Tag: mentari

Puisi Siang


Puisi ini ditulis oleh pada
30 April 2011 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (7 votes, average: 4.57 out of 5)
Loading ... Loading ...

Bersama terik mentari ku terduduk sepi
Coba merabah setiap makna yang ingin kurubah dalam aksara
Semua sia-sia
Karena aku terjebak dalam kalutnya rasa
Karena aku terpenjara dalam panasnya jiwa

Aku terbakar dalam dinginnya api kerinduan
Aku terpenjara dalam bebasnya rasa

karena aku tak pernah bisa coba pahami semuanya

From: MaHaYaNa_CinTa [may_yudhy@xxx]

Penantian Semu


Puisi ini ditulis oleh pada
20 April 2011 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (2 votes, average: 5.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

Tak usah lagi
kau Bawa mentari itu
yang membakar semangatku,

Biarkan saja aku
Dalam Sepi malam malamku
Tanpa Rembulanmu yang menemani

Oh Gusti,
Hilangkanlah Raut wajah itu
Manja canda tawa itu,

Aku tak perlu Semua itu
Tak Perlu Biduk Indah itu
Biarkan Dermaga ini tetap kosong

Sebagai tempat untuk yang terpilih
Tak perlu biduk yang besar,
Tak perlu Biduk yang semu
Ialah hanya sekedar merapat namun tak bersauh

Cukuplah Biduk yang kecil
sederhana namun setia
Yang rela melabuhkan sauhnya,
Hanya untuk dermaga ini…

Pemulung Kata


Puisi ini ditulis oleh pada
5 April 2011 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (11 votes, average: 3.82 out of 5)
Loading ... Loading ...

Melepas kata-kata hingga membumbung tinggi ke udara
cair…dibakar mentari hingga menjadi serpihan-serpihan nada
menetes hingga sirami jiwa
kemudian bangkitkan rasa tuk larut dalam kata penuh makna

Begitu pandai engkau pemoles kata
Dengan sedikit jiwa…terlepas beribu makna
Sedangkan ku…si pemulung kata
Dengan banyak pemikiran…hanya menggoda beberapa jiwa

Ku iri dengan megahnya jiwamu
Jubah mu di sulam dengan benang-benang kata nan indah
Sayap dari bulu-bulu kata penuh makna
sehingga menggoda banyak jiwa

Tapi aku???
pakaianku terbuat dari sobekkan kata
Bukan sayap..tapi tongkat yang ku punya dari rentannya rasa
Sehingga kepedihan yang dapat terlihat

karena aku hanya…pemulung kata

From: MaHaYaNa_CinTa [may_yudhy@xxx]

Pemulung Cinta


Puisi ini ditulis oleh pada
5 April 2011 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (7 votes, average: 3.86 out of 5)
Loading ... Loading ...

Akulah si pemulung cinta

Ku terbangun bersama mentari
Menyusuri setiap jalan setapak demi setapak bertelanjang kaki
Mencoba Mencari arti dari cinta yang suci
Dari tempat-tempat sampah yang sudah tersembunyi
Tidak untuk kujual, tapi tuk ku simpan sebagai penghias di istana hatiku
Dalam gubuk reot jiwaku

From: MaHaYaNa_CinTa [may_yudhy@xxx]

air mata mata air


Puisi ini ditulis oleh pada
28 March 2011 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (3 votes, average: 4.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

pernahkah kita brefikir??
apakah semuanya akan berakhir
pernahkah kita mengingat??
terik mentari mulai menyengat

mata air berair mata
menangisi semua manusia
air mata matair membanjiri,
menghanyutkan nyawa yang mulai mati.

andaikan mata air memiliki mata
andaikan air mata menetes dari mata mataair
kuyakin smua akan tetap terfikir
berakhir dengan hati yang terus khawatir.

erwin karizky [ka.rizky01@xxx]

The Tick


Puisi ini ditulis oleh pada
28 March 2011 dengan 0 Komentar
Rating Puisi : 1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (belum ada)
Loading ... Loading ...

Tik..    tik..      tik..      tik….

Gemerintik detik yang memantik

bak jentik yang menampik jala sang pemantik

di parit si cantik yang sedari tadi membatik tuk butik

dibalik bilik dimana aku masih mengetik

tiap titik yang tertarik dari balik detik-detik yang tak henti-hentinya berdetik

Tik..    tik..      tik..      tik….

Titik-titik detik terus meletik

bak hujan yang menitik diatas rambutmu yang rintik

tertawa gelitik saat melirik adik bermain asyik bersama itik

dipinggir kali waktu ku tulis doa diatas kertas secarik

kepada sang Khalik agar detik-detik ini tidak lagi dipenuhi intrik dan tak kan henti berdetik

Tik..    tik..      tik..      tik….

