Tag: merindu

kalau tadi ku kata cinta ..


Puisi ini ditulis oleh pada
28 January 2011 dengan 4 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (7 votes, average: 4.29 out of 5)
Loading ... Loading ...

KALAU TADI KU KATA CINTA..

Kalau tadi ku kata cinta ,semalam, benar aku rindu ..
Sehari ku hela tanpa manja suaramu ,seharian ku sunyi ,tanpa rengetan tawamu,..
Tak bisakah suara mu lari dari penjara sepi?
Tak bisakah rintihanku membawa kau pergi?
Kau mempersonakan..,,
dan sungguh, aku merinduimu..

Kalau tadi ku kata cinta , semalam,benar aku rindu ..
Berkicaunya pipit jika hadirnya bunga..,bernyayi lah aku hadirnya kamu..
Perlukah kau membisu jika aku suaramu?
Perlukah rindu sebegini pilu?
perlukah aku dakapan suaramu?
Haaah..mengeluh aku bersama jawaban,ukiran senyuman telah ku iringkan siulan..,,
Kini hanya potret menjadi peneman..,,dikala hati menantikan teman,ku poetkan kau 1 nukilan..
kerna di sudut hati ini terasa jauh..
Ku rasa cukup jauh… berhimpun bintang jauhmu..
Teguhlah memori ku terhadapmu nanti,
saat bergemanya melodi sangkakala ,saat aku berhenti merinduimu..
Kini ku rapuh,,dan sungguh,aku merinduimu..

Kalau tadi ku kata cinta , semalam benar aku rindu..
Kan aku bisikan pada bulan,terangilah malam mu .,,runtuhlah langit malam,agar menyembah sinar matamu..
Jawablah,apalah pelangi tanpa warna hatimu? mungkinkah nnt mata menipu?
Ungkaikan ,kata ku ,ungkaikan..
Kerna Ku rapuh..
Terpingga aku,terkaku aku..,terhenti..! tanpamu disini,tanpamu disisi,tanpamu dihati..
Kau membunuhku.,
dan sungguh,aku merinduimu..

Sayang ,kalau tadi ku kata cinta..
Ketahuilah , aku benar cinta..

Hasil Nukilan Zulfadzly bin Shahrum ; “Kalau tadi ku kata cinta”
Senja Pertama Ramadhan ‘ 2010.

Kasih Terkenang…


Puisi ini ditulis oleh pada
13 October 2010 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (11 votes, average: 4.09 out of 5)
Loading ... Loading ...

kusisir malam dalam kesunyian dikehampaan kelam

kurentangkan kedua tangan, mencoba rebah diperaduan nan sepi

dilangit kamarku,
samar kutangkap bayang seraut wajah yang dulu warnai hari-hariku bersama cinta dan kasih terindah

namun masa ceria itu kini telah pudar,
terusung bersama keranda cinta matiku

Kasih……
berjuta harap diderma kudus do’aku,
disana engkau telah tunai bahagia abadi…

malam ini aku teramat merindukanmu…
rindu yang sampai membuat jasadku sukar tuk berdiri tegar

kuingin jumpa dengan dirimu meski itu hanya sebatas dalam bunga tidurku…

hanya keindahanmu yang kutemui kini disebalik cinta kita yang luruh menjadi serpih puing-puing takdir tak dapat dihindari

saat inipun kutak tahu bahagiakah aku dengan mahligaiku…?!

nyatanya bagiku semua tampak suram dan beku,
menangis dalam lara nan pilu

sungguh kutak ingin tambatkan hati ini pada dermaga manapun…

karena disini guratan namamu setia menghiasi lembar hatiku…

biarlah….
biarlah kulalui hidup ini keseorangan,
menepi direlung takdir Illahi
dalam mimpipun aku sendiri…

bias cinta kasih ini masih terang menyala untukmu,
meskipun engkau telah jauh pergi….

by_lembayung kelam.

