Tag: marah

Hujan …Menghina Untuk Terakhir Kalinya


Puisi ini ditulis oleh pada
1 December 2011 dengan 1 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (13 votes, average: 4.23 out of 5)
Loading ... Loading ...

Hujan….
Hanya merintih kecil kali ini
Seakan mengerti kali ini
Hanya manusia kecil tak berarti
Yang perlu dikasihani…

Meski hancur ia berdiri
Seakan mengutuk takdir
Yang ia bawa dengan benci
Yang ia bawa dengan sesal
Dentum siksa telah ia rasa
Menyakiti kepala hingga hilang semua

Tak ada yang mengerti
Setiap baris yang ia titi
Penuh kata pedih perih
Tertulis dengan sengaja
Berharap benci hilang terasa

Meski canda ia gumam
Dalam gelap ia kutuk kegelapan
Meski suka ia senandungkan
Dalam hati ia mencabik pilu
Hujan ini pun begitu
Begitu singkat….
Begitu menghina pedihnya

Berdenyut nadi di kepala
Membuatnya pergi dari semua
Tak ada yang menangisinya
Tak ada…..
Sendiri dalam buta
Ia menangis tuk terakhir kalinya
Begitu ringan….
Hilang semua beban…
Tak ia sesali keindahan
Hanya bermimpi….
Kali ini untuk selamanya
Selamanya….

Cakrawala Tertunda


Puisi ini ditulis oleh pada
2 March 2011 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (1 votes, average: 5.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

Pandang mata terhalang

cakrawala tertunda

jarak memendek, terbentur

pelupuk mata membengkak

habis memerankan opera hujan seharian;

engkau

menangis sampai matamu bengkak.

 

Gadis kecilku, engkau tampak lucu

darimana air mata sebanyak itu engkau dapatkan?

sedangkan kita sama-sama tahu

sekarang adalah musim kemarau.

duduklah di depan cermin,

senyummu itu jadi hambar, oh memang

tak ada..itu namanya merengut.

 

Gadis kecilku, engkau bagai penjual cuka

dan kukusan untuk memasak nasi

seperti moncong musket, senapan jaman portugis.

ah, lucunya ketika engkau marah, ngambek

dan merajuk tidak disambut..

habis sudah lenganku merah-merah

bekas engkau cubit.

 

Ayo..lihatlah aku dan tersenyumlah

karena hanya padamu aku lekatkan hatiku

dan semua inspirasi beranjak dari senyum manismu.

lihat..siapa yang kalah ketika kita beradu senyum?

ah, ternyata kamu..

 

(Jakarta/Februari/2009/Katjha)

Kepada Mbah Maridjan


Puisi ini ditulis oleh pada
16 November 2010 dengan 2 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (9 votes, average: 4.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

Sosok tua yang lugu dan sederhana

tersenyum ramah kepada siapa saja,

kini telah tiada, berpulang dengan kesetiaan

yang teguh terpegang.

Dia tidak akan meninggalkan amanat yang diembannya

Dia tidak akan meninggalkan merapi

apa pun yang terjadi.

hidup baginya adalah kesetiaan

kepada panggilan jiwa.

pengabdianya bukan kepada penguasa

tetapi kepada hati nurani

yang ingin selalu berdampingan dengan alam

untuk menerima segala marah dan keramahan merapi.

Mbah …. setelah berpulang

engkau akan menjadi inspirasi jutaan orang

untuk setia pada langkah hati dan gerak tulus nurani

untuk menjaga alam dan laku teguh pada pendirian.

Mbah …. aku ingin sepertimu

ibarat seorang prajurit,

kematian yang utama baginya adalah di medan tugas

bukan di tempat tidur pembaringan yang nyaman.

Mbah … pulanglah dengan damai

istirahatlah dengan senyum mu yang sederhana dan tulus.

Mbah … semangatmu senantiasa kami bawa

untuk menjadi inspirasi dan penerang hati dan jiwa-jiwa

kami yang terkadang rakus dan angkuh.

