Tag: mentari pagi

Batas Angan


Puisi ini ditulis oleh pada
3 October 2011 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (6 votes, average: 2.67 out of 5)
Loading ... Loading ...

Kau mentari pagi
Memberi harap dan kasih
Kasih ini murni
Bersemi indah di hati

Sadarkah dirimu
Kasih ini untukmu
Walau ku tak milikimu

Walau rasa tak terbalas
Namun kasih tak memilih

Aku adalah kekasihmu
Dalam khayalan indahku
Aku adalah pangeranmu
Dalam istana anganku

Ku inginkanmu
Ku cintaimu
Melebihi batas anganku

Belai embun pagi
Beriku dingin dan sepi
Bagai hati ini
Membeku di dalam sunyi

Sadarkah dirimu
Sakit ini darimu
Karena dia telah milikimu

Walau perih tak terperi
Namun cinta tak mendendam

Aku adalah nahkodamu
Dalam samudera mimpiku
Aku adalah mentarimu
Dalam dunia fantasiku

Ku mendambamu
Ku memujamu
Melampaui batas anganku

Cinta berakarkan hati
Menjalar tiada henti
Hingga temukan cinta sejati
Berbunga hingga akhirnya mati

By: Maggothz MoronChay

songkok haji dan baju koko


Puisi ini ditulis oleh pada
11 July 2010 dengan 2 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (5 votes, average: 4.20 out of 5)
Loading ... Loading ...

Tergesa berlari mendahului mentari pagi
Bangun lebih pagi
Mandi lebih cepat
Berjalan seperti berlari
Tak cukup waktu memilih angkot yang lebih lapang
Tak cukup waktu memandang langit pagi
Tak cukup waktu menikmati lalu lalang kendaraan
Tak cukup waktu menghirup udara pagi dalam dalam
Tak cukup waktu melihat wajah wajah yang juga tergesa

Sampai juga,,,,
Sedikit tanya sedikit jalan sedikit becek
Sudah panas sudah pengap walaupun masih pagi
Kios itu berada di tengah tengah
Diapit kios buah dan toko kelontong
Lalu tanya lalu pilih lalu tawar
Pura pura tidak tertarik pura pura hendak beranjak

Lega,,,,
Kantung plastik putih berisi songkok haji dan baju koko untuk suami sudah didapat
Tidak sempat menuju kios sayuran maupun ikan karena sudah pukul setengah delapan
Saatnya kembali bekerja
Hingga waktu beranjak ke pukul tujuh malam
Lalu kembali pulang ke rumah membawa kantung plastik putih berisi songkok haji dan baju koko untuk suami

08:06 14/05/2010

Septy [misyaty@....]

Tentang Sebuah Keindahan


Puisi ini ditulis oleh pada
22 January 2010 dengan 5 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (33 votes, average: 4.39 out of 5)
Loading ... Loading ...

menari dan tertawa dalam hamparan rumput yang hijau..

memejamkan mata..

biarkan raga ini bergerak sesuka hatinya..

angin senja yang menata legak legok tarian keindahan..

burung senja pula yang menyanyikan lagu tentang keindahan..

damai..

sungguh damai..

ketika aku menari bersama senja..

perlahan aku lelah dgn tarian keindahan..

aku rebahkan tubuhku..

tenggelam dalam kasur rumput yang hijau..

dan sejenak aku mengatur nafasku..

deguban jantungku yg seirama nyanyian keindahan..

aku merasa damai..

sedamai mentari pagi..

saat itulah aku ingin sebuah masa..

saat itulah aku ingin sebuah waktu..

tak ingin sendiri menari dalam sebuah keindahan..

tak ingin sendiri merasakan sebuah keindahan..

aku ingin seseorang tahu keindahan ini..

aku ingin seseorang pula menari bersamaku dalam keindahan..

namun kuyakinkan diriku..

keindahan hadir kala hati risau..

namun kunyatakan diriku..