Kenangan Cinta Luka…


Puisi ini ditulis oleh pada
1 October 2010 dengan 2 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (5 votes, average: 4.20 out of 5)
Loading ... Loading ...

suatu masa dulu kau mencabar disanubariku,
memecahkan kesunyian dan kesepian

kau meremaja dan tiada lelah kau iringi tatihku dengan canda keceriaanmu

kegembiraanku pun tergambar jelas dari kamar jiwaku
namun kini semua berakhir dengan gurisan kelukaan yang teramat pedih

dihati kecilku pun payah menahan sebak membayangkan kemanisan saat kita bersama dulu

kala gelita mengecup ubun malam, mataku lelah namun tak jua mau terlelap hingga membawa anganku menikung pada lembar_lembar diary canda penuh ceria

tetapi ia hanyalah satu ilusi yang hanya pantas untuk dikenang

ku akan terus merawat segala sisa kenangan sebagai tanda kejujuran, kesetiaan dan ketabahan bagi tali kasih yang masih terhimbas dalam benak hatiku

jauh disini…
hatiku masih merindumu…

disisa waktuku kuucapkan
“selamat berbahagia bersama dia yang kini kau cinta….

satu pesanku padamu….
jika suatu hari kau melihat ombak dan buih putih setia melanda tiap butir pasir dihamparan pantai

itulah gambaran ombak rindu yang masih selalu berdebur disamudra hatiku

dan jika kau tengok gelombang laut pasang diibarat gelora cintaku padamu yang tak pernah kan padam

walaupun hatiku terluka, nestapa dalam rana diri namun ku kan mencoba tegar dalam langkah merintis sisa takdir bersama sisa_sisa semangat yang masih ada diantara hempasan duka meruntun dijiwa yang hampa

entah……
kemana hendak kucampak sisa cinta yang masih terselip dirongga sunsum jiwa ini….

Malam malam denganmu


Puisi ini ditulis oleh pada
23 June 2010 dengan 3 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (5 votes, average: 4.20 out of 5)
Loading ... Loading ...

Malam tadi kau ganggu aku lagi
Dengan hadir dalam mimpi
Bagaimana aku bisa melupakanmu
Kalau kau selalu ada dlm tidur

Mengingatmu saja membuat ku takut
Merindumu saja membuat ku kecut
Lama sudah berlalu masa tanpamu
Namun kini kau selalu hadir dalam tidur

Mengingatmu dengan senyum malu mu
Merindu mu dalam wajahmu yang tak terengkuh
Lama sudah ingin ku kubur dalam dan jauh
Namun kau selalu ada dalam tidur

“Tapi aku kan tak mengganggu tidurmu”
“Aku hanya memperindah sisi lain hidupmu”
“Aku tahu pasti kau tlah berusaha hidup tanpaku”

Dan sejak itu,malam-malam berikut kau pun tak hadir lagi
Kau pasti mencobaku lagi
“Biar kau berusaha hidup tanpa diri ku,sampai kau mati nanti”

Jkt,mei 2010
Biarkan saja aku merindu

[andrivb@.....]

Penjara Hati


Puisi ini ditulis oleh pada
16 June 2010 dengan 3 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (8 votes, average: 3.38 out of 5)
Loading ... Loading ...

aku..
entah dimana aku berada…
masih terpejam..
namun berdiri tegar..
sedikit terhuyung..

berjalan pada suatu ruang..
dengan mata terpejam..

terdengar suara gaduh..
disekelilingku..
mereka mencemooh.
mereka tak menerimaku..

perlahan aku membuka mataku..
dari pejamnya gelap..

penjara…
yang kulihat..

aku terkadang muak..
apa yang salah dengan diriku..??
aku bukan pembunuh..
aku bukan pencuri..

setidaknya mereka menjatuhi hukuman kepadaku..
sebagai orang Bajingan..
membunuh seseorang yang aku cintai..

aku Shock..

aku diberinya sebuah sel kecil..
hanya ada kasur.. dan jeruji besi..

perlahan aku rebahkan tubuhku..
di kasur berbau keringat..
entah siapa yang pernah tidur disini sebelum aku..

dengan sarat luka dan penuh tanya..

sekelibat..
aku melihat goresan tangan di tembok..
ada nama..
ada teriakan..
ada gambar laki2 dan perempuan yang sedang menikmati persetubuhan..

