Tag: kesepian

Makhluk Apa Aku Bagimu?


Puisi ini ditulis oleh pada
1 December 2011 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (9 votes, average: 3.89 out of 5)
Loading ... Loading ...

Jangan kasihan karena kesendirianku

Tak perlu kasihani karenaku kesepian

Kasihani diriku yang tak kuat beriman

Kasihanilah aku karena dunia tak memberi teman

 

Atau tiada kasih kau beri

Hingga terasa tiada nilaiku ini

Karena layak gila aku selalu tersenyum

Selalu tertawa seakan dunia panggung lawak

Saat sepi menemani

Saat sadar aku sendiri

 

Meski ramai sanak kau bawa

Meski pesta gemerlap canda

Tiada arti untuk temanmu ini

Maaf daku beribu kali

Sepilah sungguh arti

Sendiri sadarku penting semua itu

 

Tak usah kutuk diriku

Atau hujat tanpa tahu kasih

Sudah sering tersiksa sendiri

Sudah lama dingin sepi menghampiri

Hingga melodi indahmu keluar telinga kiri

Hangat sapamu kudapat tuli

 

Jangan kasihaniku karena sendiri

Tak juga perlu karena sepi

Karenaku biar sadarmu

Bersyukur banyak teman menerima

Bersujud cinta pernah bersandar lama

Bandingku denganmu

Jangan kasihaniku……

Pohon pohon membisu


Puisi ini ditulis oleh pada
20 August 2011 dengan 4 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (48 votes, average: 3.96 out of 5)
Loading ... Loading ...

Pohon pohon membisu
Pena kertas pun membisu
Kasih, ku selalu merindumu
rasa kesepian samar membayang seribu

Deru angin semakin
Laraku bak gerimis itu
membasahi memenuhi tiap dahan dan daun daun

Duka Yatim-Piatu…


Puisi ini ditulis oleh pada
17 November 2010 dengan 1 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (38 votes, average: 3.68 out of 5)
Loading ... Loading ...

sejak dia terlahir kedunia
hidup yang ditahu hanyalah seonggok penderitaan

juga kesepian yang selalu menemani hati,

tiada mengenal cinta, kasih dan sayang
dari ayah dan bunda yang mengukir jiwa

nasib yang malang dialaminya
dikucilkan dari pergaulan karib sebaya

diibarat sudahlah jatuh masih tertimpa tangga

siapa kini merasa iba
dari jiwanya yang gersang…
tiada seorangpun mendekat memperkenalkan diri padanya…

siapa yang salah…?!
jikathatinya membeku tak kenal haru…

wajahnya angkuh tanpa senyuman..
sekeras baja tak bisa ditekuk..
sekokoh karang tak bisa digoyang…

harus bagaimana kini…
mendengar penjelasan dia tak mau mengerti…

menerima pendapat dia tak mau tahu…
memahami orang lain tak pernah dikenal…

dia selalu dan senantiasa ada dalam kesepian…
sendiri…
sunyi dan sepi….

Membunuh Bayang-bayang


Puisi ini ditulis oleh pada
8 October 2010 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (2 votes, average: 5.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

Sinar rembulan

mengintip remang, tenggelam dalam

citraan kelam,

seulas ekspresi yang beku

dan sulit untuk dimaknai.

Rembulan , pelita malam

terhempas dalam elegi sepasang tupai malam

menanggung kasmaran.

riuh dan berderai suara-suara saling memburu

berkejaran dalam penyataan cinta atau hasrat untuk birahi.

Dalam temaram bulan setengah bentuk,

membujur meliuk bak sebuah sabit

terbujur pada mega-mega kelam dan langit hitam

sedikit bintang.

Aku ingin membunuh bayang-bayang

sehingga hadir dan menyatakan diri sendiri

di tengah bentang kesepian tanpa

menduakan sosok yang sudah terkoyak

pengkhianatan dan peniadaan pada yang tulus.

Ingin kubunuh bayangku

bersama kegamangan malam yang berserakkan,

tepian cahaya kurobek

kemudian kubuatkan coretan besar

menyerupai sebuah pintu

agar sosok ku terdiri satu

tanpa penduaan, berdiri tegak

tanpa bayang.

Sejenak, masih hening

malam beranjak merayap

dalam kilas cahaya rembulan suram

kulihat malam berkedip jerih

enggan memalingkan muka.

Mungkin karena malam ini

telah kubunuh bayang-bayang

sehingga dia tidak lagi bisa bertahta

dengan sosok nya yang gelap.

(Banten/Juni/2010/Katjha)

daun dan pena


Puisi ini ditulis oleh pada
16 July 2010 dengan 1 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (8 votes, average: 3.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

saat jiwa ini telah terlelah oleh dekapan sang malam
di kala raga ini sendu oleh kenangan dari rindu yang terbuang
disaat itu jua siang menjelang embun menghilang

rantai dari perjuangan telah dibuat
oleh keinginan dan asa yang terpancar
untuk memeluk kisah yang akan segera hadir
dengan rasa kasih dan sayang

daun yang berguguran telah terkenang
sebagai satu kisah yang tersimpan
embun-embun telah menangis
beserta senyum yang menghiasinya

senja akanlah hadir
menggantikan siang yang menunggu
dan malam akan menjelang
menggantikan senja yang telah lelah
dan tertidur di balik tembok kesepian

satu waktu telah berganti
bukan menghilang ataupun tiada
tetapi tumbuh menjadi sesuatu yang baru
dan akan menjadi pena suatu saat nanti

menghadirkan kisah yang baru
menorehkan jawaban yang lama
dan melupakan kenangan yang pahit

kita tiada perlu mengerti semua
yang kita harus lakukan hanyalah percaya

20/04/2010

dewa 4 U

get up!!