Selamat jalan Mbah Maridjan  ….

(Katjha/Mengenang Mbah Maridjan/November 2010/Jogjakarta)

Shinta


Puisi ini ditulis oleh pada
11 November 2010 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (4 votes, average: 4.25 out of 5)
Loading ... Loading ...

Kenapa engkau tergoda gerak lincah

seekor kijang kencana

ketika kita semua bersepakat untuk hidup melarat

dan terbuang di hutan dandaka.

Kenapa dalam laku miskin yang kita jalani

sebagai bentuk kesetiaan pada keyakinan

engkau terbutakan kemewahan.

Shinta, dia si iblis Rahwana tau engkau akan tergoda

engkau pasti terbujuk oleh muslihatnya.

sedangkan aku juga tahu sebatas mana engkau kuat

menanggung setia.

Kita akan terpisah lama…. aku tahu itu

aku pun akan marah, setelah engkau dapat

kuambil kembali engkau harus melewati api suci ku.

salah kah aku yang menghendaki demikian???

(Katjha/Oktober/2010/Tuban)

Sebelum kamu membuka matamu


Puisi ini ditulis oleh pada
20 October 2010 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (4 votes, average: 4.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

ada waktunya kamu mencoba berbicara sendiri dengan jiwa dan raga

1000 lebih hari telah kamu lewati

1000 lebih rasa telah kamu rasakan

ada tangis, canda tawa, sesak, senyuman

sebelum kamu membuka matamu

pertanyakan pada dirimu

apa saja telah kamu lakukan?

untuk Tuhan, dan orang-orang yang kamu cintai

sudahkah kamu merasakan sesuatu

tentang penyesalan,

tentang pertobatan,

di masa lalu

sebelum kamu membuka matamu

pertanyakan dalam dirimu

sudahkah kamu lakukan sesuatu yang terbaik

tentang pengorbanan

tentang ketulusan

di masa lalu

sebelum kamu membuka matamu

apa saja yang telah tangan, mulut, mata, telingamu lakukan

tentang sajak yang kamu tinggalkan

tentang lukisan yang kamu torehkan

di masa lalu

sebelum kamu membuka matamu

apa saja yang hatimu lakukan

tentang Cinta

tentang malaikat yang pernah meratu di hatimu

di masa lalu

coba

cobalah

sekarang

ibarat matamu terpejam

sejenak film masa lalu itu merebak hangat dalam pikiran dan hatimu

biarkan penyesalan dan kesalahanmu membuat hitam jiwamu

jika ada air mata menetes di pipimu, itu wajar

jika ada amarah merebak, tetaplah terpejam dan hening

jika ada senyum merona, buatlah senyummu seperti rembulan

lalu hentakkan lukisan-lukisan itu

kosongkan…

kosongkan..

kosongkan..

perlahan gambarkan sebuah pantai dalam pejamnya jiwa dan ragamu

kau harus lukiskan matahari yang terbenam

dimana cahaya matahari merebak di telaga

dimana ombak menderu, sampai kamu mampu mendengar deburan

dimana kaki-kakimu merasakan pasir dan kerikilnya

dimana burung laut berlagu merdu, sampai pula kamu menyanyi bersamanya

dimana angin hangat mendesir menerpa jiwa peluhmu..

kelak ketika kamu membuka matamu

kamu menemukan dirimu saat ini

dan masa depanmu

dimana penyesalan adalah resiko dari sebuah kesalahanmu

dimana kesalahan yang kamu perbuat adalah manusiawi

dan saat itu pula kamu mampu dan tahu

apa yang kemudian tangan, mata, telinga dan hatimu lakukan

untuk yang terbaik

untuk Tuhan

dan orang-orang yang kamu cintai

kenyataan memang pahit, tapi terkadang itu yang kamu harus rasakan

sebelum kamu merasakan sesuatu yang manis

janganlah berhenti menjejakan kaki di pantaimu

kelak setiap jejak kakimu, tumbuh disana bunga yang indah

hingga tak satupun orang tega untuk memetiknya

karena kamu melakukan yang semestinya kamu lakukan

karena lukisanmu sungguh indah

dan karena sajakmu membuat sesuatu yang mati dapat hidup kembali

Bisik Kerinduan…


Puisi ini ditulis oleh pada
1 October 2010 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (5 votes, average: 4.80 out of 5)
Loading ... Loading ...