2 bulan lamanya..
aku membiasakan semua yang terjadi..

bila malam tiba..
itu yang kutakutkan..
aku mengenal seseorang..
bernama Hujan..
berparas keras…
tak mengenal kasih..

jika sudah 12 malam..
sipir hanya membuka pintu selku..
dan dia datang memukuliku..
hingga aku tak bisa merengek lagi..

dia hanya bilang..
sebagai penyambutan yang meriah untukku..

entah sampai kapan aku diperlakukan seperti itu..

aku terasing di penjara ini..
aku makan jika diijinkan
aku tidur jika diijinkan
aku buang tai jika diijinkan..
aku kencing jika diijinkan

saat istirahat..
aku mencoba berjalan di lapangan…
yang penuh dengan Bajingan…

aku melihat seseorang..
berkacamata..
dia melihatku..
entah apa yang ia pikrkan..

aku mencoba mendekatinya..
dan memulai pembicaraan untuk pertama kalinya…

“hai..”
dia hanya terdiam,.
sibuk dengan rokok yang menyelip diantara bibirnya..

dan aku terdiam..
duduk disampingnya,.

“kau Cakrawala kan?? yang membunuh orang yang km cintai.. ”
dan aku menatap wajahnya dan menjawab..
“iya aku cakrawala, tapi aku bukan pembunuh..”
“hahaha,,” dia tertawa…
“asal kau tahu, penjara disini tak ada yang bersalah satupun”
aku hanya terdiam dia berkata seperti itu..
“namaku Bintang, tertuduh pula sepertimu.., nikmatilah anak muda”

terlihat senyumnya yang sinis..
dan asap yang menyembul..
saat aku meninggalkannya sendiri..

3 bulan berlalu..
tak ada yang berubah..
aku masih perih,,
apalagi saat malam tiba..
ketakutan lgs merebak..
lebam dan bilur masih membekas di dadaku..

aku mulai mencari jalan agar Hujan tak datang lagi padaku..

aku mulai menyelipkan garpu makan di celanaku..
tau2 dia datang malam ini..
kugorok dia dengan garpu ini..

tapi kupikir panjang..
jika aku lakukan..
sipir akan memperpanjang masa ku di penjara..
karena pembunuhan di penjara..
atau bahkan aku dibunuh,..

benar2 otakku,.. diluar akal sehat..
aku sudah tak peduli..
10 tahun 40 tahun atau mati disini..
sudah sama saja,.

dan malam itu aku rebahkan tubuhku..
dan masih mengnggengam garpu..

dan dia datang..
dan kulakukan..
ku gorok lehernya..
darah keluar dengan derasnya,,
aku baru pertama kalinya melihat darah yang seperti itu..

dan resiko yang kutakutkan terjadi..
para sipir masuk..
dan memukuliku..
hingga aku tak sadarkan diri..
2 minggu lamanya..

aku sadarkan diri..
di kasur rumah sakit di penjara itu..
buramnya mataku..
aku melihat ada seseorang disampingku..
kunyatakan diriku..
dia Bintang..

“Hei.. selamat datang kawan.. yg kudengar kau akan dijatuhi hukuman 30 tahun di penjara ini..”
dan dia tertawa…
aku hanya membalikan tubuhku dan sedih,,

esoknya aku kembali ke selku..
aku mendapati 1 slop rokok..
dan diberinya surat..
yg mengatakan..
“sebagai rasa terima kasih kami… salam Bintang”

dan aku mencoba menghisap pertama kalinya rokok..
hum.. melayang..

dan aku mengenal yang bernama Angin..
seseorang tua yang telah 60 tahun di penjara ini..
dia diperkerjakan sebagai koki di penjara ini..

saat istirahat.. di tanah lapang.. yang terkurung..
dia mengatakan padaku..
“entah aku tak tahu.. nantinya jika aku bebas… aku sungguh takut.. semua tak menerimaku..
dan aku lebih berguna di penjara ini.. aku lebih baik berada di penjara ini.. seumur hidupku”

dan Bintang menyahut
“awalnya kau tak akan terima.. namun perlahan kau terbiasa.. dan tak ingin lagi keluar dari penjara ini
inilah mengapa aku menyebut penjara ini.. “Rumah”..”

entahlah,, aku belum bisa menerima pernyataan itu.

