lalu aku tenggelam
Tersekat dalam kepekatan
Gambaran malam di tubuhmu
Dan saat aku tersadar
Aku cuma pecundang
Dilucuti senyummu yang jalang
Aku terjaga di malammu

Jakarta-Ciledug, Puasa 2009

ESOK NANTI (kesandung mendung bag.2)


Puisi ini ditulis oleh pada
15 July 2008 dengan 1 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (4 votes, average: 2.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

Baca sajak sebelumnya, ‘Buah hati (kesandung mendung bag.1)

Bocah berulah datang menodong
Tagih janji bapak yg tidur di siang bolong
Minta mainan seperti punya anak tetangga
Mengamuk karena bosan bermain ular tangga

Bocah menangis bersembunyi di bawah kolong
Terisak tak mengerti kenapa bapak berbohong
Minta mainan baru sejak hari rabu
Merengek karena bosan bermain bambu

Nak, sini nak! bapak punya cerita
Kisah tentang si kaya dan ‘siapa kita’
Jangan di kolong jangan rusak dinding bata
Sudah, sudah! kau hapuslah itu air mata

Kau tau kenapa orang bisa kaya?
Karena mereka buaya!
Karena mereka pencuri!
Kau tau kenapa mereka tak punya harga diri.

Kau tau kenapa orang, ‘seperti kita’?
Karena tak punya cukup pelita!
Karena tak punya cukup kesempatan!
Kau tau kenapa kita susah membeli mainan.

Kita ini orang miskin
Selalu hidup seperti lilin
Lalu menunggu redup ditiup angin

Esok nanti
Jadilah pencuri yang tak punya hati
Lebih baik tak punya harga diri daripada mati

Kau lelaki
Bersahabatlah dengan maki
Kau simpan permata, dibeli dengan daki

Kau lelaki
Berilah orang segelas susu pakai baki
Kau teguk lautan, muntahkan satu seloki

Esok nanti….
Jadilah kau buaya,
Dan jauhi mara bahaya
Jadilah kau hewan,
Dan berlagak seperti pahlawan

Jadilah kau penjilat,
Jangan akui kau seekor ‘lalat’
Jadilah kau penipu,
Jangan akui kau seorang ‘tukang sapu’

Menjadi pencuri
Untuk anak isteri

Esok nanti
Semoga kita tak lagi lagi sakit hati

(Bersambung lagi ya….)

Wizurai,

Bukan Tentang Cinta


Puisi ini ditulis oleh pada
29 April 2008 dengan 3 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (5 votes, average: 4.20 out of 5)
Loading ... Loading ...

Suara suara binatang malam
Menambah khusyu kubaca kalam
Mencari arti hidup
Saat nur Ilahi kian meredup

Hidupku mencari mati
atau bergelimang harta dalam peti
Nista
Dan binasa

Terbang di atas derita dalam jiwa
Lalu melayang mengawang kecewa
Bersujud
tanpa wujud

Ya Rabbi,
Ya Rabbi,
Jengah di tengah aku yang lengah
Dendam dipadam kau yang menggenggam

Kuharap nur
Untuk ikuti jiwa jiwa yg tlah gugur
Biar nanti binasa
Matiku tak hanya bawa dosa

Menggila dalam liang lahat
Terkubur bersama beribu ribu subuhat
Dalam agama menjadi jahil
Dalam harta dan nyawa terlebih bakhil

Genggam hatiku dalam Din-Mu
Sertakan ragaku dalam rencana-Mu
Jadikan hamba manusia penuh syukur
Tundukan jiwa bersujud dan tersungkur

Biar kugali sukma
Biar kemenangan yang menggema
Beri hamba pembeda
Dari fitnah yang tak kunjung reda

Berilah hamba kesempatan;
Tunjukilah jalan kebaikan;

Wizurai

Pemimpin yang Waras


Puisi ini ditulis oleh pada
23 October 2007 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (8 votes, average: 3.63 out of 5)
Loading ... Loading ...

Kita patut berbangga
Kita patut bersyukur
Karena kita dianugrahi seorang pemimpin
Pemimpin yang waras tentunya
Sangat waras sekali, malah
Yah, pemimpin kita memang waras
Makanya hanya mementingkan citra
Atau sokongan dari pendukung bermodal
Pemimpin kita memang waras
Sampai-sampai melarang rakyat pakai minyak tanah
Dan memaksa rakyat pakai elpiji
Dengan rencana kenaikan harga elpiji
Pemimpin kita memang waras
Sehingga cuek saja dengan hinaan tetangga
Cuek, meski ada anak bangsa yang dipukuli di negeri orang
Cuek, meski banyak pahlawan devisa yang disiksa
Cuek, meski harga diri bangsa betul-betul dilecehkan
Pemimpin kita memang waras
Sehingga seenaknya menaikkan tarif jalan tol
Meski jalan tol tidak layak disebut jalan tol
Karena jalan tol sama macetnya dengan jalan biasa
Terima kasih pemimpin kami yang waras
Karena membuat kami semakin waras

Pahlawan Devisa yang Belum (Tidak) Kaya


Puisi ini ditulis oleh pada
6 July 2007 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (2 votes, average: 4.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

Kami bisa juga disebut pahlawan
Kami punya jasa besar bagi negeri ini
Tak kalah dengan atlet atau Putri Indonesia
Kami mengadu nasib di negeri seberang
Kami bekerja mencari harta
Untuk sanak keluarga
Untuk melunasi hutang
Untuk bayar uang sekolah anak
Untuk bayar cicilan motor
Namun kami seperti makhluk terjajah
Kerja apapun kami tak malu
Tapi hinaan dan siksaan menghampiri selalu
Kami pun bimbang
Gaji tak pernah dibayarkan
Kesejahteraan begitu sangat diabaikan
Hanya hinaan dan siksaan yang datang
Pulang ke negeri sendiri tak mengubah apapun
Karena uang kami dikuras oleh pungutan
Pungutan ini dan pungutan itu
Dan semua itu kami alami
Apa gunanya kami disebut pahlawan devisa?
Kalau kami tak pernah bisa kaya

Deritaku


Puisi ini ditulis oleh pada
2 June 2006 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (6 votes, average: 2.50 out of 5)
Loading ... Loading ...

Hati ini bagai terparti
Jiwa ini bagai terluka
Berjuta kesengsaraan selalu datang
Silih berganti tuk temaniku

Ku meranta dalam tawa
Ku menangis dalam senyum
Sampai kapan aku begini
Dan mendapatkan kebahagiaan

Sampai? kapan aku bisa lepas dari derita
Ari mata menjadi teman setiaku
Kedukaan menjadi sahabat dalam mimpi

Dimana akan aku temukan kebahagiaan
Dimana akan aku dapatkan keindahan
Yang ku dapat hanya sesak, kepiluan
Jeritan dan penderitaan

author : pahlawan_oi@…….