Tag: lagu

lagu tangisan malam


Puisi ini ditulis oleh pada
28 March 2011 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (2 votes, average: 5.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

berdoalah untuknya,

doakanlah dia yang telah pergi tinggalkanmu

berikan bunga pada kuburnya,

kenang jasadnya yang kau nanti-nanti dahulu, untuk segera mati

dan kau menangis pilu, begitu syahdu, ditengah malam membisu

 

kau teteskan rintik air mata,

yang tanpa sadar lunturkan batu nisannya

teriakkan olehmu sekuat-kuatnya, biarkan dia terjaga tak tenang

sampai kau puas, dapat tertawa lagi esok hari

kemudian tahun-tahun mendatang tak perlu datang lagi

dia menanti-nanti,

tak kunjung tenang bertanya-tanya tanpa henti

masa demi masa silih berganti

sakitnya menjadi-jadi,

yang ada tinggal nama, dia nak rindukanmu saja

yang dikiranya hanya miliknya

padahal kau bermimpi hidup abadi, selingkuhi cintanya yang sejati

dan cinta penghias saja, ia tak mengenalimu lagi

kau brubah sekali…
asing mungkin bginya,

bagai buku usang tak terbaca

padahal lembar demi lembar hidupmu ada dia

tapi sayang cuma korban saja,

peran pelengkap, tak berpengaruh dalam cerita,

yang dengan egois kau karang sendiri

jelas saja, hakmu melakukannya

hanya saja jangan lupa

biar setitik juga cinta yang ada untuknya,

hanya kau yang punya

Nyanyian camar


Puisi ini ditulis oleh pada
8 February 2011 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (9 votes, average: 3.78 out of 5)
Loading ... Loading ...

Petang bagiku adalah sarang
dimana angananganku riang menerawang
membawa lelah dan risauku pulang
di hening dada karang

kubawa serentetan lagu sendu
lewat paruh dan sayapku
setelah kuterdekap gemerlap pagi
tempat kubaringkan penggalan mimpi

kelak tak perlu kutakut pada sepi
di taman surga Illahi

Februari 2011 (1432 H)

lailatul kiptiyah [laila_kip@...]

Hilang Dalam Terang…


Puisi ini ditulis oleh pada
20 October 2010 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (4 votes, average: 3.50 out of 5)
Loading ... Loading ...

Kala fajar mulai membuka pintu pagi,
menggantikan gelita yang kesuraman

kurintis kembali impian yang pernah hilang dari ranting asa

setiap kakiku menciptakan langkah,
selalu saja meninggalkan jejak luka kepedihan masa silam

kutatap kembali sinarMU yang kian merangkah
silau menghalangi pandangan

debu melecut derap,
bergegas seakan ingin turut menjemput senja dan menyepuhnya menjadi bias-bias lembayung

tinggalkan aku sendiri termanggu mencari bayang sosok yang hilang dalam terang

jingga menggeser terang, menuntunku untuk menyongsong rembulan yang berjanji akan datang

Ahh…….
penat tiba-tiba menjalar sampai keujung-ujung pembuluh darahku

bintang….
akankah engkau akan datang, untuk berkerlip menghibur diriku yang semakin malang

kasih…..
mengapa kau selalu memintaku untuk menjawab setiap resah dan gundahmu

jika tak jarang kau tinggalkan serta kau biarkan diriku sendirian dalam tangisan

ditepian kelam….
lirih kusenandungkan lagu rindu

rindu akan kebahagiaan dan kedamaian

keletihan bathinku membuat anganku mengembara

jika memang sudah tak ada cinta lagi untukku…

mengapa lafadz keputusan tiada jua kau lontarkan…

agar aku tak semakin berharap,
berharap menatap indahnya purnama dicelah langit bersamamu….

malam….
sunyimu kini temanku…
kelammu juga sahabatku…

alunkan lagu sepi dalam keabadian,
untukku nikmati menjelang mimpi-mimpiku….

_Lembayung Kelam_

bukan seperti yang kau kira


Puisi ini ditulis oleh pada
12 May 2010 dengan 0 Komentar
Rating Puisi : 1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (belum ada)
Loading ... Loading ...

belum bosan lagu itu ia ulang
sampai tetangganya ingin berganti
telinga

“hanya imajinasi”
“hanya imajinasi”
“hanya imajinasi”

seperti diberi hadiah pelangi di malam hari
dengan perahu bersayap ia anggap
dirinya menjelma tawon raksasa menyengat angkasa
sampai bintang-bintang bengkak tiada tara
lalu pecah jadi hujan aksara
di atas bumi yang membekukan impian-impiannya

setiap malam aku berdoa
setiap malam aku meminta
setiap malam aku mensyukurinya
setiap malam aku lelah karenanya
pada suatu malam aku lupa
hingga tak lagi punya kata-kata

“hanya imajinasi”
“hanya imajinasi”
“hanya imajinasi”

lukisan wortel dalam pigura tak bisa menyehatkan mata
tapi degup-degup di dada seharusnya mendapatkan iramanya
(atau mantra saja?)

butir-butir sepi jatuh bergelinding
di kaki pagi yang melangkah jadi puisi

lalu pergi

negeriajaib.blogspot.com

Life, what is it but a dream?
-LC-

Author: malaikat kecil [nibbana@...]

Waktu yg berlalu


Puisi ini ditulis oleh pada
4 June 2008 dengan 2 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (1 votes, average: 5.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

aku adalah daun yg gugur
dalam musim semi yg kau ciptakan
mengeringkan asa yg tercipta untuk masa
sedemikian hidup ku rancang
agar tak berserakan
seperti mimpi dalam hening malam
seperti doa yg tersusun rapi dalam ucap-ucap bibir
aku nyanyikan lagu ini
kau menarilah
sedemikian lagu ini aku dendangkan
dengan doa bulan purnama
dengan nafas sang pujangga
berserakan seperti bintang dihari ini
aku bersinar tak akan lelah
seperti mentari
kau teruslah berlari ditengah kerisauan
aku mananti dalam ribuan tahun jarum karat.