2 tahun berlalu..
Angin telah habis masanya di penjara ini..
dia bebas..

3 minggu kemudian..
aku mendapati suratnya yg dikirimkan kepadaku…
dia mengatakan

“hai.. anak laki-laki.. ketika aku menginjakan kaki kembali di kenyataan..
aku melihat manusia semakin banyak..
dibandingkan waktu pertama aku masuk ke penjara itu.. hari2 ku penuh dengan ketakutan yang
sangat menyeramkan.. aku tak dapat tidur malam.. terkadang aku berfikir, apa aku harus membunuh
seseorang.. agar aku masuk ke penjara itu.. tapi umurku terlalu tua dan kurasa cukup untuk melakukan
keonaran.. aku lebih memilih membeli tali tampar 2 meter.. dan membebatkan di leherku.. senang bisa
berkenalan denganmu.. Aku Angin kawanmu..”

dan aku terdiam.. dan menyerahkan surat itu ke Bintang.. agar dia membacanya pula…

“Hei Cakrawala.. setelah kau akan bebas kau ingin kemana??”

“Pantai Heaven.. kata orang.. laut itu tak memiliki kenangan.. aku hanya ingin kesana.. membuat
restoran di pinggir pantai.. berkawan nelayan.. saat menangkap ribuan ikan.. ada senyumnya yang
bersyukur puas… bagaimana denganmu Bintang?? aku membutuhkan orang sepertimu.. mungkin
kau mau bekerja denganku”

“tak ada.. mungkin aku akan berakhir seperti Angin..”

“kau tak memiliki harapan..?? apalah artinya hidup tanpa mimpi.. kenyataan memang pahit.. dan kau
harus menyatakannya dengan semangat dan terus berjuang..”

“apa yang bisa diperjuangkan Cakrawala?? .. lihatlah tembok tebal itu… dan ketakutan di balik tembok
itu..”

“suatu saat.. pergilah ke Baven Hill..
ada pohon beringin..
disitu tempat pertama kalinya aku menyatakan cinta pada Malaikat
temukan pohon yang berukir hati.. dan di bawahnya.. aku memendam sesuatu… itu untukmu..”

sekelibat tanya dalam pikiran Bintang
dan aku mencurangi kenyataan..

4 tahun lamanya aku mempersiapkan..
lari dari penjara ini..
malam itu..

lewat gorong2 pembuangan tai…
aku merangkak keluar dari penjara ini..
kau tak kan tahu..
bagaimana baunya..
bagaimana jijiknya..

300 meter panjangnya..
hingga aku keluar..
dan menceburkan diri… di sungai..

dan aku berteriak..
sekeras mungkin..
spuas2ku berteriak..
aku bebas…

dan memulai perjalanan panjang ke Pantai Heaven…
dan aku memulai hidupku yang baru disana..
berkawan nelayan
berteman laut
bersahabat dengan senja…

5 tahun berlalu..
aku telah memiki sebuah restoran..

dan aku berada di kursi yang aku suka..
di pinggir pantai Heaven…

perlahan aku mendengar..
jejak menjejak di pasir putih..

dan dia menyapaku…

“Cakrawala… ”
dan aku tersenyum dia Bintang kawanku…
dan aku memeluknya..
aku merindunya…

rindu


Puisi ini ditulis oleh pada
9 December 2009 dengan 0 Komentar
Rating Puisi : 1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (belum ada)
Loading ... Loading ...

ku merindumu
rindu kan tawamu
rindu kan candamu
rindu kan caramu menatapku

tapi malu tuk akui
sungguh tak mengerti
apa maksud hati
entah kenapa sampai begini.