dengarkanlah bisik kerinduan ini berlagu mencari tepian…

kemana harus kutambatkan dermaga lempung tanah ini sebelum habis kikisannya…

dengarkanlah perjalanan jantung ini sunyi berdetak, berlari kehilangan peta sejarah…

kemana sebaiknya kubilas debu_debu yang melekat dipori_pori sanubari…

pencarian panjang yang tanpa sadar menghabiskan separuh perjalanan hidupku

mencari telaah bintang pedomanku

pelipurku kala resah
peredamku kala marah

walau belum sempat kumenyana betapa inginku seperti mereka_mereka yang dapat jawabnya…

sedangkan aku masih sibuk menganalisa apa yang diketahui…
apa yang ditanyakan…?!

hati dan jiwaku benar_benar sibuk memburai lafal_lafal cinta,

hingga kini disepenggal akhir niaga saat pagar sejarah lahir,
beribu cindra kenangan kumengingati bahwa tak perlu ku menunjuk satu bintang

yang kubutuhkan bukan itu,
bukan bintang ataupun cahaya lain…

yang kubutuhkan belai kasih dari Illahi…

cahaya diatas segala cahaya…

maka dengannya kubangun kembali
dermaga besi menata kembali lagu tepian
karena demikianlah cinta ini kupertaruhkan…

dan melangkah menapaki takdir yang sudah EngKau gariskan sambil kubertanya kapan kapalku Kau terima istirahatnya….

Gelang Patah


Puisi ini ditulis oleh pada
27 July 2010 dengan 2 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (13 votes, average: 3.62 out of 5)
Loading ... Loading ...

alunan kisahku mengalir begitu deras, memaksa lirih perih tak bertepi..
syahdu aku seperti dulu, kini mulai tak terdengar.. entah terbawa arus kenistaan yg bergumul, atau mungkin mati terkikis pasir-pasir yang menderu.
titik embun mulai mengering tidak lagi patut untuk dipuja..
hmm.. apakah aku tidak lagi seperti itu?
begitu aku, kaku, rapuh, bias bayang malam pun berputar pagi, terperangkap terlalu dalam, terhanyut seperti sampan tak bertuan.. hendak kemana aku ini?
mata yang mulai lelah, hati yang mulai membusuk,
sanggupkah gelang patah ini kutemukan?
Sanggupkahgelang patah ini ku jadikan permata, kujadikan bunga, kujadikan apa saja yang bisa menyelimuti helai syair yang ku rajut..
Perlahan iba menghangatkan tubuhku… membakar cemburu… mengoyak amarahku…

pahit menjadi madu biar tak terkuak sekalipun, ketika arah menjadi pecah.. ketika waktu menjadi mati.. sirna berserah bersimpuh rindu, tulus hati begitu dusta kuucapkan … tidak seorangpun memahaminya.

Aku Rindu Kamu


Puisi ini ditulis oleh pada
16 July 2010 dengan 2 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (14 votes, average: 4.50 out of 5)
Loading ... Loading ...

Hari-hariku yang sepi
aku rindu kamu,
Apakah kamu tau itu?

Malam yang sunyi
memeluk jiwaku
yang gundah
karena memberontak orang tua
memberontak aturan
dan akhirnya tergoda dunia luar

Sia-sia kucari hatimu.
Ingin kuingat lagi wajahmu
yang kini menghilang.
Sia-sia
Tak bisa kuraih
Sempurnalah kesedihanku.

Angin marah
menyerang bumi.
Dan dua belas ekor singa
akan muncul
manghancurkan hatiku.