Puisi ini ditulis oleh pada
22 June 2010 dengan 0 Komentar
Rating Puisi : 1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (belum ada)
Loading ... Loading ...

ta kusadari

semua impianku lenyap

tapi ahhh…

tidak,tidak semuanya

ku masih memiliki diriku

sayapku ini memang melemah

ugh..kepaknya terlalu perlahan

lebih baik ku istirahat dulu

menikmati pemandangan yang ada

nyamannya tempat ini

terbangun ku dalam gelap

akkhhh…terlalu gelap

aku takut sekali

badanku lemas

sayapku ta bisa kugunakan

kaku sekali otot ini

ughhh…

bangunkan aku

katakan ini bukan duniaku

bantu aku berdiri

wuzzz…

sepoian angin menyekaku lembut

menentramkan jiwa kalut ini

ku kesepian…

ku kedinginan

kekasihku meninggalkanku

ku ta bertenaga untuk menghidupkannya

jiwa duniaku

raihlah aku

rengkuhlah jemariku ini

huppp…

perlahan menyentuh jemariku

hangat…lembut…

menyelimuti perasaan hatiku

sayapku….dia bergerak

ku terbang..

perlahan…

lagi….lagi…

dan….

tinggi sekali

kudapatkan lagi jiwaku

menyatu dengan ragaku

membisikkan kata indah pada jiwa dunia

bangun! dan lukiskan keindahanmu padanya

sebarkan semangatmu yang menggelora

untuk semua mahkluk di dunia dan untuk jiwa dunia….

bangkit dan isilah dunia ini

dengan warna indahmu

yang ta kan pernah sama

setiap detiknya mengandung keajaiban

temukanlah itu semua dengan mata hatimu yang menggema bersuara rindu kau dengarkan

Pamflet Cinta


Puisi ini ditulis oleh pada
19 March 2008 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (3 votes, average: 5.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

Ma, nyamperin matahari dari satu sisi.
Memandang wajahmu dari segenap jurusan.

Aku menyaksikan zaman berjalan kalang-kabutan.
Aku melihat waktu melaju melanda masyarakatku.
Aku merindui wajahmu.
Dan aku melihat wajah-wajah berdarah para mahasiswa.
Kampus telah diserbu mobil berlapis baja.
Kata-kata telah dilawan dengan senjata.
Aku muak dengan gaya keamanan semacam ini.
Kenapa keamanan justeru menciptakan ketakutan dan ketegangan.
Sumber keamanan seharusnya hukum dan akal sihat.
Keamanan yang berdasarkan senjata dan kekuasaan adalah penindasan.

Suatu malam aku mandi di lautan.
Sepi menjadi kaca.
Bunga-bungaan yang ajaib bertebaran di langit.
Aku inginkan kamu, tetapi kamu tidak ada.
Sepi menjadi kaca.

Apa yang bisa dilakukan oleh penyair
Bila setiap kata telah dilawan dengan kekuasaan?
Udara penuh rasa curiga.
Tegur sapa tanpa jaminan.

Air lautan berkilat-kilat.
Suara lautan adalah suara kesepian
Dan lalu muncul wajahmu.

Kamu menjadi makna.
Makna menjadi harapan.
… Sebenarnya apakah harapan?

Harapan adalah karena aku akan membelai rambutmu.
Harapan adalah karena aku akan tetap menulis sajak.
Harapan adalah karena aku akan melakukan sesuatu.
Aku tertawa, Ma!
Angin menyapu rambutku.
Aku terkenang kepada apa yang telah terjadi.

Sepuluh tahun aku berjalan tanpa tidur.
*Punggungku karatan aku seret dari warung ke warung.
Perutku sobek di jalan raya yang lenggang…
Tidak. Aku tidak sedih dan kesepian.
Aku menulis sajak di bordes kereta api.
Aku bertualang di dalam udara yang berdebu.

Dengan berteman anjing-anjing geladak dan kucing-kucing liar,
Aku bernyanyi menikmati hidup yang kelabu.

Lalu muncullah kamu,
Nongol dari perut matahari bunting,
Jam dua belas seperempat siang.
Aku terkesima.
Aku disergap kejadian tak terduga.
Rahmatku turun bagai hujan
Membuatku segar,
Tapi juga menggigil bertanya-tanya.
Aku jadi bego, Ma!

Yaaahhhh, Ma, mencintai kamu adalah bahagia dan sedih.
Bahagia karena mempunyai kamu di dalam kalbuku,
Dan sedih karena kita sering terpisah.
Ketegangan menjadi pupuk cinta kita.

Tetapi bukankah kehidupan sendiri adalah bahagia dan sedih?
Bahagia karena nafas mengalir dan jantung berdetak.
Sedih karena fikiran diliputi bayang-bayang.
Adapun harapan adalah penghayatan akan ketegangan.

Ma, nyamperin matahari dari satu sisi,
Memandang wajahmu dari segenap jurusan.

W.S. Rendra
( Koleksi Puisi-Puisi Willibrordus Surendra)