menari sendiri dalam keindahan itu hanya secuil kebahagiaan..

kembali aku membuka mata..

aku melihat awan serupa malaikat..

aku hanya bisa tersenyum kala melihat itu..

aku hanya bisa menangis bahagia kala merasakan damai ini..

aku hanya bisa tertawa saat aku sadar akan kesendirian ini..

terhenyak aku melihat pasangan kupu-kupu pelangi melintasiku..

membawa lebih sekedar pertanyaan dalam benakku..

membuatku iri melihat mereka..

mengindahkan pula perasaan ini..

masih dalam rebahan tubuhku dalam hamparan rumput yang hijau..

dan aku semakin aku ingin lelap tertidur dalam keindahan ini…

perlahan aku merasakan tangan yang memelukku..

hangat dan membuat jantungku berdegub kencang..

tak sedikitpun aku membuka mata ini..

dia yang memelukku..

dia yang terbaring disisiku..

memanggil namaku..

“Cakrawala…”

samar tapi pasti aku tahu suara itu..

samar tapi pasti aku tahu harum itu..

samar tapi pasti segera aku membuka mata ini dan menatap mata indahnya..

“kau yang kusebut Keindahan… hadir dalam lelapku.. tiadakah kesalahan..”

“kau yang kusebut Cakrawala.. tak ada kesalahan aku ingin membuatmu tersenyum..”

dan kusadari….

I’m not alone..
dan aku tersenyum indah..

bangku bamboo panjang..


Puisi ini ditulis oleh pada
26 October 2008 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (4 votes, average: 3.50 out of 5)
Loading ... Loading ...

bangku bamboo panjang..

topang kakek dan si putri

kadang bamboo ditinggal

berdua mereka berjalan keatas..

menyongsong hangat mentari pagi..

Bamboo panjang…

Saksi 2 generasi…

Mungkin 3….

Hari ini…

Bamboo panjang saksikan..

Terpal warna terbentang diatasnya..

Beban tercinta telah pergi tuk selamanya..

Generasi tua saatnya pulang..

Setan hernia menggrogotinya tak bersisa…

sesaat…

bamboo panjang menahan pedih…

takan ada beban tercinta lagi..

menumpu diatasnya dikala pagi…

kata.kata.kata 2006

Surat dari Hatiku


Puisi ini ditulis oleh pada
10 September 2008 dengan 1 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (8 votes, average: 4.13 out of 5)
Loading ... Loading ...

Cantiknya malam

memanggilku penuh rindu ;

duduk diam, terpaut senyum kecil

Malam adalah sahabatku

angin malam, tolong antarkan

suratan hatiku

pada kekasihku di ujung sana

Termangu aku membayang

Tersipu aku mengungkap

Bunga mawar pink di hatiku

kini tumbuh dan tumbuh

menjadi pagoda alam cinta

di duniaku

Hangatnya mentari pagi,

merasuk tubuhmu ;

saat aku menyentuh tubuhmu

Cantiknya fajar sore,

menghias senyum manismu ;

rindu aku akan ciumanmu

Gagahnya sang rembulan,

menjadi bagian dirimu ;

maka aku tentram di pelukmu

Bintang mana tak bersinar,

karena cintamu

dan bintang itu tak akan pernah redup,

karena setitik kasih sayangmu

Aku memohon pada Sang Waktu

‘tuk menjadi saksi

dari keabadian cinta kita …

Puisi Hati Biru


Puisi ini ditulis oleh pada
21 July 2008 dengan 2 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (6 votes, average: 4.17 out of 5)
Loading ... Loading ...

