Tag: menyentuh

Membaca Sebuah Pagi


Puisi ini ditulis oleh pada
8 October 2010 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (2 votes, average: 5.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

Desah nafas angin tertambat

menyentuh pucuk-pucuk rumput berembun

tumpah terderai, lirih

tanpa suara singgah ke telinga orang-orang.

Udara dingin

langit biru mengambang awan putih tertunda

derak-derak kabut tipis seterngahnya tertumpah

ke bawah,

setengah terbawa angin ke atas mega-mega.

Sepi, belum beranjak

jauh tingkah lengking burung-burung pagi

menghamba cahaya-cahaya hangat

masih belum ada.

Sungguh pagi ini masih tertambat pada sepi,

menunggu terbuka hangat mentari dan

tepuk riang burung-burung pagi.

Dia belum ada pagi ini,

masih terlelap dalam gamang mimpi malam

dan percik-percik birahi tengah malam

yang cabul dan penuh kepalsuan.

Dia tak ada, mati

terderak dalam bisu kebinasaan

manusianya terampas setan ….

Benar kata Ibuku “dia tak berhak membaca pagi”

(Katjha/Juli/2010/Bandar Lampung)

Busuk


Puisi ini ditulis oleh pada
18 July 2008 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (3 votes, average: 4.33 out of 5)
Loading ... Loading ...

Aku seperti busuk yang membatu.
Meggerutu di celah tembok-tembok beton.
Tergantung………….
Melambai pelan.
Mengikat erat sisa-sisa nafas, di cerobong cerobong asaP.
Mati kini jadi tujuanku
Karena mandi hanya menyegarkan sementara.
Tak bisa angkat seluruh luka.
Aku ingin merasakan penat.
Padahal tiap hari aku makan penat.
Aku ingin mengoleksi dosa.
Sedangkan teman memberiku dosa pagi ini.
Hujan enggan turun kepadaku.
Mereka tak mau menyentuh wajahku.
Mereka hanya ingin menyentuh wajah para pemburu akhirat.
Tidak kepadaku………….
Tidak untukku………..
Tidak sama sekali.
Aku seperti busuk yang membatu.
Mencerca kaum di sekitarku.
Menghina mereka di lembar-lembar pintu.
Menjadi debu di meja-meja tamu.
Menjadi abu di daun-daun
Malu.
Aku seperti busuk yang membatu.

 

KKiriman dari: Koedankhatha (ndranezia@..)