Katanya Kau Kawan Setia


Puisi ini ditulis oleh pada
16 June 2009 dengan 1 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (8 votes, average: 4.38 out of 5)
Loading ... Loading ...

dari dunia

kuturunkan wajahku ke buku, dan kau sirna

ah, kau hebat

kehebatanmu adalah keletihanku

aku ingat raibmu tersimpan pada loncatan kucing

kelincahanmu menyelinap pergi menumbuki kepalaku

tapi dalam sepi dunia pun merindu tubrukmu

menempa kakiku jalan ke arah kota

terbelit lalulintas kabel listrik mataku

jika kau tak kunjung menyergapku

aku akan berselancar di tubuh angin saja

kupindahkan angkasa ke mataku yang silau

kusibak cahaya surya, kuraba udara, tiada kau rupanya

meluncuri dinding gedung kantor, aku turun, melamun

kau sembunyi di titik entah, ke sana langkahku sunyi

kuseret gontai langkahku, kuberi kakiku pulang

nanti di rumah akan kubilas semua kepedulian ini

akan kujemur di tali daun-daun saja, itu sikapku

tidur dalam rentang waktu pendek yang penuh sandung

aku dibangunkan oleh sengat pening di kening

aku bangkit dari kekaraman, kupakai bajuku yang lain

dan kejengkelanku pun mengecat kaca komputer

mencarimu selalu saja kudapati mataku sendiri

yang buta.

Surat Cinta


Puisi ini ditulis oleh pada
13 June 2009 dengan 6 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (19 votes, average: 4.21 out of 5)
Loading ... Loading ...

To My Queenhearth, Hawa

Berawal dari tatapan yang sangat membiusku hingga turun ke gelak tawamu dan merekahnya senyum manismu. Aku terpesona dengan Sang Hawa satu ini. Layaknya ombak menghempaskan isi hatiku untuk menyatakan rasa di dalam relung hatiku. Tinta demi kata yang aku tuliskan, tentang rasa hatiku kepadamu, Hawa.

Terhenyak aku merasa satu panah tertuju dan menancap hingga setiap cairan darahku mengalir, tumbuh disana bunga yang bermekaran indah penuh warna-warni dan semerbak wanginya.

Kulihat Sang Dewi Cinta tertawa terbahak-bahak saat itu. Apa yang terjadi?? ternyata aku jatuh cinta dengan Hawa dan aku benar-benar tak dapat menghembuskan nafasku lagi jika tanpanya, terasa sesak, sesesak sekarat. Sebab kau adalah Hawa yang tercipta hanya untukku, Sang Adam.

Terdengar gonggongan angin memenuhi telingaku, bahkan semua yang ada dunia meneriakiku. I know what the hell is that! Memang kesempatan bercinta sejati hanya satu kali.

tentang hal itu aku dapat mempertimbangkannya…

Berpikir ku menulis, cintaku padamu. Mengapa setiap aku terjaga, di pelukan mentari indah, sangat indah, tapi aku tak menyangka ternyata itu hanya ciptaan otakku yang penuh bayanganmu.

Debaran-deguban jantungku seakan berirama, mengandung arti dan makna, hingga mungkin bibirku menjadi bantalan bagi kesenjangan ungkapan kata-kata indah untukmu.

Kau benar-benar Hawa, yang dicintai hatiku, hingga ragaku melunglai oleh getaran jiwa yang aku rasakan, kuakui aku takut dan  tak berarti jika tanpa senyum dan gelak tawamu.

aku hanya ingin kamu mengerti, setiap hembusan kalimat yang terucap, berawal dari teriakan hatiku, hingga menuntun jemariku untuk menulis kata-kata yang mungkin berarti buatmu, Aku ingin kamu tau, apa yang ingin disampaikan hati seorang manusia pertama yang diciptakan olehNya, pemilik roh dan jiwa ini.

Sesaat aku tersadar dari buaian.

Ahk… ( aku jatuh dari tempatku menulis dan menatap langit-langit kamarku ) apa yang terjadi padaku?? apa tulisan ini… Ahkkk…. ( sesaat aku terbangun dari otakku yang keras ini dan kulanjutkan…)

Suara detik berputar menyusuri masa. Aroma lilin terbakar menenangkan pikiranku, sebagaimana kejutan bulan dari balik awan, hingga kuterpesona menatapnya. Masih suara Adzan berkumandang, melantunkan pujian terhadapNya, pemilik roh dan jiwaku. Bersamaan datangnya rentetan burung samudera, seakan menyapaku, mencengkram langit senja.