dari mekarnya kelopak mawar merah
kutemukan arti dari sebuah gairah
dari tetesan embun didaun hijau
kudapati kesejukan rasa rindu
pada hangatnya mentari pagi
kurasakan kedamaian bersatunya hati
dari pergantian panas kepada hujan
kusadari indahnya suatu perbedaan

keinginanku untuk menjumpainya
sama dengan keinginan anak burung, tuk mengepakkan sayapnya
keinginanku tuk memandangnya
sama dengan keinginan kelelawar, tuk segera bertemu malamnya
keinginanku tuk memeluknya
sama dengan keinginan induk ayam tuk menjaga anaknya
keinginanku tuk mendapatkan kasih sayangnya
sama dengan keinginan tanah kering tuk mendapatkan hujannya

kesedihanku saat ditinggalkan
sama dengan kesedihan peladang yang kehilangan awan
kecemburuanku saat diduakan
sama dengan kecemburuan bintang saat tertutup awan
kegelisahanku saat merindukan
sama dengan kegelisahan bayi yang ingin mendapatkan susuan

kesetiaanku tuk menantinya
sama dengan kesetiaan cicak mengintai nyamuk
keyakinanku tuk mendapatkannya
sama dengan keyakinan air menuju samudra
kejujuranku tuk menyatakan rasa
sama dengan kejujuran titik air kepada pelangi
dan….
semua yang berkecamuk didiri ini kupasrahkan
pada kekuasaan dan keridha’an Illahi Rabbi
semoga Alloh mengabulkan do’a dan keinginanku ini

Serpong, 22 maret 2001
02.15 wib

Puisi Kiriman dari Sight_Cla10

SENANDUNG LADANG JAGUNG


Puisi ini ditulis oleh pada
28 November 2007 dengan 1 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (7 votes, average: 2.86 out of 5)
Loading ... Loading ...

(ketika sia-sia aku mengusir wajahmu
dari bilikku yang pengap)

Dalam desah angin lembah yang kering,
masih kudengar nyanyian resah daun jagung
dan tanya-tanya lahir bagai asap ;
mengembang, mengembara lalu musnah tanpa jawab
selurus arus kali yang tak sudah
bagai tik-tok detak jam dinding,
yang pada malam-malam gaib :
menikamku dalam lorong-lorong kehampaan

Asaku adalah angin,
yang melintas-lintas tanpa dimensi,
secemas kelopak mawar yang dalam merah fajar
menanti mentari pagi
dan burung-burung terbang bebas
yang merindu dahan hinggapan
Ketika tiba-tiba mimpiku memadat :
kuindera ketukan langkah-langkahmu diluar kamarku,
sementara dibalik daun pintu,
aku menisik luka-lukaku

Adakah jemari lentik mentari mampu membelai
pokok-pokok jagung di ladang,
pagi ini ketika asa makin membiru dalam dahaga

please dong ah!!


Puisi ini ditulis oleh pada
23 July 2007 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (4 votes, average: 5.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

please dech…

Dulu emang aku nungguin kamu,
Dulu emang aku berharap kamu datang kepadaku,
Dulu…itu dulu…
Namun aku sudah cape nungguin kamu yang kayaknya gak bakalan dateng-dateng,
jadi aku udah lupain semuanya….

Aku orang yang bebas,
lebih bebas dari kupu-kupu di taman bunga,
lebih bebas dari burung elang di langit,
dulu aku SANGAT Bahagia…

Tapi aduh plis dong ah!!
Kenapa sekarang disaat aku gak berharap kamu dateng—->.<—-kamu malah dateng!!!
Iya emang…
awalnya aku jadi lebih bahagia semenjak ada kamu,
mungkin aku lebih bersinar dari mentari pagi,
mungkin aku lebih berkilau dari bintang di malam hari,
mungkin aku lebih indah dari bulan di saat malam yang penuh bintang- bintang,
Disaat aku sama kamu…

TAPI LIHAT SEKARANG!!!

Setelah kau pergi ninggalin aku…
Aku sekarang lebih dingin dari biang es,
aku sekarang lebih terkekang dari binatang di ragunan,
aku sekarang lebih menderita dari pengemis yang belom makan 3 hari…
Tapi entah kenapa secara ajaib aku bisa—–
TEGAR seperti batu karang yang di terpa ombak,
SABAR seperti rumput yang di injak-injak,
SETIA seperti bulan yang selalu menemani bintang di gelap malam,
dan aku RELA BERKORBAN seperti…
Tapi mungkin karena “CINTA”.