Berkali-kali aku rindu kamu
Di manakah kamu?
Apakah kamu telah menjadi kenangan?
aku rindu kamu.
aku rindu kamu.
Karena kamu kenanganku.
Tuhan ?
Tuhan adalah seniman ajaib
yang selalu ada
hanya perduli dengan hal yang besar

Seribu jari dimasa laluku
menudingku
Tidak akan
Aku kembali.

Saat aku rindu kamu
amarah yang suci
bangkit di malam ini
dan merusak diri di dunia luar
sebagai cowok penggoda
memberi harapan padaku
dengan wajah tulus.

sesudah itu
sebagai laut yang beku
dan aku pun beku.
Lihatlah, wajahku.
Terkaca di kesunyian.
Berdarah
terluka karena masa laluku

From: martha christina [marthacayangq@....]

duri senja


Puisi ini ditulis oleh pada
16 July 2010 dengan 1 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (3 votes, average: 2.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

saat waktu yang berharga telah terbuang
menanti hari di ujung diri
senja menyulam kenangan pun terdiam
marah manghampiri jiwa yang sepi

lelahnya hati genggaman tangan
riak berlalu menyapu rindu
setetes embun diam bukan kerana angin
angin yang elok indah rupawan

berlalu hari di ujung rindu
walau air mata tetesan sang awan
daun yang gugur kerana kasih
menyemai padi indah tergerai

senja tenang di kala malam
bayangan cermin menemani diri
berjalan ia kerana dahaga
mencari air penawar rasa

mawar hitam laksana embun
menutupi diri dengan durinya yang tajam

akhir pertanyaan adalah suatu jawaban
walau terkadang berlalu lagi dengan pertanyaan
suatu pertanyaan adalah suatu keresahan
suatu pertanyaan adalah suatu kebimbangan
yang diinginkan hanyalah suatu kenangan

yang hadir dengan suara ceria
yang muncul dengan wajah berseri

yang menyapa dikala dahaga menghampiri

Bear

22/04/2010

Doa Malu-malu yang Setengah Memaksa, Di Usia yang Sudah Kadaluwarsa


Puisi ini ditulis oleh pada
5 July 2010 dengan 1 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (2 votes, average: 2.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

Tuhan,
dengan segala kerendahan hati
aku meminta pada-Mu

Berikan aku kata, kujadikan ia puisi
berikan aku senja, kujadikan ia puisi
berikan aku malam, kujadikan ia puisi
berikan aku mimpi, kujadikan ia puisi
berikan aku hujan, kujadikan ia puisi
berikan aku badai, kujadikan ia puisi
berikan aku bintang, kujadikan ia puisi
berikan aku matahari, kujadikan ia puisi
berikan aku rembulan, kujadikan ia puisi
berikan aku awan, kujadikan ia puisi
berikan aku resah, kujadikan ia puisi
berikan aku sunyi, kujadikan ia puisi
berikan aku angin, kujadikan ia puisi
berikan aku api, kujadikan ia puisi
berikan aku air, kujadikan ia puisi
berikan aku marah, kujadikan ia puisi
berikan aku perang, kujadikan ia puisi
berikan aku senyum, kujadikan ia puisi
berikan aku rindu, kujadikan ia puisi
berikan aku cinta, kujadikan ia puisi
berikan aku cemburu, kujadikan ia puisi
berikan aku perempuan, kujadikan ia istri
berikan aku pelangi, kujadikan ia puisi

Tuhan,
jangan tunda lagi permintaanku ini
karena usiaku sudah kadaluwarsa

Amin!

Sawangan, 24 September 2006 – Jakarta, 25 April 2010

Urip Herdiman K.

http://www.theurhekaproject.blogspot.com

Catatan :
Versi asli puisi ini dibacakan di acara pernikahan Anita Louise
– Anindya Barata pada Minggu, 25 April 2010
di Cempaka Putih, Jakarta Pusat.