Tersadar bahwa aku adalah Adam, berteman kertas dan pena, layaknya pohon merindukan bisikan angin. Terlihat memang terik panas matahari membakar kulitnya.

Tidak aku kira dan aku sangka hati kerasku, hanya karena senyuman dan hangatnya tawamu dapat mencair dan aku jatuh ke dalam alurmu.

Ku pegang gambar tubuhmu, layaknya seorang Bohemian yang menemukan kebebasan abadinya. Dan aku juga membayangkan bilamana di suatu masa dengan dirimu, damai, penuh dengan kasih putih dan kuajak kau mengelilingi bumi ini, atau perlu sejagad raya ini, agar semuanya tahu, bahwa kau tercipta hanya untukku.

Setiap kata, kalimat bahkan setiap lembaran yang kutulis ini adalah tentang suara hatiku yang sudah tak tahan lagi untuk menahan rasa cinta kepadamu.

Rasanya memang hatiku dan aku mencintaimu Hawa.

Sajak Ini Kutulis Tergesa-gesa


Puisi ini ditulis oleh pada
30 May 2009 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (6 votes, average: 4.67 out of 5)
Loading ... Loading ...

Sajak ini kutulis tergesa-gesa
Karena sebentar lagi
Aku tinggalkan dirimu
Dan apa yang dapat kukenang
Selain selembar catatan
: kau tak mengecup keningku.

Sajak ini kutulis tergesa-gesa
Karena semua bentuk
Tak membuat tatap mata
Bertahan seperempat menit padanya
: pun hitam rambutmu.

Sajak ini kutulis tergesa-gesa
Karena huruf-huruf mendesak tumpah
Dari batok kepala penat
Sebentuk janji pada perempuan
: aku akan selalu merindukanmu.

BIRU 5


Puisi ini ditulis oleh pada
2 May 2009 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (4 votes, average: 3.75 out of 5)
Loading ... Loading ...

BIRU 5

Untuk apa tundukkan kepala

Hatiku tergenggam

Untuk apa pejamkan mata

Jiwaku merindu

Bayanganku masih hitam

Dan debu di kakiku belum kubasuh

Memang belum saatnya

Atau memang aku tak tahu

Karena peluh di tengkuk belum kering benar ketika sekali lagi kukatakan

Keindahan tak selalu berarti kemudian

Bagimu hanya untuk saat ini

Atau memang aku yang berdusta

Kesombongan macam apa lagi yang kutunjukkan di depan kesunyian

Ketika kau tersentak oleh pilihanmu sendiri disana, di atas jalan yang udaranya tak nyaman lagi kau hirup

Dan kau tersenyum menyambut kehidupan ketika kau rangkai kata untuk rasakan jantung yang berdegup

Untuk pergi entah kemana tanpa perlu kau seka keringat di jemariku yang tertahan

Aku tak bertanya lagi

Aku takut dengan hati

Meski aku tahu, aku harus tak peduli

Karena begitulah adanya untukku

Maka seharusnya malam ini aku tak cuma diam menjejalkan batu kerikil ke kepalaku

Saudara-saudarakulah yang kadang membersihkannya

Seharusnya malam ini aku bersujud, memohon apa yang bisa kumohon dengan hatiku

Dan ketika aku harus bicara, lidahku tak juga bergerak, mulutku tak juga terbuka

Maka mungkin sebaiknya aku berjalan kembali

Tanpa tahu akhir cerita disini

Karena dengan keraguanku, aku tergetar

Karena dengan keyakinanku, akupun terdiam

Maka mungkin sebaiknya kubuka telingaku hingga hembusan angin terdengar kembali

Tanpa harus peduli hujan yang mengiring dan karena samudrapun masih sanggup menampungku

Bersama saudara-saudaraku, bersama senyuman

Dalam keindahan-keindahan yang lain lagi

Dan mungkin seharusnya aku tak selalu harus mengerti kalau aku memang berjalan kembali

Karena nyatanya aku berada entah dimana dalam sepi

Mungkin hanya itu alasanku sampai saat ini

Disini