Air mata ini terus menitik dari mataku yang terus mendelik

dibawah mentari terik menelisik polemik yang sedemikian pelik

sampai otak ingin memekik serta raga siap mencabik

hingga terobrak-abrik asa yang ku racik

dari detik-detik yang mendetik ditiap titik kulit yang terus bergidik

Hari Ketiga


Puisi ini ditulis oleh pada
2 March 2011 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (1 votes, average: 5.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

Benar orang menebar rindu sesaat,

kemudian tersesat

mengapungkan jejak-jejak

daun ranting cemara hanyut.

 

Dia muncul pada hari yang ketiga

dari balik hutan cemara tepi kebun teh

saat jalanan sepi

saat mentari bersinar redup

kabut tipis-tipis.

dalam tampakan berselubung sutra ungu

sempurna untuk inkarnasinya yang kedua puluh.

satu kali lagi, dia akan mati.

 

(Banjar/Januari/2011/Katjha)

Bertukar Bayang


Puisi ini ditulis oleh pada
2 March 2011 dengan 0 Komentar
Rating Puisi : 1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (belum ada)
Loading ... Loading ...

Mari, berdiri tegak

saling berhadap, saling tatap

dan mematutkan senyum

untuk kita dapat mengenali

perjumpaan ini untuk apa.

 

Aku tahu, rindumu adalah kilatan cahaya

sedang diriku adalah gelegar petir yang menyalak.

 

Berdiri tegak, saling berhadap

dari satu sudut, cahaya mentari mematut

kami, menutup rona-rona warna

menjadi kelabu-kelabu hitam,

kemudian dijatuhkan di atas tanah.

 

Bayangmu ada membekas dalam hatiku,

bayangku tersangkut pelita rindumu, tergambar

dalam rongga-rongga hatimu.

Kita telah bertukar bayang;

jejak perasaan dan beribu getar

yang selalu menghidupkannya

sehingga bisa kita kenal

diriku untuk dirimu

dirimu untuk diriku.

 

Sudah tanggal waktu, mengenali kita

semua terasai, kadang menggugah emosi

dan sesekali mendorong untuk

saling berpikir dan memikirkan;

aku padamu dan engkau padaku.

 

(Jogjakarta/Januari/2010/Katjha)

Tanya Yang Tak Terjawab…


Puisi ini ditulis oleh pada
23 October 2010 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (12 votes, average: 3.92 out of 5)
Loading ... Loading ...

cemara cintaku kini tandus membuang diri…
senandung parkit biru mengiris dalam hati yang tak henti berurai air mata…

akankah tunas itu kembali tumbuh
sementara tanah kupijak kini kekeringan tiada lagi rintik gerimis menyirami…

diriku lelah berpeluk dengan waktu yang kian sempit…

ingin kupastikan kapan kemarau hati ini berakhir ketepian musim semi menyejukkan…?

sedangkan ranggas kian dimamah mentari
gaung ditelungkup hatiku pun ikut meradang
tika purnama menyirat gerhana…

ringkih jasadku bersandar pada tonggak keropos harapan…

pias hati tercabik rindu yang membelenggu diatas tandus bumi tuaku…

tetap bertahan disini…
dihati yang kering…
ataukah kuharus membawa langkah…

adakah bening disebalik cahaya yang terpantul lelah dikejauhan itu…?

dan akankah tunas kembali berputik lalu membiak bunga dilaman ketandusan ini….

sungguh aku masih belum mengerti……

Kepalsuan Cinta…


Puisi ini ditulis oleh pada
13 October 2010 dengan 1 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (5 votes, average: 4.40 out of 5)
Loading ... Loading ...

sewaktu engkau bertanya, kutatapi segugus dedaun kelapa gading melambai tertiup angin…

“indah hamparan pasir putih mencatat setiap serpih kisah kita…

disana tak kutemui sedikitpun cela,
semua terlihat sempurna….

aku tertegun menatapmu yang membuat aksara manja…

seketika gaung kerinduan itu terpancar dari binar mataku….

namun nyatanya….
dalam sewindu gurat rona berbiak menjadi pucat….

ribuan sesak menohok hati, memaksaku mengulur nafas berat…

ada makna apa dengan zahir yang kau lafadz
sewaktu kita duduk berdekatan, memandang mentari meredup dipapas senja…

zahirmu itu tersiar disetiap buih-buih putih yang menepi…

lalu menguap sampai keselempang lembayung senja
juga kesemak-semak belukar liar…

gaung rinduku kini membeku
dijamah kebungkamanmu…

kau sematkan mahkota kepalsuan cinta dipendopo hatiku…
yang membuatku meringkuk dalam sangkar nestapa tak berujung….

_by Lembayung Kelam_