Besok — Pagi pagi Sekali


Puisi ini ditulis oleh pada
16 January 2007 dengan 3 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (3 votes, average: 2.33 out of 5)
Loading ... Loading ...

Besok — Pagi pagi Sekali
(Surat Untuk Suamiku)

Bisakah kau jemput aku besok. Pagi pagi sekali. Sebelum matahari
beranjak dari peraduan di ufuk timur. Sebelum serombongan laki laki
berbaju putih bersih berdatangan ke surau untuk sembahyang dan
mengaji. Sebelum para ibu sibuk menyiapkan sarapan dan baju baju
untuk anak anak dan para suami.

Lupakan namaku. Lupakan namamu. Lupakan jiwa jiwa yang telah
menorehkan luka di dada. Lupakan segala aturan yang membelenggu
langkah dan meredam setiap asa. Kita tinggalkan Jakarta dengan
pesawat paling pertama.

Siang nanti kita akan saling mengikat janji. Di lepas pantai yang
sunyi dengan sekumpulan camar camar putih sebagai saksi abadi.
Dibawah restu Sang Pemilik Bumi kita menikah. Selembar puisi yang
kau tulis dengan keikhlasan hati akan menjadi maskawin terindah yang
akan kubawa hingga saat ku mati.

Akan kita bangun peristirahatan mungil beratapkan ranting ranting
anggrek dengan dinding dinding yang berhiaskan kelopak kelopak putih
ungu agar semerbak wanginya dapat terus mengharumkan cinta yang
terlanjur karam di dada.

Akan kulahirkan Aditya dan Nadya. Si kembar buah cinta sejati kita
yang terlahir dalam pelukan bumi yang damai dan semesta yang telah
berjanji untuk selalu menjaga mereka. Bocah bocah lucu yang akan
menemaniku disaat kau sibuk menggeluti garis nasib dan menjadi
pengobat lelahmu saat senja membawamu kembali pulang.

Sayang, aku tunggu kau untuk menjemputku besok. Pagi pagi sekali

edelweis, January 2007

author: edelweisjingga@….

Rindu Cinta Pertama


Puisi ini ditulis oleh pada
27 September 2006 dengan 1 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (2 votes, average: 3.50 out of 5)
Loading ... Loading ...

Rindu Cinta Pertama
A poem by AR,

Jika kau merasa seperti rinduku
Satu kenangan cinta pertama
akan datang mengajak
Ke malam-malam seperti ini
Ketika dedaun srikaya jatuh dan tumbuh
Pada cabang membentuk sejumlah bayang
Aku pikir sama seperti bayang-bayang nasib dan harapanku
Dan ilalang di belakang rumah
Baru saja tumbuhkan beberapa bunga
Sengaja memberitahu aku kalau
Waktu ini
Benar-benar berlalu
Aku tidak lagi berkelana dalam kereta
Tidak punya paspor dikantong saku
Apalagi jalan jalan kembara yg aku akan kutelusuri
Tak punya waktu lagi untuk menemukan rahasia kebahagiannya
Kini hanya senang duduk di teras rumah
Ditemani teh hangat – mencicipi kerinduan
Akan seseorang yang dulu sering memanggil namaku

Kau kekasih silahkan memotong pendek rambutmu
Atau mengenakan baju longdress
Sapalah selamat tinggal
Pada semua masa lalu,
Pada semua masa remaja kita
Tapi apakah engkau lupa bagaimana dulu kau buat aku terpikat ?
Berlari diatas padang rumput yang berangin
Supaya aku bisa lihat latarbelakangnya
Yakni mentari pagi menyinari atas rambutmu
Menyinari pepohonan, burung dan kolam kota
Apakah kau lupa ketika kau berteriak memanggil namaku
Apakah kau lupa ?!..

Pd Gede 99.