Tag: nyaman

Kepada Mbah Maridjan


Puisi ini ditulis oleh pada
16 November 2010 dengan 2 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (9 votes, average: 4.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

Sosok tua yang lugu dan sederhana

tersenyum ramah kepada siapa saja,

kini telah tiada, berpulang dengan kesetiaan

yang teguh terpegang.

Dia tidak akan meninggalkan amanat yang diembannya

Dia tidak akan meninggalkan merapi

apa pun yang terjadi.

hidup baginya adalah kesetiaan

kepada panggilan jiwa.

pengabdianya bukan kepada penguasa

tetapi kepada hati nurani

yang ingin selalu berdampingan dengan alam

untuk menerima segala marah dan keramahan merapi.

Mbah …. setelah berpulang

engkau akan menjadi inspirasi jutaan orang

untuk setia pada langkah hati dan gerak tulus nurani

untuk menjaga alam dan laku teguh pada pendirian.

Mbah …. aku ingin sepertimu

ibarat seorang prajurit,

kematian yang utama baginya adalah di medan tugas

bukan di tempat tidur pembaringan yang nyaman.

Mbah … pulanglah dengan damai

istirahatlah dengan senyum mu yang sederhana dan tulus.

Mbah … semangatmu senantiasa kami bawa

untuk menjadi inspirasi dan penerang hati dan jiwa-jiwa

kami yang terkadang rakus dan angkuh.

Selamat jalan Mbah Maridjan  ….

(Katjha/Mengenang Mbah Maridjan/November 2010/Jogjakarta)

BIRU 5


Puisi ini ditulis oleh pada
2 May 2009 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (4 votes, average: 3.75 out of 5)
Loading ... Loading ...

BIRU 5

Untuk apa tundukkan kepala

Hatiku tergenggam

Untuk apa pejamkan mata

Jiwaku merindu

Bayanganku masih hitam

Dan debu di kakiku belum kubasuh

Memang belum saatnya

Atau memang aku tak tahu

Karena peluh di tengkuk belum kering benar ketika sekali lagi kukatakan

Keindahan tak selalu berarti kemudian

Bagimu hanya untuk saat ini

Atau memang aku yang berdusta

Kesombongan macam apa lagi yang kutunjukkan di depan kesunyian

Ketika kau tersentak oleh pilihanmu sendiri disana, di atas jalan yang udaranya tak nyaman lagi kau hirup

Dan kau tersenyum menyambut kehidupan ketika kau rangkai kata untuk rasakan jantung yang berdegup

Untuk pergi entah kemana tanpa perlu kau seka keringat di jemariku yang tertahan

Aku tak bertanya lagi

Aku takut dengan hati

Meski aku tahu, aku harus tak peduli

Karena begitulah adanya untukku

Maka seharusnya malam ini aku tak cuma diam menjejalkan batu kerikil ke kepalaku

Saudara-saudarakulah yang kadang membersihkannya

Seharusnya malam ini aku bersujud, memohon apa yang bisa kumohon dengan hatiku

Dan ketika aku harus bicara, lidahku tak juga bergerak, mulutku tak juga terbuka

Maka mungkin sebaiknya aku berjalan kembali

Tanpa tahu akhir cerita disini

Karena dengan keraguanku, aku tergetar

Karena dengan keyakinanku, akupun terdiam

Maka mungkin sebaiknya kubuka telingaku hingga hembusan angin terdengar kembali

Tanpa harus peduli hujan yang mengiring dan karena samudrapun masih sanggup menampungku

Bersama saudara-saudaraku, bersama senyuman

Dalam keindahan-keindahan yang lain lagi

Dan mungkin seharusnya aku tak selalu harus mengerti kalau aku memang berjalan kembali

Karena nyatanya aku berada entah dimana dalam sepi

Mungkin hanya itu alasanku sampai saat ini

Disini